Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Terpapar Diare!

Sejak positif mengandung Adik Langit, Bubun udah nggak lagi mengkonsumsi booster ASI. Semuanya stop kecuali domperidone yang Bubun konsumsi karena mual tak tertahankan. Kehamilan kali ini memang agak kenceng mualnya dibandingkan sebelumnya. Kadang di jam kerja, Bubun tak kuasa menahan tidur karena pusing dan letih. Sekali waktu, Bubun ditugaskan untuk mengikuti pelatihan di luar kantor selama seminggu. Di tengah-tengah pelatihan, terkadang Bubun harus ngungsi ke ruang kesehatan untuk istirahat.

Jika sebelumnya Bubun masih giat maksain merah ASI, setelah ketahuan hamil ini, Bubun udah nggak kuat lagi. Energi udah terkuras dan puting juga makin sakit dari hari ke hari. Jadi, Bumi nggak punya stok ASIP. Ya, ada sih… tapi cuma 10 ml untuk setengah hari :'(((((

Kadang sebagai pengganti, cuma dikasih jus buah. Yang mana kalorinya jauh lebih rendah. Syukurlah Bumi makannya cukup lahap.

Tapi Pengasuh di TPA cerita kalau di jam minum ASIP, Bumi seringkali kedapatan sedang merebut botol/dot temen Bumi yang lagi minum ASIP. Bumi juga sering nangis karena alih-alih dikasih ASIP sama temennya, dia cuma dikasih air putih aja. Hati ibu mana yang nggak mencelos coba…?

Ayah dan Bubun pun mutusin untuk ngasih sufor kepada Bumi yang ketika itu baru berusia 11 bulan pas. Jadi ingat, dulu Bumi juga MPASI pada usia 5 bulan 20 hari karena si keton itu. Jadi, mungkin nggak tergolong dalam sarjana ASI alias S-1. Tadinya mikir, meskipun drop out dari S-1, Bumi bisa lulus S-2 karena full ASI selama setahun. Nah ini, kurang sebulan lagi sebelum genap 12 bulan dan Bumi akhirnya terpaksa diberi sufor. Semoga nanti Bumi bisa memaklumi ya. Ini semaksimal yang Bubun bisa kasih. Pada akhirnya, tumbuh kembang Bumi adalah yang utama.

Setelah nyobain beberapa merek, akhirnya nemu satu yang sepertinya Bumi lumayan suka. Kalorinya juga cukup besar.

Awalnya sufor itu dikasih di rumah aja. Sebagai kompensasinya, ketika Bumi diberi sufor itu, Bubun akan merah untuk stok ASIP yang nggak seberapa, paling banyak 20 ml, untuk dibawa ke TPA besoknya. Soalnya di TPA nggak boleh karena ada kebijakan bahwa bayi di bawah usia 12 bulan yang dititipkan di sana, tidak akan diberi sufor. Tapi setelah beberapa waktu, Bubun dipanggil oleh pengurus dan diberitahu bahwa mereka bersedia memberi dispensasi untuk Bumi karena kondisi Bubun yang hamil muda. Akhirnya satu masalah terselesaikan.

Kemudian muncul masalah baru.

Hari Sabtu tanggal 24 Agustus 2013 malam, tidur Bumi nggak lelap. Sering bangun nangis-nangis. Suhu badan juga agak tinggi. Besok paginya, Bubun mendapati Bumi agak berbeda. Tapi Bubun pikir Bumi hanya lagi bad mood saja. Sempat pup, yang teksturnya agak beda dengan biasanya. Ada semacam warna merah. Tapi sekali lagi, Bubun nggak berpikir kenapa-kenapa. Siangnya, Bubun pengen makan di RM Surya Benhil yang udah setahun lebih nggak pernah disambangi. Bertiga dengan Ayah, kita pun ke sana. Bubun mesenin jus alpukat kesukaan Bumi yang diminum dengan lahap. Nggak berapa lama setelah minum jus, ekspresi Bumi seperti kesakitan. Sepertinya mengejan dan keringat dingin. Kemudian Bubun mencium bau tak sedap. Buru-buru nyelesaiin makan dan ke mobil untuk gantiin popok Bumi. Kagetlah Bubun pas lihat tekstur pup-nya Bumi yang cair, berwarna kuning pucat dengan semburat merah serta baunya err.. luar biasa menusuk.

Feeling Bubun ngerasa ada yang nggak beres nih. Bubun bilang ke Ayah supaya langsung cuss ke RSIA Bunda. DSA yang praktek hari minggu cuma duh namaya siapa ya… lupa. Sewaktu menunggu giliran masuk, Bumi BAB lagi. Kali ini Ayah fotoin pupnya. Warnanya pucat banget. Hampir warna putih. Di sini Bubun udah ketakutan. Soalnya pernah baca, tanda-tanda darurat bayi itu pup yang pucat.

