Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Demi ASI untuk Bumi

Mendekati kelahiran Adik Lala, Bubun jadi sering terkenang masa-masa lahiran Bumi dulu. Apalagi karena beberapa hari sebelum cuti, Bubun nengokin anak pertama temen kantor Bubun. Bubun takjub banget. Udah lupa. Ternyata, bayi itu semungil ‘itu’, begitu rapuh, dan kalau tidur kayak boneka, diem nggak gerak. Nggak bisa berhenti mandangin.

Bubun lihat gimana temen Bubun canggung dan bingung ketika menenangkan bayinya yang nangis. Wajahnya letih walaupun juga ada semburat bahagia. Bubun bisa memahami. Karena Bubun pun mengalami hal serupa.

Ada trauma yang tersisa di antara kebahagiaan menyambut kedatangan Kakak Bumi dulu. Selain proses persalinan yang menyakitkan namun berujung kebahagiaan, ada hal lain yang lebih membekas. Pasca persalinan yang kata banyak ibu, sangat menantang ternyata… sangat sangat menantang dan dramatis. Syukurlah semua sudah berlalu. Tapi dalamnya luka di hati Bubun, mungkin tak banyak yang tahu. *sok drama* *tapi emang bener*

Hari H Kelahiran Bumi

Seperti yang sudah pernah Bubun ceritain sebelumnya, Bumi lahir hari jumat tanggal 21 September 2012 pukul 17.35 WIB. Setelah melalui proses persalinan yang lumayan bikin trauma, akhirnya Bubun menarik napas lega. Setelah IMD sekitar 1 jam, Kakak Bumi dibawa ke ruang bayi untuk suntik vit K dan diberi tetes mata serta diobservasi. Tak lupa, Bubun ingatin lagi ke suster, untuk request dr. Tiwi sebagai DSA Kakak Bumi.

DSCN3362

Menurut suster, Bumi akan rooming-in dengan Bubun pada pukul 23.00. Nggak sabar rasanya untuk bisa ketemu dengan Kakak Bumi lagi. Waktu seperti berjalan lambat. Untunglah ruang bayi ada di lantai yang sama dengan kamar rawat inap, bahkan Bubun cuma perlu berjalan beberapa langkah untuk bisa ke ruang bayi tersebut. Sayangnya, boro-boro jalan, ke WC aja Bubun nggak dibolehin, sampai dipasangin kateter. Mungkin karena banyaknya jahitan persalinan ya.

Bahagia rasanya setelah Bumi dibawa kembali ke Bubun.
“Bu, ini anaknya.. kita cek dulu ya gelangnya. Atas nama bayi…” Kata suster yang bawa Bumi ke kamar.
Belum selesai, Bubun udah motong:
“Nggak apa-apa sus. Saya udah tahu itu anak saya. Hapal kok wajahnya.”
Susternya tersenyum. Tapi tetap nyocokin gelang di tangan Bumi dan tangan Bubun.

Setelah itu, tanpa basa-basi lagi, Bumi langsung Bubun susuin.

DSCN3372

Meskipun yah.. Bubun rasa ASI-nya belum ada. Mudah-mudahan ada kolostrum-nya walaupun tak kasat mata. Lagian, sesuai panduan kelas laktasi yang Bubun ikutin selama hamil, setelah lahiran bayi harus disusuin 2-3 jam sekali. Salah satunya untuk merangsang produksi ASI. Karena produksi ASI itu based on demand katanya. Semakin banyak ‘permintaan’, produksinya akan semakin banyak. Seperti teori ekonomi ya? Eh, bener nggak sih? (maklum lagi hamil otak lemot. hihi)

Anyway,
Untuk memudahkan nyusuin, Bumi co-sleeping dengan Bumi. Ngeri? Dikit. Soalnya itu juga susternya yang nyaranin. Jadi, lebih tenang deh.

DSCN3377

Sepanjang malam, Bumi bangun beberapa kali. Mostly, karena pup dan pipis. Bubun mulai deg-degan. ASI belum keliatan tapi cadangan makanan dalam tubuh Bumi udah dikeluarin.

Hari 1  Pasca Kelahiran Bumi

Paginya, dr. Tiwi visit. Hal pertama yang dilakuin beliau adalah ngasih vaksin Hep B. Setelah itu, beliau evaluasi posisi nyusuin Bubun. “Coba saya lihat cara nyusuinnya.”

