Bumi grows so fast!

and so does Langit…

A Night Terror (Part I)

Hampir seminggu ini, kita menjalani masa-masa berat. Ayah dan Bubun sama-sama capek. Macet makin parah akhir-akhir ini. Sore sampai pagi hari adalah puncaknya. Pulang kantor, Ayah nyetir di antara kemacetan sambil berusaha menghibur Bumi yang ngamuk selama perjalanan. Bubun sudah masuk trimester ketiga, makin sering ngos-ngosan. Kita nyampe rumah jam 20.00 – 20.30 kalau jalan lagi agak bersahabat. Bubun nyuci, masak, jemur, beberes seadanya. Ayah megangin Bumi yang rewel. Kadang Bumi harus dibawa turun ke lobby apartemen, playground atau ke minimarket terdekat supaya bisa tenang.

6 Februari 2014
Hari kamis lalu, ketika Bumi kunjungan dokter gigi pertama, sudah ada tanda batuk kering. Tapi muncul dikit-dikit. Malamnya, batuk makin kenceng. Kita pun membawa Bumi ke IGD RSIA Bunda, untuk memastikan bahwa batpilnya ‘hanya’ common cold. Ternyata diagnosa dokter emang common cold.

7 – 8 Februari 2014

Jum’at malam sepulang dari Daycare, Bumi demam tinggi disertai temper tantrum. Untungnya besoknya Sabtu, jadi Ayah dan Bubun nggak perlu ngantor. Tapi seharian Bumi ngamuk terus dan nangis jerit-jerit. Demam makin sering, akhirnya dikasih paracetamol per 4 jam. Bumi makannya dikit dan lemes. Mata bengkak dan batpil makin menjadi. Ayah nggak tidur sampai jam 4 subuh karena Bumi nggak mau berhenti nangis kalau nggak digendong. Hari yang berat. Tapi nggak seberat besoknya.

9 Februari 2014

Bumi sama sekali nggak mau makan. Cucian numpuk, rumah berantakan. Bumi nggak berhenti ngamuk. Ada saat-saatnya Bumi membanting badannya sampe kelipat-lipat. Segala cara udah dilakukan untuk menenangkan. Tapi banyakannya gagal. Bumi baru berhenti ngamuk kalau udah tidur.

Awalnya Bubun dan Ayah mikir demamnya karena mau tumbuh gigi taring yang dikombinasiin dengan batpil. Meskipun agak heran juga, kok demamnya sampai 39 decel, nggak turun dalam 3 malam?

10 Februari 2014
Senin pagi, Bumi masuk Daycare meskipun masih sakit. Harapannya supaya Bumi mau makan. Tapi Bubun dan Ayah minta ke pengasuh supaya Bumi dikarantina jadi nggak nularin ke teman-temannya. Alhamdulillah, Bumi mau makan meskipun nggak sebanyak biasanya, yang pake acara nambah. Ternyata, Arka temen Bumi di daycare juga demam weekend kemaren. Bubun mulai merasa kalau ada peran virus di sini. Tapi dari mana? Bumi nggak pergi jauh-jauh beberapa minggu terakhir selain ke daycare.

Sesampainya kita di apartemen malamnya, Bubun bilang ke Ayah apa perlu kita cek darah untuk memastikan penyebab demamnya. Soalnya Bubun pernah baca, kalau demam tidak berhenti dalam 3 hari, perlu screening lebih lanjut. Jadilah kita langsung berangkat lagi. Rencananya mau ke RSIA Bunda. Tapi, baru 10 menit perjalanan Bumi ngamuk. Sementara jalanan super macet. Untung ada apotek deket situ. Kita berhenti untuk istirahat supaya Bumi bisa keluar mobil. Karena ada dokter umum yang praktek, Ayah saranin untuk sekalian periksa. Sebenernya Bubun enggan. Soalnya, jaman sekarang ini kan orang tua harus pinter-pinter milih dokter. Tapi daripada kita nggak ngapa-ngapain di situ?

