Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Kisah Kelahiran Bumi (Part 3)

21 September 2012

(Warning: This is a very long letter)

Lanjutan dari cerita ini dan itu.

Setelah tidur nyenyak, Bubun bangun dengan segar bugar. Pagi-pagi dibangunin suster dengan kalimat: “Ibu mandi, bersih-bersih, siap-siap ya mungkin saja hari ini…” Bubun tersenyum sambil berkata dalam hati: “Ih suster sok tahu. Kali aja besok atau besoknya Ade lahiran.”

Waktu Bubun cek, darah dari flek kemarin, makin banyak dan warnanya juga makin merah.

Meskipun begitu, karena nggak ngerasa sakit sama sekali, Bubun nyuruh Ayah ngantor. Meskipun sedikit enggan, Ayah berangkat ke kantor juga.
Sembari itu, Bubun santai-santai nonton TV, ngetweet, baca buku… terus gunting kuku. Jaga-jaga. Meskipun sebenarnya Bubun udah bertekad untuk nggak nyentuh Ayah selama proses persalinan, demi menghindari insiden ‘cakar-cakaran’.

Suster datang buat ngecek kondisi dan katanya mau VT. Ih! Bubun nggak mau.
“Ini belum kok sus. Untuk apa diVT. Orang nggak ngerasain apa-apa.”
“Mungkin ibu toleransinya tinggi, jadi nggak berasa. Kita harus tahu udah bukaan berapa biar tahu kapan harus nyemplung ke kolam. Mau waterbirth kan?”
“Iya sus. Insya Allah. Tapi nggak mungkin juga nggak berasa apa-apa kalau mau lahiran kan?”
Bubun ngeyel.
Ayah turun tangan.

“Boleh nggak sus, VT-nya jangan sering-sering? Terus yang VT bidan yang kemaren itu. Katanya nggak terlalu sakit.”
“Oh…”
Sebelum suster menjawab Bubun motong duluan: “Kan aplosan… ganti shift gitu lho Kk. Bidannya lagi nggak ada kayaknya.”
“He-eh, iya Bu.” Kata susternya.

Bubun minta dipasangin alat CTG aja (Bubun ini pasien paling rewel dan banyak maunya. Untung nggak diracun…)

Ternyata setelah dicek, kontraksinya udah makin tinggi. Suster keheranan: “Lha! Ibu nggak ngerasa sakit?”
Bubun senyum lebar “Enggak sus. Cuma berasa kenceng dikit aja.”
“Wah! Ibu kuat ya. Udah setinggi ini kontraksinya. Kayaknya Ibu baru ngerasain sakit waktu bukaan 8 nanti deh.”
“Aamiin… mudah-mudahan ya sus.”

Senengnya dibilangin gitu sama suster. Wah, jangan-jangan ini karena hypnobirthing nih.
Hati tenang, riang gembira menanti kedatangan Ade. “Terserah Ade aja mau datang kapan. Bubun sabar nungguin kok.” Kata Bubun sambil mengusap perut.

Lagi ngemil snack pagi, datanglah seorang suster lain: “Bu permisi, ini ada obat buat ibu..”
“Obat apa?”
“Ini dimasukin ke dalam jalan lahir…”
“APAAA?? SAYA NGGAK MAU DIINDUKSI SUS!”
“Oohh… tapi kata dokternya ini udah lama…”
“POKOKNYA SAYA NGGAK MAU DIINDUKSI. BIARIN AJA BAYINYA MAU LAHIR KAPAN”

Susternya pergi dengan ketakutan (lihat emak-emak hamil gede ngamuk).

Tak berapa lama, muncullah segerombolan suster (Ih! suster tadi ngadu yaaa?). Suster yang paling senior ngomong:
“Ibu kenapa nggak mau dikasih obat?”
“Saya tahu itu induksi sus! Saya nggak mau…”
“Oh.. ibu udah tahu ya?” (Udah tahu apa? tahu kalo itu kayak neraka? YA MENURUT ‘L”??)

Suster lain mencoba membujuk: “Tapi ibu udah lama ini, kalau dibiarin nanti…”
“Nanti APA? Ini jantung bayinya normal (jantung Bubun aja yang udah nggak karuan karena takut diinduksi), posisi bagus udah turun ke bawah, ketuban MASIH utuh, belum ada rembesan sama sekali… semua kondisi NORMAL! kenapa saya mau diinduksi? KENAPA?”

“Ibu kan nggak tahu. Apa nggak mau dicoba aja dulu induksinya?”
HEH!!!
Lo kata induksi itu kayak ngorek hidung, nggak pake sakit?
Nggak yakin suka dengan menu baru, bisa dicoba. Lihat sepatu dipajang di toko, bisa dicoba. Tapi induksi mana bisa dicoba-coba???
Hampir aja Bubun kelepasan ngomong “EHH! Induksi diri sendiri aja sana!! nggak usah nyuruh-nyuruh orang. Ogah!”

Bubun murka.

Akhirnya ngomong: “Bilangin dokternya, mending saya di-cesar sekalian daripada diinduksi!”
Padahal mah Bubun nggak mau dibelek lho. Itu kelepasan. Hihi. Mudah-mudahan nggak ada malaikat lewat dan mengamini perkataan ngasal tadi. Tapi Bubun merasa segala kondisi Ade bagus, dan semua itu nggak dicapai begitu saja. Pake USAHA. Afirmasi dari baru hamil, hypnosis, senam, yoga, pilates, kontrol rutin, USG sekian kali… Pokoknya segala cara.

Abis itu, semua pamit dalam keheningan yang nggak nyaman. Bubun jadi nyesel deh udah ngamuk. Ya, maaf deh suster-suster… Ini lagi tenang dan bahagia menyambut Ade kok tiba-tiba dikejutkan dengan perintah buat induksi sih. Nggak pake kata-kata ‘induksi’ lagi. Tapi “mau masukin obat…” Emang sih, ada beberapa ibu yang nggak ngerasa sakit diinduksi. Tapi itu satu di antara sejuta. Dan Bubun nggak mau ambil risiko ngambil peluang kecil itu. Masalahnya, induksi itu seringkali berujung cesar juga. Udah sakitnya nggak ketulungan, bayinya bisa ikut stress juga. Kan Bubun pengen ngasih persalinan yang “Aman, damai, tenang, dan menyenangkan” ke Ade. Gimana sih?

Ternyata tingkah laku Bubun dilaporin ke dr. Rizka. Ya pastilah ya.

Sekitar pukul 09.30, datanglah si dokter dengan tersenyum ramah.
“Katanya nggak mau diinduksi ya?”
“Hehehehe”
Bubun cengar cengir aja. Takut dokternya ngambek terus nggak mau nanganin Bubun.

Eh, tiba-tiba Ayah pulang. Ternyata dia disuruh pulang sama atasannya di kantor.
Baguslah. Karena….

“Kita periksa dalam ya Bu.”

Ih! Benciii di-VT. Mana sama si dokter lagi. Coba kalau sama Bidan yang kayak kemarin. Ya mau nggak mau sih. Karena Bubun udah beberapa kali nolak. Ya sudah, kali ini pasrah.

Duh… duh… kok sakit ya?

Lama.

Bubun meremas tangan Ayah kenceng-kenceng (untung udah potong kuku!).
Lho! Lho!! kok tangan dokternya muter-muter 360 derajat lagi sih?