Deg-degan. Berasa lagi ujian. Untungnya berkat ngapalin posisi latch on berkali-kali sewaktu hamil, Bubun ‘lolos tes’. Hehe. Itu dalam posisi duduk.

Menurut dr. Tiwi, penting bagi ibu untuk belajar nyusuin sambil tiduran. Supaya ibu bisa istirahat, lebih rileks dan ujung-ujungnya produksi ASI juga meningkat.

DSCN3382

DSCN3381

dr. Tiwi buru-buru banget konsulnya. Belakangan Bubun baru tahu ternyata hari Sabtu minggu adalah jadwal beliau untuk pulang kampung ke Bali. Jadi, setelah pertemuan singkat tadi, baru bisa ketemu beliau lagi hari Senin.

Sepanjang hari itu, Bubun menerima banyak kunjungan dari teman-teman. Lumayan bikin hepi. Yang bikin makin seneng adalah Bumi adalah bayi yang tenang banget. Kalau nggak lagi pup atau pipis atau laper, bakalan anteng aja di tempat tidur ngeliat sekeliling. Kalaupun nangis minta ganti popok atau nyusu, tangisannya nggak melengking. Lembut tapi juga nggak terdengar lemah. Curiga ini karena hypnobirthing deh.

DSCN3386

Menjelang siang, Oma datang dari Kendari. Feeling udah mulai nggak tenang. Takut drama keluarga karena ASI yang kadang menimpa ibu-ibu baru bakal dialamin lagi. Bubun sendiri udah info dari jauh-jauh hari ke Oma, kalau sebisa mungkin akan ngasih ASIX ke Bumi selama nggak ada indikasi medis yang menghalangi.

Tapi tetep aja, selama sisa hari itu, Oma nanya “Itu emang ada isinya?” Tiap kali Bubun nyusuin Bumi.
Meskipun mencoba tetap tenang dengan ngomong “Ada, meskipun dikit. Makin sering disusuin kan produksi makin banyak.” Tapi tetap aja, hati Bubun mulai goyah dengan makin seringnya pertanyaan itu dilontarkan. Goyah untuk tetap bahagia yah. Bukan goyah untuk berhenti ngasi ASI. Oma juga nanya, kenapa Bumi nggak pake gurita, kenapa nggak pake bedak, kenapa begitu dan kenapa begitu.

Onny Nita datang dari Bandung sore itu.

DSCN3391

Hari 2  Pasca Kelahiran Bumi

Sekitar pukul 07.00, suster ngasih tahu kalau para orang tua diminta datang ke ruang bayi untuk belajar cara mijat dan mandiin bayi. Di sana, bayi-bayi yang udah mandi dijejerin. Cakep-cakep banget.

Bubun melangkah mendekat, gandeng tangan Ayah dan berkata:
“Ayah, anak kita cakep banget.” Sambil nunjuk ke arah Bumi yang udah mandi.
Bubun pandangin Bumi sambil tersenyum berseri-seri.
“Err… iya…” Ujar Ayah sambil mengarahkan telunjuk Bubun ke arah yang berbeda.
“Yang itu Bumi. Bukan yang tadi.”
“Haa.. masa sih, Yah?”
“Iya, emang mirip sih. Hihi”
Ya ampun… malunya. Padahal sehari sebelumnya sesumbar ke suster “Saya hapal kok wajah anak saya” Duengg!

DSCN3413

Tak berapa lama, orang tua lainnya berdatangan. Bubun lihat di white board yang ada di ruang bayi itu, tercantum bahwa ada 6 pasien hari itu. 5 di antaranya lahir secara SC. Bubun sendiri yang lahiran spontan. Tapi 5 di antaranya tercatat ASIX, dan hanya satu yang ASI + suplementasi. Mungkin karena lahir prematur dan ada indikasi medis tertentu. Bubun lihat para Ibu gagah berani jalan dan duduknya. Padahal mereka lahiran SC, yang mana pasti sakit banget. Nah, Bubun justru terlihat susah payah duduk. Jahitan masih maknyuss rasanya.

Suster pun ngajarin langkah-langkah jemur, pijat, dan mandiin bayi. Sebelumnya, Bubun udah ikutan kelas perawatan bayi di RSIA Tambak, jadi udah ada gambaran. Tapi yang kali ini detail banget, dan mudah diingat. Ayah juga ngerekam panduan tersebut, biar nggak lupa nanti prakteknya.

