Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Serial Berat Badan Bumi (Season I)

Sebenernya ini merupakan kelanjutan dari kisah perjuangan berat badan Bumi sejak sebelum mpasi dulu.

Bubun nggak pernah menyangka bahwa upaya menjaga berat badan Bumi agar tetap on track menjadi tema utama pengasuhan Bumi. Padahal banyak hal terkait pola pendidikan sejak dini, perkembangan mental dan kepribadian yang sangat penting dan membutuhkan fokus Ayah dan Bubun akhirnya menjadi prioritas ke sekian.

Awal Mula
Kalau kita kilas balik, pada usia 4 bulan, growth chart berat badan Bumi mulai menunjukkan tren yang kurang baik. Kalau boleh sok tahu, Bubun pikir yang menyebabkan itu adalah karena Bumi nggak mau minum ASIP pake dot. Sementara di TPA, bayi-bayi diberi ASIP pake dot. Kalau disendokin agak sulit, apalagi untuk usia newborn karena ketika itu pengasuh di TPA maksimal 4 orang untuk megang 16 bayi. Lebih seringnya sih, pengasuhnya 2 atau 3 orang karena satu dan lain hal… Alhasil, pemberian ASIP Bumi tidak optimal. Terpaksa Bubun bolak balik kantor dan TPA untuk menyusui langsung. Tapi kan nggak mungkin setiap saat bisa seperti itu. Jadi, Bubun ngejar di malam sampai dini hari. Pasang alarm per 2 jam untuk nyusuin Bumi. Kadang kelewat juga sih. Apalagi Bumi kalau malam tidur pulas banget. Nggak bangun-bangun. Pernah 12 jam nonstop nggak bangun dan dipaksa nyusu, eh nggak ngenyot-ngenyot juga.

Selain itu, berat badan Bumi susah naik karena batuk pilek (common cold) yang nggak kunjung berakhir. Tiap bulan PASTI batpil. Di TPA udah muter aja batpil itu ke seluruh anak. Kunjungan ke fisioterapi untuk inhalasi menjadi hal rutin. Waktu dan tenaga banyak terkuras karenanya. Bumi juga makin lama makin trauma.

1074656_10201019177355898_1589077889_o

1073834_10201019177995914_1409218184_o

Oleh dr. Tiwi, Bumi disarankan mpasi lebih awal ketika berusia 5 bulan. Bubun galau karena baca-baca informasi tentang bahaya mpasi dini. Belakangan Bubun baru sadar, untuk anak-anak dengan kondisi khusus, mpasi lebih awal adalah solusi agar tumbuh kembang optimal. Tapi Bubun masih ragu. Malah minta rujukan ke dr. Tiwi untuk tes urin. Jaga-jaga aja, karena Bubun baca-baca banyak bayi yang terkena ISK dan berakibat berat badannya tiba-tiba susah naik.

Setelah menunda-nunda dan mengakibatkan berat badan Bumi turun, akhirnya Bumi mpasi lebih awal pada usia 5 bulan 20 hari. Sempet kepikiran untuk menunda sampai genap 6 bulan. Tapi terus, hasil tes urin Bumi sebelumnya menunjukkan ada keton! ISK justru negatif. Langsung merasa jadi ibu sotoy yang egois. Kenapa sih, Bubun ragu-ragu untuk mpasi dini tadinya? Mungkin karena perpaduan jiwa bubun yang lemah dan banyaknya informasi (dari sumber-sumber yang kredibel) tentang bahaya mpasi dini.

Didiagnosa Gagal tumbuh
Setelah mpasi, berat badan Bumi lumayan stabil. Daya tahan tubuh juga meningkat. Tapi sayangnya, hal ini cuma berlangsung beberapa saat. Masuk usia 8 bulan, pertumbuhan Bumi stuck. Khususnya berat badannya. Kalau panjang badan, masih on track pada persentil 50% di growth chart versi WHO. Bubun nanya ke dr. Tiwi, perlu nggak konsultasi lebih lanjut dengan dokter tumbuh kembang? dr. Tiwi setuju dan memberi rujukan ke dr. Rini Sekartini.

 

IMG_1210

Menurut dr. Rini, penyebab berat badan Bumi yang tiris adalah MPASI yang kurang adekuat. Alias nggak cukup kalori. Menurut beliau, buah sebagai sarapan pagi ala Wied Harry itu kurang tepat. Buah hanya sebagai cemilan. Nggak bisa sebagai makanan utama bayi, sekalipun buahnya alpukat atau pisang. dr. Rini juga mendukung pernyataan dr. Tiwi tentang pemberian daging merah setidaknya 100 gram per hari untuk bayi.

