Bumi grows so fast!

and so does Langit…

A Night Terror and others (Part II)

Lanjutan dari cerita ini.

11 Februari 2014
Bumi masih demam. Malamnya, sempat kepikiran untuk ke dokter buat cek darah tapi Bubun harus lembur. Bumi dan Ayah nungguin di kantor. Setelahnya kita balik ke apartemen. Ada tante Nina dan Om Awal datang dari Kendari. Nyampe di apartemen, Bubun cek suhu Bumi udah turun di kisaran 38 decel. Bumi juga tampak ceria, mungkin karena suasana lebih rame dari biasanya. Sedikit cranky kadang. Tapi membaik dari hari sebelumnya. Tidur pun lebih awal dalam suasana yang tenang.

12 Februari 2014
Pukul 02.00 Bumi terbangun dan nangis sambil teriak-teriak. Bubun dan Ayah pikir, Bumi kehausan. Ditawarin minum, menolak. Digendong membanting diri. Ditawarin nyusu berontak. Ditaruh di tempat tidur, memiting diri sendiri. Ayah dan Bubun bingung banget. Khawatir juga. Bumi sama sekali nggak buka mata selama kejadian berlangsung. Setelah sekian lama, Bumi digendong dan dibawa keluar meskipun masih meronta. Ini lebih mengerikan dari kejadian kolik dulu itu dan pernah terjadi sekali di bulan Desember lalu. Setelah 20 menit, akhirnya Bumi tidur.

Googling sana-sini, Bubun nemu istilah Sleep Terror atau Night Terror atau Pavor Nocturnus yanng merupakan salah satu bentuk sleeping disorder. Bubun curiga Bumi terkena gejala ini. Simptomnya mirip:

1. Anak berteriak, menendang, memukul atau tiba-tiba duduk dalam tidur
2. Terjadi sekitar 1/2 jam sampai 3,5 jam setelah anak tertidur
3. Jantung berdebar-debar, berkeringat, mata menutup (ada juga yang membuka mata lebar-lebar)
4. Anak tidak sadar dan tidak bereaksi terhadap usaha orang tua untuk menenangkan dirinya
5. Terjadi sekitar 10 – 30 menit, setelah itu anak akan tertidur kembali

Teror ini hanya menimpa sekitar 1-6% anak dan biasanya terjadi pada anak berusia 3-8 tahun. Tapi, kasus yang paling muda ditemukan pada bayi berusia 18 bulan. Sementara Bumi mulai mengalami ini ketika berusia 14 bulan😥

Nggak banyak yang bisa dilakukan untuk mengatasinya:

1. Pastikan anak aman dan tidak melukai dirinya
2. Jangan bangunkan, anak akan semakin ngamuk dan disorientasi
3. Jangan menyentuh dia (waktu Bumi digendong Ayah ngamuknya parah, sampai hampir melompat untuk segera ditangkap)

Disebutkan bahwa penyebabnya dipicu oleh stress, cemas, kelelahan, jadwal tidur yang tidak menentu , perubahan rutinitas, atau penyesuaian dengan lingkungan baru. Ada juga yang menyebutkan bahwa ini disebabkan oleh pusat sistem saraf anak yang belum matang dan over stimulasi. Stimulasi yang berlebih pada sistem tersebut menurut pendapat ini, bersifat turunan dalam keluarga.

Ayah dan Bubun berasumsi, Bumi kecapekan karena dalam sehari, di jalan sekitar 3 jam. Kalau lagi macet parah kadang bisa hampir 4 jam. Ayah dan Bubun aja letih luar biasa, gimana dengan Bumi yang masih tergolong bayi?

Pagi itu, Bubun lihat punggung Bumi ada rash merah yang nggak spesifik. Tapi kata Ayah, itu nggak apa-apa. Jangan mikir macem-macem. Ayah emang suka sebel kalo Bubun terlalu menduga-duga dan khawatiran. Sementara Bubun paling sebel kalau disebut lebay.