Siangnya, Bubun lihat wajah dan mata Bumi udah kuning banget. Untungnya, Bubun cek, badan belum semuanya kuning. Bubun juga minta ke suster untuk breast meassage biar ASI-nya lancar. Alhamdulillah, meskipun luar biasa sakit, tapi begitu diperah sama suster, Bubun lihat ada kolostrum berwarna kekuningan yang keluar dari payudara. Tapi waktu Bubun nyoba mompa pake breastpump yang Bubun sewa sebelumnya, kok nggak ada yang keluar ya?

Beberapa kali Oma menerima telpon dari sanak saudara, dan yang Bubun dengar hanyalah “duh, anaknya kecil..” Membuat rasa bersalah Bubun karena diet selama trimester ketiga meluap. Bubun jadi marah ke dokter yang bilang bahwa Bumi overweight. Bubun terganggu banget kalau ada yang menyinggung masalah berat badan Bumi ini. Apalagi setelah tahu bahwa lingkar kepala Bumi, di bawah batas minimal bayi umumnya. Sakit hati, kesal dan marah campur aduk jadi satu. Tapi semuanya disimpan di dalam hati saja. Tidak sampai dimuntahkan dalam kata-kata. Belum.

Minggu malam, Bubun nggak bisa tidur. Gelisah terus. Sebenarnya Bubun merasa tanda-tanda awal baby blues udah mulai ada. Tapi Bubun mencoba menjauhkan pikiran-pikiran negatif.

Hari 3  Pasca Kelahiran Bumi

Keesokan harinya, meskipun langit biru dan awan putih, situasi mental Bubun masuk ke area tergelap. Bumi terlihat agak kuning. Bubun ngomong ke suster, tapi kata suster enggak. Badannya juga terasa lebih ringan.

Menjelang siang, Bubun diberitahu bahwa birilubin Bumi mencapai 12,8. Sedikit di atas normal. Berat badannya juga turun 150 gram, menjadi 2,650. Dengan panjang 50 cm, Bumi terlihat tirus banget. Makin merasa bersalah. Kenapa sih Bubun nggak ingat kalau bayi-bayi yang ASIX akan turun berat badannya di minggu pertama? Kalau lahirnya dengan berat badan 3 kg lebih kan lumayan buat tabungan. Harusnya Bubun inget itu waktu heboh diet karena kesalahan prediksi USG yang selisihnya nyampe 500 gram itu! Katanya akurasi USG +/- 10% dari realnya. Manaa??? :((((

DSCN3443

dr. Tiwi yang visit menyarankan untuk fototerapi tapi tetep rooming-in jadi Bubun bisa terus ngasih ASI secara langsung. Alat fototerapinya dibawa ke dalam kamar dan diarahkan ke tempat tidur Bubun kalau Bubun lagi nyusuin Bumi. Kalau Bumi tidur, alatnya diarahkan ke box Bumi. Bumi dipakein ‘kacamata’ khusus. Bubun pun begitu. Bedanya, Bubun pake sunglasses yang gaya. Hihi.

DSCN3430

Awalnya, Bubun masih bisa ketawa-ketawa. Apalagi kata Onny Nita: “Anggap aja lagi berjemur di pantai!”

Ayah juga menghibur dengan ngajak bercanda. Ikutan make sunglasses juga!

DSCN3431

Temen-temen kantor Bubun dan temen kantor Ayah datang menjenguk. Temen Bubun yang udah punya anak, ngedukung untuk ngasih ASIX. Temen Ayah juga ada yang anaknya sempet kuning setelah lahir. Bubun nanya, apa dengan ASI aja cukup. Katanya dengan nada meyakinkan: “Cukup kok! ASI ajah!”
Oma nanya ke salah satu temen Bubun yang udah punya 2 anak: “Ini Citra nggak mau banget anaknya dikasih susu. Kalau Mira dulu anaknya dikasih susu juga kan?” Yang mana dijawab: “Enggak tante, anak saya dua-duanya ASI. Nggak dikasih sufor.”
Eh, ada salah satu pejabat di kantor Bubun (ibu-ibu berusia paruh baya) yang ngomong gini ke Oma: “Emang anak jaman sekarang begitu bu. Bilangin aja itu disuruh sama dokternya. Dokternya yang nyuruh. Jadi, dia ngikutin.”

