Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Sekilas tentang Gentlebirth

Sebelum cerita soal proses kelahiran Ade, Bubun pengen cerita dulu kenapa Bubun pengen banget ngelahirin Ade dengan filosofi gentlebirth.

Apa sih gentlebirth itu?

Sependek pemahaman yang Bubun dalami selama hampir 2 tahun ini, gentlebirth adalah proses persalinan lembut, penuh cinta, ramah jiwa, dan minim trauma serta minim intervensi atau menghindari intervensi medis yang tidak perlu. Melahirkan menurut filosofi ini, dipandang sebagai momen yang harus “dirayakan” dengan penuh rasa hormat, damai, dan sakral sehingga aspek mental dan spiritual juga memegang peranan sama pentingnya dengan aspek fisik.

Dalam gentlebirth, Ibu dan bayi adalah subjek dalam proses persalinan. Tenaga medis (jika ada) dan peralatannya hanya bersifat membantu. Tidak memegang peranan utama. Aba-aba dan panduan hendaknya datang dari Ibu. Karenanya, ibu perlu memahami, percaya, memberdayakan dan memegang otonomi atas tubuhnya sendiri. Selain itu, Ibu juga selayaknya dapat mengenali tanda/isyarat/arahan dari bayi. Intinya, kenyamanan dan keselamatan ibu dan bayi menjadi fokus utama.

Konsep ini begitu memikat hati Bubun karena selama bertahun-tahun, yang tertanam dalam benak Bubun mengenai proses persalinan adalah derita dan kesakitan tiada tara bagi sang ibu. Itu makin kuat dengan pengalaman Bubun menyaksikan… lebih tepatnya mendengarkan perjuangan nenek (mamanya Bubun) sewaktu melahirkan Om Dino, 17 tahun lalu. Mungkin itu juga yang membuat Bubun seperti tidak ingin cepat-cepat menikah dulu. Ada ketakutan besar bahwa suatu saat Bubun akan mengalami proses persalinan yang lebih menyakitkan dari nenek dulu. Soalnya nenek kan perempuan kuat, yang punya toleransi besar terhadap rasa sakit. Lha, gimana Bubun yang kepentok meja aja bisa meringis tutup mata selama 3 menit? Atas dasar itu, Bubun ingin bisa jadi perempuan yang beruntung memiliki persalinan yang tenang dan (katanya) minim rasa sakit dan minim trauma, tidak seperti apa yang pernah Bubun lihat dulu.

Pertama kali mendengar tentang gentlebirth dan Elena Tonetti sekitar Desember  tahun 2010, sebelum Bubun menikah dengan Ayah. Lalu di tahun 2011, Bubun menemukan tulisan tentang persalinan dengan filosofi ini, yang berjudul Kisah kelahiran Atisha. Atisha Prajna Tiara adalah anak kedua dari salah satu penulis favorit Bubun, yaitu Dewi Lestari. Sejak itu, Bubun terobsesi ingin melahirkan secara gentle, seindah persalinan Atisha itu. Padahal hamil pun belum.

Selanjutnya, Bubun menemukan informasi tentang salah satu penggerak gentlebirth di Indonesia yaitu Ibu Robin Lim. Tenyata beliau yang membantu proses persalinan Oppie Andaresta beberapa tahun lalu. Sosok Ibu robin ini begitu menyentuh hati Bubun sampe-sampe pengen rasanya ketemu langsung.

Pertengahan tahun 2011 iseng-iseng Bubun membeli tiket promo Air Asia tujuan Denpasar seharga Rp 75.000 Pulang Pergi untuk penerbangan 26 Januari 2012. Rencananya sih nantinya bisa ngerayain ulang tahun berdua Ayah di pulau dewata. Tak dinyana, tanggal 21 Januari 2012, Bubun ketahuan hamil. Bubun bilang ke ayah supaya tiket itu tidak perlu dibatalkan. Jadi kita bisa ke Ubud buat ketemu Ibu Robin. Ibu Robin, yang menerima penghargaan CNN Heroes tahun 2011 ini memang memiliki klinik di Ubud yang bernama Klinik Bumi Sehat. Tapi karena dalam jangka waktu beberapa minggu ke depan Bubun akan bolak-balik naik pesawat, terpaksa rencana tersebut dibatalkan. Setelah ditimbang-timbang, menempuh perjalanan naik pesawat 4 kali bolak balik (atau total 8 kali) dalam jangka waktu 3 minggu, bukanlah hal yang bijak bagi Ibu yang sedang hamil muda.