Astagfirullah!! SAKIITT.
“Dok… sakit.” Ujar Bubun pelan-pelan, mencoba menekan keinginan berteriak.
“Iya bu…”

ADUHHH! YA ALLAH!
Badan Bubun bergetar menahan rasa sakit. Di luar kendali, tanpa sadar Bubun setengah berteriak
“DOKTER! SAKIT BANGETT!”

Lalu, Bubun merasakan kontraksi hebat yang sebelumnya belum pernah Bubun rasain.
“SUDAH DOKTER! SUDAAAAH!” Akhirnya teriak juga deh.

Bubun nutup mata. Gelap. Terdengar suara suster berteriak: “Ibu! Ibu!!! tangan dokter nggak bisa keluar!”
Bubun buka mata, semua pada heboh.
Ayah: “Itu tangan dokter nggak bisa keluar.”

“IYA! INI NGGAK DIAPA-APAIN!”

Ternyata karena terlalu kesakitan, jalan lahir otomatis tertutup.

Bubun disuruh tarik napas pelan-pelan. Lalu, tangan dokternya bisa keluar lagi.
Hore? ENGGAK. TRAUMA Bubun. Nggak Mau VT lagi yaaa!

Lha emang tadi itu di-VT?

Bu dokter pun berkata: “Ibu kan nggak mau diinduksi ya? Jadi, tadi itu saya puter supaya pembukaan lebih cepat.”
“Oh…”
Bubun bengong. Ha? Puter apaan? Penjelasan akan hal ini, akan Bubun dapatkan beberapa hari kemudian setelah tantenya Bubun (Adiknya nenek) yang bidan itu berkata “Kamu ‘diputar’? Itu kan sakit banget! Makanya udah nggak pernah dipraktekkin lagi sejak adanya gerakan sayang ibu…” -_____- Sepertinya itu adalah stripping of membranes, salah satu jenis induksi manipulatif alias dengan tindakan tanpa obat-obatan, yang deritanya kayak preview neraka.

Ternyata (Bubun nggak tahu waktu itu) sejak di titik ini, proses kelahiran yang ‘gentle’ untuk Ade, udah gagal.😥

Setelah proses yang menyakitkan itu, Bubun kembali tenang. Ya mudah-mudahan aja, acara puter-puteran tadi membuahkan hasil dan pembukaan bertambah dan persalinan lancar. Sempat kepikiran, apakah itu merupakan preview dari Tuhan akan rasa sakit nantinya? Tapi Bubun optimis bisa melalui semua dengan baik.

Entah kenapa, insting Bubun kok tergerak untuk dandan ya? Tapi Bubun nggak mau nantinya malah luntur bedaknya kalau dipake sekarang dan ternyata Ade lahiran hari ini. Eh, ini apaa sih? Masih aja mikirin bedak. Hihi.

Bubun ngajakin Ayah jalan-jalan keluar buat mempercepat bukaan. Takut nanti akhirnya diinduksi (belum tahu ajaa tadi itu udah tergolong induksi😀 ).

Berjalan-jalanlah kita di selasar. Kemudian turun tangga 2 lantai, sampai ke sekitar ruang persalinan dan dilihatin orang dengan pandangan horor (Ini kenapa ada ibu-ibu hamil gede pake baju RS, tampang kucel, jalan-jalan di sini?). Beberapa menit aja. Terus balik ke kamar. Ngobrol soal proses lahiran. Ayah membujuk Bubun supaya nggak usah waterbirth. Soalnya Ayah khawatir akan keselamatan Ade. Apalagi pihak kantor Ayah nggak mendukung. Bubun jelasin lagi alasan-alasan Bubun, terkait dengan birthplan Ade. Sekalian itu, Bubun pun menuliskan ulang birthplan Ade kertasnya yang udah hilang entah ke mana. Ayah pun ngapalin dan nanya beberapa hal yang belum dimengerti. Untuk menenangkan Bubun, Ayah berjanji akan mengarahkan dokter supaya persalinan nanti sesuai dengan harapan Bubun.

Setelah itu….
Mulai berasa nggak nyaman.

Tapi masih bisa senyum lebar. Terus minta dipijat oksitoksin sama Ayah. Masa udah capek-capek dipelajarin, baru satu dua kali dipraktekkin langsung. Gimana sih Ayah?

Suster datang buat nge-check, lihat Bubun tarik napas dan ngitungin jarak kontraksi. Menurut Bubun udah 5 menit sekali. Menurut suster masih 7-10 menit sekali. Bubun berusaha konsentrasi penuh menerapkan ‘ilmu’ hypnobirthing. Susternya heran “Bagus bu… bagus.” Bubun jelasin soal hypnobirthing. Si suster nggak tahu. Lha! itu kan kelasnya diadain di Rumah sakit ini lho sus!

Menjelang siang, Ayah pamit untuk shalat Jum’at. Sembari itu, tante Ade, pacarnya Om Idu yang kebetulan lagi di Jakarta nemenin Bubun. Om Idu sendiri lagi ada keperluan. Jadi, sembari menunggu Ayah pulang kita ngobrol-ngobrol… atau nggak.

Soalnya Bubun ngerasain kontraksinya nggak karu-karuan. Bukan yang makin lama makin intens. Tapi langsung tinggi setinggi tingginya. Bubun sebenernya udah nggak bisa ngobrol. Tapi demi sopan santun, mencoba sesekali ngajakin ngobrol tante Ade. Mungkin karena melihat Bubun udah mulai keringetan dan narik napas panjang, tante Ade nawarin dimijet. Bubun nolak. Tapi Tante-nya bersikeras untuk ngelus-elus punggung Bubun. Err… Sebenernya sih ya.. Bubun nggak sanggup disentuh. Makin sakit rasanya semua badan. Tiap kali si tante nyentuh Bubun , Bubun pengen teriak. Tapi sekali lagi, karena nggak enak, akhirnya Bubun meringis aja tiap kali Tante Ade ngelus punggung Bubun.
Setelah beberapa lama, yang rasanya 1000 tahun…

“Udah De, nggak apa-apa. udah”
“Nggak apa-apa kok Kak.”
“Udah! nggak apa-apa kok! Beneran…” Kata Bubun sambil meringis kenceng-kenceng nahan sakit.

AYAH MANAAAA SIH????

Syukurlah, jam 1 siang Ayah kembali. Tante Ade ada urusan, jadi pamit. Syukurlaaahh.
Lho kok? Karena di momen-momen penuh kesakitan seperti itu, sebenernya Bubun pengen berdua aja dengan Ayah. Soalnya maluuuu kalau harus teriak-teriak depan orang lain.

Setelah nganterin tante Ade, Bubun bilang ke Ayah supaya nyuruh tante Lalisa stand by. Bubun rasa, nggak lama lagi Ade akan datang. Selanjutnya kita… ngapain?
Tentu saja foto-foto pake tripod. ^^

Lihat kertas di atas meja itu? Itu bahan bacaan Ayah dan Bubun tentang persalinan setebal ratusan halaman. Ih! Aturan mah, tentang perawatan bayi ya!

Lalu kontraksinya makin deket. Tiap kali kontraksi datang, Bubun tarik napas pelan-pelan dan mencoba mengatur ketenangan penuh kelembutan. Dan apa yang dilakukan Ayah melihat kontraksi yang makin sering itu? Megangin tangan Bubun? Membisikkan kata cinta dan penguatan? Nyuapin makanan?

