Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Serial Berat Badan Bumi (Season VI) – Laringitis, Periactin, dan hal-hal lainnya

Sebenarnya, ada yang belum sempat Bubun ceritain di sini. Males juga sih. Soalnya, ini melibatkan cerita tentang….

???????????????????????????????Yup! Bumi rawat inap lagi. Zzzzzz….

Laringitis yang bikin spaneng!

Minggu kedua bulan Juni 2014, Bumi kurang sehat. Belum 1 minggu Bubun masuk kantor setelah lahiran Langit padahal. Awalnya gejala batuk pilek biasa. Tapi kemudian salah satu ibu teman Bumi di daycare cerita kalau anaknya baru aja sembuh dari Laringitis, Bubun jadi was-was. Setelah 3 hari, Ayah dan Bubun ke IGD RSIA Bunda untuk cek. Ternyata benar. Ada indikasi ke sana. Ketika itu, emang lagi musim sepertinya. Laringitis sebenarnya semacam peradangan pada pita suara disebabkan oleh virus. Tidak berbahaya. Efek sampingnya yang perlu diwaspadai, yaitu sesak napas.

Sebelum pulang Bubun pun minta dibekali dengan informasi mengenai tata laksana kondisi gawat darurat. Ternyata arahannya cuma satu: bawa kembali ke RS. Nggak bisa napas udah harus dibantu tenaga medis ternyata. Tapi, Bubun agak sulit memahami cara mengenali ciri-ciri sesak napas itu.

2 hari berlalu, kondisi Bumi agak menurun. Laringitis membuat Bumi susah makan. Berat badan (yang udah di kategori gizi kurang) pun makin menurun. Hari jum’at sore tanggal 13 Juni 2014, Bumi rewel luar biasa dan dapat laporan dari daycare kalau makannya dikit, nggak seperti biasa. Balik ke RSIA, kita konsul ke dr. Dedi Wilson. DSA-nya Bumi dan Langit kan dr. Tiwi yah. Tapi berhubung beliau sabtu-minggu hampir selalu pulang ke Bali, sering ikut seminar atau kunjungan ke luar kota/negeri, jadinya jarang bisa menangani kondisi emergency. Untuk itu, dr. Dedi Wilson biasa yang megang Bumi kalau rawat inap.

Ole dr. Dedi, kita dikasih beberapa obat (yang Bubun udah lupa), dan diwanti-wanti, kalau misalnya makin susah makan, harus rawat inap. Kita pun balik ke apartemen. Semalaman Bumi makin lemes dan nggak mau makan. Minum pun susah. Maunya nenen terus.

Sabtu paginya, kondisi Bumi tidak juga membaik. Makan pagi dilewatkan. Padahal udah diblender dan sempat diberi time out di thinking spot (yang mana sepertinya kurang tepat yah…). Tapi namanya lagi sakit yah.. Bumi nggak mau sama sekali. Akhirnya siang hari, Ayah dan Bubun sepakat untuk balik ke RS. Sambil berurai air mata, Bubun nyiapin baju-baju Bumi dan botol-botol untuk merah ASIP (untuk Langit). Setelah itu, pamit ke Langit, pengasuh Langit (waktu itu), dan Om Dino (yang kebetulan lagi tinggal di apartemen).

Kita pun berangkat ke Bunda. Kali ini milihnya ke RSU-nya. Biar kalau mau rawat inap, lebih enak dan nyaman.

Ternyata, ada policy bahwa RSU tidak menerima pasien ibu dan anak. Harus diarahkan ke RSIA. Lagian, dr. Dedi nggak bisa ngerawat pasien di RSU karena terkait surat izin praktek atau apalah gitu… Jadinya, dari IGD RSU kita (ditemani perawat) pun nyebrang ke RISA. Kita nggak ekspektasi apa-apa, mengingat terakhir Bumi rawat inap di sana kan di kamar ibu, bukan balita, karena masih direnovasi. Ternyata… kamar perawatan balita di RSIA Bunda baru aja selesai direnovasi, dan… bagus bangeet! Baru, bersih dan berwarna-warni.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Setelah admitted dan dapat kamar, Ayah dan Bubun nyoba nyuapin Bumi. Tapi, masya Allah… susahnya! Udah dibantu suster-suster juga (yang mana, mengenali Bumi dengan baik, saking seringnya kita di sana). Padahal kan Bumi harus minum. Terpaksa bergantung pada ASI. Untungnya Bubun baru 2 bulan lahiran Langit. Jadi, produksi ASI-nya pun masih melimpah. Meskipun secara nutrisi, nggak cocok untuk kebutuhan Bumi yang berusia 18 bulan. Hari itu, nggak ada makanan solid yang masuk ke lambung Bumi. Tapi, Bumi cukup ceria (untuk ukuran anak yang lagi sakit). Kamarnya juga nyaman. Ada gambar-gambar hewan di selasar yang suka dilihatin Bumi, juga tempat bermain yang juga cukup luas. Jadi, Bumi bisa jalan-jalan dan nggak terus-terusan rewel. Kadang main juga di crib-nya.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

DSCN0257

???????????????????????????????

