Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Deteksi Dini, Sembuhkan TB!

Dear Bumi dan Langit,

Alkisah pada suatu ketika, hiduplah seorang gadis bertubuh kurus yang membenci rutinitas makan 3 kali sehari. Sedari kecil, si gadis hampir-hampir tidak memiliki selera makan. Hasilnya, tubuhnya rentan terhadap penyakit. Badannya cenderung lemah sehingga ia jarang berlari-larian ke sana ke mari seperti kebanyakan teman sebayanya. Setamat sekolah dasar, selera makannya membaik. Porsi makannya berlipat ganda. Akan tetapi, tetap saja perawakannya cenderung kurus dan terlihat kurang segar.

Sekolah menengah dilalui si gadis dengan baik. Meskipun sering sakit dan kadang tertinggal di pelajaran olahraga, nilai-nilai di mata pelajaran lain cukup memuaskan. Sayangnya, usia remajanya harus dilalui dengan julukan-julukan yang tidak enak di telinga karena perawakan tubuhnya. Jika teman sebayanya sibuk diet untuk memperoleh tubuh langsing, ia justru susah payah mengkonsumsi suplemen dan vitamin untuk menaikkan berat badan. Pada satu saat, ia begitu kurus sampai-sampai santer terdengar kabar bohong yang menyebut bahwa ia adalah seorang pecandu narkoba.

Setelah kuliah, kesehatannya membaik. Berat badannya berangsur naik. Sewaktu mulai memasuki dunia kerja, ia hijrah ke ibukota. Ketika itu, vitalitas tubuhnya sedang dalam puncak kejayaan. Kerja siang malam dilakoni dengan penuh semangat. Kembali, daya tahan tubuhnya diuji. Kali ini, ia merasa ada yang berbeda. Rasa letih terasa lebih merajam dan ia pun mulai merasakan semacam gelombang depresi yang tak dapat dibendung.

Kemudian, sesuatu muncul di lehernya. Seperti bola kelereng yang bisa bergerak ketika disentuh. Awalnya, ia pikir itu hanyalah kelenjar biasa. Ia bertanya kepada adiknya yang baru saja meraih gelar dokter. Ia disarankan mengkonsumsi antibiotik selama 1 minggu. Setelah seminggu, kelenjar tersebut tidak menghilang malah semakin membesar. Adiknya lantas menyarankan ia untuk ke dokter spesialis paru.

Karena kelenjar dirasa menganggu, si gadis bergegas ke dokter umum di sebuah klinik. Oleh si dokter, ia dirujuk ke dokter lain di suatu RS besar. Sesampainya di sana, ia baru menyadari, ternyata ia dirujuk ke dokter bedah dan ia diminta untuk operasi dengan anastesi penuh saat itu juga. Karena shock, ia pun menolak. Sebuah keputusan yang tepat karena setelah menemukan dokter spesialis paru beberapa waktu kemudian, ia tahu bahwa ia tidak perlu menjalani operasi yang tergolong mayor itu.

Ia hanya perlu dibiopsi; suatu prosedur medis untuk mengambil contoh jaringan tubuh. Biopsi tanpa anastesinmembuatnya meneteskan air mata. Ternyata kelenjar tersebut sudah infeksi. Darah dan nanah ditemukan di sana. Ia juga menjalani pemeriksaan x-ray dan prosedur yang bernama tes mantoux atau uji tuberkulin. Caranya yaitu dengan menyuntikkan sejumlah kecil bakteri yang telah dimatikan ke dalam lapisan dermis kulit lengan bawah. Hasil berupa indurasi atau tonjolan keras yang terbentuk dari suntikan itu kemudian diukur. Besarnya akan menentukan apakah hasil tes positif ataukah negatif.

