Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Cerita tentang Bingung Puting, Relaktasi, dan Hal-hal yang sudah selesai (Part I)

Alhamdulillah, satu lagi sesi drama semusim terlewati.
Setelah 1 bulan berjibaku dan 2 minggu menenangkan jiwa, akhirnya Bubun bisa nulis lagi. Katanya sih, kalau lagi sedih baiknya nulis aja. Aturan ini kurang cocok untuk Bubun. Bisa kebawa, mengasihani diri sendiri dan jadi kurang bersyukur. Lebih parah lagi, ngucapin hal-hal yang disesalin kemudian.

Akhirnya sih di masa kelam itu, tetap aja nggak bisa menahan diri. Curhat juga, di blog satunya.😀

Tidak pernah terlintas dalam benak Bubun bahwa akan ada saat di mana Langit akan mengalami bingung puting. Okay, pernah sih. Sama Bumi dulu. In fact, Bubun parno banget kalau Bumi ngalamin bingung puting sampai-sampai galau berhari-hari menjelang Bumi masuk TPA sewaktu Bubun balik kerja setelah maternity leave berakhir. Tapi kegalauan itu segera berakhir karena Bumi nolak minum pake dot. Padahal udah nyoba 6 merk botol! Sampai Bumi disapih pun, bisa dihitung pake jari berapa kali mau minum pake dot.

Ketika Bumi mengalami penurunan berat badan secara signifikan dan berakhir pada diagnosa FTT, sedikit banyak Bubun menyalahkan diri karena nggak bottle training sejak dini. Biar kata para DSA dan dokter gigi bilang itu hal positif, Bubun tetap bersikukuh bahwa bagusnya dulu itu Bumi pake dot aja. Sampai Bubun pun berkata:

I should take the nipple confusion risk! Biar kata akhirnya harus e-ping, nggak apa-apa! Berat badan itu segalanya!”

*Backsound petir menggelegar*

Eh nggak nyangka, ada malaikat lewat.

Setahun berlalu, dan Langit pun bingung puting. JEGERRR!
Ternyata, berat badan anak itu penting. Tapi bukan segalanya. Masa untuk hal sesederhana itu, Butuh jalan berliku untuk nyadarinnya?
*pinjem pintu ke mana saja Doraemon*
*tampar-tampar diri di waktu lalu*

Kisah Langit berikut ini akan menjadi pengingat Bubun ke depannya.

18 Oktober 2014
Terakhir kali Langit menyusu langsung.
Bubun nggak ingat persisnya. Hari itu, dan esoknya, Ayah tidak di rumah. Jadi, Bumi sama Bubun sepanjang hari. Sesekali Bubun sempatkan untuk ngurusin Langit. Tapi dengan segera diambil alih oleh suster.

20 Oktober 2014
Langit terdeteksi ngalamin nursing strike. Bubun panik!

21 Oktober 2014
Konsultasi laktasi dengan dr. Tiwi.
Hari pertama relaktasi tahap I.

22 Oktober 2014
Bubun berselisih paham dengan suster. Dia tampak tidak setuju dengan program relaktasi ini.
Suster minta pulang. Diajak ngobrol baik-baik.

23 Oktober 2014
Konsultasi laktasi dengan dr. Jeanne.

Sesi konsultasi dimulai dengan berondongan pertanyaan, yang membuat Bubun berpikir apakah udah ngerawat Langit dengan baik.

“Lahir spontan atau SC?”
– Spontan.
“IMD nggak?”
– IMD, tapi sebentar sebelum diobservasi di NICU 1 jam karena nelan air ketuban, terus sambung lagi IMD-nya. Tapi langsung saya posisiin menyusui, nggak nyari sendiri.
“Sempet kuning?”
– Enggak. Birilubin tertinggi Langit 11. Jadi nggak pernah disinarin.
“Ada masalah menyusui?”
– Enggak. Berat badan kembali pada berat lahir dalam waktu 1 minggu setelah lahir. Nggak pernah lecet atau luka.
“Selama ini kasih ASIP pake apa?”
– Pake dot
“Memerah ASI pake apa?”
– Pake tangan dok. Awal-awal sempet dibantu breastpump elektrik.
“MPASI usia berapa?”
– 5 bulan 1 minggu, karena GC datar selama 1 bulan.
“Makannya apa?”
– Bubur beras, protein hewan, dan sayuran.
“Berapa kali sehari?”
– 2 kali makan berat plus 1 kali buah.

dan masih banyak lagi pertanyaan yang disampaikan dr. Jeanne dengan sopan dan ramah. Dokternya terlihat sabar dan keibuan. Padahal Bubun udah siap-siap bakal digalakkin. Sampe keringet dingin sebelum masuk. Maklum, dokter dan suster laktasi di Carolus terkenal tegas.