Err… Gimana ceritanya… Orang tiap kali dr. Tiwi ada, si Oma kabur. Padahal kan Bubun udah ngajakin, supaya dokter bisa yakinin Oma. Oma tuh orangnya pasti diem kalau yang ngomong tipikal dokter cerdas nan banyak ngomong seperti dr. Tiwi.

Pengen ketawa deh tahu si ibu itu ngomong kayak gitu ke Oma.

Malamnya, Bubun nggak bisa ketawa-ketiwi lagi. Bolak-balik browsing milissehat dan buka-buka Timeline @tipsmenyusui dan @AIMI_ASI. Telat banget ini mah baru belajar tentang birilubin setelah bayinya lahir!

DSCN3417

DSCN3433

 

Bumi mulai rewel dan sering nangis. Tapi tiap popoknya diganti atau disusuin, akan balik tenang lagi. Oma pun mulai grasak-grusuk. Nyinggung-nyinggung soal berat badan Bumi yang turun dan menyarankan untuk dikasih sufor. Tapi Bubun diam aja.

Makin malam, Bumi makin heboh nangisnya. Cuma bisa ditenangin beberapa menit aja.

Hari 4  Pasca Kelahiran Bumi (Dini hari)

Selepas lewat tengah malam, Bubun mulai stress. Apalagi Oma mulai terlihat marah. Salah satu suster, yang Bubun nggak tahu namanya, tapi Bubun hapal betul wajahnya (sampai sekarang!) ngomong: “Bu, ini anaknya kehausan. Harus dikasih sufor.”

Really?? RSIA Bunda yang terkenal support ASI banget??

Langsung disambut oleh Oma: “Iya KAN? Ini nih dibilangin nggak mau dengar.”
Ditekan oleh dua pihak seperti itu, Bubun masih bisa mencoba tegar: “dr. Tiwi emangnya bilang gitu?”
“Iya, dr. Tiwi biasanya ngasih susu yang hypoalergenic sih.”
“Saya mau dr. Tiwi ditanyain dulu. Udah tanya belum.”
“Udah kok, udah tanya.”

Masa sih??

Menghadapi situasi itu, Bubun akhirnya bilang: “Ya udah sus. Saya coba dulu ini nyusuin lagi. Kalau emang demi kebaikan anak saya, yah saya bisa bilang apa…”
“Ibu harus relakan… ini semua demi anaknya” Kata suster sambil menepuk bahu Bubun. Mungkin supaya terlihat simpatik. Tapi, yang ada Bubun malah pengen mewek sejadi-jadinya… merasa tertekan banget.

Sementara itu, Ayah masih tertidur nyenyak. Tak sadar akan drama yang sebentar lagi datang.

Drama yang tidak akan terlupakan

Nggak nyampe setengah jam kemudian, Bumi nangis lagi. Bubun udah keringet dingin. Si suster yang sama, masuk. Bubun udah bercucuran air mata tapi nggak bersuara. Oma mencak-mencak dengan volume tinggi.
Seperti diberi kekuatan entah dari mana, Bubun tiba-tiba berkata: “Nggak mungkin kan dr. Tiwi bisa dihubungi jam segini. dr. Tiwi beneran bilang harus kasih sufor? Saya mau cari donor dulu. Teman atau dari RS mana..” Bubun inget di RS Carolus dan KMC kalau nggak salah ada bank ASI. Atau mungkin minta bantuan AIMI atau AyahASI…

“Kala donor nggak bagus bu. Kan nggak tau sumbernya dari mana. Rentan penyakit!” Kata suster itu.
“Tapi sus.. kan lambung bayi masih kecil di hari-hari pertama ini, nggak perlu ASI banyak kan? Saya udah produksi ASI kok. Nih coba lihat.” Bubun perah dikit dan tunjukin ke suster itu.
tahu nggak dia ngomong apa?
“Emang ibu udah bisa ngehasilin 50 ml ASI?”
“Ada kok kalo 50 ml doang!” Kata Bubun yakin.
“Dalam sekali nyusuin??” Ujarnya sambil memberi pandangan meremehkan. Kok tahu meremehkan? Yah mungkin ini subjektif yah, tapi gesture si suster nggak supportive banget. Kepalanya diturunkan hingga dagu menyentuh batang leher dan bola matanya menatap ke atas.

