Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Oh Lala…

Sebenernya masalah drama ART adalah topik yang paling Bubun hindarin di blog ini.
Capek hati ih. Males inget-inget runtutan ceritanya yang berliku macam sinetron kejar tayang.

Tapi karena kejadian beberapa waktu lalu, Bubun pikir perlu nih cerita garis besarnya. Sebagai pengingat aja untuk hari esok.

Jadi gini…
Karena Bubun udah bulat mutusin bahwa Langit dirawat di rumah aja, nggak di daycare seperti Bumi (at least sampai usia 1 tahun), ketika hamil Langit Bubun udah sibuk nyari-nyari pengasuh dan ART untuk memastikan itu.

Ncus Anik
Bulan Januari 2014, Bubun dipertemukan dengan suster (panggilan untuk nanny/baby sitter yang udah mendapat pendidikan khusus) Anik. Sebenernya sih, Bubun nggak mampu nge-hire dia. Soalnya gajinya beda dikit dengan Bubun ^^!
Tapi karena cocok, yasudahlah ya…

Masalahnya, Bubun harus hire dia bulan itu juga. Nah, Langit kan baru lahir bulan April. Nggak mungkin dong, Bubun ngegaji sebesar itu. Mau megang Bumi juga, dia ngerasa kurang bisa soalnya Bumi udah setahun lebih. Perilakunya udah kebentuk kan. Long story short, Si ncus diambil oleh orang lain.

Nasiroh alias Irma Pujiawati dan Ana Fitrotunnisa

Bulan Maret 2014, Ayah dikenalin temen kantornya dengan penyalur ART bernama Mila. Setelah ngobrol-ngobrol, Mila ini keliatannya orangnya baik, ramah, dan terpercaya. Apalagi temen kantor Ayah itu bertetangga dan lumayan akrab dengan Mila ini. Si Mila nawarin kita ART berusia 18 tahun bernama Nasiroh alias Irma (ini nama yang dipakenya waktu jadi penyiar radio dangdut di daerah Pangandaran sana). Btw, ‘Irma’ diambil dari ‘IrmaN‘, nama salah satu mantan pacarnya. *penting*. Si Nasiroh ini lah yang Bumi sebut dengan panggilan ‘Teteh’.

Sebulan lewat, Nasiroh bekerja cukup baik. Malah, kita akrab banget dengan dia. Udah kayak adik sendirilah. Meskipun kadang ada kelakuannya yang kurang pantes di mata Bubun, tapi Bubun tutup mata aja. Soalnya sepertinya dia jujur. Itu kriteria yang penting. Susah nyarinya di masa sekarang.

Meskipun begitu, Bubun masih ke sana ke mari nyari pengasuh untuk Langit. Si Nasiroh nggak diproyeksikan untuk jadi pengasuh Langit setelah Bubun masuk kerja, karena dari hasil obrolan dengan dia, kayaknya dia kurang bisa megang newborn. Meskipun menurut dia, sebelum sama kita, dia kerja ngasuh 2 orang anak PLUS beberes rumah. Anak pertama 3-4 bulan (nggak jelas persisnya), sedangkan anak kedua sekitar 3-4 tahun (juga nggak jelas pastinya).

“Waktu itu, kalau bayinya dan anaknya, dua-duanya rewel, kamu gimana?”
“Ya saya telpon aja ibunya, suruh balik dari kantor”

Karena nggak kunjung nemu pengasuh untuk Langit (di masa-masa itu, yayasan penyalur lagi banyak kosong), akhirnya kita minta Nasiroh nyariin temennya yang lagi nyari kerja. Dia pun nunjuk temennya. Katanya itu sahabat deket dia banget, dan kerjanya bagus (ternyata, di kerjaan sebelumnya dia bermasalah banget).

