Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Serial Berat Badan Bumi (Season V)

Sewaktu konsul Adik Langit usia 1 bulan, Bubun update perkembangan Bumi ke dr. Tiwi sekalian nanya boleh nggak Bubun cek endokrin Bumi. Mengingat, failure to thrive (FTT) seperti yang dialami Bumi merupakan salah satu indikasi gangguan hormon pertumbuhan. Tidak selalu sih. FTT kan penyebabnya sangat beragam.

“Oh boleh bu! Cek aja!” Kata si dokter.

Beliau pun nyaranin kita ke dr. Andi Nanis di klinik tumbuh kembang RSIA Bunda Jakarta. Sebenernya klinik tumbuh kembang yang dimaksud hanyalah sekumpulan DSA dengan subspesialis terkait tumbuh kembang anak, yang dengan perjanjian bisa praktek di poliklinik anak RSIA Bunda. Bubun belum melihat ada satu area khusus yang dedicated sebagai klinik tumbuh kembang anak di RSIA Bunda.

Picture’s from http://www.bunda.co.id

Janji temu dengan dr. Nanis

Tadinya kan Bubun mau cek ke dr. Aman Pulungan. Tapi, beliau prakteknya di RSPI. Rada jauh dan pasti ribet. Lagian kata dr. Tiwi, dr. Nanis ini sangat recommended. Selain itu, dengan dr. Nanis, kita pun bisa vaksin untuk ngejar ketertinggalan imunisasi Bumi. Jadi, sekalian aja. Nggak perlu bolak-balik ke dr. Tiwi hanya untuk imunisasi. Begitu penjelasan beliau.

Jadi, Bubun pun bikin appointment tanggal 14 Mei 2014. Bubun dikabari bahwa kita harus udah ada di RS pukul 09.30 karena dokternya sibuk.

Tanggal 13 Mei 2014 malam, Bubun dapat kabar bahwa Bumi dan temen-temen di daycare akan field trip ke Taman Suropati pukul 09.00. Kata Ayah, nanti Ayah jemput Bumi di sana, lalu langsung ke RSIA Bunda. Kan deket tuh. Nanti Bubun + Langit, ketemu Ayah + Bumi di sana.

Setelah Ayah dan Bumi berangkat ke kantor dan daycare pagi-pagi, Bubun langsung secepat kilat nyuci dan beberes rumah. Lalu, mesen taksi dan mandiin Langit. Deg-degan telat. Syukurlah, Bubun dan Langit nyampe persis pukul 09.30. Sewaktu daftar, suster nanyain Bumi-nya mana. Menurut Ayah via WA, beberapa saat lagi Ayah dan Bumi akan berangkat dari Taman Suropati. Paling 10 menitan lah mereka nyampe. Begitu pikir Bubun. Dokternya juga baru nyampe pukul 10.00. Bubun nanya, selain Bumi ada berapa pasien lagi. Kata suster, hari itu cuma ada Bumi doang. Buru-buru, Bubun WA ke Ayah ngabarin kalau Bumi satu-satunya pasien, supaya cepetan ke RS.

Sewaktu dokternya nyampe, Ayah dan Bumi belum nyampe juga. Sinyal HP susaaaah banget di poliklinik. Bubun minta tolong susternya telponin ke dua nomor telpon Ayah. Tapi… Nggak ada satupun yang nyambung! Berulang-ulang dicoba, tetep nggak bisa. Bubun mulai gelisah soalnya susternya nanyain terus.

Bubun pun keluar poliklinik nyariin sinyal sambil gendong Adik Langit. Keringetan banget deh. Ngirim sms, ngirim WA ke Ayah. Nggak ada respon.

Akhirnya pukul 10.30, susternya bilang dokternya udah mau pulang kalau dalam 5 menit belum ada kabar.

Bubun coba lagi telpon ke dua nomor HP Ayah. Nggak bisa juga. Akhirnya, Bubun bilang ke suster, nggak apa-apa kalau dokternya mau balik. Bubun udah pasrah.

Nggak berapa lama, dokternya keluar. Suster yang dampingin dokter, ketika ngelewatin Bubun ngomong: “Bu, ini dokternya udah mau pulang yah!”

Bubun lihat dokternya ngelirik ke Bubun bentar. Raut wajahnya jelas kesel banget. Bubun ngerti sih. Tapi ngilu deh rasanya.

Sebel sama Ayah. Kok bisa nggak nyampe-nyampe juga. Nggak bisa dihubungin sama sekali lagi. Bubun kirim WA lagi. Bubun bilang, nggak usah ke RSIA Bunda. Dokternya udah pulang. Abis itu, Bubun mewek. Adik Langit keringetan dan mulai rewel. Soalnya demi sinyal kan kita duduk di halaman luar poliklinik. Itu sambil nyusuin (thanks to apron menyusui). Nelangsa banget deh rasanya. Abis itu, Ayah nelpon. Bubun udah sesenggukan. Sedih… demi Bumi, udah bela-belain seperti itu.

