Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Kisah Kelahiran Langit (Part 1)

2 April 2014

Bubun ikut senam hamil lagi di RSIA Tambak. Berharap instrukturnya bidan Desi. Ternyata bukan. Harusnya hari ini jadwal konsul dengan dr. Ivan. Tapi pagi-pagi Bubun dapat telp dari RSU Bunda yang ngabarin si dokter berhalangan. Padahal tadinya udah niat mau ikut Ayah ke kantor, nganterin Bumi ke daycare, terus lanjut nge-mall sampe siang seperti minggu lalu. Wisata dessert yang enak-enak atau nyalon.

Minggu lalu Bubun sempet threading alis di Caramello. Lalu, mempertimbangkan untuk brazillian wax. Soalnya salah satu prosedur persalinan spontan di RSIA Bunda sama seperi persalinan SC, area persalinan harus bebas bulu. Mungkin supaya steril dan memudahkan jika harus episiotomi dan atau ada jahitan setelahnya. Tapi setelah nimbang-nimbang sakitnya wax karena sensitivitas kulit meningkat di saat hamil, Bubun urung juga.

3 April 2014

Hari ini, konsul terakhir sebelum dr. Ivan Sini berangkat ke Australia.

IMG_20140325_122009

IMG_20140325_122017

 Ruang tunggu poliklinik RSU Bunda yang nyaman

Seperti biasa, dokternya sangat ramah dan komunikatif. Baru buka pintu ruangan, dia langsung berdiri sambil berkata “Citra..! Apa kabar?” sambil tersenyum lebar.
“Masih hamil dok!” Ujar Bubun sambil nunjuk perut.
Aih, suka deh sama pak dokter ini. Kenapa ya dulu kelahiran Bumi nggak sama beliau aja? *yaa karena Bubun maunya sama obgyn cewek kan?* *toyor*

“Masih ada beberapa jam nih, sebelum saya berangkat. Hehe.”
Mungkin beliau masih inget ya, beberapa hari sebelumnya Bubun ngetweet berharap lahiran nanti bisa dibantu sama di dokter, tidak lupa mention beliau, yang mana langsung dijawab lho.

Menurut hasil USG, kepala Adik Lala udah masuk panggul. Tapi, belum turun banget. Paling sekitar 2/3 dari ujung panggul. Kata si dokter: “Wah, ini kayaknya nungguin saya balik nih.”

Berat badan Adik Lala diprediksi 3,2 kg. Apaah?
Berarti, kalau lahirnya masih minggu depan bisa nambah banyak lagi dong? Nggak apa-apa deh. Mengingat nantinya setelah lahir kan bakalan turun tuh beberapa ratus gram kalau ASIX. Lumayan buat tabungan. Mudah-mudahan kita masih bisa lahiran spontan ya Dik?

Terus ayah nanya: “Emang batasan berat badan bayi untuk lahiran normal berapa kilo dok? Harus di-cesar kalo beratnya berapa?”
Kata di dokter: “Ah, ngapain cesar. Normal ajalah. Bagus kok ini semuanya.”
“Ta.. ta.. tapi dok, apakah aku sanggup ngeden kalau anaknya 4 kg?” Kata Bubun dalam hati :D”

Bubun nanya: “Sampai kapan ditungguin dok?”
“Kita lihat sampai 41 minggu ya kalau semua baik. Nanti hari jum’at depan (11 April 2014) kita ketemu lagi untuk evaluasi.”

Setelah itu, dr. Ivan menyuruh Ayah dan Bubun untuk CTG di RSIA Bunda Menteng (Kita tiap konsul di RSU Bunda), tepat pada hari HPL, yaitu tanggal 6 April 2014.
“Kalau sekarang di-CTG, nggak ngaruh ya dok?”
“Iya, nggak perlu kan belum HPL-nya.”
“Yaa.. kali-kali aja dok..” –> (Kali-kali bisa lahiran hari ini sebelum dokter cuti)

Kelar konsul, Bubun nebeng Ayah yang balik ke kantor. Bubun ngabisin sisa sore dengan nonton film Captain America di Mall sebelah kantor Ayah. Selesai nonton, dijemput Ayah terus kita bareng-bareng jemput Bumi di daycare.

4 April 2014

Hari ini, sepuluh tahun lalu Ayah dan Bubun ehm.. ehm… jadian. *cieee*
1 dasawarsa sudah berlalu. Waktu itu, tidak terbersit dalam pikiran Bubun bahwa suatu saat akan menikah dengan ayah, lalu dikaruniai Bumi dan Langit. Orang waktu itu juga kayaknya Ayah dan Bubun nggak naksir-naksiran amat (apaan tuh naksir-naksiran amat? Ya, untuk jelasnya bisa dilihat dari kisah Ayah dan Bubun di sana). Cuma berjalan begitu aja. Namanya aja pacaran, aslinya mah malah berkembang jadi sahabatan banget. Padahal banyak bedanya. Mungkin begitulah jodoh sudah diatur oleh-Nya.

Eh kok jadi ngelantur ya.