Setelah diskusi panjang lebar, dan sebelum sesi pijat laktasi, dr. Jeanne ngejelasin bahwa upaya relaktasi Langit bukannya mustahil, selalu ada peluang untuk bisa kembali menyusui langsung. Akan tetapi, beliau juga nggak menjanjikan bahwa proses ini akan berhasil. Jadi, Bubun pun diminta untuk menyiapkan diri jikalau nantinya prosesnya gagal.

Sementara itu, dokter menganjurkan untuk meneruskan skin to skin, lanjut mengonsumsi domperidone yang diresepkan dr. Tiwi, serta meningkatkan asupan makan Langit menjadi 3 kali makan berat, 1 kali makan buah, dan 1 kali minum jus. Selebihnya adalah ASIP atau sufor yang diberikan dengan cup feeder.

Meskipun ada rasa enggan, Bubun nanya: “Kapan saya akhirnya harus menyerah, dok? Kapan upaya relaktasi baiknya berhenti kalau udah nggak ada hasil.”
“3 Minggu.” Jawab dokternya.

Three weeks it is!

Selama konsultasi yang berlangsung kurang lebih 1,5 jam itu, Ayah sibuk foto-foto selfie. Bubun jadi nggak enak banget. Takutnya dokternya nggak berkenan.

20141023_134621Lihat aja muka Bubun yang kesel di pojok😀

Tapi ternyata, si dokter cuma khawatir kalau kita itu wartawan. Soalnya, beliau nanya pekerjaan kita apa. Sewaktu Bubun jelasin kalau kerjaan Bubun berhubungan dengan media, beliau seperti kaget “Ibu ini wartawan?” Buru bilang bukan, beliau seperti nggak percaya. Ayah juga ditanyain apakah profesinya wartawan. Setelah itu beliau jelasin tentang standar rumah sakit yang mendapat penghargaan dari PBB.

Eh.. waktu keluar dari ruangan, beliau nyamperin Bubun lagi: “Ibu wartawan bukan ya?” Yang ada, Bubun ngakak. “Ya ampun dok, beneran saya bukan wartawan. Itu suami saya emang doyan foto-foto, tapi bukan wartawan.”

“Oh gitu… saya agak takut soalnya kalau wartawan.” Kata beliau sambil senyum malu-malu. Dokternya lucu, lugu dan berhati halus banget, seperti neneknya Bubun.😀

24 – 26 Oktober 2014
Ada sedikit kemajuan. Langit udah mau dicekokin puting.
Minggu, ketika tertidur lelap, samar-samar ngenyot pelan beberapa detik.

Peristiwa 18 – 26 Oktober udah pernah Bubun bahas sekilas di cerita sana.

27 Oktober – 4 November 2014
Bubun kembali masuk kerja. Relaktasi tahap I berakhir.
Selama periode ini, Langit masih lepat dot. Tiap malam bangun 2-3 kali, Bubun suapin pake sendok minum ASIP-nya. Makin lama Langit makin stress, masih ngantuk disuruh duduk. Manalah stok ASIP-nya belum kekejar. AKhirnya harus diperah dulu sebelum dikasih.
Kadang kalau kecapekan banget, Bubun tepuk-tepuk aja pantat Langit supaya tidur kembali. Kadang juga Langit nggak bangun sama sekali dari tengah malam sampai subuh. Hal yang mana membuat suster gusar.
“Ibu itu harus bangun 3 kali dalam semalam.”
“Langit nggak bangun sus.”
“Nggak mungkin nggak bangun. Pasti nangis.”

Bubun mulai frustrasi. Kalau menyusui langsung, semuanya lebih mudah. Langit merengek dikit, langsung disusui, aman deh sampai pagi.

Sepanjang hari, rasanya lelah sekali.