Dokternya udah berumur. Terus nggak seramah dsa yang pernah Bubun temui. Bubun sempat ngobrol beberapa lama. Ternyata beliau sama sekali nggak recommend untuk nursing while pregnant karena katanya akan menghambat pertumbuhan janin.

“Tapi DSOG-DSOG yang saya temui, semuanya membolehkan dok karena riwayat kehamilan pertama yang tanpa masalah dan pertumbuhan bayi kedua ini juga bagus” Kata Bubun.
“Ah! tahu apa mereka. Yang ngerti itu dokter anak. Mereka nggak tahu itu nggak bagus buat bayi.”

Beliau juga menyarankan agar Bumi diberi teh manis hangat. Sementara, yang Bubun pernah baca, teh itu nggak bagus untuk anak-anak, apalagi seperti Bumi yang tergolong bayi (di bawah 1 tahun) karena menghambat penyerapan zat besi.
“Orang jawa kan minum teh dari bayi. Sampai sekarang baik-baik aja tuh! Nggak ada penelitian yang membuktikan teh nggak bagus untuk anak.” kata dokternya.

Yo wislah. Yang penting sekarang ini, Bumi cepat ditangani.

Bubun jelasin gejala-gejala yang Bubun lihat pada Bumi beberapa hari ini. Begitu melihat foto feses Bumi, dokternya langsung kasih diagnosa kalau Bumi kena disentri. Katanya, bercak merah di feses itu adalah darah. Ya ampun, kirain cuma sisa makanan yang belum dicerna aja. Duengg!

Si dokter langsung resepin antibiotik dan probiotik. Sejak dari lahir Bumi nggak pernah minum antibiotik karena nggak pernah berurusan dengan bakteri. Bubun memahami konsep RUM. Meskipun nggak dalam banget. Bubun tahu bahwa perlu penegakkan diagnosa berupa cek feses atau darah untuk kasus Bumi ini. Tapi… insting dan (utamanya) rasa khawatir yang sangat besar, membuat Bubun menebus antibiotik itu. Sebagai orang berjiwa lemah yang membutuhkan pembenaran, selama antibiotik diracik, Bubun googling sana sini memastikan bahwa gejala Bumi itu indikasi disentri yang butuh antibiotik. Pada akhirnya, Bubun nemuin beberapa info yang membenarkan bahwa gejala Bumi itu disentri, dengan catatan warna merah pada feses itu adalah beneran darah.

Kita pun pulang ke rumah.

Di rumah, Bumi rewel banget. Nangis-nangis dengan posisi merangkak, kadang megang perut. Bubun rasa, perut Bumi sakit. Besoknya, Bubun nggak masuk kerja. Bumi juga nggak ke TPA. Belum ada tanda-tanda Bumi membaik. Dalam sehari, Bumi pup sekitar 4-5 kali dan nggak ada ampas. Mana pake acara muntah lagi.. Hiks.

Hari Senin besoknya, Kita merayakan ulang tahun Bumi yang pertama secara sederhana (alias foto-foto doang).

Sesaat sebelum bernagkat ke RS. Mata udah cekung.

Lalu bergegas ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSIA Bunda. Kita pun minta Bumi dirawat. Karena dr. Tiwi nggak ada, kita minta dokternya dr. Dedi Wilson aja. Dulu pernah sekali ke beliau waktu dr. Tiwi nggak ada. Menurut dokter yang jaga, Bumi udah mulai menunjukkan tanda-tanda dehidrasi. Tapi Ayah dan Bubun minta sebisa mungkin Bumi nggak usah diinfus. dr. Dedi membolehkan, dengan catatan bahwa cairan oralit yang diberikan, dihabiskan dalam 24 jam.

Kita lalu admitted di RSIA Bunda. Hari itu, seluruh kamar bayi/balita kelas I ke atas penuh. Jadi, kita dikasih kamar non bayi kelas perdana yang adanya di lantai 3. Jrengg! cuma beda 2 kamar lho dari kamar tempat dulu Bubun sebelum dan sesudah lahiran Bumi.

