Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Akhirnya Mudik Juga (Mudik 2014 Part I)

Sudah direncanakan dan diniatkan untuk nggak mudik dulu lebaran tahun ini. Baik ke kampung halaman Bubun, ataupun Ayah.
Bubun kapok tahun lalu gemporr banget. Letih yang tak terkira. Meskipun ternyata ada alasannya juga kenapa kok bisa segitu capeknya. Tetep aja…
Langit masih 3 bulan, sementara Bumi lagi doyan tantrum di ruang publik. Nggak kebayang rempongnya naik pesawat 3 jam-an. Belum lagi pake acara transit. Dan.. Bubun juga masih belum pulih dari ketakutan berlebihan gara-gara turbulence hebat waktu naik pesawat di tahun 2012 lalu.

Gimana bisa menenangkan Bumi dan Langit kalau lagi rewel, sementara Bubun sendiri freaked out selama perjalanan?

Meskipun Bubun udah memantapkan hati, tapi Ayah teteeep aja tiap hari selama bulan puasa, nanya: “Jadi mudik nggak? Mumpung belum terlalu mahal nih tiketnya?”
Issh..!!! Udah dijawab berkali-kali, ‘ENGGAK’, eh nggak berhenti juga Ayah ngajuin pertanyaan sama. Minta diomelin banget sih.

Akhirnya sekitar seminggu menjelang lebaran, Bubun nyerah. Ayah nemu tiket yang lumayan terjangkau… tepat di hari H alias tanggal 28 Juli 2014!
Sayangnya, maskapainya itu bukan maskapai yang biasa kita pake untuk mudik. Bubun terakhir naik pesawat merah itu sekitar 4 tahun lalu. Itupun yang penerbangan internasional (yang sepertinya lebih mendingan dari penerbangan domestik di waktu itu), dan karena ditanggung kantor juga. Kalau nggak terpaksa, sebenernya nggak mau. Soalnya reputasinya kurang baik. Yah masalah delay lah, kecelakaan lah… sebenernya yang paling bikin males adalah karena Bubun dulu ingetnya hampir 1 dasawarsa lalu, sewaktu si pesawat biru belum melayani penerbangan ke Kendari,
Bubun kadang naik maskapai yang ini dan berasa nggak smooth ketika terbang. Suka bikin mabok. Bubun kan penakuut. Meskipun Bubun ngalamin turbulance berat tahun 2012 itu justru waktu naik pesawat biru.

Setelah dipikir-pikir, tahun ini emang kita mesti mudik. Tapi hanya ke kampung halaman Bubun saja. Rasanya nggak mungkin kita naik mobil 5 – 9 jam sambil bawa anak 22 bulan dan 3 bulan? Apalagi kalau Ayah harus nyetir. Ada beberapa misi penting yang dibawa dengan mudik ke Kendari:
1. Aqiqah Langit (Agak repot kalau ngadain acara aqiqah Langit di Jakarta)
2. Pijat Bumi (Ini salah satu bagian dari program intensif meningkatkan berat badan Bumi, yang digadang-gadang oleh keluarga di Kendari akan sukses. Katanya sih, di kampung sana, anak-anak yang bermasalah dengan makan dan berat badan, langsung sehat setelah dipijat oleh tukang pijat tradisional minimal 3 kali)
3. Rehat sejenak untuk Bubun dan Ayah (Bisa dibilang Ayah dan Bubun nggak pernah punya ‘so called me time’ sejak Langit lahir. Ayah dan Bubun butuh refreshing sejenak dari rutinitas pergi-pulang kantor bersama Bumi, pulang ngurus Bumi dan Langit sampai tidur, bangun beberapa kali semalam, besoknya lanjut kerja lagi… hari sabtu dan minggu berjuang nyuapin Bumi yang makin susaaaah makannya, begitu terus siklusnya).

