Bumi grows so fast!

and so does Langit…

On TV

So,

We were featured on a TV talk show, thanks to Tante Bebek. She was initially the guest of that Baby Blues Syndrome episode (she wrote her devastating experience in The Urban Mama and got massive responses), but since she had to catch the flight to Bali that morning, then referred the opportunity to me.

Actually, it is hard to talk about what i had been through. I didn’t know why i took that chance. The moment after saying yes, i got this nervous breakdown. I never really talked about it. Sure, i mentioned it here on some letters to you two. But never gone into details. Now, i have to talk to strangers well… practically to millions viewers, live!

I told Ayah about it and his first reaction was: “You had baby blues syndrome?”
And i was like…
“You did NOT know? I went to that expensive counseling hours with that psychologist, remember?”
See, nobody really knows. I mean, God! Doesn’t that saggy dark circle under my eyes tell you something?

Despite being Read the rest of this entry »


Oh Lala…

Sebenernya masalah drama ART adalah topik yang paling Bubun hindarin di blog ini.
Capek hati ih. Males inget-inget runtutan ceritanya yang berliku macam sinetron kejar tayang.

Tapi karena kejadian beberapa waktu lalu, Bubun pikir perlu nih cerita garis besarnya. Sebagai pengingat aja untuk hari esok.

Jadi gini…
Karena Bubun udah bulat mutusin bahwa Langit dirawat di rumah aja, nggak di daycare seperti Bumi (at least sampai usia 1 tahun), ketika hamil Langit Bubun udah sibuk nyari-nyari pengasuh dan ART untuk memastikan itu.

Ncus Anik
Bulan Januari 2014, Bubun dipertemukan dengan suster (panggilan untuk nanny/baby sitter yang udah mendapat pendidikan khusus) Anik. Sebenernya sih, Bubun nggak mampu nge-hire dia. Soalnya gajinya beda dikit dengan Bubun ^^!
Tapi karena cocok, yasudahlah ya… Read the rest of this entry »


Insya Allah Anak Bungsu

Bubun sempat kesel dan menyalahkan Ayah, waktu pertama kali tahu Adik Langit ada dalam perut.
Bukannya nggak mau Adik Langit ada ya. Mau, mau banget malah. Tapi nggak secepat itu. Paling nggak nunggu 6 bulan lagi lah. Jadi jarak Bumi dan Langit minimal 2 tahun.

Beberapa bulan sebelum hamil Adik Langit itu, Bubun udah rencana untuk make alat kontrasepsi. Tapi sama Ayah nggak boleh.
Bubun bujuk-bujukin ayah untuk nemenin ke DSOG, nggak mau coba… Katanya dulu juga dapat Bumi lama, sampe 10 bulan menikah baru Bumi datang. Jadi, nggak perlu khawatir.

Tapi, Read the rest of this entry »


Post Partum (nggak pake Depression)

Agak gentar juga Bubun ngadapin hari-hari pasca kelahiran Langit. Bukan apa-apa, belum pulih sepenuhnya dari trauma pasca lahiran Bumi dulu itu lho.

Tapi syukurlah proses lahiran Adik Lala cepat dan nggak pake drama, dapat obgyn yang oke, dan yang pasti.. nggak ada anggota keluarga yang datang dan memberi tekanan untuk suplementasi sufor. Haha!

7 April 2013 – Hari pertama

Sedari subuh, Bubun hanya tidur 2 jam selain supaya bisa terus-terusan nyusuin, Bubun juga nggak ngantuk sama sekali. Cuma agak letih aja. Adik Lala masih males-malesan nyusu. Banyakan tidur aja. Jadi, Bubun harus selalu ngeliatin jam. Pokoknya 1,5 jam sekali harus nyusuin. Kalau kecapean, ditoleransi sampe 2 jam. Padahal mah anjuran dokter kan 2-3 jam sekali.

Bubun juga ngecekin tanda-tanda kuning pada tubuh Adik Lala. Di hari pertama ini, wajah Lala agak gelap. Tapi tangan, kaki, dan badannya putih banget (mungkin akibat Bubun ngemil beras sekitar 8 kg selama hamil). Bubun ingat dulu Bumi pun agak menggelap warna kulitnya sewaktu bilirubinnya melebihi batas normal.

DSCN9462

Tiap kali Read the rest of this entry »


Demi ASI untuk Bumi

Mendekati kelahiran Adik Lala, Bubun jadi sering terkenang masa-masa lahiran Bumi dulu. Apalagi karena beberapa hari sebelum cuti, Bubun nengokin anak pertama temen kantor Bubun. Bubun takjub banget. Udah lupa. Ternyata, bayi itu semungil ‘itu’, begitu rapuh, dan kalau tidur kayak boneka, diem nggak gerak. Nggak bisa berhenti mandangin.

