Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Tamu tak diundang yang datang berulang

Semestinya di libur hari maulid Nabi Muhammad SAW kemarin, Bubun pengen ngajak Bumi ke indoor play park atau mall (kesian ya, anak Jakarta kekurangan tempat main), karena akhir-akhir ini Bumi semakin sering bosan kalau di apartemen aja seharian. Pengennya mengeksplor kemampuan berlari. Gaya ih, baru juga lahir kemarenšŸ˜€

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Senin malam Bumi demam. Suhu tubuh mencapai 38,8 decel. Paginya tiba-tiba diare.

JRENGG! Alarm menyala lagi.

Cek per cek, kok testur, bentuk, dan bau feses Bumi mirip banget dengan kejadian bulan September lalu ya? Warnanya pucat, cenderung cair meskipun masih ada ampas. Feeling so bad nih. Tapi karena Bumi masih ceria, Bubun positive thinking dulu. Kali-kali bakalan mereda. Yeah you wish! Menjelang siang, Bumi pup lagi. Kali ini mulai nggak ada ampas. Bubun mutusin untuk bawa ke IGD RSIA Bunda aja. Tapi nunggu kelar makan siang. Soalnya makan paginya dikiit.

Eh tapi kok makin siang Bumi makin lemes ya. Maunya tidur aja. Tapi tidurnya bentar-bentar karena sering kebangun sambil nangis-nangis merintih karena kesakitan. Bubun

Jam 3 sore, akhirnya kita ke RS juga. Ternyata rame. Syukurlah, dokter jaga di sana (kayaknya sih residen dokter spesialis anak ya) adalah dokter favorit Ayah, namanya dr. Sekar. Ayah seneng soalnya si dokter telaten, meriksanya detail dan bener-bener takes time nggak diburu-buru meskipun pasien rame. “Beda banget deh sama dr. Tiwi.” Gitu kata Ayah sambil nyerocos soal betapa diburu-burunya tiap kali konsul ke dr. Tiwi.

Bubun diskusi lumayan lama. Bubun curiganya diare ini karena bakteri, soalnya mirip yang pertama dulu. Tapi kali ini, Bubun minta cek feses aja untuk memastikan apakah penyebabnya benaran bakteri atau sebenarnya malah virus.

Sembari itu, Bumi ditimbang. Beratnya turun sekitar 200 gram, jadi 8,1 kg. Hiks. Lalu, diukur suhunya. Bumi nangis kejer banget. Belum selesai proses pengukuran, Bumi udah gelisah. Angka di termometer terus naik. 38.. 39… Tiba, tiba wajah susternya menyiratkan kekhawatiran. “Dok, ini udah 39,5 tapi belum selesai prosesnya…” Akhirnya Bumi nggak selesai diukur suhunya, dokter langsung ngambil keputusan untuk diberi penurun panas lewat dubur.

Kita dikasih pengantar untuk tes feses ke Prodia, beserta obat-obatan:

1. Renalyte –> Semacam oralit pengganti cairan tubuh
2. Zinc –> Suplemen Zinc untuk terapi diare karena diketahui dapat mengurangi keparahan dan lamanya diare. Diare akan menyebabkan dinding sel jadi rusak. Zinc membantu pemulihan sel-sel yang rusak tersebut. Nantinya setelah diarenya sembuh, Zinc ini harus tetap diberikan sampai dengan 10 hari dihitung sejak pertama diberikan.
3. Lacto-B –> Probiotik atau bakteri yang baik yang berguna untuk melawan kuman yang jahat (pathogen) pada saluran pencernaan.

Sementara penurun panas alias paracetamol karena banyak stok di rumah, nggak dikasih lagi. Jika nanti Bumi kembali demam, paracetamolnya akan dikasih. Paracetamol diberikan maksimal 6 kali dalam 24 jam atau sekitar per 4 jam sekali.

Kita pun pulang. Mampir di Hero untuk belanja bahan. Terus, nyampe apartemen Bubun langsung bikinin sop ayam yang hangat untuk makan sore Bumi.