TENTU TIDAAK!

Karena semua itu hanya ada di kisah kelahiran bayi-bayi lain bersama ayah-ayah lain. Hihi.
Ayah ngatur tripod dan ngerekam pake kamera momen-momen kontraksi itu. Katanya nanti kalau Ade gede, mau ditujukkin biar hormat sama Bubun. -_____-!

Abis itu, Ayah ngajakin jalan-jalan supaya pembukaan makin lancar.
Bubun pun menjawab ajakan itu dengan:
“$%#%^#^#&$^&!@!” —> Udah mulai susah ngomong.

Sewaktu kontraksi yang kesekian, Ayah mau nyetel kamera lagi. Tapi entah kenapa, ribet banget. Soalnyademi angle yang cihuy, si tripod ditelakkin di atas kursi terus disangga pake segala peralatan. Lagi kesakitan gitu, rasanya kesel banget lihat Ayah malah sibuk ngurusin kamera. Tangan kiri megangin perut, tangan kanan meremas seprei sampai berantakan tempat tidurnya.
“Kk…” Bubun manggil dengan lemas.
“Bentar.. bentar…” jawab Ayah sambil ngoprek kamera.
Perut rasanya dicabik-cabik. Bubun nutup mata dan nggak sadar mukul tempat tidur.
Baru deh Ayah ngelepasin kameranya.

Menjelang jam setengah 2 siang, Ayah mulai ikut menghela napas tiap kali Bubun ngatur napas. Rasanya udah nggak karu-karuan. Bubun cuma bisa diam. Rambut udah awut-awutan. Sekitar jam 2 siang, Bubun minta Ayah manggilin suster untuk CTG. CTG ya! Bukan VT. Hiyy.

Suster datang, (kaget lihat kamera yang dipasang sedemikian rupa) lalu masang alat CTG. Kemudian setelah beberapa menit hasilnya keluar. Suster keluar membawa beberapa rekannya dan sebuah kursi roda. Ternyata kontraksinya udah tinggi banget. Suster-suster pada rusuh.

“Wah! Pasti bukaan udah gede banget nih.” Begitu celetuk batin Bubun.

Ayah nyuruh suster nganterin Bubun ke ruang Kala 1 dulu. Karena dia mau beberes, nyiapin barang-barang yang akan dibawa ke sana (Kamera maksudnya -____-).

Sepanjang jalan, Bubun deg-degan sembari berdoa semoga kontraksinya nggak kejadian di depan orang ramai. Untunglah sebelum naik lift, kontraksinya baru selesai. Karena di dalam lift itu, ada anak kecil. Bubun takut nggak bisa ngontrol rasa sakit dan kelepasan teriak. Karena lokasi yang deket, perjalanan nggak sampe 5 menit. Jadi, begitu masuk ruang itu, kontraksinya baru datang.

Bubun kemudian di-check dalam. Kata susternya: “Bu, Ini belum ada pertambahan bukaan. Masih bukaan dua.”

APAAAAA!!!! NGGAK MUNGKIN SUSTER!

Mulai deh drama. Serius deh. Dari kemaren bukaan dua nggak sakit sama sekali. Ini kok rasanya udah nggak karu-karuan, masih bukaan dua??!!”
“Kalau kontraksinya berubah jadi sakit banget harusnya kan bukaannya ikut naik! YA KAN SUS??”
“Eh.. iya bu.”
“Udah sakit-sakit diputer tadi, bukaannya nggak nambah?? Cuma dapat sakitnya!”

Tiba-tiba jadi cerewet. Padahal tadi nggak bisa ngomong sama sekali.
Ngomong-ngomong, INI AYAH MANAA SIH???

Setelah kontraksi beberapa kali, Ayah datang. Yang pertama kali Bubun bilang adalah: “Lalisa udah bisa dihubungin belum?”
Ternyata HP-nya lagi nggak aktif. Tapi Bubun nggak punya waktu untuk mikirin itu, karena kontraksinya udah mencapai level 4657839. Pandangan udah mulai gelap.
Dari awal Bubun hamil dulu, Ayah udah sesumbar “Ya! Yakin bisa nemenin Bubun waktu lahiran nanti. Nggak takut sama darah. Nggak bakal pingsan kayak bapak-bapak itu.” Iya sih, Ayah nggak takut sama darah. Tapi, nggak tahan lihat Bubun nahan sakit. Bubun narik napas buang napas 3 kali, Ayah menghela napas 5 kali. Dan… suka izin ke luar bentar. Buat menenangkan diri. -____-!

Belakangan Bubun tahu kalau Ayah juga nelponin Kakek dan Nenek minta doanya. Dan bikin deg-degan sekampung.

Makin lama sakitnya makin nggak tertahankan. Hypnobirthing? Udah bubar jalan!
Rasanya begitu menyakitkan. Seperti… ada burung garuda mencabik-cabik perut Bubun (Kenapa burung garuda? Ya pokoknya burung gede yang cakarnya segede alaihimgambreng, elang atau apapun itu…).

Bubun pernah denger, katanya ibu yang kesakitan sewaktu akan lahiran memiliki kecenderungan untuk mengumpat. Seperti yang Ayah dan Bubun pernah lihat di film What to expect when you’re expecting, waktu hamil dulu. Well, waktu Bubun kesakitan kontraksi itu, entah mengapa yang ada justru kebalikannya. Bubun mendadak sakinah. Bolak-balik merintih “Astagfirullah…”, “Masya Allah…”, “Allahuakbar”. Sementara dalam hati teriak “Ya Allah ini kenapa gini rasanya?!”. Lalu malu begitu inget dosa yang segudang. Malu udah nanya gitu ke Tuhan.

Lalu… vertigo yang udah bertahun-tahun nggak pernah Bubun rasakan lagi, dan baru mulai pelan-pelan muncul minggu lalu, tiba-tiba kembali!Astagfirullah… mimpi buruk. Jadi, sembari menahan kontraksi, Bubun mencoba nggak mengubah posisi kepala tiba-tiba. Yang mana sulit, karena kalau kesakitan, Bubun seringkali membuat gerakan mengeleng-gelengkan kepala. -____-!

Ayah masuk ke ruang persalinan lagi. Bubun bilang: “Ayah nggak kuat!” Ini pertama kalinya manggil ‘Ayah’ ke Ayah. Sebelumnya kan masih ‘Kk’.
Lalu mulai nangis. Ayah bilang, kolamnya udah siap. Tapi baru bisa nyemplung nanti kalau bukaan 8.
Ya ampun, ini bukaan dua rasanya udah mau mati. Disuruh nunggu bukaan 8?
Itu mah, Bubun bisa mati lalu hidup lagi lalu mati lagi dalam penantian bukaan. *lebay*

“Apaa… Apa… C…” Bubun cepat-cepat geleng-geleng kepala insyaf. Udah sejauh ini.
“Kalau bisa, jangan cesar sayang.”
“I-I-Iya A-yah.” Jawab Bubun sambil sesegukan.

Kemudian… CRING!
Bubun teringat tawaran dr. Rizka untuk pakai ILA. “ILA aja! ILA! Eh tapi masih bukaan dua… Nggak peduli, ILAAAA!!”
“Err tapi…” Ayah tampak ragu-ragu. Katanya mau discuss dulu sama dokter kantor.
“Huhu.. Ayah sakit banget…”
“Iya… Iya…”
Kemudian Ayah menghilang lagi.

