Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Insya Allah Anak Bungsu

Bubun sempat kesel dan menyalahkan Ayah, waktu pertama kali tahu Adik Langit ada dalam perut.
Bukannya nggak mau Adik Langit ada ya. Mau, mau banget malah. Tapi nggak secepat itu. Paling nggak nunggu 6 bulan lagi lah. Jadi jarak Bumi dan Langit minimal 2 tahun.

Beberapa bulan sebelum hamil Adik Langit itu, Bubun udah rencana untuk make alat kontrasepsi. Tapi sama Ayah nggak boleh.
Bubun bujuk-bujukin ayah untuk nemenin ke DSOG, nggak mau coba… Katanya dulu juga dapat Bumi lama, sampe 10 bulan menikah baru Bumi datang. Jadi, nggak perlu khawatir.

Tapi, Bubun tahu harus segera make alat kontrasepsi kalau ingin merencanakan kehadiran Adik Langit. Ada alasannya mengapa kelahiran kedua disarankan berjarak minimal 24 bulan dari kelahiran pertama. Kesehatan Ibu dan bayi serta pengasuhan anak pertama adalah dua di antaranya. Kalau Ayah nggak mau nemenin, Bubun mau pergi sendiri ke DSOG. Meskipun rada gentar kebayang sakit kalau akhirnya mutusin masang IUD. Kok IUD?

Iya, jadi setelah browsing, Bubun nemuin info bahwa alat kontrasepsi yang paling aman untuk menyusui adalah yang non-hormonal, seperti IUD itu. Alat kontrasepsi hormonal seperti pil dan suntik berpengaruhi terhadap produksi ASI dan metabolisme tubuh. Banyak testimoni dari Ibu-ibu yang make jenis kontrasepsi ini, yang menyatakan bahwa ada kenaikan berat badan signifikan atau gejolak emosi di luar kendali.

Bulan Juni 2013, perasaan udah nggak enak aja. Pengen cepet-cepet make alat kontrasepsi. Tiap kali mens, udah pengen langsung ke DSOG untuk masang IUD. Katanya kalau IUD dipasang di saat menstruasi, nggak gitu sakit. Tapi entah mengapa sampai Juli 2013, selalu saja ada halangan tiap kali mau ke DSOG. Tiba-tiba aja menstruasinya udah lewat. Bubun pun bertekad, habis lebaran mau langsung ketemu DSOG dan pasang IUD meskipun nggak lagi menstruasi. Nggak apalah kalau sakit dikit daripada bubar jalan keluarga berencananya ya…

Begitulah, Bubun bisa berencana. Tapi Tuhan juga yang berkehendak. Selepas lebaran, Bubun ke DSOG. Tapi karena keburu dapet garis dua di test pack. HAHAHA! Apa daya, nasi sudah menjadi bayi. *ngikik*

Setelah hamil dan puas nyalahin Ayah, Bubun pun menetapkan hati untuk masang kontrasepsi segera setelah lahiran. Bubun bahkan mempertimbangkan untuk steril alias tubektomi.
Kata Ayah: “Ayah kan nggak ngelarang ya dulu itu. Kalau mau pasang ya ke dokter aja sendiri.”
Padahal mah, dulu emang sempat ngelarang. Sesudahnya sih emang nggak ngelarang. Tapi juga nggak ngedukung dan nemenin ke DSOG! *manja*

Ndilalah beberapa menit setelah lahiran, sewaktu ditanyain dr. Nando apakah mau pake alat kontrasepsi, Bubun dan Ayah menjawab:
“IYA!”
“TIDAK”
dalam waktu bersamaan.

Kata si dokter: “Ya udah, dirundingkan dulu aja..”
“Udah!!” Kata Bubun.

Ini Ayah gimana sih…? Kok berubah pikiran? Melanggar pakta bersama.

Menjelang masa nifas berakhir, Bubun bilang ke Ayah untuk menyegerakan pasang IUD. Bubun juga bilang kalau Bubun mau tubektomi aja. Kayaknya udah lengkap deh ada Bumi dan Langit. Bubun nggak ada niat ngasih adik untuk adik langit. Kalaupun nantinya Bubun berubah pikiran, toh ada tubektomi yang reversible itu. Meskipun tingkat kemungkinan untuk bisa hamil lagi setelahnya tidak 100%.