Untunglah, perkembangan motorik kasar Bumi cukup bagus.

IMG_1230

Ketika dr. Rini mengeluarkan growth chart WHO untuk memplot berat badan Bumi, jantung Bubun serasa berhenti berdetak. Dengan penuh kekhawatiran, Bubun bercerita bahwa sedari bayi Bubun udah rajin melakukan hal yang sama (plot berat badan Bumi) sebagaimana direkomendasikan para dokter anak. Dari hasil plot itu, Bubun mendapat bahwa Bumi masuk kategori gagal tumbuh karena ada grafik yang berpotongan dua kali.

Sebagai ibu yang sotoy, Bubun juga minta Bumi dicek gejala Anemia Defisiensi Besi (ADB). Menurut beliau, Bumi nggak ada gejala ke sana. Tapi Bubun minta agar diberi rujukan untuk cek darah. Kita pun menjalani sesi ambil darah yang bikin stress.

Kunjungan berikutnya ke dr. Rini, kita membawa hasil tes darah tersebut. Hemoglobin Bumi normal di angka 11. Sementara Ferritin menurut beliau cukup bagus, di angka 19,10. Beliau kembali merekomendasikan untuk meningkatkan kalori mpasi Bumi. Cemilan sebisa mungkin biskuit atau bubur susu.

Selain itu, beliau mengkhawatirkan kondisi Bubun. Utamanya kondisi mental Bubun. Beliau melihat, Bubun membutuhkan terapi khusus. Hal yang mana, suatu saat mungkin akan ceritakan kelak ketika sudah siap.

Beliau menyarankan agar Bubun tidak usah lagi memplot berat badan Bumi di Growth Chart supaya nggak stress. Lah, gimana memastikan Bumi baik-baik aja? Tiap kali baca tweet @tipsmenyusui, @aimi_asi, @drtiwi, @droei semuanya nyuruh para ibu untuk plot berat badan anak untuk memastikan tumbuh kembangnya.

Haruskah?
Bulan berikutnya, kita kembali ke dr. Tiwi untuk imunisasi. Bubun ngelihatin hasil cek darah sebelumnya. Eh ternyata, menurut si dokter, ferritin 19,10 itu kurang. Menurut beliau, ferritin anak sekurang-kurangnya di angka 50-an. Itu berarti, cadangan zat besinya cukup. Kalau ferritinnya cuma 19-an, itu berarti bahwa Bumi tergolong deplesi zat besi. Jadi, suplemen zat besinya ditambah jadi 1 ml perhari. dr. Tiwi tampak prihatin dengan kondisi tumbuh kembang Bumi dan Bubun yang terlihat lelah serta menunjukkan gejala anemia dan kurang istirahat. Beliau kembali ngasih saran (yang disampaikan pada konsultasi sebelumnya) agar Bubun segera resign agar perkembangan Bumi bisa diperbaiki. Saran beliau cukup menohok Bubun. Ingin sih resign sesegera mungkin. Tapi ya gimana… ada banyak hal yang menghalangi. Hiks.

Bubun nanya ke si dokter, apakah Bumi perlu konsul ke dokter gizi juga. Beliau mengiyakan dan merekomendasikan ke dr. Klara di RSIA Bunda.

Janji dengan dokter gizi
Beberapa waktu kemudian, Bubun membuat janji temu dengan dr. Klara. Sayangnya, pada hari H, Bubun ditelpon oleh bagian pendaftaran RSIA Bunda mengabarkan bahwa tiba-tiba dokternya berhalangan hadir. Tidak kapok, Bubun ngatur jadwal lagi untuk konsul ke dr. Klara. Kali ini, tidak ada pembatalan. Tapi sehari sebelum janji ketemu, Bubun dikonfirmasi bahwa jadwal konsulnya dimajuin. Dokternya bisa hanya sampai jam 4 sore. Sementara Bubun sebelumnya membuat janji ketemu jam 17.30. Karena tidak memungkinkan, akhirnya Bubun batalin janji ketemunya.