Bubun diem. Kirain 50 ml dalam 1 hari… *mewek*

“Susunya beli di mana sus?”
Tanya Oma seperti udah langsung mau ke toko aja beli sufor.

Bubun sesegukkan. Menatap Ayah yang tidur nyenyak, rasanya pengen ngelemparin bom molotov.

Tiba-tiba, Ayah bangun. “Ada apa ini? Siapa yang nangis?”
Bubun cuma menatap Ayah aja. Nanar. “Lho! Kok nangis? Ada apa?”

Oma langsung nyamber.
“Ini Cici, dikasih tahu susah! Nggak mau kasih susu (sufor) ke anaknya. Ini.. Bumi udah tulang berbalut kulit kelaparan!!”
Baru bangun dari tidur, Ayah nggak sensitif yah. Jawabnya:
“Saya juga nggak mau anaknya dikasih sufor.”
Abis itu, dia pun teriak sambil mukul alat fototerapi itu “Gara-gara benda sialan ini nih! Tadi kan saya sudah bilang, nggak usah disinar. Anaknya kepanasan, nangis terus!”

Duh Ayah.. untung, alatnya nggak rusak. Kalau nggak, gimana kita gantinya? Pasti mahal banget.

“Diperah aja sini! Suster! Panggil suster yang lain, bantuin perah!” Ayah pun bersabda.
Bubun langsung teringat breastpump yang udah Bubun sewa sebelum ke RS. Bubun minta disteril, kemudian Bubun coba pakai. Nggak ada hasilnya. Bubun pun teringat lagi, harusnya di rumah sakit ibu dan anak seperti RSIA ini, ada alat pumping yang hospital grade. Bubun tanyain ke suster, ternyata ada!

Kenapa sih, nggak ditawarin ke Bubun? Harus ditanyain dulu?

Alhamdulillah, make alat pompa punya RS, ASI Bubun keluar meskipun dikit.
Ayah turun tangan. Literally!
Ayah merah ASI Bubun di depan Oma dan suster-suster. Asli! Malu banget.
Tapi, berhubung rasanya sakitttt banget, cuma bisa meringis aja. Lha wong Ayah nggak pake teknik yang bener kok. Kayak merah susu sapi pake kekuatan super. Sebenernya pengen teriak. Tapi takut Bubun malah terlihat ‘kalah’ dalam upaya ngasih ASI ini. Akhirnya Bubun cuma meremas-remas seprei sampai kusut banget.

Ayah juga nyuruh Bubun minum sus UHT banyak-banyak. Bubun pengen protes karena Bubun tahu, nggak ada hubungannya antara minum susu dengan menghasilkan ASI. Ini masalah psikologis. Lagi tertekan gimana bisa produksi ASI yang cukup. Tapi Bubun tahu, ini bukan saatnya berdebat. Nanti malah merusak mood Ayah dan situasi kondusif yang mulai terbangun. Bubun minum 2 kotak susu UHT sampe mau muntah.

Bubun minta diputerin panduan hypnosis dari Lanny Kuswandi versi menyusui, yang satu paket dengan hypnobirthing dan udah disimpen di I-Pad. Bubun fokus pada suara Bu Lanny yang lembut, dan alhamdulillah.. ASI yang diperah lumayan banyak.

Bumi pun diberi ASI perahan itu dengan cup feeder dan sendok. Setelah beberapa suap, akhirnya Bumi tenang dan bisa tidur. Para Suster pun kembali ke nurse station.

Pukul 02.30 pagi, Bubun terjaga. Terdengar sayup-sayup suara Oma dan Ayah.
Ada apa lagi ini?

Ternyata drama yang tadi belum selesai yah…
Si Oma bilang dia mau ke bandara SEKARANG! Mau pulang ke kendari. Sekarang dia lagi ngemas barang-barangnya.
Jam 3 pagi? Pesawat paling pagi aja jam 06.00.
Lagian, tiket pesawat untuk kepulangan kan udah dibeli untuk hari sabtu mendatang. Kok tiba-tiba Oma mau pulang sekarang?

Alasan si Oma adalah, dia dapat telpon dari temen kantor. Katanya besok pagi udah harus ada di kantor karena ada hal mendesak.
Oke, Oma nggak jago bikin alasan.
Ayah Bubun tahu, ini karena Oma kesel perkara susu formula tadi!

Ampun DJ!