Dalam perjalanan menuju kantor, Ayah dan Bubun diskusi panjang lebar. Kita sepakat untuk mempertimbangkan opsi mindahin Bumi ke daycare yang lebih dekat dari apartemen. Meskipun kita udah cukup sreq dengan daycare yang sekarang. Tapi kalau demi kebaikan Bumi, segala hal harus diupayakan. Ada rencana juga untuk Bumi tinggal di rumah seenggaknya selama 1 bulan pertama Bubun cuti hamil (Bubun harus cuti sebulan sebelum lahiran). Mudah-mudahan Baby Sitter adik Lala udah bisa datang ke Jakarta dan bantuin ngasuh Bumi selama adik Lala belum lahir. Ayah juga janji akan ngobrol dengan direktur daycare Bumi sekarang, yang kebetulan adalah seorang psikolog anak, untuk mencari solusi bagi kondisi Bumi ini.

Menjelang siang, Bubun dapat kabar dari mama Abhi, temennya Bumi di daycare. Katanya Bumi ceria dan semangat bermain pagi itu. Bubun dikirimin foto-fotonya:

IMG-20140211-WA0001

IMG-20140211-WA0003

Bumi, yang pake baju warna kuning🙂

Siangnya, Ayah mengabarkan hasil pemeriksaan kesehatannya. Karena beberapa hari ini nggak fit, Ayah cek di klinik kantor. Hasilnya. Gamma GT Ayah kembali tinggi. Ada di kisaran 196. Padahal angka normal, maksimal 20. Artinya Gamma GT Ayah 10x lebih besar dari angka wajar. 10 kali lipat…. Wajar sih, mengingat Ayah banyak yang megangin Bumi karena Bubun udah makin nggak kuat sejak masuk trimester ketiga. Tapi, Bubun sedih banget. Merasa nggak berdaya juga. Kok kayaknya nggak habis-habis ya masalahnya?

Mengikuti saran dari berbagai orang, Ayah beliin Bumi madu. Merknya Al Shifa. Soalnya Ayah bingung merek apa yang bagus. Bubun wanti-wanti untuk beli yang asli, jangan yang ada gulanya. Bumi masih batuk kan. Lagian, Bubun sebenernya nggak gitu excited soal madu. Dokter anak sekarang kan banyak yang menyarankan madu untuk anak di bawah 1 tahun sesuai dengan panduan  yang tertuang dalam AAP Pediatric Nutrition Handbook.

Penelitian membuktikan bahwa konsumsi madu untuk bayi di bawah 1 tahun berbahaya karena bisa mengakibatkan botulisme atau keracunan bakteri Clostridium Botulinum. Bumi sih udah 1 tahun lebih. Tapi Bubun pernah baca, sekarang ada juga yang menyarankan agar menunda pemberian madu sampai anak berusia 2 tahun. Tapi, karena ini situasi darurat, Bubun kayaknya akan nerima saran-saran dari berbagai pihak selama nggak bertentangan dengan saran dokter/ahli yang kompeten di bidangnya.

Malamnya, Ayah cerita hasil diskusi dengan direktur daycare Bumi. Menurut si ibu psikolog, Bumi harus coba disapih supaya nggak tantrum lagi. Pengasuh Bumi yang juga merupakan lulusan S1 keperawatan menyarankan hal serupa. Menurutnya, Bumi jadi lemes akhir-akhir ini karena masih disusuin langsung. Jadi, makannya nggak sebanyak dulu. Ini juga serupa dengan saran dr. Tiwi dulu. Tapi, apakah ini saat yang tepat, mengingat Bumi sedang sakit?

Oh iya, menurut Bunda pengasuh, hari itu Bumi lemes dan nggak bersemangat. Selera makan juga belum balik. Mungkin waktu mama Abhi lagi dateng, kebetulan Bumi lagi bersemangat. Tapi mostly, sepanjang hari Bumi lemas.😦

Dalam perjalanan pulang itu, Bumi ngamuk nggak tentu arah. Bubun nggak bisa menghandle. Bumi kadang lepas dari pegangan Bubun dan beberapa kali kepentok. Akhirnya Ayah coba bantu megangin Bumi… sambil nyetir. Bener-benerrr deh! Serem bangeettt! Untungnya hanya sekitar 30 menit terkahir dari sisa perjalanan.