Bubun lihat gimana temen Bubun canggung dan bingung ketika menenangkan bayinya yang nangis. Wajahnya letih walaupun juga ada semburat bahagia. Bubun bisa memahami. Karena Bubun pun mengalami hal serupa.

Ada trauma yang tersisa di antara kebahagiaan menyambut kedatangan Kakak Bumi dulu. Selain proses persalinan yang menyakitkan namun berujung kebahagiaan, ada hal lain yang lebih membekas. Pasca persalinan yang kata banyak ibu, sangat menantang ternyata… sangat sangat menantang dan dramatis. Syukurlah semua sudah berlalu. Tapi dalamnya luka di hati Bubun, mungkin tak banyak yang tahu. *sok drama* *tapi emang bener*

Hari H Kelahiran Bumi

Seperti yang sudah pernah Bubun ceritain sebelumnya, Read the rest of this entry »


Nonton di Bioskop??

Menjelang Ade berusia 2 bulan, Ayah ngajakin Bubun nonton ke bioskop. Mungkin karena sebelum Ade lahir Ayah dan Bubun rutin ke bioskop, bahkan 24 jam sebelum ade lahir pun kita masih sempet kabur dari RS untuk nonton film, Ayah jadi agak merasa kehilangan momen itu. Saat itu, Bubun pun sedang dirundung baby blues stadium tinggi (yang mana akhirnya berkembang menjadi post partum depression. Tapi itu cerita nanti). Rasanya nonton di bioslop, akan jadi angin segar bagi keletihan jiwa Bubun saat itu.

Tapi.. tapi… Ade gimana dong, kalau Ayah dan Bubun nonton di bioskop? Kakek-nenek, sanak saudara adanya di seberang lautan. Baby Sitter atau ART yang stay di rumah juga nggak ada. Jadi, kalau Ayah dan Bubun mau ke mana-mana, wajib hukumnya Ade digembol ikut.

Ya kalau ke mall sih, nggak apa-apa ya. Lumrah adanya, bayi dibawa ngemall.
Tapi kalau ke bisokop? Gimana kalau Ade rewel dan ganggu penonton lain? Atau pendengarannya terganggu karena suara film yang super kenceng?
Kata Ayah sih, semua itu bisa diatasi. Saat itu kan Ade udah teratur jam tidurnya. Siang maen dan malem tidur nyenyak. Jadi, kita bisa nonton pada saat jam tidur itu. Ya, mudah-mudahan siklus yang udah teratur itu, jadi berantakan lagi gara-gara diajakin ke bioskop ya. Terus, kalau soal pendengaran, itu bisa diakalin dengan earmuff.

Read the rest of this entry »


Tentang Nama dan Akte Kelahiran

Seperti yang Bubun ceritain di sini, perkara memberi nama untuk Ade Bumbum adalah suatu kesukaran yang tak kunjung menemui jalan keluar. Bahkan sampai di hari kelahiran Ade tanggal 21 September 2012 lalu.

Bubun pernah mendengar ada komentar “Apa sih susahnya ngasih nama anak? Udah dikasih waktu 9 bulan kok nggak bisa juga?”

Please, kandidat nama Ade itu udah ada sejak tahun 2006. Beberapa bulan sebelum Bubun hamil, Ayah dan Bubun udah sepakat bahwa jika anak pertama Ayah dan Bubun adalah laki-laki, ia akan dipanggil ‘BUMI.’ Lalu last name akan menggunakan nama Ayah, yaitu: ALWI. Last name ini penting banget karena harapannya Ade nanti jadi warga internasional. Sedangkan di banyak negara, last name itu keharusan untuk dokumen dan administrasi. Adik (atau adik-adik??) Bumi nantinya juga akan punya last name yang sama.

Cuma, Bubun dan Ayah nggak pernah sepakat soal kombinasi nama Ade. Soalnya nih ya, sebagai pecinta sastra (tsah!) Bubun udah bercita-cita ngasih nama yang puitis-puitis gitu. Sementara Ayah lebih pengen yang terdengar gagah, perkasa atau seenggaknya punya makna ‘satria’ atau ‘berani’ gitu. Kalau buat Bubun, nggak masalah kalau nama anak itu nggak punya makna harfiah macem-macem. Makanya, seneng banget dengan nama orang-orang suku indian yang berbau alam. Selama hamil, Bubun udah bikin puluhan kombinasi nama, untuk mengakomodasi keinginan Bubun dan Ayah. Tapi nggak ada satupun yang sreq buat Ayah.

Keluar dari RS Bunda, kita pun akhirnya cuma mengantungi Surat Keterangan Kelahiran ini: Read the rest of this entry »