Malamnya, dr. Dedi visit dan kaget ngelihat Bumi belum makan dari Jumat sore. Melihat status gizi Bumi, akhirnya dr. Dedi nyaranin untuk konsul dengan dr. Klara, subspesialis gizi di RSIA Bunda supaya bisa ditindaklanjuti dengan NG Tube. Itu lho, pemberian makanan cair melalui selang yang dimasukin ke lambung via hidung. Shocked banget dengernya. Para suster pun ngubungin dr. Klara. Tapi belum bisa dihubungi katanya. Bumi pun diinhalasi untuk meringankan batuk berdahak yang lumayan ganggu pernapasannya. Sebelumnya juga muntah-muntah. Mungkin karena batuk berdahak itu.

???????????????????????????????

Besokannya, dr. Klara belum juga bisa dihubungi. Bumi juga masih bisa belum makan. Akhirnya Ayah mutusin untuk pake metode pemaksaan, ngejalin makanan ke mulut Bumi. Bubun nggak tega banget. Bumi ngamuk sejadi-jadinya. Bubun Nangis-nangis minta Ayah supaya berhenti. Setelah beberapa suap, akhirnya Ayah berhenti. Makanan pun nggak yakin ada yang masuk, karena banyak yang disembur.

Tiap kali Bumi tidur, kita pun nyempatin inhalasi. Efektifnya sih kalau lagi nggak tidur. Tapi mengingat ini Bumi rewel banget dan nggak nyaman, jadi ya nggak apa-apa lah..

Sore hari, Bunda Anita dan Bunda Abud (pengasuh dari Daycare) datang jengukin Bumi di RS. Bubun terharu banget. Ternyata Bunda-Bunda ke RS nggak sekedar nengok, tapi membawa misi: untuk nyuapin Bumi. Sebelumnya, Bubun bertukar kabar dengan Bunda Anita via WA mengenai kondisi Bumi. Pukul 17.00, hampir 48 jam sejak terakhir Bumi makan (yang beneran, tanpa sembur-semburan). Setelah ngebujuk beberapa saat, Bunda Anita dan Bunda Abud berhasil nyuapin Bumi! Bukan cuma satu dua sendok, tapi satu mangkok besar, porsi dewasa!! Itu semua dilakukan Bumi dengan hati riang sambil nonton disney channel dan dihibur Bunda-bunda.

Alhamdulillah wa syukurilah!! Bubun meneteskan air mata bahagia, sekaligus lega. Bubun merasa berutang budi banget dengan Bunda Anita dan Bunda Abud…
Berkat kedua bunda, akhirnya malam itu, kondisi Bumi membaik. Esoknya, kami pun boleh pulang.

Gara-gara si Laringitis ini, Bumi turun berat badan sekitar setengah kilo. Terancam deh program #10KgSebelum2Tahun yang Bubun canangkan😦

Konsul ke-4 dengan dr. Mita

Setelah peristiwa laringitis itu, Bumi pun mulai bertambah berat badannya. Nggak banyak sih, tapi kalau melihat grafik Growth Chart-nya, Bumi udah ninggalin persentil 3%, dan masuk ke persentil 5%. Masih jauh dari harapan, yaitu di persentil 15%, tapi setidaknya ada progress lah.

dr. Mita sangat suportif dan bersikap positif terhadap perkembangan ini. Menurutnya, Ayah dan Bubun adalah pasangan orang tua yang kompak dan dapat diandalkan. Beliau juga mengapresiasi Ayah dan Bubun yang mencatat detail perkembangan fisik Bumi sejak dini. Berdasarkan hasil pengamatan dr. Mita, perkembangan Bumi ini cukup bagus, dan itu semua nggak akan terwujud tanpa kerjasama Ayah dan Bubun. Si dokter juga nanya aplikasi khusus yang Ayah download di gadget untuk mencatat pertumbuhan Bumi dan Langit. Katanya, Beliau mau minta semua orang tua pasiennya untuk mencontoh Ayah dan Bubun. Jadi malu. Hihi.

dr. Mita juga menceritakan pengalamannya tinggal di luar negeri (Perancis kalau nggak salah), dan hasil observasinya terhadap para orang tua di sana, dalam mengasuh dan membesarkan anak.