Sekian lama, Bubun belum bikin janji ke dokter gizi lagi. Sempat kepikiran untuk konsul ke dr. Damayanti Sjarif aja. Tapi denger-denger beliau rada tegas, sementara Bubun kan berjiwa lemah. Bisa-bisa mewek kalau dokternya ngomongin hal-hal tertentu. Lagian, prakteknya di RSIA Hermina Jatinegara. Agak jauh dari kantor Bubun. Manalah si dokter kan bisa dibilang senior banget di antara para dokter gizi anak. Kemungkinan kita ngantri karena banyak pasien. Karena banyak bimbangnya, nggak kejadian deh ke dokter gizi.

Di usia 1 tahun, Bumi terkena rotavirus dan dirawat di RS. Karena dehidrasi, berat badan Bumi turun hampir 1 kg. Bubun pun minta ke RS untuk membuatkan janji dengan dr. Klara lagi. Karena Bumi kondisinya masih belum fit, Bubun minta agar dokternya visit ke kamar. Dokternya baru bisa 2 hari setelah kita bikin janji. Tak mengapa. Yang penting dokternya datang kan ya?

photo(24)

Hari H yang dijanjikan, Bubun dapat kabar dari suster bahwa tiba-tiba dr. Klara berhalangan datang. Meskipun kecewa, Bubun minta di-resechedule keesokan hari. Kebetulan beliau ada jadwal praktek di RSIA Bunda pada saat yang sama. Suster pun mengumpulkan data berupa berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala Bumi. Bubun nunjukkin juga hasil plot growth chart berat badan dan panjang badan Bumi. Di situ Bubun baru sadar, ternyata beberapa bulan ini, panjang badan Bumi juga tidak mengalami perkembangan yang baik. Persentilnya sudah turun dari 50% (sewaktu ke dr. Rini dan diagnosa gagal tumbuh), ke batas bawah chart. :'((((

Karena kondisi Bumi membaik, keesokan harinya, dr. Dedi Wilson yang menangani Bumi selama dirawat inap membolehkan Bumi pulang. Beliau menganjurkan jika ingin ke dokter gizi, bisa bikin janji dengan dr. Damayanti. Beliau percaya dr. Damayanti akan memberikan penanganan yang terbaik karena dokter tersebut menurut dr. Dedi, adalah dokter gizi anak terbaik di Indonesia.

Sementara itu, kita pun siap-siap check out. Tapi minta perpanjangan waktu untuk menunggu dr. Klara. Yang nggak nongol-nongol. Janjian jam 11, mundur jadi jam 12. Ditungguin sampe jam 2, belum muncul juga. Ya sudahlah. Akhirnya kita mutusin untuk pulang aja, karena Bumi kayaknya udah senep tinggal di RS. Dengan itu, Bubun pun mutusin untuk nggak pernah bikin janji lagi dengan si dokter itu. Cukup 4 kali bikin appointment. Bubun mau nyari dokter gizi lain…

to be continued.


6 Comments on “Serial Berat Badan Bumi (Season I)”

  1. Shinta says:

    Mba, membaca blog mba, saya gemeeeessss bangettt… sedih sama Bumi..
    Jika resign sulit, saya mengerti.. tapi, kenapa tidak coba cari pengasuh yang bagus atau minta bantuan saudara (keponakan, sepupu) untuk mengasuh Bumi jika tidak percaya dengan pengasuh yayasan?

    • citralwi says:

      Sebenernya kita udah hampir setahun nyari pengasuh, minta tolong ke saudara, keluarga, temen, yayasan, pokoknya semua resource digunakan. Cuma emang ga dapat. Sempet bbrp kali di-php in katanya ada, tapi selalu menjelang hari kedatangan, ga jadi entah krn ybs membatalkan atau menghilang tiba2.
      Kadang apa yg tertulis di sini, tidak menggambarkan kondisi keseluruhan krn satu dan lain hal🙂

  2. zefatsani says:

    mirip dengan saya mba,, anak saya menolak dot, di TPA juga, baca blog mba seperti berkaca pada diri,,, hiks,, harus tetap bangkit,, anak saya 9 bulan,, tetap berupaya memperbaiki kualitas asuh, dan tetap bahagia dengan setiap perkembangan baby..🙂

  3. ayu arini says:

    Mba… cerita anakku mirip bumi… kebetulan konsul sama dr. Tiwi juga. Akhirnya 3 minggu lalu dirawat karena batuk parah plus gizi buruk dan gagal tumbuh. Sekarang sedang perbaikan gizi di bawah supervisi dr. Klara…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s