Beberapa waktu kemudian, ia diberitahu hasilnya. Ia didiagnosa menderita Tuberculosis (TB) pada kelenjar atau biasa disebut TB kelenjar. Syukurlah dari hasil rontgen, bakteri TB itu tidak menginfeksi paru-parunya. Artinya, ia tidak menulari orang-orang di sekitarnya. Namun, dokter berkata bahwa melihat kondisi paru-parunya, sepertinya si gadis telah sejak kecil terpapar bakteri Mycobacterium Tuberculosis, penyebab penyakit tersebut. Selama bertahun-tahun, bakteri tersebut dormant atau tidur lama alias tidak aktif, menunggu saat kekebalan tubuh sedang lemah, ketika ia bisa hidup dan berkembang biak. Selama bertahun-tahun itu, ternyata si gadis telah terinfeksi TB laten.

Si dokter spesialis paru yang menangani si gadis pun berkisah.

Pada sebagian besar orang yang terpapar dan terinfeksi bakteri, tubuh akan mampu melawan bakteri dan mencegahnya berkembang. Mereka dengan infeksi TB laten ini tidak merasa sakit dan tidak menunjukkan gejala penyakit TB. Mereka tidak menularkan bakteri tersebut kepada orang lain. Namun demikian, ketika bakteri TB menjadi aktif di dalam tubuh dan berkembang biak, mereka tidak lagi disebut sebagai terinfeksi TB laten melainkan penderita TB.

Banyak orang yang memiliki infeksi TB laten tetap sehat. Ketika bakteri TB aktif dan berkembang biaklah seseorang disebut menderita penyakit TB. Menurut dokter tersebut, Indonesia adalah Negara yang disebut reservoir bakteri TB. Sebagian besar penduduk Indonesia sudah terinfeksi bakteri TB, walaupun itu bersifat laten.

Penderita TB laten dapat berubah menjadi TB aktif dalam waktu beberapa minggu hingga bertahun-tahun setelah terinfeksi, yaitu ketika sistem kekebalan tubuhnya melemah. Dengan demikian, orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, misalnya para penderita HIV atau status gizi buruk, memiliki risiko lebih besar daripada orang lain.

Mendengar penjelasan panjang lebar sang dokter, sekelebat si gadis teringat akan masa kanak-kanak dan remajanya dulu. Pada nenek buyut, kakek dan nenek yang menderita TB paru. Juga pada adik bungsunya yang di usia batita harus mengkonsumsi obat selama 6 bulan tanpa henti. Sadly but true, kota kelahiran dan tempatnya tumbuh besar tergolong daerah yang disebut sebagai ‘endemik TB’.

Gadis itu, seperti yang mungkin telah kalian duga adalah Bubun. Ya! Bubun adalah mantan penderita TB. Ketika pertama kali didiagnosa, Bubun merasa malu dan takut orang lain tahu. Tapi setelah melalui pengobatan 9 bulan yang terasa begitu panjang dan meletihkan, Bubun terdorong untuk berbagi kisah itu dengan orang lain. Utamanya dengan kalian, buah hati Bubun tercinta.

Sebelum didiagnosa, Bubun tidak tahu banyak tentang penyakit ini. Meskipun ada beberapa anggota keluarga yang menderita penyakit sama sebelumnya. Bubun tak pernah tahu bahwa TB bisa menyerang anggota tubuh selain paru-paru. Kelenjar, tulang, otak, bahkan organ dalam tubuh lainnya seperti ginjal. Satu-satunya yang Bubun tahu pasti adalah bahwa penyakit ini mematikan. Dulu, Jenderal Soedirman pun wafat karena penyakit tersebut.

Setelah melalui fase pengobatan, Bubun melakukan riset kecil-kecilan. Bubun mendapati bahwa diperkirakan, sejumlah sepertiga dari total populasi dunia, telah terinfeksi bakteri TB. Tapi hanya sekitar 10% yang akhirnya menderita penyakit tersebut. Negara berkembang seperti Indonesia disebut rentan menjadi wilayah endemik TB. Menurut USA-AID, di tahun 2010, Indonesia menempati posisi ke empat negara dengan jumlah penderita TB terbesar di dunia dengan tingkat laporan kasus 74.4 per 100.000 populasi.

