Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Bisa jalan atau ngomong dulu?

Bubun suka bertanya-tanya, kenapa ya kemampuan berbicara dan berjalan selalu diperbandingkan?

Selalu saja ada pertanyaan “Bisa jalan dulu atau bisa ngomong dulu?” diajukan kepada para orang tua balita.
Seolah-olah, kedua kemampuan itu nggak bisa dicapai bersamaan. Kalau yang satunya bisa, yang lainnya pasti nyusul. Kok kemampuan motorik lainnya nggak pernah diperbandingkan. Buktinya, belum pernah ada yang nanya: “Bumi, bisa duduk atau merangkak duluan?”

Nah lebih anehnya lagi, jalan dan berbicara itu kalau nggak salah sih, nggak termasuk golongan yang sama. Berjalan mungkin kemampuan motorik, tapi berbicara itu masuknya kemampuan verbal. Iya kan ya?

Kata Pertama
Anyway, Bubun suka bingung menjawab pertanyaan di atas. Seperti halnya bayi-bayi pada umumnya, Bumi mulai babling alias ngoceh-ngoceh sejak usia sekitar 3 bulan. “Mama” atau “Papa” itu udah sering terdengar dari mulut Bumi sejak MPASI. Tapi Ayah dan Bubun nggak ge-er kalau ocehan itu ditujukan kepada kami. Selain emang selalu merujuk diri sendiri sebagai “Ayah” dan “Bubun” kalau berkomunikasi verbal kepada Bumi, ocehan itu jelas tidak ditujukan kepada kami.

Di berbagai sumber bacaan, juga sewaktu ikutan seminar Parenting bersama dr. Tiwi dulu, Ayah dan Bubun belajar bahwa selepas masa newborn, bayi mula-mula akan mengucapkan suara huruf konsonan ‘M’, ‘B’, ‘P’ dan ‘D’. Jadi, ‘mama’, ‘papa’, termasuk ‘baba’ dan ‘dada’ itu adalah kata yang universal diucapkan bayi seluruh dunia. Umumnya ketika mengucapkan kata tersebut, bayi tidak merujuk pada satu hal tertentu. Nanti setelah sekian lama, setelah orang tua secara berulang dan konsisten menyebutkan kata yang sama seraya menunjuk kepada diri mereka, bayi lalu akan belajar bahwa kata yang diucapkannya itu bermakna orang tuanya.

Kalau huruf vokal sih sejak lahir udah bisa. Lihat aja tuh kalau nangis, bayi akan terdengar bersuara “Oee..Oee..” Ketika itu, pemahaman konseptual bayi dan komunikasinya juga masih sangat terbatas. Mungkin itu yang menyebabkan teori bahasa bayi Dunstan cuma bisa diaplikasikan sampai bayi berusia 3 bulan. Mungkin ya…

Jadi, selama hampir setahun usia Bumi, Bubun nggak pernah merasa Bumi udah bisa berkomunikasi verbal yang jelas. Meski begitu, Bubun terus aja ngajakin Bumi ngomong. Seringnya merasa dicuekin, tapi karena teorinya disuruh begitu supaya perkembangan emosional Bumi bagus, ya Bubun ikutin aja. Sampai suatu hari, ketika Bumi berusia 11 bulan, tiba-tiba Bumi menujuk ke Ayah sambil berkata: “A-yah!”

Jederrr!!

Nak, Bubun ini lho yang ngelahirin dan jungkir balik sampai depresi merawat kamu. Kok malah kata pertamanya yang bermakna jelas adalah panggilan ke Ayah? *Ibu pamrih*

Abis itu Bubun defensif. “Oh kebetulan aja kaliiii…”
Kemudian makin hari makin jelas, baik secara pengucapannya maupun penunjukkannya. Terus, kapan dong Bubun dipanggil sama Bumi?

Jangan sedihh… sampai usia 16 bulan ini, kayaknya Bumi belum pernah deh manggil “Bubun”. *nangis darah*
Hmm.. sewaktu Bumi dipasangin dan dilepasin infus waktu kena rotavirus dulu, Bumi secara jelas manggil “Bubu” sih sambil nunjuk ke Bubun minta pertolongan. Tapi cuma 2 kali itu. Jadi, rasanya masih dipertanyan apakah itu beneran ataukah kebetulan semata?

Pernah pada usia 13 sampai 14 bulan, Bumi beberapa kali ketika nangis sewaktu digendong Ayah, menunjuk ke Bubun minta digendong sambil berkata “Nyanya!” Itu terjadi lumayan sering. Bingung, kok tiba-tiba manggil Bubun dengan “Nyanya” ya? Apakah itu dari kata “Mama”?

Apa perlu kita ganti panggilan “Bubun” menjadi “Nyanya” ajah?