Meskipun tahu, Bubun diem aja. Yah kalau Oma mau pulang sekarang, Bubun nggak keberatan. Silahkan saja.
Tapi enggak dengan Ayah. Serta merta Ayah ‘nembak’:
“Mama marah ya karena tadi? Saya minta maaf sekali ma… tidak bermaksud… Tolong jangan pulang ke Kendari sekarang.”

Tapi Oma tetap berkilah. Katanya, ini emang karena panggilan kantor. Semua diucapkannya dengan nada dingin dan dengan ekspresi wajah seganas ketika memarahi Bubun beberapa jam sebelumnya.
Begitu Oma masuk ke toilet, Ayah bilang biar gimana pun Oma itu orang tua kandung Bubun. Bubun harus minta maaf. Bubun bergeming. Lalu Ayah berkata: “Kita butuh bantuan mama. Nanti bakal kerepotan banget ngurusin Bumi sendiri. Seenggaknya ada yang nemenin di rumah beberapa hari ini.”

Bubun tahu, Bubun akan ngurusin Bumi sendiri, beda dengan Oma yang dulu banyak mendapat banyak sokongan dan bantuan dari sanak keluarga. Bubun dan adik-adik Bubun banyakan diasuh oleh keluarga ketimbang oleh Oma. Bahkan sedari kecil, Bubun udah biasa diserahi tanggungjawab untuk merawat adik-adik. Bubun cukup yakin, Oma nggak terlalu bisa merawat newborn.

Jadi, sesungguhnya bujukan Ayah itu nggak ngaruh ke Bubun.
Tapi, mengingat sekarang Bubun udah jadi seorang ibu, Bubun tahu Bubun harus minta maaf. Entah untuk apa. Untuk persistent ngasih ASIX ke Bumi? Untuk nggak ngikutin kehendak Oma ngasih Sufor ke Bumi? Enggak. Bubun minta maaf karena begitulah diharapkan dari seorang anak. Harus menyenangkan hati orang tua, bukan melukainya. Itu hal minimal yang bisa dilakukan dalam rangka membalas jasa-jasanya.

Bubun pun minta maaf ke Oma. Bubun ngucapinnya dengan volume suara kecil dan intonasi datar, jauh dari rasa menyesal.

Kemudian, yang terjadi selanjutnya adalah Oma menangis penuh amarah. Sorot matanya beda. Bubun seumur-umur belum pernah melihat itu. Bubun merasa berjarak dengan Oma. Itu bukanlah Oma yang Bubun kenal.

Setelah itu, ia pun mengeluarkan uneg-unegnya.
“Kenapa Bumi nggak dikasih susu? Apa sih salahnya?? Sedikiittt saja. Asal berat badannya kembali. Mama mending pulang saja ke Kendari daripada lihat Bumi disiksa seperti itu. Kelaparan. Tinggal tulang berbalut kulit (di kemudian hari, frasa ‘tinggal tulang berbalut kulit’ itu menghantui Bubun sekian lama)!!”

Oke. Bubun dibilang nyiksa Bumi. Air mata mengalir dari pelupuk mata Bubun.

“Susu itu nggak apa-apa. Bukan racun. Bumi sudah menangis-nangis, masih saja bertahan dengan ASI. Dikasih dulu sementara sampai ASImu keluar! Kalian ini.. baru jadi orang tua berapa hari. Mama ini… sudah puluhan tahun jadi orang tua… ” Bubun nggak dengar lagi lanjutannya.

Bubun pun mendaraskan doa-doa, istigfar. Menahan diri supaya tidak mengeluarkan sepatah kata.
“Jangan ngomong soal 72 jam bayi bertahan tanpa makan. Jangan bilang apapun soal supply and demand dan hubungannya dengan pemberian sufor tanpa indikasi medis sejak dini. Nggak usah jelasin juga kalau berat badan bayi turun setelah lahir itu NORMAL, selama nggak lebih 10% dari berat lahir. Pokoknya tutup mulut sajalah!” Perintah suara dalam diri Bubun.

Oma berhasil dibujuk untuk nggak pulang subuh itu. Oma pun lanjut tidur. Sementara itu, Bubun nyusuin Bumi sejenak kemudian nggak bisa tidur lagi. Masih terguncang dengan drama dini hari tadi. Bubun ambil HP, browsing kontak RS Carolus dan KMC. Bubun coba telpon, RS Carolus nggak ada yang angkat. Sementara staff di KMC yang ngangkat telpon, tidak tahu menahu tentang fasilitas donor ASI di sana.