Bubun sendirian di ruang persalinan menikmati setiap kontraksi. “Untung nggak ada pasien lainnya…”
Baru aja mikir gitu, Bubun dengar masuklah seorang Ibu beserta keluarganya dan suster. Si Ibu ditempatkan di sebelah Bubun yang lagi terisak-isak. Untung dia nggak perlu melihat kacaunya Bubun karena kita dibatasi oleh tirai. Tapi Bubun nggak bisa menahan suara tangisan. Asli! pada saat itu, suara Bubun sudah di luar kontrol. Kayak keluar sendiri. Nggak peduli susah payah Bubun coba nahan. Dan, emang kalo Bubun denger kok beda ya. Mungkin itulah kepribadian Bubun yang asli. Sisi gelap terdalam. *apeu*

Bubun denger (bukan mencuri dengar ya, tapi emang pasti kedengaran. Orang itu sebelahan banget), Si Ibu pecah ketuban dini di usia 35 apa 36 minggu tapi belum ada bukaan. Ditanya suster soal metode lahiran yang diharapkan, dia berujar “Saya mau tetap normal, sus.” Serta merta ada suara dari dalam diri Bubun yang teriak “Semoga sukses ya!” dengan nada sinis. Eh.. ini sisi gelap kok ya gelap banget yak. Tsk!

Setelah itu, datanglah salah seorang… hmmm bukan suster sih. Tapi semacam petugas yang akan men.. ah! pokoknya membersihkan daerah tertentu. Bubun menolak. Tapi katanya harus. Lagi kesakitan, Bubun nggak sanggup berdebat. Terpaksa pasrah. Terus, yang paling hits adalah sewaktu datang suster-suster mau melakukan prosedur itu. Tapi udah nggak berdaya kesakitan, apalah yang bisa dilakukan. Prosedur apa tuh? Menguras usus. Apa ya istilah medisnya, lupa (edited—ENEMA. Namanya enema). Padahal sewaktu mendalami gentlebirth dulu, Bubun udah menempatkan prosedur ini kedalam urutan kesekian dalam list “Say No To”. Nomor satu ya tentunya Induksi. Hihi.

Nggak berapa lama setelah para suster memasukkan kapsul ke… ya ke itulah… Bubun sakit perut. Bersamaan dengan kontraksi. NYESAL BANGET UDAH SETUJU. Karena dirangsang untuk BAB, otomatis ada rasa mulas dong ya. Itu paduan kontraksi dan mulas pengen BAB, combo! Udah nggak karuan rasanya. Dipapah ke Toilet. Sambil diwanti-wanti “Ibu jangan ngeden ya!”
HEH! Gimana caranya itu disuruh pup tapi nggak boleh ngeden?

Terus di dalam nangis bombay. Sakiiitt banget. Dan.. Bubun nggak bisa BAB. Berasanya cuma kayak pipis. Eh, apa itu ya? Lupa. Udah gelap semua rasanya. Jalan aja susah.

Terus Bubun dibawa kembali ke ruang kala 1. Saat itu, rasanya udah mau mati aja. Bukan contoh yang baik ya. Waktu itu Bubun merintih “Kok gini sakitnya. Ayaaahh… huhuhuhu…” Sambil terisak-isak sesegukkan sambil dalam hati teriak “Mau mati aja ya Allah… Eh tapi nanti Bumi siapa yang ngerawat? Maaf ya Allah, ralat. Salah ngomong.” -_____-! Ayah udah pucet aja mukanya. Eh apa pucet ya? Duh! pokoknya semua lingkungan udah nggak berwarna deh rasanya.
“Dokter anestesinya manaaa?? MANAA??”
“Suster, udah bisa di-ILA belum?”
“Biasanya bukaan 4 baru disuntik, pak.”
“Nggak apa-apa. Bilangin dr. Rizka!” Bubun motong cepet-cepet.

Duh, sampai kapan ini sakit begini…? Katanya paling sakitnya itu pas crowning ya? Huaa! Gimana itu rasanya? *nangis darah*

Setelah perang dunia ke 1, lanjut perang dunia ke-2, dan melewati masa resesi dunia… Bubun dapat kabar kalau dr. Rizka udah setuju Bubun di-ILA. Sekarang lagi nunggu dokter anestesi (yang alhamdulillah lagi ada di RS hari itu) turun ke bawah.

Revolusi Perancis selesai, lanjut perang saudara di Amerika Serikat, kemudian Indonesia merdeka…

Dokter anastesinya datang. Horee!
“Dokter, ada efek sampingnya nggak ILA ini?”
“Nggak ada!” Potong Bubun sambil merintih.
Tapi kayaknya nggak ada yang denger, karena Ayah dan si dokter langsung terlibat diskusi tentang ILA.
Lama. Soalnya dua-duanya ngomong dengan kecepatan rendah. Pelan-pelan dan terlalu tenang.
Woy! In case you guys don’t notice, here we have a pregnant woman in agony right now, in front of you two!” Bubun pengen teriak, tapi nggak sanggup.

Samar-samar Bubun dengar dokter ngejelasin soal kadar bius 0,000…1% (entah berapa angka di belakang nol, angka nol-nya). Lalu tentang “Bisa bertahan hanya sampai 6 jam. Setelah itu, harus ditambah lagi dosisnya.” Terus ada kalimat “Nggak pernah ada laporan. Peluang itu selalu ada. Mungkin satu banding berapa juta…”

“DOKTER SAYA SUDAH 3 HARI BUKAAN 2! TIGA HARI!”
“Haa??” Dokternya kaget. “Suster cepat siapin alat-alatnya!”

Mungkin si dokter salah denger, dikiranya Bubun udah seperti ini sejak 3 hari lalu. Padahal mah, kesakitannya baru beberapa jam ini. Beberapa jam seperti di neraka. Eh, tapi Bubun belum pernah ke neraka. Jangan sampe deh. Mungkin ini preview secuplik saja.

Ayah masih ragu-ragu. “Ntar kalau Ade kenapa-kenapa….”
“Aaaayaahh… ini sakit bangett… sakiiiit bangett… tolong Ayah. Toloonggg”
Bukannya Bubun nggak mikirin Ade ya. Tapi Bubun udah pernah baca kok tentang ILA. Insya Allah aman. Sementara itu, rasanya udah kayak dibakar hidup-hidup. Enggak mati, tapi terus dibakar dalam waktu yang entah sampai kapan.

Persiapan untuk ILA dan lahiran normal buru-buru dilakukan. Goodbye waterbirth😥

Jam 4 sore, Bubun dibawa menuju ruang persalinan. Suntik ILA akan dilakukan di ruang tersebut, sekalian nanti lahirannya.

IMG_0496

Penampakkan belakangnya nggak banget ya… Hihi

Dipasangin infus:

Sementara kontraksi hampir nggak ada jeda😦

Setelah itu disuntik ILA. Bubun diposisin duduk memeluk Ayah. Dokter nyuntik di bagian tulang belakang. Namanya juga Intrathecal. Kayaknya sih deket-deket Spinal Cord gitu *sotoy*. Sempet lho direkam videonya sama Ayah. Kata dokter, 5 menit setelah itu biasanya rasa sakitnya hilang. Rasanya disuntik ILA? Nggak berasa apa-apa. Bahkan Bubun nggak berasa waktu disentuh. Sampe Bubun nanya, “Udah dok?” Setelah disuntik, Bubun berbaring dan mendapatkan sekali lagi kontraksi. Kontraksi terakhir yang Bubun rasakan begitu menyiksa.