Misteri itu pun terpecahkan pada suatu weekend, Bubun bermain bersama Bumi. Lagi seru-serunya main, Bubun berkata: “Bukan seperti itu lho nak.. Iya naknak…” Tiba-tiba Bumi pun membalas dengan berkata: “Nyanya!” sambil menujuk ke Bubun.

Haaa? Oalaaa! Ternyata “Nyanya” itu dari salah satu panggilan Bubun selama ini kepada Bumi: “Nanak” alias “Naknak” alias “Nak” yang merupakan potongan dari kata: “Anak” -____-!

Nggak tahu demi menyenangkan hati Bubun atau emang beneran adanya, kata Ayah sih kalau misalnya nih Bumi lagi berdua Ayah di ruang tengah, terus Ayah bilang ke Bumi: “Bum, ke Bubun sana di kamar” Bumi udah ngerti dan nyamperin Bubun ke kamar. Kata pengasuh di daycare juga, kalau Bumi ditunjukkin foto kita, ditanyain “Bubun yang mana?”, Bumi udah bisa nunjuk wajah Bubun.

Sudah sering Bubun baca dan dengar dari mana-mana, bahwa Anak adalah peniru yang ulung. Udah berusaha menjaga perkataan dan perbuatan di depan Bumi, tapi kadang kelewat juga. Bubun termasuk salah satu yang percaya bahwa kata ‘Tidak’ bukanlah kata yang haram diucapkan kepada anak. Untuk memberi batas dan menegaskan disiplin. Menurut Bubun, batasan itu penting bagi pengasuhan anak. Biar anak nggak bingun dan mempunyai landasan. Tapi jangan sampai kata ‘Tidak’ mendominasi komunikasi sehari-hari. Sayangnya, Bubun kebablasan. Tanpa disadari, Bubun seringkali berkata ‘tidak’ atau spontan ‘No.. no!” Udah berkata negatif, eh pake bahasa inggris pula… *ini Bubun perlu ditatar ulang soal konsistensi*

Hasilnya… udah sebulan lebih ini, Bumi doyaaan banget ngomong “Nyo..Nyo..Nyo..Nyo!!” sambil gerakin telunjuk ke kiri ke kanan. Ihhh.. niruin Bubun banget! Langsung ngerasa kesindir bok! Hahaha! Berasa kegampar bolak-balik. Bukan contoh ibu yang sakinah.

???????????????????????????????

Sampai sekarang, kosa kata Bumi terus bertambah. Beberapa yang Bubun inget persis (selain yang di atas):
1. Ini
2. Itu
3. Apa
4. Tatah (Dadah)
5. Num (Minum)
6. Mam (Makan) –> Syukurlah udah bisa dibalikin ‘Mik’ dan ‘Mam’ yang sempat kebalik dimaknai Bumi ^^
7. Jatuh (Jatuh)
8. Nta (Minta)
9. Ita (Ony Nita)
10. Cici (Sisir)
11. Mana (Mana)
12. Kakak (dibaca dengan huruf ‘k’ kental di akhir kata –> Kakak)

Langkah Pertama

Sedari awal, Bubun nggak berharap muluk-muluk bahwa Bumi akan bisa berjalan sebelum usia setahun. Soalnya, meskipun Bumi udah bisa berdiri sendiri tapi sambil bertumpu pada sesuatu, perkembangan motorik Bumi itu nggak canggih-canggih amat kayak temen-temen di TPA dulu. Syukurlah nilai KPSP Bumi lumayan on track, bahkan beberapa kemampuan melampaui range usia bayi yang ada pada kategori itu. Lagipula, menurut berbagai referensi, orang tua baru perlu waspada jika anak belum bisa jalan usia 18 bulan. Jadi, Bubun nggak terlalu mikirin apalagi khawatir soal perkembangan motorik yang satu ini.

Pada usia 11 bulan, bersamaan dengan keluarnya kata ‘Ayah’ dari mulutnya, Bumi lagi doyan banget dititah. Pegeel banget. Kalau dilepas, Bumi masih suka ketakutan dan nangis. Manalah Bubun ini lagi hamil muda kan. Lemesnya nggak ketulungan. Alhasil, Ayah yang banyak gempor. Sampai-sampai pernah suatu waktu, Ayah harus ke tukang urut dan ke klinik untuk terapi tulang itu. Apa namanya? Hihi.

Menjelang usia 12 bulan, Bubun mutusin untuk nyewa Push along walker. Selain lebih mudah bagi Ayah dan Bubun, Bubun baca berbagai review, alat bantu ini katanya lumayan membantu. Oh iya, sejak Bumi baru dalam kandungan, Bubun udah baca-baca kalau baby walker yang beberapa tahun silam populer sebagai mainan sekaligus alat bantu jalan anak, ternyata berbahaya bagi tumbuh kembang. dr. Tiwi sendiri berulang kali, di seminar maupun di tweet-nya menegaskan hal serupa. Menurut beliau, anak-anak yang jalannya jinjit, adalah mereka yang pernah menggunakan alat ini. Menurut si dokter, butuh upaya ekstra untuk membuat anak yang sudah terlanjur berjalan jinjit, agar berjalan biasa.