Sejak hari pertama si Ana Fitrotunnisa itu datang, Bubun udah ngerasa nggak sreq. Tapi, Ayah dan Bubun pengen nyenengin si Nasiroh supaya dia betah. Sebenernya, itu satu di antara banyak permintaanya yang kita turutin. Abis, Ayah dan Bubun minim pengalaman dengan ART sih. Jadi, setelah urun rembuq, Ayah Bubun putusin bahwa Nasiroh jadi pengasuh Langit, sedangkan Ana beberes rumah. Nasiroh rencananya bakal Bubun latih ngerawat Langit. Bubun juga udah cek kesehatan dia di Prodia untuk mastiin dia cukup sehat. Baca-baca di sana dan di sini, kayaknya penting deh tes kesehatan itu. Kalaupun akhirnya ketauan dia menderita penyakit tertentu, selama masih bisa, kita bakal bantu obatin. Syukurlah, hasilnya cukup baik. Cuma, ada LED yang di atas rata-rata. Untuk mastiin itu bukan karena infeksi berat, Bubun rencananya mau konsul hasilnya ke dokter.

Setelah Langit lahir, Nasiroh nggak langsung megang Langit. Tiap kali Bubun panggil untuk belajar ngurus Langit, dia suka tiba-tiba kabur ke dapur. Ternyata, dia takut bener sama si Ana. Takut dijutekin atau disindir di FB karena nggak bantuin ngerjain pekerjaan rumah. Jadi, apartemen 74 m2 kita itu ditangani oleh dua orang ART. Sementara Bumi weekday di daycare dan Langit Bubun pegang full. Semacam pemborosan yah. Zzzz.

Memasuki bulan kedua Nasiroh bekerja dengan kita (dan bulan pertama Ana bergabung), mulai banyak hal-hal nyebelin terjadi. Misalnya kalau izin pacaran (pacaran bisa 5 kali seminggu), pulangnya di atas jam 11 malam. Pernah bahkan jam 2 pagi! (dan gedor-gedor pintu minta dibukain).

Namun sekali lagi, mengingat (dan diingetin Ayah berkali-kali) bahwasanya, susah mencari ART di Jakarta sekarang ini… Bubun biarin aja semua. Fokus ke pengasuhan Langit dan pengobatan GERD Bumi.

Kemudian.. terjadilah peristiwa yang mengguncang akal pikiran Bubun. Saking murkanya, Bubun pun curhat di social media. Padahal udah beberapa tahun ini udah nggak lho. Curhatnya di blog sini aja.

1 2 345Panjang (kali lebar) yah??

Nasiroh dan Anna kabur dari rumah!

surat
Setelah kabur, mereka ini ngerepotin ajah.

Si Nasiroh sampe beberapa minggu lalu masih tetep lho, minta balik.  Maap yah, dalam menghadapi hal semacam ini, Bubun adalah golongan darah A sejati, yang menganut prinsip: I forgive but will not forget. Daripada daripada kan yah.. mending nggak usah berhubungan lagi dengan si nasiroh itu. Kalau sama Ana sih, Bubun kayaknya bakalan jambak-jambakin rmabutnya kalau ketemu.

Tante T alias Mama S

Setelah kasus dengan Nasiroh, Bubun nyaris ngajuin resign. Tapi tentu saja ditentang keras oleh Opa Oma (yang ngerasa menjadi PNS adalah jaminan bisa ‘makan esok hari sampai dipanggil Yang Kuasa kelak’ Nggak tau aja kalau sebenernya… ya sudahlah ya). Ayah sendiri nggak merestui karena beberapa pertimbangan. Bukan harta dan tahta alasannya. Tapi satu dua hal yang mungkin baiknya dibahas kelak.

Mendekati tanggal 6 Juni 2014 (tepat 2 bulan setelah Langit lahir) atau hari Bubun harus masuk kerja lagi, Bubun makin menggila. Karena nggak ikhlas Bubun resign, akhirnya Opa dan Oma nyari orang yang bisa dipekerjakan sebagai pengasuh Langit, sampai ke pelosok daerah! Ketemulah satu sodara jauh (jauh banget, dan sebenernya nggak ada hubungan darah) dari Opa.

Si Mama S ini nyaris nggak jadi berangkat ke Jakarta. Soalnya, setelah bersikukuh rela ninggalin anaknya yang baru berusia 2 tahun (waktu tahu dia punya anak yang bernama S, kita mau nolak, tapi dia ngotot mau kerja sama kita), tiba-tiba dia berubah pikiran. Sementara tiket pesawat untuk dia dan Oma (Dia minta Oma nemenin seminggu di Jakarta sebelum dilepas), udah Ayah Bubun beliin. Itu kan mahaal banget dari Sulawesi lho! Setelah dibujukin, akhirnya dia dateng juga ke Kendari, sehari sebelum keberangkatan. Jadi, rencana untuk ‘ngetes’ cara kerja dia di Kendari pun tinggal rencana. Ini pesawatnya udah mau cuss soalnya -___-!

