Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Serial Berat Badan Bumi (Season IV) – Inikah sebabnya?

Lanjutan dari cerita itu

Berbekal surat pengantar dari dr. Tiwi yang diperoleh pada saat check-up Langit hari Jumat tanggal 11 April 2014 itu, Bubun pun nelpon ke RS MMC Kuningan untuk bikin janji dengan dr. Pramita Gayatri (dr. Mita). Beliau kontrol setiap hari Rabu dan Sabtu. Langsunglah daftar yang untuk esoknya, tanggal 12 April 2014. Gerak cepat pokoknya!

Konsul pertama dr. Mita

dr. Mita mulai praktek jam 3 sore, kita baru berangkat dari apartemen jam 4 sore. Formasi lengkap: Ayah, Bubun, Bumi, Langit dan si Teteh. Yup! Langit usia 6 hari udah ikut nemenin Bumi ke dokter. Soalnya si teteh belum berani ditinggal berdua Langit di rumah. Takut belum bisa menghandle soalnya. Manalah Langit belum dilatih minum dot (lagian, terlalu dini rasanya dilatih ngedot belum sebulan, takut bingung puting kan yak?)

Sebelum ke RS MMC, kita mampir ke Prodia untuk cek kesehatan si Teteh. Karena rencananya si Teteh akan ngasuh Langit ketika Bubun kerja nanti, Bubun mau si teteh dicek Hep B, Hep C, dan Rontgen Paru untuk tes TBC. Sayangnya rontgen maksimal jam 12 siang kalau weekend, jadinya teteh-nya diambil darah untuk tes darah lengkap, cek Hep B dan C aja. Rontgen-nya nyusul deh.

Nyampe di RS MMC udah jam 4 daann.. kita dapat nomor urut 21!

Kata susternya, biasa konsul dengan dokternya setengah jam untuk 1 pasien. Ealaaa.. bakalan lama dong. Bubun bilang ke Ayah untuk ke kokas aja dulu bareng Bumi untuk beli high chair. Tapi Ayah takutnya macet dan nama Bumi udah kelewat dipanggil.

Selama nunggu, Bumi main di indoor playground di situ, yang sayangnya kurang terawat dan kurang bersih. Untungnya Lala tidur terus. Jadinya paling Bubun cuma pegel aja gendongin berjam-jam.

image_1

image_3

photo 1_2

photo 2hl

Bubun bolak-balik cek daftar pasien kayaknya lamaa banget. Terus Bubun liat hasil diagnosanya kok sama semua: GERD?
Kata susternya, baru sekali ini pasien dr. Mita sebanyak ini. Biasanya dibatasin. Hari sabtu dan rabu sebelumnya cuma 8 pasien aja.

Selama nunggu, Bubun sempat ngobrol dengan salah satu ibu yang permasalahan anaknya mirip Bumi. Usianya pun sama. Tapi, mungkin sedikit lebih kronis karena anak tersebut nggak mau makan sama sekali. Sama sekali lho! Cuma mau ASI aja. UHT/Sufor juga nggak mau. Tapi.. meskipun begitu, anak tersebut lebih berat daripada Bumi. Anaknya cranky setiap saat dan lemes nggak mau main. Maunya nempel ibunya terus. Baru bisa jalan juga usia 18 bulan. Setelah melalui rawat inap karena tiphoid, anaknya mengalami trauma besar terhadap dokter dan perawat. Ini terbukti setelah masuk ke ruang dokter, anaknya teriak heboh dan kenceng. Lama nangis dan teriak. Kasian deh. Lebih kasian lagi ibunya. Bubun kebayang perasaan ibunya kayak apa. Bubun tersenyum dan memberikan anggukan penuh simpati kepada si ibu yang membalas dengan anggukan lemah( I Feel you, mbak).

Jam 20.30, barulah kita dapat giliran masuk. Hoalaaa… 4,5 jam nunggu antrian bok! Langit masih merah udah harus ikutan ngantri. Tapi.. begitu kita masuk ke dalam, Bumi udah kecapekan dan cranky. Langit juga udah bangun. Bubun ngasih Langit ke si teteh, lalu Ayah, Bubun dan Bumi pun masuk ke dalam.