Bubun pun cerita soal perubahan perilaku Bumi yang akhir-akhir ini makin susaaah makan. Padahal pengobatan GERD Bumi ini, udah hampir mencapai akhirnya, menurut dr. Mita. Kita udah nyoba segala taktik. Dari pake video sampai metode time out.  Awalnya nonton video makan berhasil bikin Bumi anteng duduk di high chair sambil suap sendiri. Lancar lah.

10535670_10203629285726976_4347461102403013207_o

Ini salah satu video kesukaan Bumi dulu:

Itu Ian kok bisa makannya lahap gitu yaa? Keren!

Sekarang sih sukanya sama yang ini:

10527292_10203544381644427_8489581708989716896_n

Tapi, lama-lama Bumi bosen juga. Dipakailah metode time out. Kalau Bumi menolak makan, Ayah dan Bubun akan nempatin Bumi di spot tertentu, yang disebut sebagai thinking area. Tempatnya beda-beda. Biasanya sih di sudut ruangan.

Bubun nanya ke dr. Mita. Ini sih, Bubun ngerti bukan hal yang patut dicontoh untuk membangun perilaku anak yang baik. Tapi, kita nggak punya pilihan kadang. Sementara, prioritas kita saat ini jelas: harus ngejar asupan nutrisi Bumi supaya tumbuh kembangnya membaik. Menurut dr. Mita, pilihan yang Ayah Bubun ambil tidak salah. Sebaliknya, meskipun jelas itu bukan pilihan terbaik, hasilnya nyata: ada perubahan pada kenaikan berat badan Bumi.

Highlight dari konsul kali ini adalah kalimat-kalimat penyemangat dari dr. Mita:
“Ibu percaya kata saya, Bumi akan bertumbuh dengan baik. Mencapai berat badan yang optimal dan keluar dari status gizi kurang ini. Nantinya, Ibu akan mengingat pengalaman ini, mungkin sambil ketawa-ketawa. Ketika itu, yang ada hanya rasa lega. Semua sudah terlalui.”
“Bahkan Bumi mungkin bisa ada peluang obesitas. Tapi nggak, Bumi akan banyak bermain, aktif dan ceria. Dia nggak akan jadi anak yang itu, yang duduk di pojokan sambil makan sementara temennya main. Makan terus nggak berhenti-berhenti.”
“Lihat saja nanti… waktu SMA.. eh SMP, Bumi ini akan setinggi Ayahnya sekarang. Jadi SMA nanti, akan melebihi tinggi Ayahnya.”

Ada sesuatu dalam kalimat dr. Mita yang… bikin merinding dengernya!

Setelah 3 bulan pengobatan dengan Nexium ini, Bumi pun diminta meneruskan 2 minggu seperti biasa. Kemudian, mulai 1 hari minum, 1 hari istirahat. Begitu terus selama 1 bulan. Selanjutnya, pengobatan Bumi sudah selesai.

Sedikit lagi ya… Mudah-mudahan bebas GERD segera.

Kemudian, datanglah masa kelam

Masa-masa terakhir pengobatan GERD, bisa dibilang masa terberat bagi Ayah dan Bubun dalam hal… nyuapin makan! Sejak umur 1 tahun, sebenarnya Bumi udah bisa makan sendiri. Itu berkat pengasuhan di daycare (tentu saja, emang Bubun bisa apa? :'(( ). Tapi, kemudian kita mengalami kemunduran. Kalau di rumah, Bumi susaaah banget makan. Karena (lagi-lagi) perkara growth chart yang seret dan menimbang saran dari seluruh DSA yang pernah kita datangin untuk konsul, prioritasnya adalah memasukkan nutrisi seoptimal mungkin ke dalam tubuh Bumi.

Puncaknya adalah ketika liburan ke Kendari lalu. Nafsu makan Bumi memburuk seburuk-buruknya. Padahal, kita udah menjalani 5 sesi pijat khusus bersama 2 tukang pijat yang diklaim berhasil meningkatkan selera makan anak yang tentunya berimbas pada berat badannya. DIpijat pun, effort-nya luar biasa karena Bumi pasti ngamuk.

Sehari setelah menjalani sesi pijat keempat, Bubun nggak kuat. Meledak nangis berderai-derai. Frustasi nyuapin Bumi. Rasanya kok semua usaha Ayah Bubun snggak membuahkan hasil? Makan banyak aja, Bumi susaaah naik berat badannya. Gimana kalau mogok makan?

Mesti gimana lagi ini…?