Baru sekitar sejam, tiba-tiba Bumi diare lagi. Bubun lihat eh kok sekarang ada lendirnya. Bubun hampir yakin ini penyebabnya karena bakteri.
Langsung buru-buru ambil contoh feses, bersihin Bumi dan siap-siap bawa contoh feses tersebut ke Prodia 24 jam di Jalan Kramat. Paling baik, spesimen feses tersebut sampe di Prodia dalam waktu kurang dari 1 jam sejak pertama kali dikeluarin. Ayah dan Bubun pengennya Bumi makan sore dulu. Jadi, dengan mengerahkan segenap tenaga, kita pun bahu membahu nyuapin Bumi yang ngamuk-ngamuk.

Bumi pengen jalan-jalan naik stroller. Akhirnya, Bumi didudukin di stoller sambil makan. Tapi masalahnya, Bumi keburu seneng, dikirain kita mau jalan-jalan ke luar. Udah ber’dadah-dadah’ aja. Eh taunya dipaksa makan. Sebenernya sih Bubun nggak pengen maksain Bumi untuk makan. Tapi kata Ayah, perut Bumi udah tipis banget, karena seharian makannya dikiiit sementara pengeluaran banyak. Nasi plus sop ayamnya terpaksa diblender. Terus disumpelin ke mulut Bumi. Ya, Bumi tentu aja histeris. Tapi anehnya makannya dikunyah juga. Meskipun kadang pake acara batuk dan tersedak karena sambil nangis megap-megap kehabisan napas. Duh, Bubun sampe nggak tega dan jadi marahin Ayah. Akhirnya setelah sekitar 5 sendok, kita pun menyerah dan bergegas ke Prodia.

Sebenernya bisa sih, Ayah aja yang ke Prodia. Cuma ini masalahnya Bumi pengen jalan-jalan dan Bubun nggak sanggup menghandle Bumi yang lagi sering ngamuk karena kesakitan seorang diri. Jadi kita pun berangkat ke prodia menembus gerimis senja yang lama-lama menjadi hujan deras itu.

Ternyata, Prodia Pusat di Jl. Kramat itu tutup. Jadi, kita pun meneruskan perjalanan ke RSIA Bunda. Di sana juga ada Prodia yang 24 jam soalnya. Setelah nyetor spesimen feses Bumi, kita pun pulang. Bubun sempat berpesan agar hasilnya (yang akan diperoleh 1,5 – 2 jam lagi) dikirimkan via email biar Bubun bisa segera minta resep obat ke dokter, kalau-kalau beneran itu penyebabnya bakteri.

Eh bener aja….
1,5 jam kemudian, Bubun nerima email ini:
Hasil Tes Feses 14 Jan 2014

Positif bakteri kan?

Lalu, Bubun pun menelpon ke IGD RSIA Bunda, mau meminta dr. Sekar agar meresepkan antibiotik yang sesuai dengan hasil pemeriksaan tersebut. Oleh perawat yang menerima telpon, Bubun diminta meninggalkan nomor telpon. Hasil tes tadi mau diminta dulu ke Prodia agar bisa dibaca oleh dokternya. Tidak berapa lama, telpon berdering. Ayah yang ngangkat. Menurut Ayah, IGD RSIA Bunda nelpon dan ngasih informasi bahwa dr. Sekar sudah pulang. Tapi penggantinya, dr. Wenny sudah meresepkan antibiotik. Resepnya bisa diambil di IGD malam itu atau besok pagi. Diagnosanya adalah positif disentri. Lagi. *Bubun mau jungkir balik duluuu deh ah!*

Bubun kemudian menelpon Onny Nita (yang sedari siang pamit untuk menghibur temannya yang sedang bersedih karena masalah percintaan, dan sampai malam belum pulang) dan minta tolong agar mampir ke RSIA Bunda untuk ngambil resep Bumi sebelum balik ke apartemen. Sepanjang malam sampai dini hari itu, Bumi nggak tenang banget. Nangis-nangis terus dan kadang histeris. Kasian… pasti perutnya sakit banget.