Setelah nyampe di Jakarta, Ayah Bubun sebenernya kurang sreg yah. Adalah satu dua hal, terkait sopan santun dan kepatutan yang nggak enak  rasanya dipaparin di sini. Meski begitu, karena kita nggak punya pilihan lain, kita coba mempertahankan dia. Lagian, ada Om Dino juga yang kebetulan pada saat yang sama, ikut bimbel dan daftar di beberapa perguruan tinggi di Jakarta. Jadi, dalam sehari paling Langit cuma berdua dia doang, hanya dalam waktu tidak lebih dari 3 jam sehari. Kekurangan di sana dan di sini dimaklumi. Tapi yah, hidupnya terlalu banyak problematika. Akhirnya kita ikutan pusing deh.

Bulan puasa (Sekitar 2 bulan jalan, setelah dia mulai bekerja), dia bilang kalau dia mau pulang ke kampung lebaran nanti. Meskipun bilangnya dia mau balik lagi bulan September (“Nanti saya telpon, Ayah Bumi jemput di bandara”), Bubun udah nggak berharap banyak. Jadinya, Ayah Bubun nyari-nyari pengasuh baru deh untuk Langit.

Mbak Tari dan Mbak Sumi

Akhirnya, Ayah nemu pengasuh baru melalui Mila (Penyalur Nasiroh dulu). Tapi katanya harus satu paket. Jadi, ngambilnya harus 2 orang. Satu pengasuh dan satu pembantu rumah tangga. Seperti yang sudah Bubun ceritain sebagian di sana, pada hari kita balik dari mudik tanggal 11 Agustus 2014 lalu, harusnya mereka itu udah  nyampe di rumah. Tapi…ditunggu sampe subuh tanggal 12 Agustus, mereka nggak nyampe juga.

But life must go on! Bubun harus kerja. Cuti kemaren udah kelamaan (demi tiket pesawat murce!).

Jadi, pagi-pagi nyiapin Bumi dan Langit ke daycare. Sayangnya, daycare Bumi dikhususkan untuk anak di atas usia 1 tahun. Jadi, harus nyari daycare lain yang bisa nerima Langit, mendadak.

Hati deg-degan, kita pun menuju daycare yang nggak terlalu jauh dari apartemen. Karena masih pagi, marketing yang berhubungan dengan Bubun beberapa bulan sebelumnya belum datang. Setelah mengutarakn niat ke para staff yang ada, salah satu dari mereka ngubungin marketing dan owner. Setelah itu, dengan bahasa yang santun, meminta maaf nggak bisa nerima Langit. Duh! Bubun gelagapan. Buru-buru pamit dan mikir daycare mana yang kira-kira bisa nerima Langit, paling nggak hari ini.

20140812_091359

Tetep ceria meskipun ditolak masuk daycare :’))

Bubun ngubungin atasan untuk minta izin masuk terlambat. Lalu, ikut Ayah dan Bumi (bersama Langit) ke daycare Bumi. Rencananya mau coba ngelobi daycare Bumi supaya bisa nerima Langit dulu hari itu. Tapi, setelah turun dan nganterin Bumi ke daycare, Ayah ngomong ke Bubun kalau sepertinya agak susah nitipin Langit. Anak-anak di sana lagi rame dan nggak enak juga belum ngomong ke owner-nya.

Terus, Bubun inget salah satu daycare yang baru buka, nggak jauh dari daycare Bumi. Bubun dan Ayah pun lanjut ke sana. Setengah memohon, Bubun minta tolong ke staff daycare itu untuk nerima Langit. Sebenernya, sama seperti daycare Bumi, mereka nggak nerima bayi di bawah usia 1 tahun. Setelah nanya-nanya, kayaknya pengasuhnya juga nggak dilatih untuk ngurus bayi. Tapi syukurlah mereka mau bantu.

