Bumi grows so fast!

and so does Langit…

The truth is…

“Jika kamu takut sesuatu, sesuatu itu harus diperjelas. Harus kamu hadapi.” – Ayu Utami

Agustus 2013

Selama beberapa waktu, hati Bubun nggak bisa tenang, penuh dengan ketakutan. Takut akan hari esok. Masa depan yang sepertinya penuh ketidakpastian dan tanpa jalan keluar. Tapi Bubun nggak bisa lama-lama menghadapi rasa takut itu. Bubun harus mengambil langkah. Jadi, setelah menghabiskan seminggu dengan air mata, pada suatu hari, Bubun ke apotek dan membeli test pack.

Dalam hati kecil, Bubun sudah merasa hal ini akan terjadi.

Pertanda kemarin: Rasa letih luar biasa, produksi ASI yang mendadak berkurang drastis. Merah ASI 1 jam, hasilnya 10 ml! Padahal udah konsumsi Molocco, Daun Torbangun, bahkan domperidone, karena udah putus asa. Nggak peduli Bubun berupaya rutin merah 3 jam sekali. Alhasil selama berminggu-minggu Bubun frustasi

Tetap saja air mata ketakutan menyeruak begitu melihat hasil tes urin ini:

8c3d0f68200a11e392c422000a1fbe6b_7

Hasil tes urin Agustus 2013 (kanan) bersanding dengan hasil tes urin Januari 2012 (kiri)

Dengan tangan gemeteran, Bubun kasih test pack tsb kepada Ayah. Katanya: “Alhamdulillah…” dengan senyum lebar.

Bubun kok malah kesel ya?

Bubun tentunya berencana untuk menghadirkan Adik Langit. Tapi rencananya 5 tahun lagi. Setelah mendapatkan kembali energi. Dengan situasi seperti ini, rasanya sulit untuk memberikan pengasuhan yang optimal untuk Bumi dan Langit.

Rasanya nelangsa banget.

Mau marah, tapi nggak tahu kepada siapa. Well, Bubun tahu kepada siapa… siapa lagi kalau bukan ke Ayah. Udah beberapa bulan terakhir ini, Bubun minta Ayah nemein ke obgyn untuk masang IUD. Sejak awal, Ayah nggak setuju kalau kita make alat kontrasepsi. Menurut Ayah:

1. Dapetin Bumi itu lama, jadi pasti susah juga bagi Bubun untuk hamil kedua.
2. Kalau Bubun pake kontrasepsi, ntar giliran kita udah mau program mendatangkan Langit ke dunia ini, jadinya susah. Terus nyesel deh.
3. KATA TEMEN-TEMEN di kantor Ayah, kelamaan yang jadi anak tunggal bisa menjadikan Bumi anak yang kurang mandiri, keras kepala, dan manja. Jadi harus cepet-cepet dikasih adik.
4. Ayah dan Bubun keburu tua kalau Langit datangnya lama. Dan nggak gitu kuat ngasuhnya.
5. Kalau udah pensiun, terus anaknya masih kuliah gimana?

Kata Bubun nih ya:
1. Emang selama apa sih? Bumi itu datang setelah Ayah dan Bubun menikah selama 10 bulan. Guess what? Adik Langit juga hadir setelah Bumi berusia 10 bulan.
2. Kenapa mesti nyesal? Emangnya merencanakan jarak minimal kehamilan bikin nyesel? Justru nyesel kalau kondisi belum memungkinkan untuk memberikan pengasuhan optimal untuk anak, terus tiba-tiba anaknya (yang tentunya nggak minta dilahirin) lahir terus kita sebagai orang tua seadanya aja membesarkannya.
3. Itu kan kata temen-temen Ayah. Emang berlaku pasti? Pola pengasuhan dan pendidikan yang nentuin karakter anak. Bukan apakah dia itu anak tunggal atau… jamak.
4. Emang Ayah dan Bubun umurnya berapa? Demi apa… justru sekarang ini Bubun ngerasa nggak kuat ngasuh sendiri 2 orang anak tanpa bantuan siapa-siapa. Manalah Bubun nggak boleh resign. Jadi harus menjalani peran ganda.
5. Makanya itu ada yang namanya financial planning. Btw, family financial planning juga melibatkan pengaturan jarak kehamilan lho!

Kebanyakan debat, akhirnya Bubun nggak sempat-sempat juga ke Obgyn. Harusnya sih, Bubun pergi sendiri aja ya. Tapi, Bubun takut banget dipasangin IUD tanpa ada yang menemani untuk memberikan dukungan moral. Masih trauma dengan urusan yang berhubungan dengan jalan lahir, gara-gara proses lahiran Bumi dulu itu.

Padahal, sejak selesai masa nifas dulu, Bubun langsung menstruasi. Artinya kan udah subur tuh. Jadi, bahwa ASI Eksklusif adalah KB alami, tidak berlaku untuk Bubun.

Kenapa harus IUD? Soalnya Bubun kan menyusui. Menurut info yang Bubun dapat dari googling sana-sini, alat kontrasepsi yang paling bagus untuk ibu menyusui adalah IUD karena nggak tergolong non-hormal sehingga nggak mempengaruhi ASI. Kalau suntik atau pil, denger-denger sering menyebabkan produksi ASI menurun atau malah mempengaruhi kualitas ASI.

Nasi sudah menjadi bub… eh bayi. Adik Langit, Bubun sayang sama Adik. Beneran.
Tapi untuk sekarang ini, Bubun mau meratap sebentar sambil ngambek sama Ayah.


5 Comments on “The truth is…”

  1. […] positif mengandung Adik Langit, Bubun udah nggak lagi mengkonsumsi booster ASI. Semuanya stop kecuali domperidone yang Bubun […]

  2. Dina says:

    Mbak Cittra..ya ampun selamat yaa..udah lama ga blogwalking tau2 udah ada adik Langit..woohooo…smoga sehat & lancar ya Mba hamil keduanya🙂

  3. […] sempat kesel dan menyalahkan Ayah, waktu pertama kali tahu Adik Langit ada dalam perut. Bukannya nggak mau Adik Langit ada ya. Mau, […]

  4. […] ataupun Ayah. Bubun kapok tahun lalu gemporr banget. Letih yang tak terkira. Meskipun ternyata ada alasannya juga kenapa kok bisa segitu capeknya. Tetep aja… Langit masih 3 bulan, sementara Bumi lagi […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s