Setelah Bumi tidur, Bubun nelpon ke Prodia nanya apa jenis bakteri di feses Bumi ketahuan jenisnya. Menurut petugas yang nerima telpon, jenis bakteri nggak bisa diketahui tanpa kultur. Tadi kan cuma cek feses rutin aja, jadi cuma bisa ketauan apakah ada bakteri atau parasit/jamur atau virus. Terus Bubun nelpon ke IGD RSIA Bunda. Kepada perawat yang ngangkat telpon, Bubun nanya dokternya ngeresepin antibiotik apa, mengingat jenis bakterinya kan nggak ketahuan. Setahu Bubun, disentri itu ada beberapa jenis bakteri penyebabnya. Jadi, jenis antibiotik untuk penananganannya juga berbeda. Apakah bisa jenis antibiotiknya diresepkan sama saja untuk semua jenis disentri? Menurut perawatnya sih, jenis antibiotik yang diresepkan adalah yang umum diberikan untuk disentri, namanya.. Bubun lupa persisnya, tapi mirip-mirip dengan Spirola?? Bubun nyari tahu lewat internet, nggak nemu nama obat itu. Bubun akhirnya nelpon Tante Nina, adiknya Bubun untuk second opinion. Kata tante Nina sih, pasiennya yang menderita disentri, umumnya diresepin Metronidazol. Bubun nanya apa tante Nina pernah denger obat yang mirip-mirip spirola itu, dia malah bingung. Mungkin karena tante Nina dokter umum kali ya.

Karena udah capek luar biasa dan udah larut malam pula, akhirnya Bubun pasrahkan saja semuanya kepada Allah SWT. Semoga antibiotik yang diresepkan itu tepat dan Bumi segera sembuh. Bubun udah nggak ada energi.

Subuh, Bubun bangun dan melihat Bumi diare lagi. Berarti dalam waktu kurang dari 24 jam, Bumi udah diare sebanyak 7 kali. Bubun lihat di atas meja deket ruang makan, antibiotiknya Bumi udah ada. Berarti semalam, udah ditebus Onny Nita. Setelah itu, Bubun nyiapin keperluan Bumi untuk ke daycare. Baju beserta obat-obatan.

Kok Bumi sakit malah dibawa ke daycare?

Soalnya:
1. Di daycare Bumi mau makan lahap
2. Di usia kehamilan 28 minggu ini, perut Bubun udah makin buncit, sering sesak napas, dan bahkan pernah flek. Rasanya Bubun nggak kuat megangin Bumi sendirian seharian. Apalagi Bumi rewel banget kalau lagi sakit. Bisa-bisa kita berdua eh bertiga dengan Adik Langit, nggak keurus deh.
3. Di daycare ada fasilitas ruang isolasi untuk anak yang sedang sakit, jadi insya Allah nggak akan nularin anak-anak lain.
4. Caregiver di daycare adalah lulusan S1 keperawatan, jadi ngerti hal-hal mendasar tentang perawatan anak yang sakit.

Siangnya Bubun nelpon ke daycare. Dapat info kalau Bumi ceria, mau bermain, mau makan dan minum. Diarenya sih masih ada 2 kali di pagi hari. Tapi udah ada ampas dikit.

Ketika Ayah dan Bumi ngejemput Bubun di kantor, Bubun lihat Bumi cukup seger. Kata Ayah, total dari pagi sampai sore itu, diarenya 3 kali. Syukurlah sampai malam udah nggak ada diare lagi. Lumayan cepet pemulihannya dari hari sebelumnya yang 7 kali. Mungkin antibiotiknya bekerja maksimal.

???????????????????????????????

Udah segeran!

Ini udah kali ketiga Bumi diare dalam kurun waktu 4 bulan. Iya sih, diare itu nggak berbahaya. Yang berbahaya adalah dehidrasi yang disebabkan oleh diare itu. Nah, ternyata menjaga supaya bayi atau balita nggak dehidrasi itu butuh energi luar biasa. Apalagi kalau Ibu dan Ayahnya dalam kondisi nggak fit, dan nggak ada supporting system seperti keluarga yang bisa bantu atau helper. Makanya, penting banget untuk menjaga kebersihan asupan makanan anak. Melihat situasi dan kondisi kita yang seperti ini, nggak ada pilihan lain selain Bumi harus sehat!


One Comment on “Tamu tak diundang yang datang berulang”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s