Kenalan dengan Periactin

Berkat postingan Serial Berat Badan Bumi, Bubun berkenalan dengan Mamanya Satria. Sebenarnya duluu, Bubun udah pernah baca blognya dan menimbang-nimbang untuk ke dr. Joyce juga tapi akhirnya dibatalkan. Bubun banyak diskusi dengan Mama Satria. Ternyata, Satria juga didiagnosa GERD oleh dr. Eva J. Soelaeman di RSAB Harapan Kita. Meskipun pertumbuhan Satria sangat bagus (Growth Chart-nya di persentil sekitar 50% kalau nggak salah ingat). Bubun sempat mau konsul juga tuh dengan dr. Eva melihat keberhasilan pengobatan Satria. Tapi saat itu kurang memungkinan. Lagipula, pengobatan dengan dr. Mita belum selesai.

Dari ngobrol-ngobrol via WA, Bubun pun tahu obat bernama Periactin (cyproheptadine hydrochloride). Obat ini sebenarnya antihistamine, yang umumnya digunakan untuk mengatasi simptom berupa alergi hidung. Tapi memiliki efek sampingan berupa menaikkan berat badan. Hasil pendalaman Bubun terhadap obat ini menunjukkan adanya anak-anak (utamanya yang didiagnosa FTT) yang diresepkan obat ini. Beberapa menunjukkan hasil berupa nafsu makan yang menggila dan tidur yang nyenyak.

Awalnya, Bubun udah mau konsul ke dokter untuk penggunaan obat ini. Efek berupa pusing, mual, perubahan perilaku jadi agresif mungkin bisa ditolerir ya untuk konsumsi jangka pendek. Tapi.. tapi… efek lebih jauhnya, ah! Bubun ngeri bangeett! Bubun takut nyesel di kemudian hari. Meskipun tentu saja, penggunaannya dalam pengawasan dokter (nggak bisa beli tanpa resep dokter).

Dari pencarian terhadap obat ini, Bubun pun ‘nyasar’ ke Community-nya Baby Center. Udah ikutan newsletter milestone dari Baby Center sejak mengandung Bumi, Bubun nggak tahu kalau ada komunitas bagi orang tua di sana, termasuk group orang tua dengan anak yang didiagnosa Failure to Thrive (FTT). Bubun nangis-nangis baca curhatan para orang tua (umumnya si ibu-ibu) itu. Rasanya kok, ngerti banget gimana ups and downs nya perjuangan mengatasi FTT itu. All of the sudden, i feel like I’m not alone anymore. :’)

Mungkin.. mungkin benar kata pepatah itu: “The darkest hour is just before the dawn.”

Mungkin setelah ini, semuanya akan berlalu seperti prediksi dr. Mita…?

 ****

Serial Berat Badan Bumi lainnya:
Season I
Season II
Season III
Season IV (Part I)
Season IV (Part II)
Season V


4 Comments on “Serial Berat Badan Bumi (Season VI) – Laringitis, Periactin, dan hal-hal lainnya”

  1. pippin says:

    “Ibu percaya kata saya, Bumi akan bertumbuh dengan baik. Mencapai berat badan yang optimal dan keluar dari status gizi kurang ini. Nantinya, Ibu akan mengingat pengalaman ini, mungkin sambil ketawa-ketawa. Ketika itu, yang ada hanya rasa lega. Semua sudah terlalui.”

    kalimatnya bikin ayem mbaaaaakkk… :’)

    semangat mbak citraaaa…

  2. wina says:

    Teh Citra, gimana kondisi bumi skrg? Udah nambah lagi bbnya? Owiya, teh, kmrn aku curi denger ibu yg lg konsul mengenai tumbang anaknya (hehe jangan ditiru ya, teh). Kata si ibu, anaknya sering sakit dan bbnya mandek. Setelah diskusi panjang lebar, kesimpulannya, sebulan ini si dede disuruh makan dengan mengunyah. Krn selama ini, ternyata dedenya makan banyak tp yg langsung telen tea. Jd penyerapan nutrisi makanannya ga maksimal. Ya jadinya ga fit. Jd gampang sakit. Nanti kalo sebulan ga ada perubahan, baru deh screening ini itu. Huwaaaa degdegserrr ya jadi ibu teh.

    • citralwi says:

      Hai Wina!
      Bumi belum ada perkembangan signifikan. Terkait masalah mengunyah, Bumi udah diobservasi dulu sama DSA gizi. Dulu sih nggak ada masalah dengan ngunyah. Sekarang ini deh baru lagi doyan ngemut. Aku sedari awal milih untuk screening segala yang menjadi indikasi. Mikirnya, semakin dini, semakin mudah penanganannya.🙂

  3. Mu says:

    halo mba.. saya mulia, ibu dari besha, anak hampir 2 tahun dengan masalah berat badan juga. mau nangis deh baca postingan2 mu. boleh gak aku minta nomer telepon or email untuk dengar lebih lanjut update nya?

    email aku mulianurhasan at gmail dot com

    thanks in advance ya. tetap semangat!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s