Kesan pertama tentang dr. Mita: galak yah!

Ayah dan Bubun ditanyain detail tentang historis tumbuh kembang Bumi. Ngeliatin growth chart dan dengerin pemaparan Bubun. Lalu.. ngeliat Bumi sekilas, beliau berkata bahwa Bumi mengalami gangguan pencernaan. Bahkan katanya dengan liat Bumi, beliau bisa pastiin, alat pencernaannya udah jelek di dalam.

Ayah nampak gusar banget. Bubun nanya bisa diagnosanya dari apa? Apa dari penampakkan fisik? Ada ciri-ciri tertentu? Lha wong, dipegang aja enggak, kok bisa langsung tahu. “Tapi anaknya nggak tumbuh kan?”

Ayah kemudian rada defensif. “Tapi motoriknya bagus, verbalnya juga di atas rata-rata.. dll.”

Bumi yang lagi capek tiba-tiba cranky, minta liat gambar ikan di luar. Jadi, pas sebelum masuk, Bumi lagi ngeliatin gambar ikan di dinding. Karena harus masuk ke ruang dokter, terpaksa Bumi diboyong masuk juga. Padahal dia lagi asyik liatin gambar ikan.

Dokter pun bilang “Tuh kan anaknya cranky. Ini pasti karena pencernaannya.”
“Bukannya anak-anak emang sering cranky.. itu mau lihat ikan kok..”
“Enggak… coba ibu liat anak-anak yang saya rawat, bisa tuh duduk manis. Harusnya anak itu nggak cranky.”

Bubun pun minta penjelasan lebih lanjut. “Jadi, diagnosanya apa dok?”

“GERD”

Jrengg!! Langsung teringat waktu Bumi usia 2 bulan, sering refluks.

“Itu yang reflux disease bukan, dok?”
“Iya.”
“Tapi anaknya jarang banget muntah. Dulu sih waktu 1-2 bulan, dia sering gumoh dan muntah proyektil gitu, tapi saya nanya ke dsa-nya apa ini GERD, katanya bukan.”
“Iya, kalau berat badan naik sih nggak apa-apa.. ini kan jelas nggak tumbuh anaknya. Sering batuk juga.”
“Itu diagnosanya dari ciri-ciri itu dok?”
“Bisa di-endoskopi lebih jelas terlihat. Ini saya bisa pastikan di dalam itu kayak gimana…?
“Tahunya dari mana dok? Insting yah?”
“Bu.. Pak… Saya ini udah endoskopi ribuan anak.. yah mungkin bisa dibilang kayak dukun yah..”
“Jadi, pengobatannya apa?”
“Ini saya kasih nexium… tapi sebelumnya saya obatin dulu batpilnya. Udah dikasih obat belum sama dokter?”
“Udah dok.”
“Ini saya kasih lagi.”
Bubun lalu minta dijelasin obatnya apa aja dan efek sampingnya.

Sepanjang konsul Ayah tampak bete banget. Sampe-sampe Bumi yang cranky pun dibentak. Bubun langsung gendong Bumi keluar untuk ngeliat gambar ikan. Setelah puas, Bubun dudukin ke temapt periksa udah tenang aja. Ngeliatin kaca dia. Eh, dokternya nggak notice kayaknya. Bumi nggak se-cranky itu kok dok…

Yang bikin makin heboh, selama konsul itu si teteh teriak-teriak “Buuu.. ini anaknya nangis.”
Ih sebel deh. Lagi tahu kita rempi yah. Diliatin semua orang itu dia teriak-teriak. Setelah gendong Langit, Bubun kembali masuk ke dalam.

Meskipun kita ke dr. Mita karena ada kecurigaan Bubun dengan sistem pencernaan Bumi, tapi tetap aja shocked begitu tahu diagnosanya.