Bubun coba jelasin secara singkat dan padat mengenai manajemen asip, kebiasaaan dan perilaku Langit. Setelah itu, menguatkan hati untuk berangkat ke kantor. Semoga Langit betah.

20140812_111020

Siangnya, Bubun nelpon ke daycare nanya kondisi Langit. Kata staff yang nerima telpon, Langit rewel. Dia agak khawatir dengan kondisi Langit karena menurutnya Langit diare. “BAB-nya cair banget.” Bubun jelasin tekstur BAB bayi yang ASI Eksklusif, tapi katanya “Ini dua kali, Bu Langit pup-nya.” Sembari senyum, Bubun bilang “kalau masih ASIX nggak apa-apa mbak, 5 kali juga.” Setelah itu, dia pun nanya: “Ini gimana ya cara nenangin bayinya bu? Nangis terus dan nggak mau minum ASIP”

Ini mah, Bubun yang pengen nangis.
Bubun menenangkan dan meyakinkan diri sendiri bahwa ini masalah adaptasi aja. Setelah itu lanjut kerja. Setelah itu, Bubun dihubungi oleh marketing daycare yang bersangkutan. Marketing-nya ramah. Bubun juga dikirimin foto-foto Langit hari itu.

IMG-20140812-WA0002

IMG-20140812-WA0003

Sore, Bubun naik taksi jemput Langit, kemudian ke daycare Bumi, nungguin dijemput Ayah di sana. Sedih banget pas denger kalau Langit cuma minum 1 botol seharian. Terus, Bubun dititipin pesan. Katanya Langit kemungkinan sariawan, jadi nggak mau minum ASIP. Bubun cek mulut Langit nggak nemu apa-apa. Cuma memang ada spot di lidah yang Bubun perhatiin mulai muncul beberapa minggu terakhir dan ukurannya membesar. Jujur, Bubun khawatir. Tapi ntar pas imunisasi minggu ini, Bubun tanya ke dr. Tiwi deh.

****

Hari itu, Ayah cerita kalau dia udah bisa ngubungin Mila, si penyalur. Katanya dia lagi di kampung. Yang ngurusin si mbak-mbak di Jakarta adalah suaminya. Kemaren, kedua mbak itu udah nungguin taksi, tapi karena banjir, taksinya batal datang. Padahal udah bayar DP taksi. Haa? Gimana?? Penjelasannya aneh bin ajaib sih. Bubun sms si Mila, minta penjelasan lebih lanjut. Eh, ngaco banget penjelasannya. Terus, minta dibayarin angkot Rp200.000, untuk nganterin kedua mbak malam itu. Tapi, si Mila ngotot nggak mau si mbak-mbak pake taksi. Harus pake angkot dan biaya administrasinya harus dibayar malam itu juga, dititip ke suaminya yang nganterin kedua mbak. Ya sudah, Bubun iyain aja. Yang penting dateng deh.

Malamnya, datenglah Mbak Tari dan Mbak Sumi. Ayah dan Bubun wawancara bentar. Lho kok, mereka rada kikuk yah. Tampak shocked banget waktu ditanya “Kata Mbak mila, mbak Tari dan Mbak Mila udah biasa megang bayi kan?” Terus, waktu ditanyain umurnya berapa, mereka terbata-bata. Feeling so bad lah ini gimana besok mau ditinggal sama Langit. Malam itu sampe subuh, Bubun coba ngelatih Mbak Tari untuk ngasuh Langit. Tapi.. tampak canggung banget! Jangankan itu, Waktu disuruh gendong Langit, Mbak Tari keliatan kewalahan. Mbak Sumi sih dengan lantang bilang kalau dia sama sekali nggak pernah megang bayi.

Akhirnya, Ayah ngubungin owner daycare Bumi, minta tolong nitipin Langit di situ bersama dengan Mbak Tari pada hari Rabu tanggal 13 Agustus 2014. Syukurlah, kita dibantu lagi. Seharian Langit dan Mbak Tari di daycare Bumi. Bunda Anita (Koordinator di daycare Bumi) juga bantu-bantu ngasih asip dan mandiin Langit karena Mbak Tari nggak bisa.😥 Di akhir hari, Bubun dapat pesan dari Bunda Anita, kalau Mbak Tari sepertinya belum bisa dilepas bersama Langit.