Biar nggak repot, Bubun nyewanya di papapap rental di pondok bambu. Karena udah beberapa kali nyewa baby gear di sana, Bubun nggak mau repot lagi. Lagipula koleksinya cukup lengkap. Sayangnya, yang model seperti ini lagi kosong:

Adanya produk keluaran ELC ini:

Nggak apa-apalah ya, yang penting fungsi utamanya.

Eh ternyata Bumi seneng banget sama model ini, karena ada bagian yang bisa didudukin. Jadi, Bumi duduk atau berdiri di bagian tempat naruh balok-balok itu dan didorong oleh Ayah. Waktu Bumi dirawat karena rotavirus itu, alat ini lumayan bikin Bumi senyum dan tertawa lagi, Meskipun Ayah dan kadang Bubun (kalau Ayah ngantor) yang semaput.

Selepas keluar dari RS, Bumi mulai banyak make si walker ini.

1385598_10201670284673174_1775686698_n

Keluar dari RS, turun BB hampir sekilo tapi ceria main dorong-dorong kereta

Awalnya belum bisa muter balik sendiri, lama-lama Bumi belajar narikin mundur alatnya dan pelan-pelan bisa muter kalau udah mentok di ujung. Dari yang tadinya nggak mau dilepas satu tangan kalau titah juga sekarang udah mau. Setelah sebulan, kemampuan berjalan Bumi meningkat cukup pesat. Tapi kalau minta jalan sama Ayah atau Bubun tanpa walker, Bumi suka langsung jongkok kalau tiba-tiba pegangan tangannya dilepas keduanya. Tapi sekarang Bumi udah bisa berdiri tegak sendiri dari posisi duduk. Pernah satu dua kali, Bumi coba melangkah sendiri tapi suka goyah dan jatuh. Jadi masih takut-takut untuk eksplor.

Menjelang usia 14 bulan, Bumi akhirnya bisa melangkah. Cuma dua langkah, tapi Ayah dan Bubun seneng banget.

Agak bimbang apakah walkernya dibalikin saja atau diterusin sebulan lagi. Eh karena Ayah harus keluar kota, ninggalin Bubun dan Bumi berdua, jadinya Bubun perpanjang aja karena nggak memungkinkan Bubun ke Bambu Apus berdua Bumi. Untuk survive tiap hari aja udah perjuangan banget ya. Orang kadang Bubun melewatkan waktu makan karena Bumi nggak mau ditinggal dan kalau ditinggal bentar suka membahayakan diri sendiri. Bubun juga masih berjuang dengan mabok dan lemes sisa-sisa trimester pertama.

Hari demi hari berlalu, Bumi makin pinter jalannya. Di usia 14 bulan lebih dikit, Bumi berhasil jalan dari ujung ke ujung ruangan. Apartemen kita sih emang kecil ya. Tapi 10 langkah kan lumayan untuk anak yang didiagnosa gagal tumbuh dan dikategorikan gizi hampir buruk.😥

Memasuki usia 14,5 bulan, Bumi udah bener-bener lancar jalannya. Bahkan udah bisa lari. Alhamdulillah.

???????????????????????????????

Jadi, kesimpulannya Bumi bisa jalan atau ngomong duluan nih?
Sampai sekarang Bubun nggak tahu pasti sih. Yang penting perkembangan Bumi udah on track, Bubun udah bersyukur banget. Sekarang bisa konsentrasi ke PR utama: Pertumbuhan Bumi yang masih pada kategori merah,


2 Comments on “Bisa jalan atau ngomong dulu?”

  1. Ika Usfarina says:

    Haloo Bubun, salam kenal yaa,
    Aku dibawa embah google ke sini waktu hunting sewa walker buat bantu jalan anakku,
    Jdnya sewa dmn aja bun yg recommended?
    Oia, pertumbuhan Bubum yg merah apa bun, BB ny kah?
    Jd ikut2an manggil Bubun dan Bubum nih, thanks Buuun🙂

    • citralwi says:

      Hai Mbak Ika🙂

      Aku cuma pernah nyewa walker di papapap rental aja. Tapi setahuku banyak kok rental perlengkapan bayi yang bagus, seperti bayibayiku.com.
      Pertumbuhan Bumi, berat badan dan tinggi badan, keduanya masuk kategori merah mbak. Cuma karena yang paling keliatan ya berat badan karena sering turun. Kalau tinggi badan anak kan kayaknya nggak bisa turun yah?🙂

      Makasih ya, udah mampir ke sini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s