Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Protected: Bumi and Langit’s Trip to Bali (Part 3)

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Tandem Stoller: Need (and want)!

Menjelang kedatangan Adik Lala, Bubun nggak atau belum (?) merasa perlu mikirin untuk belanja keperluan bayi. Selain barang-barang Kakak Bumi masih banyak yang bagus, kondisi keuangan nggak memungkinkan yah.. (curcol). Bubun cuma beli beberapa baju warna pink aja. Buat nambah-nambah. Mungkin nanti mau beli pita sebiji dua biji.

Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya mau nggak mau, tetap harus beli juga beberapa keperluan  karena rencananya Lala akan tinggal di rumah aja. Nanti kalau udah setahuan, baru mungkin ikut Kakak Bumi di daycare. Yang paling penting sih sterilizer alias dish dryer panasonic, dan warmer ASI. Car Seat juga penting. Jadi, perlu diupayain.

Selain itu Bubun kepikiran, gimana caranya ya kalau kita berpergian? Sejak usia setahun, Bumi doyan banget naik stroller. Kalau Adik Lala mau tidur kita lagi jalan-jalan, Bumi diminta turun dari stoller mau nggak ya? Kayaknya enggak deh ya..

Solusinya, mungkin… stroller yang tandem? Iseng-iseng, Bubun googling-googling soal jenis stroller ini. Kemudian, ngeces…

Read the rest of this entry »


Terpapar Diare (lagi)!

Setelah keluar dari RS karena disentri, kondisi kesehatan Bumi berangsur membaik. Berat Badan Bumi yang sempat turun pun, kembali naik ke berat awal. Jadi, ulang tahun Ayah dilalui dengan penuh kebahagiaan meskipun nggak ada yang spesial. Bubun cuma pesen cake dari Harvest aja. Itupun karena nggak ngukur, jadinya salah pesen, ukurannya kecil banget. Hihi.

DSCN0647 Read the rest of this entry »


Balada Car Seat si Bumi (Part II)

Bubun bisa berencana, nyatanya ada hal-hal di luar dugaan yang bisa menganggu rencana tersebut. Dua hari setelah lahir, bilirubin Bumi cukup tinggi dan muncullah drama per-ASI-an pasca lahiran karena kurangnya support dari keluarga. Jadi ketika keluar dari rumah sakit, Bubun dalam kondisi mental yang kurang baik (dan mata bengkak karena nangis berjam-jam). Ketika Oma bersikeras untuk mengendong Bumi dalam perjalanan pulang, Bubun sudah tidak punya cukup energi untuk membantah, bahkan untuk sekedar berbicara pun rasanya sudah tidak sanggup. Apalagi, berat badan Bumi hanya 2,7 kg ketika itu. Bubun tidak pede juga mendudukkan Bumi di car seat. Alhasil, si Maxi Cosi Cabriofix pun disimpan di bagasi.

Pertama kali ke RS, seminggu sesudah keluar dari RS, Bumi cek ke DSA (dokter spesialis anak). Syukurlah, beratnya sudah nyaris 3 kg. Tapi, menurut Ayah Bubun, lebih baik jika Bumi digendong selama naik mobil mengingat badannya masih sangat mungil.

Ketika berusia 40 hari, Bumi ikut Bubun dan Ayah berkendara ke Pamulang, untuk mengurus rumah yang akan dikontrakkan. Selama perjalanan 2 jam, Bumi duduk di car seat dengan aman dan tenang sembari tidur. Namun ketika pulang, Bumi ingin menyusu sehingga terpaksa Bubun angkat dari car seat. Semestinya, Bubun bisa memberinya ASIP. Tapi, Bubun kesulitan dan kikuk memberikan ASIP jika harus menggunakan cup feeder di dalam perjalanan. Sementara waktu itu, Bumi belum diperkenalkan dengan dot karena ketakutan Bubun terhadap bingung puting.

DSCN4225

Pertama kali Bumi mencoba car seat

Read the rest of this entry »


Balada Car Seat si Bumi (Part I)

Seperti halnya calon ibu baru lainnya, ketika masih mengandung Bumi, Bubun sudah sangat excited dengan urusan printilan berbau ‘bayi’, termasuk baby gear. Rasanya, seru sekali memilih-milih jenis dan merek stroller, gendongan, baby crib, baby chair, atau car seat. Tapi untuk urusan car seat, bukan cuma sekedar seru, ada urgensi yang menjadikan barang ini vital untuk dimiliki ibu seperti Bubun. Sejak semula Bubun dan Ayah sudah berencana untuk menggunakan jasa daycare atau Tempat Penitipan Anak (TPA) di waktu bekerja. Sehingga sejak berusia 2 bulan, Bumi ikut pergi pulang naik mobil dari rumah menuju kantor dan juga sebaliknya.

Bahkan kalaupun Bumi tidak dititipkan di TPA, car seat ini penting karena keselamatan Bumi jika berkendara akan bergantung padanya. Apalagi kalau melihat tingginya angka kecelakaan yang melibatkan bayi atau anak-anak. Hal yang mana, semestinya bisa diminimalisasi dengan adanya car seat. Ini sesungguhnya adalah pengetahuan baru bagi Bubun ketika mengandung. Wajar mungkin, karena di lingkungan sekitar, Bubun lihat jika berkendara, bayi digendong atau dipangku. Sementara anak yang dirasa sudah cukup besar, akan duduk di kursi penumpang seperti orang dewasa.

Read the rest of this entry »


Pospak? Kirain Clodi aja?

Orang boleh berencana. Tapi realisasi rencana itu terkadang nggak sesuai harapan.

Jadi, seperti diceritain di sini, awalnya Bubun udah niat murni dan suci mendidik Bumbum hidup eco-green sejak dini dengan mengurangi pemakaian pospak dan menggantinya dengan clodi. Udah modal 9 clodi pun… (sekarang malah udah punya 10) Apa daya, TPA tempat Bumbum sekolah tiap senin-Jum’at jam 07.30 sampai 17.00, mengharuskan pemakaian Disposable diaper alias Popok Sekali Pakai alias Pospak. Alasannya, kalau Clodi kotor nggak higienis disimpan di lingkungan TPA, sebelum dibawa pulang ke rumah.

Ya, akhirnya clodinya cuma dipakai di rumah. Malam sampai pagi dan Sabtu – Minggu sepanjang hari.

Tapi itu cuma bertahan sampai Ade berusia sekitar 4-5 bulan. Kenapa? Read the rest of this entry »


Dipilih.. dipilih..

Setelah fixed memilih Ergo sebagai carrier Ade, Bubun masih ada PR lanjutan, yaitu: milih jenis Ergo yang mana? Karena eh karena….:

1. Ergo ngeluarin banyak banget varian.
2. Harga Ergo mihil benjeut. Kalau salah beli, hiks.. hikss… jangan sampe deh. Ya, bisa dijual lagi sih. Toh, banyak yang nyari juga. Tapi kan repot ya?

Setelah nonton tayangan berjudul “How to choose your ergo” di sini:

Akhirnya Bubun bisa menyimpulkan bahwa Ergo terdiri dari 3 Tipe, yaitu:

Read the rest of this entry »