Sebenarnya di hari H itu, harga tiket pesawat biru dan merah nggak jauh-jauh amat. Tapi karena kepulangan ke Kendari juga bersama Om Dino (yang baru saja daftar kuliah di Jakarta, tapi mau refreshing juga sebelum masuk kuliah), dan pengasuh Langit yang udah mau pulang kampung (nggak balik lagi) karena kangen anaknya, lumayan juga jadinya total keseluruhan biaya. Lagian, pesawat merah ini direct flight. Nggak pake acara transit di Makassar. Jadinya nggak buang-buang waktu dan deg-degan landing dan take off 2 kali. Hehe. So, pesawat merah it is.

Pulangnya juga kita bakalan naik pesawat yang sama. Ntar cuma berempat lho kita baliknya. Ihh nggak kebayang. Masih lama sih. Lamaa banget. Orang cutinya lebih dari seminggu. Total di Kendari 2 minggu!  Bukan karena pengen lama-lama, tapi harga tiket pulang pada amit-amit mahalnyaaaa!

Hari Senin subuh, pukul 03.00, kita udah siap-siap. Bumi dan Langit nggak mandi, cuma digantiin bajunya (Bumi pake baju koko, soalnya hari ini idul fitri!). Sama semprot-semprot baby cologne dikit. Dua-duanya langsung seger bugar waktu digantiin baju. Melek seolah udah tidur lama. Padahal pada agak larut tidurnya,

20140728_032426

 

 

Mobil yang kita sewa untuk ke bandara (Kita plus barang-barang om Dino yang seabrek, nggak muat kalo naik taksi bok!) udah stand by dari pukul 03.30.
Setelah beberes, cek-cek apartemen, cabut deh kita menuju bandara.

Nyampe bandara, tinggal masukin bagasi karena Ayah udah city check in sehari sebelumnya. Terus Bubun kaget lihat penampakkan terminal 1 yang nggak sebersih dan serapih beda dengan terminal 2. Ih sombongnyaaa. Tsk!😀

???????????????????????????????

 

 

???????????????????????????????

20140728_043204

Reputasi si pesawat merah kan kurang baik dalam hal ketepatan waktu ya.. Tapi pengalaman kita kemaren, justru on time lho! Di ruang tunggu cuma bentar. Om Dino aja masih shalat waktu pengumuman boarding. Jadwal take off jam 06.00, pukul 05.15 udah disuruh naik ke pesawat. Bravo!

10626164_10203880659371160_187248336199286035_o

20140728_045013

Karena sisa earplug waktu mudik tahun lalu hilang tanpa bekas, dan nggak keburu ke mothercare beliin yang baru, dan online shop udah pada tutup semua seminggu menjelang lebaran, Bubun cuma nyiapin earmuff abal-abal yang dibeli di ITC sebelah apartemen. Jaga-jaga untuk Langit. Eh, taunya… nggak kepake juga. Begitu di dalam pesawat, Bubun susuin langsung. Setelah roda pesawat bergerak menuju tinggal landas, mata Langit langsung kriyep-kriyep. Pas waktu pesawat mengangkasa, udah langsung tidur pulas. Haha!

Sementara itu, Bumi pun udah mulai lemes sejak di pesawat. Digendongin Ayah pake ergo, diem aja. Pasrah. Setelah beberapa menit terbang, akhirnya Bumi pun ikut terbang. Oh iya, Ayah dan Bubun harus duduk di row terpisah, karena nggak boleh ada dua bayi (Bumi belum 24 bulan, dihitungnya masih infant) dalam satu row.

Sukses? Harusnya sih ya… Tapi dasar Bubun parnoan. Sepanjang perjalanan pucat pasi. Ayah dan Om Dino sempet tidur malah. Bubun bolak-balik ngecek jam. Perasaan udah 30 menit, taunya… baru 5 menit!! Kirain udah 1 jam, seperempat jam aja belum ada!!

???????????????????????????????