Meskipun gentlebirth ini lebih merupakan filosofi, tapi seringkali juga diasosiasikan dengan berbagai metode persalinan, yaitu waterbirth, lotus birth (delayed cord clamping), dan homebirth. Padahal sesungguhnya, tidak ada metode pakem yang tunggal bagi suatu persalinan sehingga bisa disebut sebagai gentlebirth. Persalinan normal di tempat tidur, dengan bantuan ahli  medis (dokter dan bidan) bahkan dengan metode Sectio Caesarean juga bisa menggunakan filosofi ini. Sepanjang intervensi yang dilakukan memang sesuai indikasi, tidak dipaksakan dan tetap penuh cinta.

Ada beberapa hal yang Bubun pelajari dalam gentlebirth, yaitu:

1. Berdayakan diri

Pengetahuan adalah kunci. Karenanya, Ibu hamil patut memberdayakan diri semaksimal mungkin, mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai kehamilan dan persalinan. Termasuk resiko yang dapat timbul dari setiap intervensi medis. Dengan memahami setiap tindakan yang (akan atau dapat) dilakukan padanya, lantas memilih secara sadar cara atau metode apa yang diinginkan, ibu hamil menjadi percaya diri, tenang dan fokus.

Dengan akses informasi yang makin mudah saat ini, Ibu dapat mencari tahu kondisi seperti apa yang ingin digunakan pada saat kelahiran. Sebisa mungkin, ibu membuat birthplan, yang disusun penuh kesadaran dan pertimbangan. Bubun sendiri menyusun 3 birthplans: Plan A, B, dan C untuk memastikan minimnya trauma yang dapat terjadi dalam proses persalinan nanti. Diskusikan birthplan ini dengan dokter/obgyn yang akan membantu proses kelahiran nanti.

Perlu dipahami bahwa jika ibu melahirkan di rumah sakit, kemungkinan besar akan mengalami rentetan prosedur. Karena itu, penting untuk mencari tahu tentang prosedur dan juga informasi tentang:

2. Nyeri/Sakit adalah mekanisme

Rasa nyeri ketika kontraksi sesungguhnya adalah mekanisme untuk menghantarkan bayi keluar perut. Kontraksi selayaknya tidak dipandang sebagai rasa sakit yang menyiksa yang harus ditakuti atau dihindari. Gentlebirth mendorong Ibu untuk memahami hal tersebut dan menerima ‘gelombang rahim’ sebagai suatu hal yang wajar. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuik mengatur penerimaan diri atas gelombang itu, misalnya dengan mengatur pernapasan, membayangkan diri merekah seperti kuncup mawar agar pembukaan lancar, dan hal-hal lain yang dapat dipelajari melalui hypnobirthing.

Menurut Ibu Lanny Koeswandi, bidan yang menjadi pakar hypnobirthing di Indonesia, nyeri itu bisa jadi subjektif dan dipengaruhi banyak faktor seperti pengalaman hidup, trauma, kondisi fisik, kecemasan, atau budaya. Artinya, semakin sehat fisiknya, semakin besar rasa percaya diri, kesiapan, serta keikhlasan ibu menjalani persalinannya, maka rasa nyerinya bisa jadi makin ringan.

Mengelola nyeri adalah hal yang mungkin, bisa dicapai dengan melatih diri agar mencapai kondisi relaks yang dalam (meditatif), karena dalam kondisi inilah hormon endorfin akan berproduksi dengan baik. Meditasi, wirid, yoga, hipnoterapi, acupressure atau apa pun yang membuat tubuh kita lebih terhubung secara fisik, mental dan spiritual bisa membantu produksi endorfin. Dengan demikian, rasa nyeri bisa ditekan, teralihkan, atau bahkan dinikmati kehadirannya.

3. Prosesnya dimulai sejak sebelum hamil

Mengutip Reza Gunawan, pakar holistik dan sekaligus suami Dewi Lestari:

“Aspek jiwa dalam kehamilan dan persalinan perlu dipahami secara lebih peka. Gentle birth pun sebaiknya tidak dipandang pada fase kelahiran saja, melainkan sebagai rangkaian yang sudah disadari sejak awal. Mulai dari hubungan seks yang dilakukan secara sadar, kehamilan yang dijalani sealamiah mungkin dan minim intervensi, persalinan yang ramah jiwa, hingga mengasuh anak dengan penuh kesadaran…”

4. Setiap Perempuan Bisa

Dalam filosofi gentlebirth, setiap perempuan diyakini memiliki potensi untuk melahirkan sealamiah mungkin, dengan tenang dan nyaman. Agar tercapai, seorang ibu hamil harus dapat menyatu, mempercayai isyarat tubuh, serta meyakini bahwa tubuh mampu berfungsi sebagaimana mestinya.