“Penyebabnya apa dok?”
“Ya macam-macam, bisa karena kebanyakan minum susu..”
“Tapi Bumi ASI Ekslusif 6 bulan dan full ASI sampai 11 bulan. Minum sufor juga nggak banyak.”
“Iya tapi kan kasih ASIPnya pake botol kan? Itu bisa aja cara pemberiannya yang salah dan dalam penyediaannya kan melibatkan tangan-tangan orang lain..”
“Terus karena GERD itu juga, jadinya meskipun makannya lumayan tapi Bumi nggak tumbuh sesuai harapan.”
“Ya iya dong. Kan pencernaannya itu seperti ini (nunjukkin gambar di dinding)… ini nggak ketutup sempurna gini,jadi penyerapan karbohidrat dan zat-zat makanan lainnya nggak maksimal.”

Ayah bilang Bumi mau diendoskopi aja sekarang, biar jelas semuanya.
“Eh.. jangan! kasian.” Kata Bubun spontan.
“Lho.. yang kasian malah ibu. Lagian nggak mungkin sekarang lah, saya ini sibuk!” Kata dokter.
“Ayah.. nggak bisa tuh, dokternya sibuk.”

Bubun tahu prosedur endoskopi itu kayak apa. Soalnya pernah nemenin Oma dulu diendoskopi. Kata Oma, nggak enak dan serem abis karena ada selang gede dimasukin ke mulut, bikin muntah-muntah.

“Dok, itu ada anastesinya nggak kalo endoskopi?”
“Iya dong.. ntar dikasih semacam balon untuk ditiup-tiup anaknya, udah deh.”
“Berapa lama sih dok?”
“Bentaaar.. paling lama juga 5 menit.”
“Ohhh..”

Dokter pun ngejelasin kalau mau endoskopi bisa daftar untuk hari sabtu depan. Nanti bilang aja ke suster.
Keluar dari ruangan, kita lapor ke suster. Katanya nanti ke bagian admission untuk daftar endoskopi.

Turun ke bawah, kita daftar dan tanya-tanya prosedur. Ternyata biayanya lumayan mahal, sekitar 8 juta. Ayah harus ngomong dulu ke dokter di kantornya untuk approval dan reimbursement. Kalau udah oke, kita bisa daftar.

Oh iya, pas nebus obat, Bubun kaget banget. Kok ada antibiotik?

IMG_20140604_075635

Waktu Bubun nanyain obat apa aja yang dikasih ke Bumi, dr. Mita sama sekali nggak nyebutin antibiotik lho. Bubun cek di internet, itu biasa dipake untuk pengobatan common cold. Tapi sekarang nggak ada bukti bahwa antibiotik tsb ampuh mengatasi batpil. Akhirnya si antibiotik kita tebus tapi nggak diminumin ke Bumi. Sementara untuk nexium, kita masih maju mundur karena belum ada hasil endoskopi.

Tes Darah Prodia Child
Hari Rabu tanggal 16 April, dokter kantor Ayah udah approve endoskopi Bumi. Tapi Ayah lupa di mana naruh surat pengantar dari dr. Mita. Akhirnya Bubun telpon ke RS MMC. Syukurlah, hari rabu itu dr. Mita praktek. Jadinya bisa minta tolong dibikinin surat baru. Nanti diambil Ayah sepulang dari kantor.

Setelah itu, Bubun pun daftar ke bagian admission. Ribet bangett.. Bolak-balik aja dong. Soalnya ternyata harus tes darah dulu. Hasil tes darah itu nantinya harus dikonsultasikan ke dokter sebelum bisa diendoskopi. Sementara dr. Mita nggak nyebut-nyebut soal tes darah sebelumnya. Akhirnya, minta info ke suster di poliklinik apa aja tes darahnya. Ternyata selain tes darah lengkap, ada tes waktu pembekuan darah juga. Sekalian aja, Bubun rencana untuk tes ferritin Bumi untuk cek apakah deplesi zat besi dulu itu udah membaik.