Namun demikian, perkembangan ilmu medis telah begitu pesat selama beberapa dekade terakhir sehingga penyakit TB tidak lagi menjadi momok menakutkan. Ya, ia mematikan kalau tidak segera ditangani, tapi obatnya juga sudah ditemukan. Dengan deteksi dini dan pengobatan tepat, penderita TB dapat dipastikan akan sembuh secara tuntas. Kuncinya adalah deteksi dini. Dengan mengetahui gejala sejak awal, seorang penderita TB dapat ditemukan dan disembuhkan.

Beberapa ciri-ciri penderita TB adalah:

  • Batuk hebat selama 3 minggu atau lebih
  • Rasa sakit di dada
  • Batuk disertai darah atau dahak
  • Penurunan berat badan tiba-tiba
  • Kehilangan selera makan
  • Rasa letih luar biasa
  • Demam lama dan berulang
  • Berkeringat di malam hari
  • Pembesaran kelenjar getah bening di leher, ketiak, atau lipatan paha

Jika seseorang mengalami ciri-ciri di atas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Bubun sendiri tidak mengalami batuk, demam dan rasa sakit di dada ketika didiagnosa TB. Yang paling Bubun ingat adalah rasa letih yang berlebihan selain munculnya kelenjar yang tidak biasa itu.

Syukurlah Bubun bisa mendapatkan pengobatan segera dan tuntas selama 9 bulan sehingga bebas dari penyakit mematikan tersebut. Namun,di  kampung halaman Bubun, jauh di pulau Sulawesi sana, banyak penderita TB yang tidak mendapatkan pengobatan yang sesuai karena kurangnya kesadaran untuk memeriksakan diri. Informasi ini Bubun dapatkan dari tante Nina, adik Bubun yang sempat menjadi dokter PTT di sebuah desa di sana. Kendala lainnya adalah karena pengobatan intensif penyakit TB membutuhkan kesabaran dan keinginan yang kuat untuk sembuh, mengingat dalam rentang waktu minimal 6 bulan, penderita harus mengonsumsi beberapa butir obat antibiotik dosis tinggi setiap hari. Tidak boleh terlewat! Sebuah tantangan mental yang membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat.

Jika obat tersebut ada yang terlewat, akan semakin sulit untuk menyembuhkan penyakit TB. Penderita akan semakin lama bergelut dengan bakteri TB serta berpotensi lebih besar untuk menulari orang lain. Lebih parahnya lagi, bakteri bisa menjadi kebal (resisten) terhadap obat tersebut sehingga penderita harus mengomsumsi antibiotik yang lebih ‘kuat’ dengan efek samping yang lebih banyak, harga lebih mahal dan ketersediaannya juga sangat terbatas. Jika tingkat resistensi bakteri sudah sampai pada level tertentu, bisa jadi obat-obatan baru juga sudah tidak dapat menyembuhkan penyakit tersebut.

Bumi dan Langkit-ku sayang,

Bubun harap Bumi dan Langit tidak perlu merasakan apa yang dulu pernah Bubun rasakan. Imunisasi BCG wajib bagi kalian berdua. Paparan sinar matahari dan sirkulasi udara yang baik juga akan selalu Bubun upayakan karena bakteri TB akan mati jika terkena sinar matahari langsung sementara di tempat kecil, lembab, gelap dan pada suhu kamar, ia akan bertahan hidup beberapa lama. Hal lain yang dapat dilakukan adalah menjaga kontak dengan penderita TB aktif mengingat bakteri TB menular melalui udara ketika seorang penderita TB paru batuk, bersin, atau berbicara. Di atas semua itu, yang paling penting adalah menjaga kekebalan tubuh kalian, itulah benteng utama pertahanan terhadap bakteri TB itu. Tidak lupa, selalu waspada akan gejala penyakit tersebut.

Doa Bubun akan selalu menyertai kalian berdua.

 

Segenap cinta,

Bubun



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s