Abi itu badan Bubun gemeteran. Makin lama makin kenceng. Rasanya dingin, meskipun udah diselimutin. Tapi Bubun santai saja, soalnya udah pernah baca. ILA ini kan secuil dari dosis cesar. Setahun Bubun, setelah diberi obat bius, sebelum operasi biasanya akan ada efek gemeteran. Tapi Ayah nggak tahu. Terus sedikit panik. Bubun mau jelasin tapi nggak bisa ngomong karena giginya gemeletuk.

Setelahnya nggak sakit lagi. Gemeterannya berangsur-angsur berkurang. Tapi ngangkat kaki butuh bantuan. Tapi Bubun masih bisa ngerasa kalau disentuh.
Surga! Berasa pengen meluk dokter dan ngucapin makasih berulang-ulang. Terberkatilah kau dokter.

Di-check dalam (Kali ini Bubun nggak nolak. Hihi), Bubun udah bukaan 3. Alhamdulillah.
Abis itu disuruh istirahat dan tidur. Kemungkinan masih lama. Katanya.

Bubun nyuruh Ayah nelpon Lalisa lagi. Kali ini udah bisa tersambung. Katanya tadi lagi masak. Sekarang udah menuju ke RSIA Bunda yang cuma berjarak 5 menit jalan kaki dari rumahnya😀.

Tante Ade datang lagi. Lalisa juga udah nyampe. Syukurlah pada datang setelah drama selesai.

————————-

Rasanya bahagia banget udah lepas dari penderitaan kontraksi beberapa jam. Inginnya tersenyum aja.
“Maaf ya suster, tadi saya nangis-nangis heboh.”
“Maaf ya sus, tadi saya marah-marah…”
Bubun minta maaf satu-satu ke suster yang sibuk nyiapin keperluan persalinan.

Tiba-tiba segalanya terasa berkilau. Apa pengaruh cahaya lampu yang soft ya? Mungkin seperti ini ya rasanya di bawah pengaruh obat bius. Eh, tapi itu kan kadarnya cuma 0,000000…1 persen.

Bubun nggak mikirin sama sekali soal gimana nantinya kalau pembukaan mandek dan pengaruh ILA sudah berkurang. Pokoknya asal bisa istirahat sejenak dari rasa sakit menyiksa tadi udah syukur alhamdulillah.

Lalu suster datang. Katanya “Bu, ini mau kita suntikin obat.”
“Bukan obat induksi kan?” Bubun was-was.
“Bukan bu, tapi pelembut rahim biar makin cepat pembukaan.”
Bubun udah nggak mikirin tentang intervensi medis lagi. Orang rasanya udah setengah melayang. Bahagiaa banget. Langsung kasih ijin deh ke susternya.

IMG_0701

Pada saat yang sama, alat CTG terus bekerja memperlihatkan kontraksi yang makin tinggi. Juga detak jantung Ade dan tekanan darah Bubun.

IMG_0130
Syukurlah jantung Ade berdetak normal. Insya Allah semuanya baik-baik saja. Tapi tekanan darah Bubun drop ke angka 90/60 kalau nggak salah. Sementara biasanya Bubun di kisaran 110-120/100-90. Dari angka 90 itu sempat agak drop lagi. Terus kalau nggak salah inget, Bubun diberi suntikan untuk menstabilkan tekanan darah. Setelah beberapa lama akhirnya kembali normal. Bubun juga dipasangin oksigen.

Setelah itu, Ayah dan Bubun ngobrol-ngobrol santai. Bubun nyoba tidur. Tapi karena terlalu excited, akhirnya nggak bisa juga.

IMG_0119

IMG_0165

Ayah juga masangin kamera video pake tripod di sudut ruangan untuk ngerekam momen kelahiran Ade. Lalu suster datang, mempertanyakan kenapa banyak orang di ruangan tersebut. Bubun bilang kalau udah izin ke dokternya. Kata susternya maksimal ditungguin 2 orang. Sebenernya Bubun pengen minta tante Ade untuk nunggu di luar karena kayaknya susternya nggak berkenan, tapi takut menyinggung. Lagian kayaknya Tante Ade tetap mau di dalam aja dan berinisiatif bantuin ngerekam video, jadi kamera nggak usah di pojok dengan tripod.

IMG_0204

Jadi, Bubun hanya menanggapi teguran suster itu dengan senyum. Menahan rasa nggak enak sama suster. Emang Bubun itu orangnya nggak enakan De. Bahkan di saat-saat genting, tetap aja masih mikirin perasaan orang lain.

Lagipula ketika itu Bubun udah terlalu bahagia. Ngebayangin nantinya ketemu Ade. Ah! Senengnya kayak Apa. Nggak pernah… belum pernah.. rasanya sepanjang hidup, Bubun nggak pernah sebahagia itu. Bubun bisikin ke Ade:

“Nanti yang pinter ya nak keluarnya. Cari cara yang paling nyaman buat kamu. Sehat-sehat dan pastikan aman selalu ya nak… Bubun janji akan berusaha sekuat tenaga nanti mempraktekkan semua teori persalinan yang Bubun pelajari” :’)
“Jangan lupa… jangan mau dipecahin ketubannya ya De. Pecah sendiri aja.” Tambah Bubun.

——

Belum berapa lama, rasanya paling sekitar setengah jam setelah di-ILA (padahal aslinya sekitar 1 jam lebih dikit), Bubun ngerasa perut mengencang ada seperti ada yang mendorong keluar. Bubun tahu saat itu juga, itulah yang disebut bidan di kelas hamil sebagai “Ade bayinya ngajakin.” Bubun juga ngerasain sedikit nyeri (dikiit) di bagian perut.

Bubun minta Ayah panggilin suster untuk VT. Ini adalah pertama kali, atas keinginan sendiri, Bubun minta di-check dalam. Sekaligus, itu jugalah terakhir kalinya Bubun di-VT.

Ternyata feeling Bubun benar. Bukaan udah lengkap.
Sebentar lagi Ade Bumbum akan melihat dunia. Badan Bubun kembali bergetar hebat. Kali ini bukan karena pengaruh ILA. Tapi karena excitement yang luar biasa.

Sesaat lagi akan ketemu Ade!

Sembari dokter Rizka dipanggil ke ruang prakteknya di atas, Bubun minta Ayah berjanji untuk nahanin paha Bubun sekuat tenaga supaya sobekan nggak terlalu banyak. Ayah juga baca kertas birthplan Ade sekilas untuk ingat-ingat kembali.

dr. Rizka masuk dengan menggunakan semacam jas hujan dan sepatu boot karet.
Salah satu suster ngadu ngomong “Ini kebanyakan orang yang nungguin dok.”
Tapi dengan santai si dokter menjawab: “Katanya mau divideoin kan? Nggak apa-apa.”
“Tapi dok… apa dua orang aja? Ini banyak…”
Duh, Bubun nggak enak.
“Udah, nggak apa-apa.”