Hari kamis pagi, sebelum ke daycare, Bumi dan Ayah ditemanin Teteh ke prodia child di Kramat. Bubun nggak nemenin soalnya kasian Langit kalau pagi-pagi harus ikutan ke sana juga. Kita milih cek darahnya di sini bukan di RS MMC biar Bumi lebih nyaman. Sebenernya rada khawatir sih, karena Bubun punya pengalaman kurang menyenangkan dengan prodia child ini dulu. Tapi udah berkurang sih karena sewaktu Bumi ulang tahun pertama dan dirawat di RS akibat disentri dulu, orang dari prodia child datang ngejenguk sekaligus memberi goodie bag sebagai ucapan selamat ulang tahun (Bubun mureee.. hehe)

Menurut Ayah dan si teteh, proses ambil darah Bumi cukup lancar dan nggak pake insiden salah tusuk kayak dulu. Cepet dan sigap staff prodia-nya. Sayangnya, yang pertama diambil adalah darah di telinga untuk cek pembekuan darah. Akibatnya, lebih susah Bumi diambil darah di lengan untuk tes darah lainnya. Baiknya sih menurut Bubun yang di lengan dulu diambil. Kalau di telinga kan lebih gampil.

photo 3_2

photo 2_2

Pendaftaran Endoskopi

Keesokan harinya, Bubun ngubungin bagian admisson RS MMC untuk mastiin pendaftaran endoskopi. Katanya nama Bumi belum ada. Tapi cek ke suster di poli, katanya udah di daftarin. Udah gitu, bagian admission keukeuh nggak mau daftarin kalau Bumi belum konsul sekali lagi ke dokternya sebelum endoskopi.

Setelah bolak-balik beberapa kali, akhirnya Bubun kebawa emosi. Dengan suara bergetar menahan tangis, Bubun bilang ke suster, masa Bumi harus ditunda lagi endoskopinya, sementara ini udah urgent banget status gizinya. Kalau harus konsul sekali lagi, makin lama penanganannya. Mungkin karena kasian, akhirnya si suster bantuin Bubun ngurusin pendaftaran. Si suster juga bantuin ngubungin dr. Mita untuk bacain hasil tes darah Bumi supaya hari sabtu, Bumi bisa langsung di-endoskopi. Suster yang baik hati itu bolak-balik nelpon Bubun dan dr. Mita untuk konfirmasi. Alhamdulillah, menurut dr. Mita hasil cek darah Bumi cukup baik untuk bisa diendoskopi. Meskipun sebenarnya, Bubun rada khawatir karena melihat nilai LED (laju endap darah) ada di angka 17, sementara angka normal adalah 10. Setahu Bubun, LED itu menunjukkan ada tidaknya infeksi. Deg-degan. Mudah-mudahan itu sisa batpil minggu kemarin. Selain itu, Bubun cukup seneng karena HB Bumi mencapai 13 sedangkan ferritin-nya 30. Naik dari waktu dulu itu. Semoga itu berarti Bumi udah nggak deplesi lagi. Tapi, ferritin-nya nggak nyampe 50, sebagaimana yang dr. Tiwi sampaikan sebagai angka ideal untuk cadangan zat besi.

to be continued…


5 Comments on “Serial Berat Badan Bumi (Season IV) – Inikah sebabnya?”

  1. […] Serial Berat Badan Bumi (Season IV) – Inikah sebabnya? → […]

  2. mama freya says:

    Mba Citra, sy turun prihatin dg apa yg mba sdg hadapi..sy jg punya bayi umur 7 bulan & pernah jg di ambil darah krn batpil n demam, akhirnya rawat inap jg..hang in there ya mba..

  3. Haniyah says:

    Bun salam kenal ya.. anak aq di prediksi gerd, sudah rawat inap selama 3hari setelah itu sudah tidak muntah2 lagi. Tapi setelah 2bulan muntahnya kumat lagi. Aq pengen konsul dengan dr. Mita tapi beliau lagi cuti sampai pertengahan oct nanti. Oia gimana kabar bumi setelah di endoskopi? Makasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s