Situasi di apartemen jadi kurang nyaman. Suster bilang ke Ayah kalau kangen sama Langit. Dia juga khawatir katanya dengan berat badan Langit yang mulai turun karena kurang asupan ASI. Langit nggak suka disendokin. Akhirnya cuma bisa konsumsi 50 ml aja sekali minum. Seringkali, Langit dipaksa minum ASIP sampai matanya bengkak karena nangis kejer. Tapi suster tetap maksain. Bubun nggak tega tapi juga nggak enak sama suster. “Enggak, pokoknya harus habis minumnya. Kalau nggak kamu makin kurus.” Begitu katanya. Bubun yang gelisah cuma bisa ngomong: “Hmm.. kayaknya kekenyangan deh sus.”
“Nggak, biasanya habis kok segini.”
Terus, Langit muntah. Katanya itu karena nangis.

Bubun nyadar sih kalau Suster nggak setuju dengan program relaktasi ini. Ayah berkali-kali menekankan bahwa kita harus menjaga perasaan suster. Karena nyari pengasuh susah jaman sekarang. Tapi, perkara menyusui langsung adalah hal besar bagi Bubun. Gimana dong?

Ujung-unjungnya, Bubun jadi sensitif banget kalau Ayah udah nyinggung-nyinggung soal berat badan Lala dan soal batasan waktu 3 minggu yang disebut oleh dr. Jeanne.Bubun merasa didesak dari segala penjuru. Selain itu, seperti ada bom waktu yang sebentar lagi meledak. Udah kurang dari 1 minggu lagi sebelum sampai di waktu yang kita sepakati di awal program relaktasi. Sementara Bubun belum siap untuk menyerah.

5 November 2014
Terhubung dengan Mama Leon, seorang Konselor Laktasi. “Banyak kok kasus yang usia anaknya lebih tua dari Langit tapi berhasil relaktasi!” Kata beliau.
Semangat Bubun kembali membara.

Direkomendasikan ke dr. Asti Praborini, gurunya Mama Leon. Kemungkinan relaktasi rawat inap katanya. Satu dari dua RS yang nerima relaktasi rawat inap di Jakarta adalah RS tempat dr. Asti praktik di daerah Kemang sana.

Karena jadwal si dokter sangat padat, Mama Leon bantuin untuk bikinin janji tersendiri. Kalau harus daftar sendiri, Bubun baru bisa konsul hari Senin. Malamnya dapat kabar bahwa Bubun bisa diselipin untuk konsul hari Jumat besok.

7 November 2014
Paginya, Bubun minta izin ke atasan. Belum dijawab, Bubun udah harus siap-siap ke Kemang. Sebelum berangkat, Ayah bilang nggak bisa nganterin. Suster pun nggak mau ikut katanya.
Udah nyiapin mental akan berangkat sendiri ke Kemang, naik taksi, bawa Langit bersama bawaan ini semua:
20141107_091147

Meskipun seluruh dunia menolak, Bubun sudah bertekad sekeras baja: Akan ke dr. Asti siang itu! This will be my last effort before i let it go.

Alhamdulillah, sebelum mesen taksi Ayah ngabarin kalau dia bisa nganterin. Cuss lah kita ke Kemang.

****

Antriannya lamaa. Udah pasti. Tapi Bubun jadi punya banyak waktu tambahan untuk googling tentang dr. Asti dan metode perawatannya. Ada banyak hal yang Bubun tanyakan kepada Mama Leon. Bubun sebenarnya skeptis dengan dr. Asti. Soalnya dari jaman mengandung Bumi, Bubun udah baca banyak review tentang beliau. Sebagian besar Bubun kurang sreq. Utamanya tentang diagnosa tongue tie yang selalu menyertai pemeriksaannya. Juga tentang pemberian CTM pada bayi-bayi yang relaktasi.

Beberapa hasil diskusi dengan Mama Leon:
Tanya Bubun: Ada nggak sih pasien dr. Asti yang nggak didiagnosa TT (Tongue Tie)?
Jawab Mama Leon: Ada. Tapi sebagian besar masalah menyusui itu penyebabnya TT.

Tanya Bubun: Emang semua TT harus diinsisi? Bukankah level tertentu nggak perlu. Pada kondisi apa harus diinsisi?
Jawab Mama Leon: Betul, nggak semua TT harus diinsisi. Perlu ada insisi kalau ada masalah menyusui.