Bubun sempet ngomong ke perawat, bisa nggak ya kita ganti ke dr. Tiwi besoknya ketika beliau masuk. Soalnya selama ini kita udah nyaman. Tapi sepertinya udah nggak bisa. Ya sudahlah.
Bumi disentri

Syukurlah, Bumi mau minum banyak. Meskipun makannya nggak terlalu banyak. Jadi, Bumi nggak perlu diinfus. Anehnya, selama dirawat di RS itu, Bumi cuma pup 1-2 kali sehari. Itu pun jumlahnya sedikit. Bumi pun relatif ceria setelah dua hari dirawat. Mungkin emang antobiotiknya udah berfungsi dan disentrinya udah pergi.

1267377_10201555686288286_1569789975_o

1276798_10201555685688271_1284185570_o

1277012_10201555687368313_1099732880_o

1277700_10201555684488241_279986210_o

Adalah hal lazim jika ke dokter, Bumi selalu ditanya “Lagi batuk pilek ya?” termasuk ketika dirawat di RS ini. Bubun cuma mengangguk aja. Faktanya, sejak berusia 3 bulan, Bumi selalu kena common cold. Paling lama sembuh ya 2 minggu. Selebihnya, kondisi default-nya ya batuk pilek. Begitulah risiko di TPA.

IMG_3640

Hari ketiga, kita pun udah boleh pulang. Udah bebas diare tapi batpil masih ada. Disarankan untuk inhalasi. Seolah kita kurang sering inhalasi aja… Bisa dicek tuh di bagian fisioterapi Bunda International Center (BIC), IGD RSIA Bunda, dan RSIA YPK, udah berapa kali kita inhalasi?

Sebelum pulang, kita disuruh inhalasi di ruangan. Alatnya (nebulizer?) dibawa ke kamar. Masalahnya, alat tersebut kan kecil banget tuh, jadi prosesnya makan waktu setengah jam. Beda dengan di BIC yang alatnya segede alaihimgambreng, jadi 10 menit aja udah lumayan. Mana alat ini harus pake masker lagi… Pasangin maskernya aja udah PR banget. Apalagi megangin Bumi selama inhalasi berlangsung. Hanya 5 menit, kita pun nyerah. Ntar aja deh kalau udah pulang dan pemulihan, kita ke BIC aja untuk inhalasi.

IMG_3639

Besoknya, Bumi masuk kembali ke TPA. Terus Bubun dapat info bahwa 5 orang teman Bumi di TPA juga kena diare, dan semuanya mulai diare di hari yang sama, Sabtu lalu itu! Keenam bayi yang kena diare adalah bayi yang udah mulai makan solid food. Yang masih asix sih, aman.

Padahal sebelumnya, Bubun sempat ‘menuduh’ sufor sebagai penyebab Bumi diare ini. Ya, selama hampir setahun kan Bumi nggak pernah sama sekali kena diare. Sekali-kalinya setelah beberapa waktu minum sufor. Kirain, daya tahan tubuh Bumi berkurang drastis sejak nggak full ASI. Tapi sepertinya sih bukan karena Bumi nggak cocok dengan merek sufor-nya. Soalnya kok udah lebih seminggu minum itu nggak ada perubahan pada tekstur, konsistensi, dan warna feses Bumi. Ternyata bakteri toh… Menurut analisa dokter, kemungkinan besar bakterinya dari buah yang dikonsumsi Bumi. Walahualam.

Yang jelas, selama masa pemulihan setelah pulang dari RS, Bumi stop dulu minum sufor biasa dan dikasih sufor yang rendah laktosa (dan Bumi nggak suka). Seminggu kemudian, balik lagi minum sufor biasa, dan alhamdulillah pencernaan Bumi nggak ada masalah.


5 Comments on “Terpapar Diare!”

  1. Armela Kurnia says:

    Bunbun sayangggg .. kangen cerita dan tulisanmu .. kalian berdua super hebat banget kompak bisa hadapin smuanyaaa … tanpa bantuan .. gw aja 2 minggu ditinggal mudik badan uda remuk redam .. anak ga selahap disuapin mbaknya … trus akirnya Sky uda table food deh pas liburan usia 9 bulan … karena oh karena dibikinin makanan biasa susah bgt dimakan.. pas emaknya makan sayur lodeh pake pete eh habis semangkok pdhl ada garemnya .. yasudahlah liburan … jadi jangan terlalu stress2 bgt dan parno ya dear yg penting anak happy … dan dulu kita makan atau minum teh juga sejak bayi gapapa kan yahhh … Smangatt yaaa …

  2. […] diskusi lumayan lama. Bubun curiganya diare ini karena bakteri, soalnya mirip yang pertama dulu. Tapi kali ini, Bubun minta cek feses aja untuk memastikan apakah penyebabnya benaran bakteri atau […]

  3. […] seneng banget karena ulang tahun kali ini nggak ngelibatin diare dan rawat inap RS seperti tahun […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s