Eh, Ayah malah ngebujukin Bubun supaya nggak usah pake IUD. Kata Ayah, coba dulu KB alami seperti penanggalan dan teknik-teknik tertentu (yang mana Bubun nggak percaya bisa diterapin ke Ayah dan Bubun). Kalau misalnya Bubun hamil lagi untuk ketiga kali, udah. Bubun boleh steril.

Setelah bolak-balik saling ngebujuk, akhirnya Bubun tetap pada pendirian untuk masang IUD. Sementara Ayah cuma bisa iya iya aja.

Hari Senin tanggal 2 Juni 2014 lalu, Oma bilang harus pulang ke kendari lebih awal. Bubun pikir nggak bisa ditunda lagi nih. Mumpung masih ada Oma yang nemenin Adik Langit di rumah. Bubun nelpon ke RSIA YPK Mandiri nanyain dr. Dyah Irawati praktek nggak. Ternyata praktek hari itu. Langsung deh bikin appointment.

Bubun udah mantap mau masang IUD ke dr. Dyah. Kenapa dr. Dyah? Soalnya berkesan banget konsul dengan beliau dulu. Orangnya ramah dan bersedia jelasin panjang lebar pertanyaan Bubun. Kalau saja RS YPK Mandiri itu kerja sama dengan kantor Ayah untuk pembayaran persalinan atau dr. Dyah praktek di RSIA Bunda, mungkin Bubun bakalan lahiran dengan beliau.

Dengan lutut gemeteran dan perasaan dag dig dug, Bubun pun menuju RSIA YPK Mandiri. Nunggu sekitar 1 jam, Bubun akhirnya masuk ke ruang konsul dr. Dyah.

Seperti sebelumnya, dr. Dyah menyambut dengan super ramah. Jadi agak rileks deh. Ngobrol-ngobrol kilas balik ke pertemuan dulu. Abis itu diskusi panjang lebar tentang alat kontrasepsi. Yah, meskipun udah berketetapan hati, tetap aja Bubun pengen tahu lebih lanjut. Bubun kan emang serba pengen tahu (bilang aja kepo… susye amat! hihi).

Begini kurang lebih hasil diskusi Bubun dengan dr. Dyah:
1. Ada dua jenis alat kontrasepsi: Hormonal dan Non-hormonal. Hormonal terdiri dari Suntik, pil dan IUD sedangkan non hormonal terdiri dari IUD dan kondom. Alat kontrasepsi yang bentuknya kayak susuk (pasang di lengan) udah nggak dipake lagi karena cukup menyakitkan proses masangnya.
2. IUD atau intrauterine device adalah alat kontrasepsi yang dipasang di dalam rahim untuk mencegah sperma masuk ke dalam tuba falopi.

Picture’s taken from http://www.kypf.org.uk

3. IUD yang dipakai sekarang berbentuk huruf T, bukan model spiral kayak jaman dulu (yang udah dihentiin produksinya karena nggak popluer). Ada yang hormonal seperti Mirena, ada juga yang non hormonal yang mengandung cooper (tembaga). Tembaga pada IUD berfungsi untuk mematikan sperma yang masuk ke rahim. Bentuknya kayak gini nih:

Picture’s from http://www.soc.ucsb.edu

 

4. Kelebihan alat kontrasepsi hormonal adalah mudah dan minim rasa sakit dalam prosesnya (kecuali IUD). Kekurangannya adalah:

  • Risiko lupa/terlewat
  • Harus telaten dan rutin konsumsinya
  • Mempengaruhi metabolisme, sehingga berat badan cenderung naik setelah mengonsumsinya
  • Menurunkan produksi ASI (Pil yang mengandung estrogen)
  • Beberapa mengeluhkan ketidakstabilan emosi (tapi menurut dr. Dyah, ini sangat jarang terjadi)
  • Nggak bisa dipakai lebih dari 2 tahun. Harus ada masa jeda (tidak mengonsumsi kontrasepsi ini) setelah sekian lama untuk memulihkan metabolisme tubuh
  • Di dalam masa jeda tersebut, harus menggunakan kondom sebagai kontrasepsi, kalau nggak ya… bisa hamil lagi
  • Menyuburkan kandungan sehingga ketika sekali dilepas, akan lebih mudah untuk hamil (oleh karena itu, pil KB juga kadang diberikan kepada para perempuan yang mengalami gangguan siklus menstruasi).