Tanya Bubun: Emang bener itu bayi relaktasi dikasih CTM? Nggak apa-apa?
Jawab Mama Leon: Iya, soalnya bayi yang relaktasi akan rewel dan akan mempengaruhi kondisi emosional Ibunya. CTM yang diberikan dosisnya sangat kecil dan aman.

Tanya Mama Leon: Gimana kalau Langit ada TT?
Jawab Bubun: Kayaknya nggak yakin ya. Bumi dan Langit begitu lahir langsung Bubun minta dicek ada TT atau enggak. DSA-nya kebetulan juga konselor laktasi. Menurut beliau, nggak ada TT. Saya juga ngecek gambar di internet (saking parnonya dengan TT), sepertinya bawah lidah Bumi dan Langit nggak ada talinya.

Tanya Mama Leon: Memang untuk TT level tertentu, butuh pemeriksaan lebih detail. Dulu diperiksaya diraba nggak?
Jawab Bubun: Nggak ingat pasti diraba atau enggak.

Tanya Bubun: Dari lahir Langit nggak ada masalah menyusui SAMA SEKALI. Nggak ada yang namanya masalah perlekatan. Usia 5 hari udah balik ke berat badan lahir. Saya nggak pernah ngalamin lecet, nipple crack, atau plugged milk ducts. Bukannya kalau ada TT nggak akan selancar itu menyusuinya?
Jawab Mama Leon: Kalau TT level tertentu emang nggak langsung keliatan ada masalah. Usia 4 bulan baru deh ada masalah pertumbuhan.

Tanya Bubun: Tapi kan masalah slow growth itu ada BANYAKKK sekali penyebabnya. Prosedur yang banyak diterapkan DSA saat ini adalah cek Zat besi atau screening infeksi, misalnya ISK (Infeksi saluran kencing)… Gimana kita bisa tahu kalau itu penyebabnya karena TT?
Jawab Mama Leon: Ya memang banyak anak TT yang didiagnosa berbeda.

Sebelum masuk ke ruangan dr. Asti, Bubun diminta oleh Mama Leon untuk komitmen penuh, percaya pada tim dr. Asti dan bekerja sama dalam menerima treatment yang diberikan. Bubun sanggupi. Kalau udah gini, apapun akan Bubun lakuin, nak. Sampai Bubun bilang ke Mama Leon: “Disuruh mendaki gunung himalaya pun saya mau!”

****

Begitu masuk ke ruangan dr. Asti, Bubun langsung disambut sapaan ramah. Bubun ngelirik sekilas, kayaknya dokternya tegas. Nggak salah emang.

“Sebelum masuk sini, harusnya Ibu dan Bapak udah googling tentang saya. Biar tahu”

“Udah dok.” Jawab Bubun.

“Ibunya udah, Bapaknya?”

Si Ayah mesem-mesem. Terus gendongin Langit sambil membelakangi dokternya. Dr. Asti keliatan kesel. Terus Ayah diceramahin. Bubun agak seneng juga sih. Soalnya selama ini, berasa kurang dukungan dari Ayah dalam hal relaktasi. Bubun nyadar sih, Ayah itu skeptis banget terhadap apapun. Tapi kadang sebel juga kalo pura-pura amnesia soal penyebab Langit bingung puting. Ah, tapi..  “Waktu tidak pernah berjalan mundur dan hari tidak pernah berulang…” *Tiba-tiba AADC*

Dokternya sempet sebel juga begitu tahu kalau buku kesehatan Langit lupa dibawa. Untung Bubun langsung nyodorin growth chart Langit yang ada di HP.

dr. Asti mengoreksi istilah ‘nursing strike’ yang Bubun pakai. “Kalau udah di atas 5 hari sih bingung puting namanya. bukan nursing strike lagi.”

Langit kemudian diperiksa, kemudian didiagnosa Tounge Tie Posterior level 4 dan Lip Tie. Tentu saja. Dari cerita Bubun tentang Bumi juga, dr. Asti menduga Bumi ada TT dan perlu diinsisi. “Tapi saya lihat dulu yah anaknya.”

Kita bicara cukup lama. Bubun masih ingat detailnya. Tapi nggak pengen bahas sekarang. Yang jelas, Ayah dan Bubun diberi 2 pilihan:

1. Rawat inap relaktasi. Di RS ini akan dibantu oleh perawat dan tim dokter laktasi. Di sini akan diawasi proses relaktasinya agar berhasil.