Bubun keluar kamar. Duduk di tangga depan nurse station, sebelah ruang bayi. Bubun lihat para suster sedang tidur di sofa. Ada juga suster yang belum tidur dan menatap heran kepada Bubun yang duduk merenung di situ. Bubun nelpon 2 orang temen deket Bubun di kantor. Sebenernya Bubun nggak enak nelpon subuh-subuh. Tapi nggak tahu lagi mesti gimana.

Bubun samperin nurse station. Bubun datengin si suster yang tadi nyuruh ngasih sufor itu. Tanpa belas kasihan, Bubun cecar.

“Suster kok gitu sih sama saya? Ngapain tadi nyuruh-nyuruh ngasih sufor di depan Ibu saya?? Itu Ibu saya sampai mau pulang kampung gara-gara suster.”

Susternya minta maaf, tapi berdalih bahwa dia tadi tidak bermaksud untuk nyuruh ngasih sufor, tapi Oma yang salah pengertian. Salah pengertian gimana? Jelas-jelas dia tadi dengan gamblang ngomong begitu kok.

Terus, suster-suster lain mulai ngeliatin. Bubun mulai nggak enak. Soalnya selama beberapa hari di situ, Bubun beberapa kali denger ada suster yang nanya ke Bubun: “Ibu ini yang nggak mau diinduksi ya?” “Ibu yang katanya nggak mau di-episiotomi yah?” Bingung juga kenapa mereka bisa tahu yah? Tapi tetep aja, nggak enak. Kesannya Bubun itu orangnya sulit.

“Nanti saya bicara dengan Ibunya deh bu. Saya jelasin kalau bukan maksud saya bayinya harus dikasih sufor.”

Bubun nggak mau memperpanjang lagi. Kepala udah pening. Ya sudah.

Sejam kemudian, tante Icha, temen kantor yang tadi Bubun nelpon pun nelpon balik. Bubun curhat sambil nangis. Sekalian minta donor ASI. Walaupun Aruna, anaknya tante Icha ini cewek, tapi Bubun nekad minta tolong supaya jadi saudara sepersusuan kalau misalnya Bubun nggak dapat donor ASI sampai pagi nanti. Tante Icha pun menyetujui.

Hari 4  Pasca Kelahiran Bumi  (Check-out)

Bubun udah nggak tidur lagi sampai pagi. Tante Mira, temen Bubun yang lainnya ngubungin Bubun. Setelah Bubun cerita panjang lebar, Tante Mira nawarin untuk mintain ASIP punya saudaranya. Alhamdulillah, saudara tante Mira menyanggupi. Bubun jadi lebih tenang dan optimis. Siang nanti, Ayah akan ke kantor Om Dimas, saudara tante Mira itu untuk ngambil ASIP donor (4 buah botol berisi ASIP sumbangan dari om Dimas sekeluarga itulah yang menjadi rasa aman bagi Bubun dan membuat Bubun bisa tenang serta menghasilkan ASI yang cukup bagi Bumi di kemudian hari. Terima kasih banyak ya.. semoga om Dimas sekeluarga mendapatkan berkah dan limpahan kebahagiaan dari Allah SWT. Aamiin.)

Sekitar pukul 09.00, dr. Tiwi datang. Menurut beliau, kita udah bisa pulang hari ini. Birilubin Bumi udah turun menjadi 11 dan berat badan juga udah naik 50 gram jadi 2,7 kg. Meskipun belum balik ke berat lahir (masih kurang 100 gram lagi), perkembangan ini sangat bagus mengingat biasanya berat badan bayi baru akan kembali 1-2 minggu setelah lahiran. Si dokter juga bilang:
“Katanya ibu mau nyari donor ASI ya? Ini ada nomor yang bisa dihubungi untuk donor ASI. Nanti dikasih sama suster ya. Tapi saya bilang bayinya bagus kok. Beratnya udah naik. Nggak perlu pake donor ASI (lantas, kenapa semalam si suster bilang bahwa dr. Tiwi nyuruh ngasih sufor?).

