Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Catatan Tentang ILA

Jika di kehamilan pertama dulu, Bubun sangat bersemangat untuk memberi proses kelahiran yang indah untuk Bumi sehingga berusaha semaksimal mungkin untuk memberdayakan diri dan menerapkan filosofi gentlebirth sejak awal maka di saat mengandung Langit ini, Bubun bukannya nggak mau ya.. tapi nggak mampu untuk rutin afirmasi, komunikasi, apalagi yoga prenatal. Proses kelahiran Bumi yang menyisakan trauma, tidak membuat kehamilan Langit ini menjadi lebih mudah.

Kebalik ya? Biasanya kan ibu-ibu yang proses kelahiran pertamanya penuh trauma karena belum mengenal gentlebirth, akan sangat bersemangat untuk mengalami proses persalinan yang indah sehingga membekali diri dengan persiapan yang dibutuhkan. Bubun sendiri percaya bahwa proses kelahiran minim trauma itu diupayakan, ada proses persiapan yang sebanding dengan hasil yang didapatkan nanti. Kalau misalnya udah upaya terus nggak sesuai ekspektasi? Ya, setidaknya udah upaya. Kemungkinan prosesnya lebih traumatis akan lebih besar jika calon ibu tidak mempersiapkan diri.

Meskipun begitu, rasa ragu bahwa Bubun sanggup menanggung sakitnya proses proses persalinan makin besar dari ke hari. Kalau ingat kontraksi yang muncul pasca prosedur stripping of the membrane dan enema/huknah dulu itu… bikin Bubun mempertanyakan, beneran nggak sih itu ada ibu-ibu yang lahiran cuma menggeram-geram dikit atau bahkan nggak bersuara? Itu kan sakitnya kayak preview neraka. Tapi.. tapi.. mungkin, mungkiiinn… kalau nggak pake intervensi yang nggak perlu seperti itu, sakitnya masih tolerable?

Karena ragu-ragu dan diliputi rasa takut, akhirnya Bubun sudah merencanakan untuk ngambil jalan pintas aja. Jaga-jaga seandainya nanti terulang cerita serupa. Bubun kembali mau pake ILA. Kata Ayah: “Kalau tahu proses kelahiran mereka nyaman dan nggak bikin sakit, nanti Bumi dan Langit nggak terlalu hormat dan sayang lho sama Bubun.”

Biarin.

Nih Ayah ikut simulasi kontraksi persalinan aja deh, biar ngerti rasanya gimana!

Emang sih, lahiran itu bertarung nyawa. Tapi jangan sampai keberhasilan seorang ibu ditentukan oleh seberapa sakit proses kelahirannya. Bukannya Bubun ini pengen disembah lho Bumbum dan Lala! Tapi mengandung 9 bulan itu juga nggak mudah, terlebih lagi.. proses setelah lahirannya itu jauhhh jauuhh lebih menantang.

Dan kalau suatu hari Bumbum atau Lala (utamanya Bumi, belum tahu kalau Lala nantinya gimana) baca ini ketika menginjak remaja… lagi kesel, nggak bisa memahami Bubun, dan merasa Bubun tidak berhak memberikan hukuman atau membatasi ini itu, coba camkan satu hal: I raise you with my own hand. Tentunya dengan bantuan Ayah dan daycare. Tapi Supporting system dari extended family atau kerabat atau tetangga itu nggak berlaku di kita. Jadi, tentu saja Bubun berhak. Please deh :)))

Meskipun.. bahkan meski Bubun diberi ILA ketika ngelahirin kalian.

229343_4228961376565_474057330_n

Pasca ILA: mengigil dan rasanya melayang

Cuma ILA itu bukan surga sepenuhnya. Ya, oke… rasanya emang seperti surga setelah berjam-jam menanggung derita kontraksi dan kehabisan tenaga. Apalagi ada efek burung-burung kecil yang seperti terbang di sekitar kepala juga kilau-kilau aneh yang membuat dunia terasa indah dan seolah kita mengapung di tengah-tengah cahaya yang memabukkan. Bubun ingat dengan jelas, detik-detik Bumi keluar dari lahir Bubun, sangat detail, seperti ada jelly besar yang keluar tanpa rasa sakit sama sekali. Aneh sekaligus menakjubkan. Pengalaman yang luar biasa.