Akhirnya karena semakin heboh, kita berhenti sebelum sampai ke apartemen. Ayah parkir, dan kita jalan kaki menuju apartemen. Nanti Ayah balik lagi untuk ngambil mobil setelah Bubun dan Bumi nyampe apartemen.

Menjelang waktu tidur, Ayah bersikeras untuk memulai program sapih. Usaha yang sangat menguras fisik dan mental. Tapi akhirnya Bumi berhasil tidur tanpa menyusu pada Bubun.

13 Februari 2014
Pukul 04.00, Bumi bangun lagi dan ngamuk. Pukul 05.00, Ayah nyerah dan minta Bubun nyusuin. Tapi, Bumi nggak mau. Akhirnya kita coba bertahan aja. Rasanya udah nggak ada harapan deh. Capek banget, udah seminggu ini kita ngalamin hal yang sama.

Tiba-tiba, Bubun mendapati kaki dan tangan Bumi dingin. Sama seperti kemaren. Duh! Tiba-tiba jadi parno. Bumi kan demam selama 3 hari 4 malam. Setelah itu, demamnya hilang tapi dibarengin dengan kaki dan tangan dingin. Kita kan harusnya cek darah setelah 3 hari demam, untuk memastikan penyebabnya. Tapi karena kejadian-kejadian di atas, belum sempat juga. Bubun gelisah. Takut bangeet. Bubun khawatir Bumi kena DBD. Emang nggak lazim sih anak usia 1 tahun terkena virus itu. Tapi, tetep aja. Melihat gejalanya Bubun nggak bisa tenang.

Apalagi kalau mengingat bahwa siklus virus DBD berbentuk tapal kuda. Yang mana, fase kritis dimulai setelah 3 hari demam. Biasanya jika berada di fase ini dan tidak tertangani dengan baik, penderita akan mengalami drop berupa kaki dingin, bibir membiru dan yang paling serem, mimisan karena trombositnya makin rendah. Bubun cek bibir Bumi sepertinya warnanya normal. Tapi kakinya dingin. Bubun cek rash yang pagi tadi udah menghilang. Tapi tetep takut banget karena DBD ini sering kali nggak ke-detect jika nggak tes darah.

Bubun coba tidur, tapi nggak bisa. Mau cerita ke Ayah, takut dimarahin seperti biasa kalau Bubun dianggap parno. Bubun nggak siap untuk berdebat dengan Ayah. Tidak dengan situasi fisik dan mental nggak fit seperti ini. Soalnya beberapa hari terakhir, Ayah dan Bubun udah mulai saling mengucapkan kata dan intonasi yang defensif dan cenderung menyerang. Mungkin perpaduan antara capek, khawatir, kurang tidur, berkurangnya harapan…. membuat kami khilaf.

Pagi ini, Bubun berniat membawa Bumi ke UGD untuk cek darah. Tapi sepertinya Ayah enggan. Udah capek banget pasti. Bubun juga sebenernya. Tapi gimana ya… yang ada cuma bingung aja. I just need to write about it all to keep me sane, nak…


6 Comments on “A Night Terror and others (Part II)”

  1. […] A Night Terror and others (Part II) Gigi-gigi Bumi dan kunjungan pertama ke dokter gigi […]

  2. rhey says:

    Smg bumi gpp nah ci, smg cpt smbuh kmbli,,…
    Namanya anak pst sgla ssuatu dipkrkn, mana ada ibu yg mau ambl rsiko, tp smg cici ttp rilex nah heheh😉

  3. […] A Night Terror and others (Part II) → […]

  4. baru mendengar istilahnya, tapi saya yang sering mengalami keadaan yang seperti ini. Apalagi jika saya sedang dalam masalah dan pikiran lagi kacau…makasi informasinya

  5. […] kemudian, status gizi Bumi terus menurun. Muncullah terror di malam hari. Menyusu ternyata mulai nggak bisa meredam amarah Bumi. Segala upaya dan pengobatan […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s