Tiba-tiba, ada taksi yang mau keluar RSIA Bunda, langsung Bubun cegat. Mau pulang kita. Sepanjang perjalanan, Bubun nggak bisa nahan air mata. Kayak ngawang-ngawang. Pengen rasanya serial berat badan Bumi ini segera tuntas dengan akhir bahagia.

Konsul dr. Bambang

Sewaktu Bumi konsul ketiga pengobatan GERD-nya, dr. Mita juga memberikan respon yang sama dengan dr. Tiwi sewaktu Bubun bilang, kita mau cek endokrin Bumi. dr. Mita nyarin kita ke dr. Aman Pulungan atau dr. Jose Rizal Batubara di RS Hermina Jatinegara. Dr. Jose ini sering Bubun lihat di twitter. Sepertinya lumayan terkenal.

Tanggal 28 Mei, Bubun pun cek ke RSIA Hermina Jatinegara. Ternyata dr. Jose sedang cuti sampai dengan tanggal 5 Juni 2014. Berdasarkan hasil googling, Bubun tahu ada DSA subspesialis endokrinologi lain yang juga praktek di RSIA Hermina. Namanya dr. Bambang Tridjaja. Kebetulan, dokter Bambang praktek hari itu. Bubun langsung daftar. Dapat nomor 22.

Bubun juga nanya, apa bisa sekalian vaksin dengan dr. Bambang. Ternyata bisa. Ketersediaan vaksin DPaT-HiB-Polio dan PCV juga ada. dr. Bambang praktek mulai pukul 16.00. Karena antrian per nomor pendaftaran, Bubun disaranin datang sekitar pukul 18.00.

Bubun berangkat dari apartemen, pukul 17.00. Karena Oma dari Kendari lagi datang jenguk Adik Langit, dan adik Langit pun udah lancar minum ASIP dari dot, jadi kali ini Langit nggak perlu ikutan dibawa ke RS. Alhamdulillah. Sekitar pukul 17.30, Ayah nelpon ngabarin kalau mereka udah nyampe di RS Hermina. Tiga puluh menit kemudian, Bubun pun nyampe di sana. Ayah dan Bumi langi daftar di bagian admission.

Setelah itu, kita pun naik ke lantai 3 (atau 2?) tempat poliklinik berada. Ternyata rameeee bener yah. Bubun lihat ada banner yang bertuliskan daftar layanan sub spesialis untuk penyakit anak yang tersedia di RS itu. Dari gizi, pencernaan, endokrin, hepatologi… semuanya lengkap!

Ke bagian nurse station untuk daftar dan nimbang badan. Bubun diberi tahu, kalau kita hanya perlu nunggu 1 pasien lagi sebelum bisa masuk ketemu dr. Bambang. Bubun lihat di daftar nama dokter, ternyata dr. Bambang udah doktor. Jadi gelarnya “DR.dr.” gitu.

Hasil timbangan Bumi 9 kg. Itu dalam keadaan berpakaian lengkap. Suster nanya usia Bumi. Dia keliatan kaget waktu Bubun bilang 20 bulan. “Ha? Salah kali timbangannya. Coba ulang lagi.” Sambil posisiin Bumi, Bubun pun ngomong “Emang segitu kok berat Bumi, sus.”

“Oh yaa??? Kecil dong ya??”
Mancing di air keruh nih suster.
“Ya kalau nggak kecil, ngapain saya bawa ke sini, ke dokter bambang???” Kata Bubun dengan suara tinggi. Sewot deh.
Susternya senyum-senyum aja. Bubun pelototin.

Kita nunggu sekitar setengah jam. Bumi pengen nenen, tapi karena takut kelewat dipanggil untuk masuk ke ruang dokter, jadi ditunda dulu ke ruang laktasi. Setelah setengah jam, Bumi makin menjadi rewelnya. Akhirnya kita deh melipir ke ruang laktasi. Eh.. baru berapa detik, udah kedengeran suara panggilan: “Anak Bumisagara, pasien dr. Bambang…”

Keren juga nih poliklinik anak RS Hermina Jatinegara. Panggilan pasien pake toa (TOA!!) lho. Di sebelah pintu tiap ruang praktek dokter, ada pengeras suara untuk manggil pasien. Jadi, kalau kita ke kantin yang terletak di antara poliklinik anak dan poliklinik obgyn, atau ke ruang laktasi, nggak akan akan terlewat deh.