Sip! Fokus ke langkah terpenting: Mengejan.

Sebelumnya, Ayah sempat nanya dulu: “Dok, itu kenapa pake sepatu boot segala? Heboh banget. Hehe”
“Iya, kan nantinya ada air bergelimang…” Jawab dokter penuh makna.

Dokter lalu duduk di depan Bubun ambil posisi lalu…
Duar!!
Eh, apa itu??? Cepet banget.

Bubun lihat wajah dan kerudung bu dokter basah kena air hijau.
dr. Rizka tertawa dan berkata: “Baru juga mau saya pecahin udah pecah sendiri.”
“Eh! Tadi itu air ketuban dok??? Cepet banget nggak kelihatan. Tapi.. KOK WARNANYA HIJAU? Nggak bagus dong dok..? Bubun agak khawatir.
“Nggak apa-apa, kan bentar lagi bayinya lahir.”
“Keruh ya dok?” Bubun sedih, takut Ade kenapa-kenapa.
“Enggak kok. Ketubannya nggak keruh.”

Bubun diberitahu bahwa karena menggunakan ILA, Bubun nggak akan merasakan sakit. Untuk tahu kapan mengejannya, suster akan bantu dengan memberi tanda. Tangan suster dan Ayah di perut Bubun untuk mengecek lagi kontraksi apa enggak.

Lha, bukannya bukaan 10 itu kontraksinya setiap saat, tanpa jeda? Bingung.

“Dok, saya boleh nggak posisinya setengah duduk, nggak litotomi biar napasnya enak?” Tanya Bubun malu-malu. Nggak enak udah banyak request.
“Boleh. Sus, tolong bantu ibunya cari posisi yang nyaman.”
Bubun minta tempat tidur ditegakkin.
Tadinya Bubun mau kedua kaki ditarik ke sisi samping perut. Tapi takut kebanyakan maunya dan disebelin suster. Hihi.
Jadi meskipun setengah duduk, paha berpijak pada sanggahan yang buat lahiran itu lho De di ujung tempat tidur. Hal mana, menjadikan Bubun agak litotomi juga. Heyk.

dr. Rizka ngambil gunting di sebelah kirinya, dan….
“Dokter! istri saya nggak mau di-epis!” Teriak Ayah.
Err.. sebenernya pada saat itu, Bubun udah pasrah di-epis. Toh udah ILA ini. Lagian, Bubun nggak enak banyak maunya gitu…
“Oh, nggak mau ya…?”

Akhirnya Bubun batal di-epis.

“Udah siap bu?” tanya dokter.
“Bentar ya dok.”
Bubun ambil waktu sedetik dua detik untuk kilas balik ke kelas senam hamil dan poin-poin penting yang Bubun garisbawahi dalam teori-teori persalinan.
‘Pantat ditekan ke bawah… apapun yang terjadi, jangan angkat pantat.’ Itu yang berulang-ulang Bubun tanamin dalam diri.
Bubun tekan kasur kenceng-kenceng, dan mulai konsentrasi mengatur napas.
“Siap dok!” Seru Bubun agak sedikit terlalu bersemangat. Laksana mau perang.
“Ayo De, kita berjuang bersama. Yang pinter yaa!” Bubun bisikan kata-kata itu terakhir kali. Sekaligus untuk menguatkan diri.

Bubun bayangin kembali ke kelas senam hamil RS Tambak.
“Tarik napas dalam, dorong…!” Terdengar suara bidan Desi menyemangati.
“Ingat bu, tidak di leher. Di perut dorongnya!”
“Mata terbuka, tidak menutup. Gigi dikatupkan, saling menekan atas dan bawah, gemes Bu.. gemesss..!

IMG_0281

Mengejan sambil tersenyum

Balik ke ruang persalinan RSIA Bunda.

IMG_0607
Dr. Rizka melihat wajah Bubun, lalu tersenyum. Tidak memberikan komen apa-apa.
Bubun pikir, mungkin itu tandanya teknik mengejan Bubun udah tepat.
Suara-suara suster sahut-sahutan di ruangan itu:
“Iya Bu bagus!! Dikit lagi… bagus!!”
“Terus bu.. terus…”
Yaelah! ini mah nggak ada istilah mengejan pada saat kontraksi aja. Mengejan terus bok.

Wajah Bubun rasanya memerah karena nahan napas, takut kepala Ade naik lagi kalau Bubun tarik napas.
“Sambung Bu…” Ujar dokter
Belum sempat hela napas, Bubun udah sambung ngejan lagi.
Persis seperti yang diajarkan bidan Desi.

Sementara itu, Bubun tekan badan Bubun kuat-kuat ke kasur.

Setelah beberapa kali mengejan…
KOK IBU-IBU LAIN BISA NGEJAN SEKALI DUA KALI, BAYINYA LANGSUNG KELUAR???

Lupa kalau sakit adalah mekanisme untuk memudahkan proses mengejan. Hiks.

“Mau minum dulu Bu?” Dokter menawarkan.
“Enggak dok” Bubun menggelengkan kepala.
“Ayo lagi dok!” Ciee.. semangat ya Bubun, mentang-mentang nggak ngerasain sakit. Hiks.

Mengejan lagi.
Kali ini pake kekuatan ekstra.

Lalu Bubun melihat sesuatu. Ayah di kaki sebelah kanan Bubun berkata lirih: “Ya Allah…”
Menggelengkan kepala dan mengusap air matanya.

IMG_0298 - ayah

Bubun tertegun sesaat. Waktu itu Bubun terharu. Kirain Ayah nangis karena mikirin Bubun. Bubun menduga saat itu terjadi robekan. Iya benar sih. Tapi, terharunya karena mikirin almarhum Bundanya. Belakangan Ayah cerita kalau waktu itu, dia mikirin gimana dulu Bundanya ngelahirin Ayah tanpa penghilang rasa sakit seperti Bubun pake ILA. Ayah ngebayangin deritanya. :’)

“Ini kepalanya udah keluar.”
“LHA! KOK BAYINYA NGGAK NANGIS DOK?” Seru Bubun.
“Nggak… belum keluar semua.”

“Hmmm, kelilit tali pusar lehernya, sekali.” Kata dr. Rizka sesudahnya.
I KNEW IT! Bubun udah feeling waktu terakhir USG sama dokter 2 hari lalu. Tapi kata dokter waktu itu, nggak ada lilitan sama sekali di leher.
Bubun ngintip, dokter mengambil gunting. Mungkin untuk memotong lilitan itu.
Yap! nggak ada yang namanya lotus birth ya. Boro-boro dibiarin 1 jam sesudah lahir, seperti yang Bubun harapkan sebelumnya.
Tapi nggak apa-apa deh. Yang penting Ade selamat.

Pantesan bukaannya lama dan sempet detak jantung Ade berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Ternyata gara-gara ada lilitan tali pusar toh… Kesian Ade.😦

Lalu mengejan lagi…
“Lagi sayang.. bagus! bagus banget!”
Itu susternya nggak ada perbendaharaan kata lain ya?

Mengejan lagi.. terus… sampe nggak sadar tiba-tiba semua pada menghela napas kenceng-kenceng
“Huh! HUH!”
“Bu…! HuH! HUH! buang napas.”