Sebenernya, Ayah dan Bubun rada berharap Adik Lala lahir tanggal ini. Biar nggak pusing ngapalin tanggal-tanggal penting. Hihi. Meskipun mungkin menurut kepercayaan di negara Jepang dan Cina, angka 4 itu kurang hoki. Apalagi yang berderet banyak seperti tanggal 4-4-14. Ayah dan Bubun sih kurang percaya. Buktinya dulu kita mulai pacaran di tanggal 4 April 2004. Langgeng, nggak pernah putus nyambung dan lanjut nikah. Psst… Pasangan Beyonce dan Jay-Z juga menjadikan angka 4 sebagai angka favorit mereka, sampai-sampai menikah pada tanggal 4 April 2008 dan memberi nama anak mereka Ivy (IV).

Makin ngelantur.

Turns out, sampai tanggal 4 April 2014 berlalu, Adik Lala belum menunjukkan tanda-tanda akan lahir. Wassalam.

5 April 2014

Udah weekend aja. Besok Adik Lala genap 40 minggu, alias 9 bulan 10 hari. Bubun mutusin untuk ambil kelas Yoga prenatal di Jakarta Do Yoga. Dianterin Ayah dan Kakak Bumi, Bubun nyampe telat 5 menit. Soalnya harus nyuapin Kakak Bumi yang rewel pagi-pagi.

Untungnya, intruktur yoganya, Miss Zilvy telat 10 menit. Jadi, Bubun nggak ketinggalan sesinya. Tapi lupa bawa handuk dan minum. Deket toko harvest di bawah (Jakarta Do Yoga adanya di lantai 3), ada yang jual air mineral, jadi Bubun bisa beli. Tapi karena nggak bawa handuk, terpaksa berpeluh keringat selama sesi berlangsung. Pulang-pulang bawa oleh-oleh cake untuk Bumi (tapi banyakan dimakan sama Bubun😀 )

Rencananya hari Senin nanti mau ikut kelas yoga lagi sekali. Eh tapi, menjelang malam kok badan rasanya rontok ya? Capek banget. Emang vitalitas udah nggak sehebring beberapa tahun lalu. Hihi.

Tadinya, feeling Bubun Adik Lala akan lahir sebelum HPL (Hari perkiraan lahir), yang jatuh besok hari. Tapi menjelang tengah malam, belum ada juga tanda-tanda dari Adik Lala.

Iseng, Bubun nelpon ke RSIA untuk nanya jadwal cuti dr. Ivan. Eh… katanya si dokter cuti sampai tanggal 9 April! Bukan sampai tanggal 7, seperti yang sebelumnya beliau sampaikan.

6 April 2014

Bangun-bangun dengan perasaan campur aduk.
Hari ini Adik Lala genap 40 minggu. Udah nggak harap-harap cemas lagi. Yang ada pasrah. Kemudian merencanakan aktivitas esok hari. Mau ikutan yoga prenatal, badan masih gempor pasca yoga Sabtu kemarin (btw, kenapa sih kelas prenatal itu adanya cuma hari sabtu dan senin?). Apa hospital tour aja ya di RSU Bunda?

Kepala Adik Lala sepertinya udah di bawah banget. Rasa nyeri di perut kanan bawah makin menjadi-jadi soalnya. Tiap kali berdiri dari posisi duduk, rasanya seperti sakit usus buntu. Eh nggak tahu juga deng. Kan Bubun belum pernah. Waktu nanya ke dr. Ivan tempo hari, katanya bagian perut yang sakit itu emang letak kepala Adik Lala. Jadi, wajar kalau nyeri. Sedangkan usus buntu sendiri udah pindah ke posisi atas deket paru-paru karena adanya kehamilan.

Hari ini, Bubun dijadwalkan untuk CTG sesuai titah dr. Ivan. Ayah, Bubun, Bumi dan si Teteh berangkat ke ke RSIA Bunda sekitar pukul 11.00. Kenapa Bumi nggak tinggal di rumah aja? Soalnya si Teteh nggak sanggup, takut Bumi rewel dan nggak bisa meng-handle katanya. Oh iya, si Teteh ini udah tinggal bareng kita sebulan terakhir untuk bantuin ngurusin rumah jadi Bubun bisa fokus pada kehamilan. Karena baby sitter Lala membatalkan sepihak rencana untuk kerja di rumah 2 hari sebelum hari yang dijanjikan, si teteh ini rencananya bakal ngurusin Lala setelah cuti hamil Bubun selesai. Cuma, sepertinya dia nggak gitu pede ditinggal sama Bumi atau Lala lama-lama.

Sebelum berangkat, Bubun packing dulu. Minta Ayah ngambilin koper, terus Bubun mulai masukin barang-barang untuk dibawa ke rumah sakit kalau saatnya sudah tiba. Ayah nanya kenapa udah packing, emang udah mau check-in ke RS? Bubun jelasin, kalau Bubun selama ini belum sempat packing barang-barang, padahal harusnya udah jauh-jauh hari disiapin. Kalau tiba-tiba udah mau lahiran, kan repot kalau belum packing. Koper kecil berwarna pink itu akhirnya ditaruh di bagasi. Biar nanti gampang.