Eh benar aja. Dokternya nampak kurang meyakinkan gitu. Lama merenung dan kayak bingung. Bubun jadi nggak enak diskusi kok kesannya lama-lama kayak Bubun menginterogasi. Abisnya arah-arahnya dokternya nggak menganut prinsip RUM. Bubun tanyain detail diagnosanya dari simptom yang ada. Termasuk obat-obat yang dia resepkan. Ya ampun, obatnya banyaakk amat! Ada racikan paracetamol DICAMPUR ibuprofen DAN obat radang. Ada obat batuk racikan juga yang isinya Bubun lupa namanya apa. Yang jelas asing terdengar dan kata dokternya diberi untuk menghilangkan batuk. Kayaknya dokternya juga rada tersinggung deh Bubun nanya detail. Sempet keluar kata dan intonasi defensif. Padahal kalau di RSIA Bunda, enak ngobrolnya. Dokternya nggak defensif dan menjelaskan rinci diagnosa dan resep sebelum kita minta. Lagian, setahu Bubun dan juga berdasarkan hasil konsultasi dengan dokter-dokter di RSIA Bunda, yang namanya batuk pada anak-anak tidak boleh ditekan (biasanya dengan obat anti tusif), yang ada paling anak dibuat nyaman. Paling banternya ya dikasih ventolin yang berfungsi memperbesar saluran napas. Itu juga kayaknya lihat-lihat kondisi anaknya. Mengingat ventolin biasanya diberi pada penderita asma.

Udahlah obatnya banyakkk, eh… diagnosanya: Common Cold. Manalah dia sempat mengeluarkan kalimat yang selalu menyakitkan bagi Bubun tiap ada yang ngomong gitu: “Ini kok udah setahun tapi beratnya segitu??”
Langsung sebel. Tapi mau nggak mau jelasin panjang lebar tentang kondisi Bumi. Mungkin Bubun nggak mau dijudge jadi ibu yang nggak peduliin anak. Lha wong, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala berjuang supaya tumbuh kembang Bumi kembali normal. Tapi ya, di dunia ini justifikasi itu selalu ada. Tak terhindarkan.

Kelar konsul dengan dokter, Bubun nyamperin Ayah di luar (yang lagi makan bakso karena kelaperan belum makan malam sambil gendong Bumi pake ergo -__-!) Terus Bubun bilang, nggak mau ditebus obatnya. Kata Ayah terserah aja.

Bubun ke dalam lagi, nanya ke mbak apotek: “Boleh nggak saya beli obatnya di luar aja?” Jawabnya: “Nggak boleh.” Haa?
Terus Bubun bilang aja: “Ya udah, saya mau bayar dokternya aja. Bisa kan? Berapa”
Bubun kaget banget karena mbaknya jawab: “15 ribu”
Demi apah?
Bubun kasian sih sama dokternya. Kok dibayarnya murah amat?
Terus Bubun bilang, mau minta copy resep (soalnya penasaran sama jenis obat-obatan yang diresepin si dokter). Abis itu, Bubun keluar.
Diskusi sebentar dengan Ayah, kita sepakat untuk balik ke apartemen aja. Soalnya Bumi udah mau ngamuk lagi. Lihat kondisi jalan juga udah nggak memungkinkan.

Setelah menempuh 10 menit yang mendebarkan karena Bumi meronta-ronta, sampailah kita di apartemen. Lega. Tapi ternyata hari masih panjang untuk kita.
Bumi tantrum lagi. Sampai hampir tengah malam ketika Bumi akhirnya tidur. Bubun dan Ayah juga tertidur dalam keadaan letih luar biasa. Ayah malah belum sempat ganti baju. Dini hari, Bumi bangun dan menjerit-jerit. Nggak bisa ditenangkan. Bubun dan Ayah berusaha tenang. Kondisi Ayah dan Bubun semakin menurun. Capek banget. Tapi kalau kami bisa capek, Bumi juga mungkin sama capeknya kan?

ceritanya lanjut di sini


2 Comments on “A Night Terror (Part I)”

  1. […] Bubun jadi inget kejadian night terror yang waktu itu… Jangan-jangan, Bumi lagi sakit banget lambungnya. Tapi Ayah dan Bubun nggak tahu. […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s