Om Dino malah sempet-sempetnya shalat ied di dalam pesawat. Sebelumnya dengan oon-nya Dia nanya, “Di pesawat ini, mushala di mana?”
“Heh! Kamu udah berapa kali naik pesawat emang?? Shalat di pesawat ya sambil duduk!! Lagian emang bisa shalat ied nggak berjamaah?”
“Ah, yang penting kan niatnya…”
Yo wis…

Setelah dia shalat, Bubun langsung nyerahin Langit ke Om Dino. Soalnya, makin nervous nih! Meskipun yah.. cuaca bagus, langit cerah, minim awan. ^^! (Jjj.. jadi.. jadi.. apa yang yang takutkan Bubuunn? HA?)

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Bubun mulai rileks setelah udah keliatan kaki kiri pulau sulawesi. Bisa deh ngobrol-ngobrol sama Om Dino. Pengasuh Langit juga agak segeran (dia suka mabuk darat, laut dan udara), jadi bisa gendong Langit yang terbangun dan mulai rewel.

20140728_073548

Langsung ceria lagi setelah digendong berdiri!

Bumi mana?

Sejak setengah perjalanan, Bumi bangun dan bersama Ayah pindah ke baris belakang yang kosong.

10623576_10203880661091203_4307209549559321529_o

10633680_10203880659291158_2028195041319556639_o

DSCN0909

Jadinya, Bumi bisa duduk sendiri… sambil nonton i-pad.
20140728_073108

Yah, emang dalam kondisi penuh lika-liku kehidupan ini, Bumi kadang diasuh oleh gadget. Bubun nggak bangga akan itu. Tapi kadang nggak punya pilihan. Makin ke sini, Bumi makin bosan sama buku-buku yang udah berulang dibaca dan dan mainan yang itu-itu saja. Ya udahlah, emang Ayah dan Bubun bukan orang tua sempurna. Ada beberapa prioritas yang perlu dikedepankan. Fokus ke masalah kesehatan Bumi dan pengasuhan Langit aja dulu. Meskipun mungkin belakangan ada harga yang harus dibayar. Nggak punya cukup energi… *pembenaran* *kok jadi panjang?*

Mendaratnya cihuyy banget karena cerah ceriaaa. Hore!

 

20140728_092001

20140728_092103

20140728_092309

Sampe di Bandara Haluoleo, suasana sepi. Nggak ada tanda-tanda hari ini lebaran. Hihi.

Oma dan Opa ngejemput kita dengan 2 mobil. Soalnya mobil di rumah Opa dan Oma city car semua. Nggak muat dong barang-barang Om Dino (Teteeuup yah). Bubun, Langit, dan pengasuh Langit naik mobil yang disetirin Oma. Sedangkan Ayah, Bumi, dan Om Dino naik mobil yang disetirin Opa.

Nyampe rumah disambut makanan lebaran. Kita pun kalap. Apalagi Ayah yang puasa sebulan penuh. Bubun kan udah 3 tahun nggak puasa (efek dari marathon hamil, nyusuin, hamil, nyusuin lagi…)

Sementara itu, Langit langsung tepar. Kecapean.

20140729_190615

Kalau Bumi sih langsung main jungkir balik nggak tentu arah😀

 

Sekian dulu ah cerita mudiknya. Besok-besok sambung lagi….

20140802_192108

 to be continued


5 Comments on “Akhirnya Mudik Juga (Mudik 2014 Part I)”

  1. dinaisyana says:

    Bumi mirip Bubun, Langit mirip Ayah ya? Hehe bagi rata.
    Gak kebayang sih bawa 2 infant naik pesawat. Rusuh kayanya

    • citralwi says:

      Eh tuh kaan?? Ayah nggak mau percaya sih. Jelas-jelas Bumi mirip Bubun, Langit mirip Ayah. Hehe.
      Syukurlah ternyata nggak terlalu rusuh, Din. Mungkin lagi lucky aja kemaren itu.😀

  2. […] juga, pertama kali mudik dan naik pesawat ke Kendari selama lebih dari 2,5 […]

  3. […] genap berusia 4 bulan ketika kita lagi liburan di Kendari. Tiga hari setelah ulang bulan ke-4, Langit di-aqiqah. Lalu, rambutnya pertama kali dicukur habis […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s