Selalu ada kesan pertama tiap kali bertemu DSA. Untuk dr. Bambang sendiri, Bubun bilang kesannya: tenang, ramah dan menenangkan.

Selanjutnya, terlihat bahwa dokter ini sangat detail. Setiap penjelasan Bubun, ditulis oleh beliau. Hasil endoskopi, hasil patologi anatomi, tes darah, growth chart (GC) Bumi, ditelusuri baik-baik. Oh iya, GC Bumi itu Ayah plot-in melalui aplikasi di ipad berdasarkan data yang ada di buku kontrol kesehatan Bumi.

image (2)

image_1

image_2

Bubun semangat banget jelasin histori kesehatan Bumi. Sambil nyusuin depan dokternya, btw. Soalnya Bumi udah sakaw ASI banget, mungkin ngantuk.

Kita diskusi cukup lama dengan beliau. Sesekali beliau ngajak bercanda. Tapi nggak berlebihan. Asyik deh dokter ini. Ayah aja yang pelit pujian, bilangnya suka sama beliau. Kalau Bubun nyerocos panjang lebar, Ayah suka nyuruh Bubun berhenti ngomong supaya dokternya bisa menyerap satu-satu informasinya. Tapi, dokternya tampak nggak terganggu lho. Tenang dan banyak senyum mendengar penjelasan Bubun.

Berikut hasil diskusi Ayah Bubun dengan dr. Bambang:

  1. Melihat grafik growth chart Bumi, Failure to thrive (FTT) terjadi bukan karena masalah hormon. Tahunya dari mana? Tren penurunan berat badan Bumi (persentilnya) terjadi sejak usia 3 bulan. Tren penurunan panjang badan Bumi (persentilnya) baru terjadi beberapa bulan terakhir. Kalau penyebab FTT adalah masalah gangguan hormon pertumbuhan, penurunan persentil berat badan dan panjang badan akan terjadi bersamaan.
  2. FTT karena kegagalan hormon pertumbuhan akan lebih berefek pada panjang badan ketimbang berat badan.
  3. Ada ciri-ciri khusus secara fisik yang akan tampak pada anak dengan gangguan hormon pertumbuhan (nggak sempat digali lebih jauh, soalnya Bubun distract dengan isu lain. Banyak yang dibahas bok!). Bumi nggak ada ciri tersebut.
  4. FTT pada Bumi sepertinya lebih disebabkan oleh masalah pencernaan dan asupan nutrisi. Selanjutnya Ayah dan Bubun fokus saja pada pengobatan pencernaan dan gizi Bumi.
  5. Terapi hormon pada anak FTT tanpa adanya diagnosa masalah gangguan hormon pertumbuhan tidak lagi dilakukan karena hormon tsb mengandung testosterone (?).
  6. Kalaupun ‘dipaksakan’ terapi hormon pada anak tsb, hasil berupa perbaikan berat dan tinggi badan baru akan terlihat dalam jangka waktu lama (namanya masalahnya bukan pada hormon yah…). Hanya pada anak tertentu, misalnya status gizi sangat buruk, pemberian hormon ini dapat dipertimbangkan.
  7. Rawat inap untuk perbaikan status gizi, termasuk di dalamnya pemberian zat makanan melalui hidung karena anak tidak dapat mengkonsumsi zat makanan cukup melalui mulut, dilakukan pada anak dengan gizi buruk. Alhamdulillah, meskipun secara growth chart terlihat jauh dari ideal, Bumi belum perlu perawatan seperti itu.
  8. Kekhawatiran Ayah dan Bubun terhadap pertumbuhan Bumi sangat masuk akal (Kata dokter, kalau anaknya ngalamin hal yang sama, pasti juga akan sangat khawatir). Jika status gizi Bumi tidak segera membaik, cepat atau lambat panjang badannya juga akan berpengaruh signifikan. Hal ini sudah mulai terlihat beberapa bulan terakhir.
  9. Angka LED Bumi pada tes darah bulan lalu adalah 17. Angka normalnya 10. Tapi menurut dr. Bambang, anak seusia Bumi bisa ditoleransi sampai 15. Indikasi infeksi itu 20-an. Jadi, Bumi ada di area abu-abu. Bubun khawatir ini nunjukkin adanya infeksi yang biasa terjadi pada anak-anak, seperti infeksi paru (misal: TBC) atau ISK. Menurut dr. Bambang, kalau ke arah paru sepertinya nggak. Karena angka di salah satu unsur darah Bumi (Bubun lupa apa), tidak menunjukkan itu. Untuk menghilangkan praduga, bisa dilakukan cek ISK lagi, seperti yang dulu pernah dilakukan (dan hasilnya negatif) itu.