Sepulang dari kantor, Bubun ngomong sama Mbak Tari. Mbak Tari ngakunya nggak kuat dan nggak bisa megang Langit. Katanya Langit minta gendong terus, dia pegel. :'((

Setelah itu, Mbak Tari dan Mbak Sumi pun membongkar kedok penipuan Mila si penyalur:
1. Usia Mbak Tari dan Mbak Sumi adalah 17 tahun. Bukan 21 dan 24 tahun sebagaimana dijanjikan Mila. Dalam perjalanan menuju apartemen, mereka dikasih tau supaya bohong soal usia itu. Makanya waktu ditagih KTP, mereka pucat pasi. Orang belum punya!
2. Hari senin tanggal 11 agustus lalu, mereka masih kerja di rumah lain (yang mana adalah teman kantor Ayah, dan juga disalurkan oleh Mila). Padahal mereka baru 4 hari bekerja di sana. Mereka juga dikeluarkan dengan cara yang kurang pantas. Mila ngubungin temen kantor Ayah tersebut, bilangnya mereka disuruh pulang oleh keluarga di kampung. Mbak Tari dan Mbak Sumi pun diusir tanpa gaji dari rumah itu pada Selasa siang tanggal 12 Agustus (beberapa jam sebelum ke apartemen). Jadi, cerita soal taksi yang udah di-DP dan batal jemput karena banjir itu hanyalah rekaan belaka!
3. Mila ada di Jakarta. Dia cuma nggak mau ketemu dengan pengguna jasanya. Jadi, selalu bilang lagi kampung kalo diminta ketemu.
Banyak lagi kebohongan lain yang akhir terkuak beberapa waktu setelah itu.

Karena situasi yang terlalu melodrama itu, Bubun mutusin untuk nggak masuk kantor hari Kamis. Ya, nggak ada opsi lain kan?

Ayah dan Bubun akhirnya berantem dengan Mila si penyalur. Nggak pake kasian-kasian lagi melihat kondisinya (yang katanya lagi hamil 8 bulan. Hamil 8 bulan kok berbuat kejahatan?). Bukannya minta maaf, si Mila malah nyerang balik. Bilangnya, dia nggak pernah tuh bilang kalo kedua anak itu biasa ngasuh bayi. “Yang saya bilang 5 tahun itu… maksudnya bukan udah pengalaman 5 tahun kerja. Tapi ngasuh anak usia 5 tahun”

Ya elaaa… Itu kan udah berulang kali ditanyain. Ayah dan Bubun denger berdua! Ayah kalau nelpon si Mila kan, Bubun denger percakapannya. Itu sumpah demi Langit dna Bumi, Bubun denger waktu ditanyain ke Ayah soal apakah mereka udah biasa megang bayi. Ayah bilang kok usia Langit itu 4 bulan. Bubun denger sendiri, waktu Ayah nanya: “Udah lama sama Mbak Mila? Pengalaman kerja berapa lama?” dan si Mila itu jawab: “Udah 5 tahun kerja!!”
Kalau pengalaman kerja 5 tahun, berarti mereka kerja dari usia 12 tahun gitu??

Mila juga berdalih bahwa Mbak Tari dan Mbak Sumi yang berkhianat dengan bohongin usianya. Ngaku-ngaku 21 dan 24 tahun. Padahal ya.. Bubun denger sendiri waktu Mila ini nelpon Mbak Tari setelah kebohongan mereka terkuak. Mbak Tari ngomong: “Ya ketauan dong mbak. Kan diminta KTP, aku belum punya. Nunjukin ijazah ya ketauan dong umurnya. Lagian kalo Mbak Mila nggak nyuruh bohong, nggak kayak gini jadinya!”

Ayah nyuruh Mila dateng jemput kedua mbak untuk dipulangkan. Jawabnya: “Nggak sudi aku ketemu mereka lagi! Menusuk dari belakang!!” Setelah itu, Mila bilang mau gantiin Tari dan Sumi dengan ART baru: Irma. Bentar, Irma??? Irma siapa? Bukan nasiroh kan?