Haa??
Itu nggak ada di teori…

Tiba-tiba Bubun merasakan sesuatu yang sangat… apa ya? sangat aneh. Seperti ada jelly atau agar-agar besar dan licin yang keluar dari dalam perut.

“Oek.. oeekkk!!!”

“Tolong lihatin dong jamnya!” Seru dr. Rizka
“17.35 WIB, dok!”

Eeeeh… Ade udah lahir? Masa????

Kemudian, Bubun merasa ada jelly besar lain yang keluar lagi. Kali ini lebih besar.
Bubun masih takjub, nggak percaya. Bubun merasakan setiap jengkal ‘jelly’ yang keluar dari dalam tubuh itu. Rasanya seperti itu toh? Lucu. Lucu, aneh, tapi juga mengagumkan rasanya.

Masih bengong, tiba-tiba suster ngeletakin Ade di atas dada Bubun.

IMG_0307 - Ade lahir

Bubun nggak ingat waktu itu bereaksi seperti apa.
Semuanya tampak berpendar. Lampu sorot, baju suster, kerudung bu dokter… tubuh mungil berwarna pink…
Bubun terkesima. Geran, takjub, haru. Semuanya campur aduk. Tapi Bubun sama sekali nggak nangis. Air matanya sudah abis beberapa jam lalu.😀

Hening. Atau sebenarnya enggak.
Entahlah.

Lalu Bubun tersadar dan buru-buru mengucapkan salam ke Ade:
“Asalamualaikum anakku Bumi.”

Suster ngambil Ade sebentar. Katanya mau disinarin, karena badan Ade agak dingin.
“Tapi nggak dimandiin, nggak dikasih apa-apa dulu kan sus? Saya mau IMD.”
“Enggak bu. Ini cuma dihangatin sebentar.”
Di ujung sana, Bubun lihat Ade disinarin lampu.

IMG_0388

Sambil maen sama Ayah (Ih! Curang ah! Bubun keduluan nih…)

IMG_0434

Terus, gandengan tangan berdua… :’)

IMG_0447

dan difoto-foto sama tante Lalisa

IMG_0466

IMG_0508

IMG_0389

Itu di belakang, popok pertama yang Ade pake

Sebelumnya ditimbang dulu.

DSCN3354

LHO! KOK CUMA 2,8 kg?
Ih! tahu gitu, Bubun nggak bakalan diet di beberapa minggu terakhir.
Kan kata dr. Rizka Ade beratnya udah hampir 3,5 kg.. *nangis darah* — Sampe sekarang pun rasanya masih ingin nampar-nampar diri sendiri kalau inget ini.
Ya emang sih, awal hamil sampe trimester kedua, Bubun afirmasi ke Ade supaya lahirnya 2,8 kg. Tapi abis itu kan Bubun udah terima Ade beratnya 3 kg. Lagian toh meskipun beratnya 2,8 kg, sobekannya banyak-banyak juga… iya kan? Apa tadi penerapan teorinya berhasil?

Tanpa sengaja, Bubun melihat pantulan cermin dari lampu sorot.
Ada banyak darah di sana. Juga luka. Ah! tetap aja sobekannya banyak. Gagal deh teori-teorian. Mungkin itu salah satu efek dari penggunaaan ILA ya. Bubun nggak ngerasain kontraksi, juga nggak ngerasain sakit, jadi mengejannya nggak kekontrol. Tapi ya sudahlah.

Ayah sibuk nelpon sana sini, ngabarin keluarga. Keluar dan masuk ruangan.

IMG_0507
Bubun sempat ngobrol sama Om Acha, Kakaknya Ayah. Begitu pamit, karena harus dijahit, dia berkata: “Wah! pasti besar nih anaknya sampai harus dijahit.” Padahal mah…
Datuk, Opu-nya Ayah juga nanya: “Tapi tadi nggak cengeng kan?”
“Ya, cengeng opu. Cengeng…” Hiks.

Langsung berasa cemen, bermental lemah.

Ade juga sempat ‘ngobrol’ sama papa-mamanya Bubun lho…

Bubun lantas dijahit oleh dr. Rizka.
Satu…
Dua…
Tiga…

Abis itu udah nggak kehitung lagi. Kayaknya banyak ya. Banyak banget.

Mulai lemes dan ngantuk. Lama banget sih Ade disinarin.
Jahitnya udah selesai. Kata dr.Rizka: “Apa nggak usah IMD aja ya? Ibunya capek kayaknya.”

LANGSUNG SEGER BUGAR SEKETIKA.
“ENGGAK DOK! Bisa, bisa! Mana bayinya?”

Tak berapa lama setelah dr. Rizka keluar, kita pun mulai IMD.
Ade bergerak penuh semangat. Tapi suka frustasi karena nggak berhasil menyusu. Mungkin karena posisi atau anatomi tubuh Bubun.
Sempet hampir berhasil, tapi karena Ade susah memutar kepala, jadinya gagal.

Terus, di tengah-tengah proses IMD, Ade sempat tidur beberapa saat.

IMG_0632

Waktu berjalan sangat cepat ketika tiba-tiba para suster masuk dan salah satunya ngomong:
“Udah ya bu IMD-nya.”
“Eh, bentar lagi ya sus.”

Kemudian kita coba lagi.
Kali ini agak ngarah-ngarahin Ade supaya bisa nyusu.

Suster yang tadi datang lagi dan berkata dengan tegas:
“Udah ya bu. Ini kita udah ngasih waktu sampai 1,5 jam lho! Lebih setengah jam dari seharusnya. Anaknya harus disuntik, dibersihin… kita juga harus mindahin Ibu dari ruang ini!”

Galak ya.

Ya sudah, pasrah aja waktu suster ngarahin Ade langsung ke payudara Bubun untuk nyusuin. Alhamdulillah, sukses.
Abis itu, Ade mau dibawa ke ruang bayi untuk observasi. Padahal ade lagi nyusu lho. Ayah bilang ke susternya:
“Tapi ini bayinya lagi nyusu, nggak tega dilepasin.”

Tapi apa mau dikata. Udah menjelang isya. Bubun juga udah lemes.
Ade pun dibawa suster ke lantai atas bersama Ayah.

IMG_0798

Bye bye Ade… nanti ketemu lagi ya! :*

IMG_0803

Ade diobservasi di ruang bayi setelah dilakukan prosedur standar seperti tes golongan darah (hiks), pengukuran, suntikan Vit K, tetes Mata, dll

Sementara Bubun ditinggalin di ruang persalinan sendiri.
Merenung lama Bubun di sana.

Tapi nggak perlu selama itu juga kali ya.
Rasanya lama banget di sana. Mana laper banget lagi. Terakhir makan tadi pagi. Mana pake acara kuras perut segala.

Akhirnya Bubun dijemput juga, dibawa ke kamar.
Bubun nanya, kapan mulai bisa rooming-in sama Ade. Kata Ayah, jam 11-an nanti, Ade bakal dianter ke kamar.
Ade juga udah dipasangin gelang penanda di depan mata Ayah untuk menjamin bayinya nggak akan tertukar. Penting nih!

Bubun pengen makan, tapi nggak ada makanan.
Tak apalah. Toh masih banyak cadangan lemak ini. Hihi.

Perjuangan hari itu selesai sudah. Menyisakan perih di bekas luka jahitan. Bubun diminta nggak bangun dulu. Pipis juga pake kateter. Mungkin karena jahitannya banyak ya?