Setelah diskusi panjang lebar, Bubun minta imunisasi booster keempat DPaT-HiB-Polio dan PCV untuk Bumi. Tapi dr. Bambang hanya ngasih vaksin DPaT-HIB-Polio aja. Untuk PCV baiknya ditunda kata beliau. Tampaknya, beliau termasuk yang kurang pro terhadap imunisasi simultan.

Demikian kisah serial berat badan Bumi sesi ke-lima ini. Mudah-mudahan di sesi berikutnya, hanya ada cerita tentang happy ending aja. Aamiin…


7 Comments on “Serial Berat Badan Bumi (Season V)”

  1. Mius says:

    Selamat siang mbak Citra, salam kenal, nama saya Mius, selama ini saya adalah silent reader blognya mbak Citra. Terimakasih ya mbak, banyak informasi yang bisa saya dapatkan dari blog ini. Semoga pertumbuhan Bumi segera on track ya. Aamiin!
    Saya juga memiliki seorang putri, umurnya baru 9 bulan dan beratnya mulai sulit bertambah sejak usia 6 bulan atau sejak saya titipkan di day care. Mengenai jumlah makanan yang masuk menurut saya lumayan (saya lihat dari BAB nya yang teratur setiap hari), kalau sedang weekend, memang agak susah menyuapinya – maunya nenen saja..ha..ha😀
    Nah, yang saya ingin tanyakan dari mbak Citra adalah mengenai BAB Bumi, apakah teratur juga mbak? Sampai saat ini saya masih mencoba tenang karena BAB putri saya itu masih teratur setiap harinya.
    Jika jawabannya bersifat pribadi, mohon dikirim ke email saya mbak.
    Sekali lagi terima kasih atas semua informasinya, membaca blog mbak Citra membuat saya malu untuk mengeluh ^_^

    • citralwi says:

      Hai Mbak Mius,

      Sejak usia 6 bulan itu, naik berat badan putrinya berapa mbak kalau boleh tahu?
      BAB Bumi alhamdulillah lancar. Rata-rata tiap hari sekali minimal. Kalau makannya lagi super banyak, bisa 2 kali. Kecuali hari minggu. Biasanya karena makan di hari sabtu nggak sebanyak hari lain, seringnya nggak pup di hari minggu. Hehe…

      Wah, aku yang malu lho mbak… mengeluh kok secara publik. Hihi…

  2. bundasienna says:

    salam kenal bunda bumbum, saya bundanya sienna. yang dialami bumbum sama seperti sienna (11 bulan). kemarin tanggal 3mei 2014 juga habis endoskopi dengan dr.mitha (berdekatan setelah bumbum endoskopi ya bun.. hehee). saya ngerti bnget perasaan mba citra pasti sutriiiissss banggettt mencari penyebab dari masalah ini.
    semoga kita bisa saling berbagi kondisi anak kita ya mbak. gimana kondisi bumi sekarang? Selain pengobatan nexium ada treatmen apaa lagi untuk bumbum?
    kapan konsul lagi ke dr.mitha?

  3. bundasienna says:

    salam kenal bunda bumbum, saya bundanya sienna. yang dialami bumbum sama seperti sienna (11 bulan). kemarin tanggal 3mei 2014 juga habis endoskopi dengan dokter mitha (berdekatan setelah bumbum endoskopi ya bun.. hehee). saya ngerti bnget perasaan mba citra pasti sutriiiissss banggettt mencari penyebab dari masalah ini.
    semoga kita bisa saling berbagi kondisi anak kita ya mbak. gimana kondisi bumi sekarang? Selain pengobatan nexium ada treatmen apaa lagi untuk bumbum?
    kapan konsul lagi ke dokter mitha?

    • citralwi says:

      Halo Bunda Sienna,

      Whoaa… mari berpelukaaan! ;’)
      Bumi pengobatannya cuma terapi Nexium aja.
      Terakhir konsul ke dr. Mitha sebelum lebaran. Rencananya akhir bulan ini atau awal bulan depan kita balik lagi ke dr. Mitha. Sienna sekarang gimana mbak progress pengobatannya?

  4. […] Serial Berat Badan Bumi lainnya: Session I Session II Session III Session IV Session V […]

  5. Ayu Arini says:

    Makasih sharingnya ya….
    Anakku juga mungil banget. Sekarang usia 23 bulan, beratnya 7,8kg. Ini dah lumayan tiap bulan naik 100 gr. Sebelumnya susah banget naiknya.

    Aku belum pernah konsul ke spesialis endokrin. Info soal hubungan antara FTT dan masalah hormon justru terlihat di panjang badan itu menarik. Jadi buru2 pengen ngecek grow chart anakku.

    Sekali lagi makasih ya, paparannya lengkap🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s