Beberapa hari setelah Mbak Tari dan Mbak Sumi keluar dari rumah, Bubun di-sms mereka, dikabarin kalau si Mila nawarin mereka kerjaan baru lagi.

Yup, jadinya demi alasan etika, Mbak Tari dan Mbak Sumi kita pulangkan dengan baik-baik. Dikasih gaji yang dihitung proporsional. Cuma sekitar 1 minggu gitu. Setelah itu, kita pun nawarin mereka untuk kerja lagi sama kita. Tapi, kita nggak mampu gaji keduanya hanya untuk ngurusin rumah. Salah satu dari mereka kita tawarin ke tetangga di apartemen.

Semua drama seminggu itu bikin Bubun demam, meriang, dan migren selama 3 hari! Apalagi pas tau bahwa sebenernya, Mbak Tari dan Sumi bisa kenal Mila dari Nasiroh! Ternyata, setelah kabur dari apartemen dulu itu, si Nasiroh diterima kembali oleh Mila. Padahal dulu, Mila sendiri yang bilang “Jangan mau diterima lagi bu! Dia itu mencemarkan nama baik saya aja. Udah dikasih kerja baik-baik, ngelunjak!” Malah, Mila memfitnah si Nasiroh dengan bilang ke keluarganya bahwa Nasiroh nyuri perhiasan emas 5 gram dari apartemen kita (Sejak kapan Bubun punya perhiasan emas? Kalaupun ada, emang bakal disimpen di apartemen?). Mereka berdua itu… sama aja!!

Jadi, selama ini, Nasiroh ngomong ke Mila kalau dia pengen balik sama kita. Kemudian, momentum kemarin hampir aja dijadiin kesempatan untuk balikin si Nasiroh ke kita. Eehh.. jangan sampe dia nongol di depan mata Bubun yah. Mau ada perang dunia ke-3? Tak sudi Bubun!

Keputusan harus diambil. Bubun mau resign. Tapi ternyata, proses resign sebagai PNS memakan waktu 6 bulan. Glek! Keburu gede si Lala itu mah! Kalau langsung keluar gitu aja, Bubun bakal diberhentiin secara tidak hormat. Yah masa mesti gitu?😥
Akhirnya, Ayah pun ngadep owner daycare Bumi untuk minta dispensasi. Langit ikut di daycare aja dulu sampai kita ketemu pengasuh baru yang bisa ditinggal berdua di rumah. Owner-nya berbaik hati nerima Langit. Kita malah dikasih dua opsi. Mau Langit di daycare diasuh dengan pengasuh yang kita cari sendiri atau dengan pengasuh baru yang dicariin oleh owner-nya, tapi itu butuh waktu untuk rekrutmen dan urusan terkait lainnya. Setelah curhat mendalam dengan Bunda Anita, akhirnya beliau bersedia megang Langit di daycare. Bubun terharu biru. Kebayang kan pasti repot banget Bunda Anita ngurusin anak-anak toddler di daycare. Sekarang harus bagi waktu dengan Langit. Manalah Langit harus adaptasi dulu dengan lingkungan baru kan…

Syukurlah, dengan ketelatenan dan kasih sayang Bunda Anita dan bunda-bunda lainnya di daycare Bumi, Langit bisa beradaptasi.

10629388_836316626386823_7917387439012197192_oLangit dan Bumi berpose di daycare. Kalau kayak gini, baru deh keliatan mirip😀

Yang lumayan bikin deg-degan hanya masalah perjalanan pergi dan pulang menembus kemacetan pagi dan malam. Sebagaimana yang Bubun pernah ceritain sebelumnya, Ayah kan selama ini yang nganter dan jemput Bumi di daycare. Demi alasan efiensi, Bubun baiknya nggak perlu ikut nganterin ke daycare. Apalagi ngejemput. Kecuali kalau Ayah, Bumi dan Langit nyamperin ke kantor Bubun malam setelah jam kantor.

Hari-hari pertama, Ayah tampak capek banget. Meskipun Langit banyakan anteng di car seat (nggak kayak Bumi yang doyan akrobat), tapi kalau Bumi dan Langit nangis barengan menembus kemacetan, Ayah lumayan gempor. Sementara Bubun cuma bisa berdoa agar 1 – 1,5 jam perjalanan trio kekasih hati Bubun, berjalan lancar.