5. Kelebihan alat kontrasepsi non hormonal adalah:

  • Nggak perlu takut lupa/terlewat mengonsumsi pil/suntik
  • Tidak mempengaruhi metabolisme tubuh
  • Tidak mempengaruhi produksi ASI
  • Mudah penggunaannya (kondom)
  • Untuk IUD Bisa dipakai sampai 5 tahun sebelum ganti yang baru (ketika unsur tembaga udah habis pada batang IUD)
  • Untuk IUD, Check up posisi IUD hanya perlu sekali setahun.

6. Sedangkan kekurangan alat kontrasepsi non hormonal adalah:

  • Kemungkinan gagal 1:100 untuk IUD dan 3:100 untuk kondom
  • Kurang nyaman dan terkadang sakit proses pemasangannya (IUD)
  • Untuk IUD, Menstruasi lebih banyak dari biasanya, sehingga mereka yang riwayat menstruasinya banyak tidak terlalu disarankan menggunakan IUD
  • Munculnya flek sesekali (IUD)
  • Ada yang mengeluhkan kurang nyaman dan sakit ketika berhubungan (misal karena benang IUD terlalu panjang, dll).

7. Untuk Ibu menyusui, disarankan menggunakan alat kontrasepsi suntik (per 3 bulan), alat kontrasepsi non hormonal (IUD dan kondom) atau pil POP (tanpa kandungan estrogen) karena tidak mempengaruhi produksi ASI.

8. Pil yasmin yang pernah Bubun sebut sebagai alat kontrasepsi yang ramah terhadap ibu menyusui ternyata sangat mempengaruhi produksi ASI dikarenakan selain mengandung progesteron, juga mengandung estrogen. Hormon estrogen inilah yang menekan produksi ASI. Jika Ibu menyusui memilih menggunakan pil sebagai alat kontrasepsi, pilihlah yang jenis Progestogen-only pill.

9. Tubektomi reversible dilakukan dengan cara mengikat atau menjepit saluran tuba agar sel telur tidak dapat bertemu dengan sel sperma di sana. Proses tubektomi dilakukan secara bedah atau melalui vagina. Meskipun menggunakan anastesi, tubektomi tanpa bedah akan terasa sakit dan kurang nyaman dalam prosesnya.

10. Dengan tubektomi yang reversible tersebut, ibu dapat hamil kembali setelah ikatan atau jepitan pada saluran tuba dilepas. Namun, karena ikatan/jepitan itu meninggalkan bekas, selalu ada kemungkinan ibu tidak dapat hamil lagi. Untuk menghilangkan bekas ikatan itu, bisa dilakukan prosedur bedah dengan memotong bagian tersebut untuk kemudian disambung antara saluran yang tidak terkena bekas ikatan/jepitan.

11. Karena prosesnya ‘pengembalian’ saluran tuba yang ribet itu, disarankan agar ibu yang akan melakukan tubektomi sudah benar-benar tidak ingin menambah jumlah anak lagi.

“Ya udah bu.. IUD aja cukup kok. Nggak perlu tubektomi dulu” Ujar dr. Dyah sambil tersenyum
“Oww.. pake double garda aja kali ya Dok? Pake IUD DAN kondom. jadi peluang hamil lagi makin kecil (berapa tuh 1:100 ketemu dengan 3:100??).”
Dokternya ketawa geli.

Ya sudah. Bubun fix lah ini mau pasang IUD.
Melangkah ke kursi dengan pijakan lutut itu, kaki Bubun gemeteran. Ah! Kalaupun sakit, nggak akan sesakit lahiran kan?? Lebih sakit lagi jiwa Bubun mikirin nyari pengasuh seperti ke Langit saat ini.