“Ngomong-ngomong Ayah…. We are officially a mother and a father today.” :’)

IMG_0796


22 Comments on “Kisah Kelahiran Bumi (Part 3)”

  1. […] Kisah Kelahiran Bumi (Part 3) Sekilas tentang Gentlebirth […]

  2. […] Kisah Kelahiran Bumi (Part 3) Sekilas tentang Gentlebirth […]

  3. Icha SF says:

    huh hah bacanya selesai juga..🙂
    blogwalking, eh nyasar ke blog ini.. salam kenal mbak🙂

    • citralwi says:

      Hai hai Icha! makasih yaa udah mampir ke sini. Uaaa! ini panjaaaaang kali lebaaarr ceritanya. Aku aja nggak pernah baca. Hihi. Ijin bertamu ke blognya ya..🙂

  4. […] bulan Juni ini, Bumi 9 bulan sudah. Bayi yang dulu lahir dengan tenang, aman dan menyenangkan (thanks to ILA, yeah right!), sekarang udah jago teriak-teriak. Udah jarang dalam kondisi tenang […]

  5. shintarowr says:

    Seru banget baca pengalamannya,, sampe ngakak2, tp deg2an pas udh mulai baca bagian ILA nya? Aq hpl awal agustus 2013. Doain lancar jg yh,, heuhe,,

    • citralwi says:

      hai Shinta! Hihi… emang ceritanya rada absurd sih yak😀
      Sekarang udah lahiran ya…? Semoga lancar dan dimudahkan mengasuh baby-nya. Maap telat balesnya. Komen-nya keselip ih.

  6. Yeni says:

    Waaahhh mengharukan ya mba. aku sampe netesin air mata waktu liat suamimu nangis inget ibunya melahirkan. sehat terus ya mba dan bayinya. aku insya Allah 3 bulan lagi. mohon doanya.

    • citralwi says:

      Iya mbak yeni. Aku juga masih suka berkaca-kaca kalau inget proses kelahiran Bumi.
      Tapi terus keder juga, bayangin bakal ngalamin hal yang sama 3 bulan lagi😀

  7. inandatiaka says:

    Haloo mbak..
    Nyasar ke blog ini gara2 nyari info soal daycare. Eh malah tertarik baca proses lahiran…
    Anakku juga baru lahir 2 mgg lalu, jadi brasa gmn gituuu pas baca postingannya.. Tapi paling terharu liat foto suaminya pas nangis.. Ikutan sedih juga😥

    Anw, salam kenal!

  8. […] dukungan support. Masih trauma dengan urusan yang berhubungan dengan jalan lahir, gara-gara proses lahiran Bumi dulu […]

  9. […] proses proses persalinan makin besar dari ke hari. Kalau ingat kontraksi yang muncul pasca prosedur stripping of the membrane dan enema/huknah dulu itu… bikin Bubun mempertanyakan, beneran nggak sih itu ada ibu-ibu yang […]

  10. […] akan bantuin proses persalinan. Yang jelas, nggak sama obgyn waktu Bumi lahiran dulu. Trauma sama stripping of the membrane! Yang bikin Bubun bimbangnya nggak selesai-selesai dalam memilihi obgyn ini adalah, karena setelah […]

  11. […] juga Bubun feelingnya Kakak Bumi bakalan lahir setelah usia 40 minggu. Tahunya, 39 minggu 4 hari, Kakak Bumi lahir ke dunia […]

  12. […] pengalaman melahirkan Kakak Bumi dulu nggak sempurna dan sedikit banyak menimbulkan trauma, tapi Bubun mutusin untuk lahiran Adik […]

  13. mbak citra, aku mo lahiran 3 bulan lg, lg semangat2nya cari info ttg gentlebirth jg. Niatnya pengen lahiran normal dan sealami mungkin, tp suamiku ngetes aku nyobain ngelewatin ga USG sebulan doangan aja, aku ud nangis2 keder tiap hr khawatir sm baby cuman gegara g USG sebulan. Kata suamiku sih, aku g lulus ujian mental haha.. iya sih.. pdhl gentlebirth mengutamakan keyakinan ibu thdp kemampuan tubuh dan kemampuan bayinya.. huhuhu..
    di rumah sakit emg bakalan byk intervensi ya, aku ikutan kesel jg sm dokter rizka pas baca induksi alami yg puter2 itu, g pake izin yg punya badan pula. plus kesel jg sama suster yg mo ngasih induksi pake istilah apalah td, berasa kita g punya hak sm badan kita sendiri. berasa kyk anak kecil yg dibohong2in krn dianggap blm cukup ilmu utk ngerti risikonya. dan kesel juga sm dokter yg maen epis tanpa izin.
    doakan smogaa lahiranku lancar ya mbak
    salam sayang utk bumi & lala

    • citralwi says:

      Halo mbak Ana!
      Hihi… emang usg bikin nagih ya? Pengen sering-sering liat bayinya.
      Kalimat-kalimat yang mbak Ana tulis di atas, kurang lebih udah melukiskan perasaan aku deh. Hehe.
      Semoga sehat dan kelahirannya lancar ya Mbak.. Semoga dimudahkan tidak hanya prosesnya tapi juga pengasuhan seterusnya.
      Salam sayang juga untuk bayi dalam perut.🙂

  14. sita says:

    hai mba citra… baru nyasar ke blognya mba niy soalnya lagi cari referensi dr. Rizka… setelah baca beberapa post mba tentang dr. Rizka gmna rekomendasi Mba buat dr. Rizka? saya baru sekali siy ke dr. Rizka… belum tau oke atau gak nya ya…

    • citralwi says:

      Hai Mbak Sita,

      Hmm… mungkin bisa dilihat dari cerita di atas, kira-kira si dokter gimana. Aku juga bingung kalau ditanya gitu. Hehe…
      Kalau secara personal, tutur katanya lembut dan kayaknya orangnya pendiam gitu.

  15. @tissatrish says:

    Mbak Citra memang selama konsultasi kehamilan tidak didiskusikan mengenai induksi bahkan induksi alami yang memang gak diingini sm mbak citra? atau setidaknya dokter bisa memahami apa yang diingin pasien tanpa harus bertindak tanpa izin seperti itu
    thanks for share yaa

    • citralwi says:

      Halo,

      Kalo baca2 postingan sebelumnya, mungkin Tissa (eh boleh manggil gitu nggak?) bisa lihat kalo obgyn yang bantu lahiran saya itu baru saya temui di usia kehamilan 36 W, karena waktu itu saya ingin lahiran dibantu obgyn perempuan. Obgyn dari usia 4 w – 32 w adalah obgyn laki-kali. Tapi meskipun begitu, di dua pertemuan sebelum lahiran, saya selalu membawa birth plan (bisa dilihat di posting terkait) yang saya diskusikan selama 30 – 60 menit dengan obgyn ybs. So, yes.. dokternya udah tau saya nggak mau diinduksi jika belum lewat HPL (40 w). Mungkin karena birth plan saya terlalu detail kali yah… Sesudah prosedur ‘stripping of the membrane’ dilakukan, dokternya baru menjelaskan bahwa dia baru saja melakukan prosedur tersebut “… soalnya ibu kan nggak mau diinduksi…” begitu papar beliau.

      Mudah2an pengalaman saya bisa jadi pembelajaran bagi ibu hamil lainnya..🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s