20140818_080138

20140818_080153Meskipun ini bajunya sama dengan di atas, sesungguhnya ini hari yang beda lho. Liat aja tuh celananya. Beda kan? *penting*

10626417_10203854772564006_1302675692343342621_oLangit, Bumi dan Ayah (di balik kamera) menembus kemacetan Jakarta

(Balik lagi ke) Ncus Anik

Bener tuh kata orang, kalau udah jodoh, nggak bakal lari kemana. Genap seminggu Langit di daycare, Ayah dan Bubun dipertemukan kembali dengan suster Anik. JAdi, meskipun di daycare Bumi si Langit diasuh dengan baik dan bisa beradaptasi, tetap lebih baik kalau Bumi nggak lama di jalan kan?

Cerita tentang pertemuan kembali dengan suster Anik, agak berliku. Tapi karena berakhir bahagia, nggak perlu diceritain panjang dan lebarnya kali ya. Intinya mah, sekarang Langit diasuh dengan ncus Anik. So far, hampir sebulan, Bubun ngerasa sreq dengan si suster. Nggak ada drama-drama abege seperti sebelumnya. Bubun juga nggak perlu repot jelasin soal cara ngasuh Langit. Dia udah sigap dan lincah, dan punya sertifikat pelatihan baby sitter gitu. Mudah-mudahan jodoh dengan si ncus bisa lama yah.. Aamin.

Lha, tadi bilangnya ‘garis besar’ cerita. Kok ini malah jadi kayak sinetron beberapa episode?


9 Comments on “Oh Lala…”

  1. Indah says:

    hosh hosh…..
    dramatinanny banget sih mb cit..hadeh ART oh ART.

  2. […] Pada saat ketemu dr. Tiwi, Bubun pun nanyain soal bercak kecil kemerahan yang Bubun temuin di lidah Langit (dan disebut sebagai sariawan oleh pengasuh di daycare tempat Langit sempat sehari dititipin karena drama pengasuh dulu itu). […]

  3. pipit arifani says:

    Oalah drama ART bikin baca ngosh2an….. Emg suka bikin migran yah ART niy. Eh…maaf lahir batin ya cit,, dari kami sekeluarga,, udh nambah personil adenya Bumi,,lahiran bulan Juli kmrn. Namanya Cahaya. 😊… Smg embanya anteng2 yah,,cocok ama Langit. Eh..Langit lucu bgt…. Ceria tiap kali foto. Cantikkkkkkk…….

    • citralwi says:

      Wuaa.. Selamat datang Cahaya.
      Eh pit… jadi gini ceritanya. Bertahun-tahun lalu, aku nulis draft cerita (alias novel yang nggak jadi-jadi sampe 10 thn!). Tokoh utamanya Bumi dan Langit.
      Bumi itu punya pacar, yang nama tengahnya.. guess what?
      Cahaya!
      Yup! Nggak bohong, ada tuh buktinya. :O

      Ah, nggak sabar ketemu Cahaya-nya Akang Bumi.

  4. pipit arifani says:

    Ahhhhhhhhhhhh jd pgn baca novelnya…… 😊 wah,,,kebetulan pisan ya cit.Yuks,,, kumpul bocah aja yuk….. Pgn liat Langit. Eh,, Bumi makin mirip ayahnya yah udh besar.

    • citralwi says:

      Hihi… novel cupu. Udah mau 10 tahun gak selesai-selesai 1 buku pun (padahal dalam kepala udah beranak pinak menjadi 4 serial. haha!).
      Iya yukk.. playdate. Bumi-bumi, langit, dan cahaya bertemu kayak apa dunia ya? Haha!

  5. putriphita says:

    Mba Citra..baca posting ini bikin ngelus dada sambil istigfar..kelakuan ART kok ngelunjak amat ya..semoga ncus yang sekarang baik ya mbaa..

    • citralwi says:

      Aku udah sembah sujud kepada sang Khalik deh waktu kejadian itu, mbak Put. Hihi.
      Kayak azab ilahi atas dosa yang segunung. Insya Allah ya langgeng dan jodohnya panjang sama cus anik. Aamiin..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s