Sayangnya, Oma lagi keluar kamar sewaktu dr. Tiwi visit. Kesempatannya lewat deh untuk ngasih pengertian ke Oma. Tidak berapa lama, tante Mira pun datang untuk ngasih bantuan. Di sini, Bubun merasa berhutang budi banget ke tante Mira. Selain bantuin, tante Mira juga ngasih support mental ke Bubun dan pelan-pelan ngasih penjelasan ke Oma. Setelah itu, suster yang semalam gencar nyuruh ngasih sufor ke Bumi, datang dan ngulang perkataan dr. Tiwi. Dia juga nyerahin kertas yang berisi tulisan 2 nama dan nomor HP. Katanya itu donor ASI yang disarankan si dokter.

Ayah pun ngurus-ngurus administrasi RS. Sembari itu, Bubun berkemas dibantu Tante Mira. Tiba-tiba datanglah sekelompok ibu-ibu dianterin suster. Katanya konselor laktasi. Terus, nanya-nanya. Pas banget ini habis ngalamin drama ASI beberapa jam lalu? Kebetulan?
Setelah ngejawab pertanyaan mereka dengan curhat panjang lebar, Bubun berharap dari mereka ada yang ngasih masukan atau panduan atau apalah. Ini malah banyakan diam aja. Kayaknya bukan konselor laktasi deh. Mungkin tim yang mau meneliti tentang proses pemberian ASI atau apaa gitu. Bubun sejujurnya sampe sekarang masih bingung dengan kunjungan mereka ketika itu.

Sebelum check out, Ayah, Bubun dan Bumi diminta ke ruang bayi untuk foto bareng. Nanti hasilnya bisa diambil beberapa hari kemudian. Tapi sampe sekarang nggak kita ambil. Soalnya udah nitip sama fotografernya juga untuk motoin pake kamera kita. Lagian, hasil editannya rame gitu pake frame bunga-bunga. Hehe.

DSCN3454

 

Tuh lihat, mata Bubun bengkak abis nangis berjam-jam😀

Baju yang dipake Bumi untuk pulang gedee banget. Topinya aja sampe diselotip biar muat. Ini gara-gara Bubun cuma bawa 1 pasang pakaian untuk Bumi sih. Hiks. Terlalu ngikutin panduan barang yang harus dibawa ke RS.

DSCN3455

DSCN3465

Alhamdulillah, setelah di rumah berat badan Bumi meningkat lumayan pesat. Bubun susuin per 2 jam pagi dan malam. Dalam waktu 1 minggu setelah lahiran, kita kontrol ke DSA, berat Bumi udah 3 kg. Ini melebihi ekspektasi kita. Terbayarlah usaha dan kerja keras kita.

 

DSCN3470



5 Comments on “Demi ASI untuk Bumi”

  1. rhey says:

    Whoaaaa…. Nahan nafas bacanya xixixix
    Smg bumi dan langit sehat2 terus ya😉

  2. and.i.try says:

    Haloo aku juga lahiran di Bunda kemarin, sepertinya standard pelayanan di sana nggak seragam ya? Banyak hal yang berbeda sama pengalaman saya. Untuk kasus ASIX saya malah merasa disupport bgt sama perawat dan dokter di Bunda, mereka terus kasih semangat utk kasih ASIX dan bahkan terus ngingetin untuk jgn kasih sufor. Tapi lucunya selama saya disana, malah nggak pernah ada informasi mengenai kelas perawatan bayi. Jadi pas pulang ya blank aja gitu. Huhuhu…
    Salut sama perjuangan mbak Citra buat kasih ASIX ke anaknya, tetap semangat yaa

    • citralwi says:

      Iya ya.. kok nggak sama pelayanannya.
      Nah aku juga denger selama ini RSIA Bunda itu support ASIX banget. Makanya kaget waktu ada satu orang suster yang seperti itu.
      Kemarin di RSU Bunda, suster bayinya malah support ASIX 110%! Tapi emang ada sih satu orang suster ibu yang ngomongin masalah sufor. Tapi kata suster bayi, nggak usah didengerin. Nah lho, kok pada nggak kompak. Hehe. Anyway, di luar itu RSIA Bunda oke kok. Makanya tetap milih lahiran Langit di situ.
      Wah, sayang banget. Kelas perawatan bayinya bagus padahal. Detail dan kita bisa tanya-tanya dengan leluasa.

      Kecup sayang untuk aksara yaa.. (duh! namanya baguss bangeet!!)😀

  3. […] Bubun ngadapin hari-hari pasca kelahiran Langit. Bukan apa-apa, belum pulih sepenuhnya dari trauma pasca lahiran Bumi dulu itu […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s