Dibantu siap-siap sama suster, Bubun nanya:
“Dok, ini pake cocor bebek ya?” sambil melirik cocor bebek dari stainless steel alias graves speculum di ujung sana.

Picture’s from ehow.com

“Iyaa dong.” Kata dr. Dyah.
GLEKK!

Demi menghilangkan suara dentum jantung yang bertalu-talu di dalam dada, Bubun nyerocos sana sini.
“Katanya kalau mau masang IUD, baiknya nunggu mens dulu ya supaya nggak sakit dok?”
“Iya.. nunggu mens Bu. Kan sakit kalau enggak.” Samber susternya.
“Kalau nunggu mens… keburu tekdung lagi saya dokter!!”
“IYAA!! benerr!! jangan tunggu mens lah.”
“Emang kalaupun belum mens lagi setelah nifas, saya bisa hamil dok?”
“Bisa lah. Kan bla.. bla.. bla… (dokter jelasin teknis produksi sel telur yang Bubun nggak gitu denger jelas karena grogi berat)”
“Lagian kan nggak mungkin sesakit lahiran yah?” Tanya Bubun. Retoris lah ya. Udah pasti itu jawabannya. KAGAK ADA RASA SAKIT YANG NGALAHIN LAHIRAN.

Sebelum dipasangin IUD, terlebih dulu Bubun di USG Transvaginal.
“Pelan-pelan ya dok…” Pinta Bubun sambil ngelirik alat USG yang gede itu.
“Iya, pelan-pelan bu…”
Ternyata nggak sakit. Dokternya nepatin janji.
“Dok, ini suami saya nggak tahu lho… belum setuju dia.”
“HA? Terus gimana dong?”
“Dia nggak usah tau aja apa ya?? Eh, tapi saya harus reimburse biaya ini. Haha!”

Kemudian dipasangin alat yang Bubun sebut ‘cocor bebek’ itu.
Hiyy..

Yah, sakit dikit sih.
Terus disuruh batuk.
“Ini akan sedikit mulas ya Bu..”
Kayak nyeri mens gitu.

Sekitar 5 menit selesai deh.

USG lagi, ternyata posisi IUD-nya kurang masuk.
Pasang cocor bebek lagi, kemudian diperbaikin posisi IUD-nya. USG lagi. Udah bagus deh.

Setelah itu, Bubun diberitahu kalau akan ngalamin mulas seperti mens sampai sore hari ini, juga flek/bercak darah selama 2-3 hari ke depan.

LEGA udah tuntas.

Malamnya setelah Ayah pulang, Bubun ngasih kuitansi dokter ke Ayah sambil berkata: “Ayah, tolong di-reimburse ke kantor yah…?”
“Okee.”
Beberapa saat kemudian.
“Ini apaan sayang?”

HA! Feeling so bad yaa?

“Tadi konsul ke dokter yah.” Jawab Bubun sambil sok santai masuk kamar.

Beberapa menit kemudian…

“Kamu masang apa ini?” (ada tulisan ‘Jasa pasang IUD’ di kuitansi)

Bubun masang tampang innocent, lalu berkata:
“Pasang IUD…”

Ayah shocked. Berat.
APAAA?? Astagaaa…!!
Abis itu nyerocos panjang lebar.
HAHHAHA!! HAHAHA!

“Saya kan bilang… Pergi aja ke dokter.. kalau berani. Eh, berani beneran..!!”
“Tega banget Bong! Nggak bilang-bilang. Sekedar ngasih tau aja enggak.”

Bubun yang senyum-senyum geli cuma komen singkat: “Kan udah beberapa hari lalu!”

Sementara Ayah panjang lebar complaint “Tadi waktu ke dokter nggak ngabarin… Hiks.” Bla.. bla… bla..

Abis itu, ayah pun (sok-sokan) berbisik ke Adik Lala: “Yah… Lala. Ayah nggak bisa nepatin janji dong kalau kamu nggak jadi anak bungsu. Hiks hiks..”


One Comment on “Insya Allah Anak Bungsu”

  1. Dina says:

    citt…ngikik nih baca “Nasi udah terlanjur jadi bayi” hahahaha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s