2. Langit kembali diberi dot, dan Bubun e-ping sampai habis sendiri produksi ASI-nya. Dengan bantuan obat-obatan dari dokter, Bubun bisa terus ngasih ASI sampai setidaknya Langit berusia 15 bulan.

Bubun tentu saja milih opsi pertama. Ini akan jadi perjuangan terakhir Bubun sebelum menyerah. Lagian juga belum genap 3 minggu sejak program relaktasi I dijalankan. Jadi, belum lewat dari batas waktu yang diberikan Ayah.

dr. Asti juga meminta Langit segera diinsisi begitu udah bisa menyusu langsung. Selama dirawat nanti, Langit juga akan dibuat lapar agar mau menyusu langsung. Bubun sebenernya agak ragu. Soalnya menurut dr. Tiwi dan dr. Jeanne sebelumnya, selama proses relaktasi, bayi dibuat kenyang, dan nyaman.  Tapi ingat komitmen yang udah diberikan kepada Mama Leon sebelumnya, Bubun kuat-kuatin diri. Toh ini demi kebaikan Langit juga.

Entah untuk menyemangati atau apa, dr. Asti berulangkali bilang kalau Bubun itu punya daya juang dan semangat tinggi. Bubun juga dengar dr. Asti berbisik ke asisten dokter yang mendampinginya: “Ini kayaknya berhasil nih, semangat Ibunya besar soalnya.”

Setelah keluar dari ruang praktek dr. Asti, Ayah langsung ngurus administrasi. Syukurlah Ayah menunjukkan dukungan yang lebih besar setelah ngobrol dengan dr. Asti. Mungkin karena kasian juga ngeliat Bubun bersimbah air mata ngobrol dengan dr. Asti.

Sementara Bubun itu, diminta buka baju, ganti dengan jubah, langsung skin to skin dengan Langit. Eh nggak berapa lama, ketemu Mamanya Mykayla yang nganterin Myka imunisasi. Ternyata, dulu Myka juga didiagnosa TT dan LT sewaktu lahir, jadi usia berapa hari udah diinsisi.

Bubun kebayang proses relaktasi tahap II ini akan lebih perjuangan daripada waktu di rumah. Ternyata, memang begitu… Untuk alasan yang berbeda.

to be continued

UPDATE (august 2015)

Disclaimer:

I don’t want this story to be mislead. Just for the information, I now have different opinion about tongue tie. And, i DON’T recommend stay at the hospital to get nipple confusion treatment. I have a terrible related experience and i strongly defend any effort to push the baby limit in some uncomfortable circumstances, just for the sake of making her/him back to the breastfeeding.


8 Comments on “Cerita tentang Bingung Puting, Relaktasi, dan Hal-hal yang sudah selesai (Part I)”

  1. indahrais says:

    ditungguin lanjutannya ya Mba ..🙂

  2. Fianty says:

    Halo mba citra,
    Saya silent reader mba citra selama ini. Sampai post kali ini bikin saya nulis di comment krn betul2 bikin saya penasaran bagaimana kelanjutannya setelah bertemu dr.Asti.
    Krn saya jg di rekomendasikan oleh dokter kandungan saya untuk konsul ke beliau tapi ragu karena alasan yang sama dengan mba citra.
    Ga sabar pingin baca kelanjutannya. Berharap kelanjutannya ditutup dengan happy ending. Hihi

    • CHN says:

      Hai MbakFianty,

      Maaf baru baca. Kalau nanya pendapatku, aku nggak recommend konsultasi mengenai tongue tie. Menurut pendapatku sebagai orang awam yang punya anak didiagnosa tongue tie, meskipun tidak pernah punya riwayat kesulitan menyusui, tongue tie tidak perlu diinsisi. Selain itu, saya sendiri menyesal udah rawat inap untuk ‘mengatasi’ bingung puting.

      I will say it clear and loud. It was the most terrible experience i had in breasfeeding and one of the most traumatized event as a mother.

  3. Lita anrea says:

    Mba, boleh minta alamat email nya, thanks😉

  4. Luchia Radja says:

    Hai Mama Langit…saya lihat stats blog saya dan penasaran karena ada link dari blog ini ke blog saya..dan ternyata ini blog Mama Langit🙂

    Terimakasih sudah bercerita dan selalu semangat untuk Bumi dan Langit ya🙂

    Salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s