564777_4228974896903_331303762_n

Mengejan sambil tersenyum

Tapi semua itu ada konsekuensinya juga lho. Ada harga yang harus dibayar:

1. Kehilangan kemampuan mengejan yang optimal
Rasa nyeri kontraksi atau bahasa gentlebirth-nya ‘gelombang rahim’ itu sebenarnya diciptakan Tuhan untuk membantu proses lahiran. Karena nyeri itu, ibu akan otomatis mengejan. Makin kuat kontraksi, makin kuat dorongan untuk mengejan. Jadi, bisa dimengerti kalau ketiadaan dorongan itu mengurangi kemampuan mengejan. Untuk Bubun dulu udah hapal di luar kepala tata cara melahirkan sesuai teori kedokteran. Latihan yoga prenatal yang intensif juga bikin napas panjang. Alhasil setelah beberapa kali mengejan, Bumi lahir juga. Kalau nggak gitu, Bubun nggak yakin Bumi bisa lahir dengan jalan normal. Lha wong kelilit tali pusar ini. Jadi, butuh tenaga ekstra untuk mendorong.

2. Kemungkinan untuk intact alias tanpa luka sobekan sehingga tak perlu dijahit sangat kecil
Di sisi lain, karena nggak ngerasain nyeri kontraksi pasca suntikan ILA, kemungkinan ibu malah nggak bisa mengontrol kekuatan mengejan. Lahiran dengan penyulit berupa ILA (nggak tahu kenapa disebut penyulit, padahal keberadaannya sebenernya ‘memudahkan’ ibu), membutuhkan panduan suster/bidan yang memberi tahu kapan kontraksi datang dan saatnya untuk mengejan. Nah, dulu itu suster-suster yang bantuin Bubun lahiran kompakan cuma ngeluarin 2 kata: “bagus” dan “terus”. Mungkin karena ngeliat Bubun seolah-olah ngerti banget teknik lahiran. Ya mungkin ya.. tapi kan… jadinya Bubun mendorong sepanjang +/- 3 menit itu. Luka akibat lahiran itu.. gila-gilaan deh. Jahitannya banyaak! Lebih lama jahitnya daripada proses lahirannya.

3. Tekanan darah menurun dan detak jantung melemah
Setelah Bubun disuntik ILA, beberapa menit kemudian tekanan darah Bubun sempat turun ke 80-an. Seumur-umur, tekanan darah Bubun nggak pernah serendah itu. Detak jantung Bubun juga sempat melemah meskipun Alhamdulillah detak jantung Bumi normal-normal aja. Karena kondisi tersebut, Bubun sempat disuntik obat untuk menstabilkan kondisi.

dan konsekuensi yang paling bikin panik adalah..
3. ASI-nya terhambat
Awalnya Bubun pikir, emang Bubun ini tipe ibu yang susah produksi ASI sampai-sampai, baru di hari ke-3, ASI-nya keluar. Itupun tiris bener sampe bilirubin Bumi tinggi. Ternyata ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa anestesi seperti epidural atau ILA memiliki pengaruh terhadap produksi ASI dan menghambat keberhasilan menyusui. Meskipun banyak ibu-ibu yang bersaksi bahwa setelah lahiran dengan bantuan epidural, bisa langsung menyusui tanpa hambatan sama sekali. Kalau soal produksi ASI sih sepertinya belum ada studi yang membuktikan bahwa epidural/ILA membuat produksi menurun, tapi bayi diduga lebih malas nyusu, mungkin karena ngantuk kali ya…? Dokter anastesi yang bantu proses lahiran Bumi dulu sih bilangnya konsentrasi anastesi pada ILA jauh lebih kecil dari epidural dan bayi nggak akan ‘mabok’ karena pengaruh bius. Tapi nggak semua kalimat dokter itu Bubun cerna dengan baik. Soalnya udah kesakitan luar biasa.

Alhamdulillah, Bubun cukup keras kepala mau ASI Eksklusif waktu itu. Per 2, maksimal 3 jam, Bubun rajin nyusuin Bumi sesuai perintah dr. Tiwi supaya merangsang produksi ASI. Jadi, meskipun Bumi sempat kuning karena ASI Bubun baru bisa keluar hari ketiga, seterusnya Bumi nggak mengalami hambatan berarti dalam menyusui.

Jadi…?

Kalau bisa sih, Bubun teteep… maunya bisa lahiran dengan alami tanpa penyulit atau obat-obatan. Tapi sepertinya, Bubun tetap akan membuka peluang untuk make ILA. Ini mah tetep ababil ceritanya!


2 Comments on “Catatan Tentang ILA”

  1. desweet26 says:

    aahh aku juga mau mempertimbangkan ILA loh mba Citra…soalnya dikehamilan kali ini pengen coba lahiran normal setalah yg pertama cesar…
    sebenernya jadi deg2an deh, membayangkan harus mengejannya itu..tapi smoga semua kan baik2 aja ya mba… ;))

    • citralwi says:

      Toss dulu ah! Mudah-mudahan tercapai ya keinginannya untuk lahiran normal. Kalau pake ILA, mengejannya nggak berasa sakit sama sekali. Cuma kebayang sobekannya aja. Hihi. Aamiin…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s