Karena hari minggu, jalanan lancar jaya.
“Gimana ya, kalau lahirannya pas hari kerja? Lewat jalan sini pasti macet banget!” Tiba-tiba Bubun kepikiran.
“Gampang. Nanti Bubun ambil taksi dari apartemen, terus suruh sopirnya terobos jalur Transjakarta. Kalau ditahan polisi, kan bisa bilang ini emergency, udah mau lahiran. Nah, nanti ketemu Ayah di RS Bunda deh. Kan kopernya udah ada di bagasi.”
Cerdas juga si Ayah. Kadang-kadang yak.😀

Sesampainya di RSIA, Bubun langsung ke ruang persalinan dan di-CTG. Lokasi dan tempat tidurnya sama dengan waktu Bubun di CTG 2 hari sebelum Bumi lahir.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Hasil CTG-nya juga mirip-mirip. Detak jantung Adik Lala beberapa kali di atas rata-rata. Jadi CTG yang harusnya hanya 30 menit jadi lebih lama. Bubun diposisiin tidur menyamping untuk menormalkan detak jantung Adik Lala. Hasilnya nggak lebih baik karena Bubun jantungan ngeliat Bumi yang duduk di tempat tidur sebelah lagi main. Ngeri jatuh soalnya. Beberapa kali sempat Bumi berdiri di pinggir tempat tidur. Kata Ayah nggal apa-apa. Jangan terlalu khawatiran. Eh akhirnya Bumi terpeleset dan jatuh dengan posisi kepala di bawah. Ngerii banget!

Untungnya Ayah sempat ngeliat dan nahan kakinya. Setelah bergelantung beberapa sentimeter dari lantai dalam waktu beberapa detik, akhirnya Bumi berhasil ditarik ke atas. Tapi jantung Bubun udah hampir copot. Wajarlah hasil CTG-nya nggak membaik. Akhirnya Bubun dikasih oksigen dan diminta CTG ulang. Bumi juga akhirnya dibawa ke luar oleh Ayah. Setelah itu, denyut jantung Adik Lala ke kisaran normal yaitu 120-150 per menit.

Selama CTG, Bubun sempet sekali ngerasain braxton hicks. Kata bidan di ruang persalinan, kontraksi yang terekam CTG pun cuma sekali, itupun sangat ringan. Karena hasil CTG harus dilaporin ke obgyn, Bubun diminta memilih obgyn pengganti dr. Ivan. Ada juga obgyn jaga on call hari itu. Tapi Bubun memilih ngikutin rencana sebelumnya, nunjuk dr. Nando aja. Entah nanti lahiran dengan beliau atau tidak. Paling enggak untuk konsul hasil CTG ini. Tidak lupa, Bubun berpesan ke bidan dan suster di sana, agar menyampaikan ke dr. Nando bahwa nantinya Bubun berencana lahiran spontan dengan bantuan ILA. Oh iya, suster juga mengonfirmasi bahwa dr. Ivan nggak akan ada di Indonesia sampai tanggal 9 April.

Setelah selesai CTG, Bubun menunggu hasil konsul via telpon dengan dr. Nando. Menurut bidan Aie (ini bidan yang juga bantu persalinan kakak Bumi dulu) yang bantu Bubun CTG, dr. Nando nyaranin untuk induksi. Bubun nanya alasannya apa. Katanya udah 40 minggu tapi nggak ada kontraksi sama sekali. Bubun jelasin lagi bahwa selama seminggu ini Bubun beberapa kali ngalamin braxton hicks, jadi bukannya nggak ada kontraksi sama sekali. Kebetulan aja hari ini belum dapet kotraksi palsu itu. Bidan Aie lalu ngejelasin bahwa itu cuma saran dari si dokter aja. Tapi beliau juga nyerahin ke Bubun keputusannya. Berhubung induksi tanpa indikasi gawat janin adalah hal nomor 1 yang Bubun hindarin dalam birth plan, ya tentu aja Bubun nolak. Terus Bubun nanya ke si bidan: “si dokter Nando ini sering ngasih induksi nggak?” yang tentu saja dijawab secara diplomatis: “Dokter cuma sekedar saran aja kok bu. Kalau Ibunya nggak mau, dokternya juga nggak apa-apa kok.”

Pulang dari RSIA Bunda, Bubun galau deh. Tadinya kan udah fixed mau dibantu lahiran dengan dr. Nando kalau dr. Ivan belum balik dari Australia. Tapi jadi rada ilfil karena si dokter nyaranin induksi.

Nyampe di rumah, kita makan siang, lalu istirahat. Bubun bilang ke Ayah, minggu depan kita harus induksi alami, yaitu dengan.. yah pokoknya gitu lah. Hihi. Daripada kita diinduksi pake obat-obatan. Ih, amit-amit pasti sakitnya.

Sore, Bubun mandiin Bumi terus ngajakin main. Selepas maghrib, Bubun bacain buku-buku favorit Bumi. Kemudian…

to be continued


2 Comments on “Kisah Kelahiran Langit (Part 1)”

  1. Yaaa bersambung…. Cepet tulis sambungannya ciiittt hahahaha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s