5. Trauma

Trauma dapat timbul dari persalinan yang tidak ramah jiwa. Ibu yang mengalami proses yang menyakitkan contohnya lebih rentan terkena post-partum depression dan keengganan untuk mengalami kembali proses persalinan. Atau lebih rentan untuk mengalami proses persalinan yang sama atau lebih traumatis dibandingkan persalinan sebelumnya. Sementara trauma pada bayi bisa berefek pada perkembangan jiwanya di kemudian hari. Yessy Aprilia, bidan yang menekuni gentlebirth beberapa tahun ini, menyatakan bahwa berdasarkan pengalamannya membantu proses kelahiran, bayi-bayi yang dilahirkan secara gentle, lebih tenang dan membuka mata dengan lembut pada saat lahir.

Trauma persalinan dapat disebabkan oleh persalinan yang lama dan menyakitkan, adanya induksi persalinan, perasaan hilangnya kendali saat proses persalinan, seringnya intervensi medis yang tidak perlu, Sectio Caesarean (SC), perlakuan kurang menyenangkan dari penolong persalinan, atau kekhawatiran akan keselamatan bayi.

6.  Pentingnya Afirmasi

Afirmasi adalah kalimat positif lengkap yang disusun sesuai keinginan kita, bersifat spesifik dan mengandung harapan. Jika dilakukan dalam keadaan hipnosis, afirmasi akan menjadi media komunikasi kepada seluruh tubuh untuk melakukan sebuah perubahan yaitu dari kondisi sekarang ke kondisi yang diinginkan. Semakin kuat niat dan fokus anda maka affimasi itu akan semakin kuat dan terwujud menjadi kenyataan.

Kekuatan afirmasi dapat membantu ibu untuk mencapai apa yang diharapkan dalam kehamilan dan persalinan. Afirmasi yang sering Bubun ulang terus-terusan untuk persiapan persalinan adalah:
“Bayiku tumbuh dan berkembang sempurna”
“Tubuhku rileks, aku dan bayiku nyaman, aman dan tenang selama persalinan”
“Aku dan bayiku akan bertemu dalam proses persalinan yang aman, tenang, damai dan menyenangkan.”

Aman, tenang, damai dan menyenangkan adalah kata yang udah Bubun ulangi sebanyak ribuan kali selama trimester kedua dan ketiga. ^^

7. Dukungan dari orang terdekat dan suasana yang mendukung

Gentlebirth hanya dapat terjadi jika ibu hamil didukung oleh orang yang bersamanya dalam proses persalinan. Adalah kewajiban orang-orang terdekat (dalam hal ini bagi Bubun adalah Ayah) untuk membuat ibu hamil merasa dicintai, dipelihara, dipercaya dan didukung sepenuhnya sehingga Ibu bisa merasa nyaman mengikuti naluri alaminya.

Dalam proses kelahiran, energi positif dari tenaga medis yang membantu (jika ada) dan orang-orang yang ada di ruangan persalinan akan menjadi kekuatan bagi Ibu. Bayi juga akan merasa ‘aman’ dan nyaman. Terlebih lagi jika ruangan disituasikan nyaman, misalnya dengan cahaya redup. Cahaya terang diklaim dapat membuat bayi ‘kaget’ dan tidak nyaman dengan perubahan lingkungan yang mendadak. Dalam gentlebirth, diharapkan proses transisi atau perubahan dunia bagi bayi tidak berlangsung drastis sehingga meningkatkan stress bagi dirinya. Semakin perlahan dan lembut, maka makin kecil tingkat trauma yang ditimbulkan. Itu sebabnya pada persalinan di air (waterbirth), terlihat bayinya tidak menangis kencang, dan bereaksi sangat lembut.

Gentlebirth yang percaya akan ‘waktu’ bayi, menjadikan proses persalinan tidak ‘diburu-buru’ atau diberi tenggat waktu, selama kondisi janin baik dan normal. Bayi diharapkan lahir dengan kecepatan dan pada saatnya sendiri.

Peran serta keluarga, utamanya suami dalam memberikan dukungan mental kepada Ibu hamil, menjadikan proses kehamilan dan kelahiran dalam filosofi ini menjadi fase di mana orang tua dan keluarga tumbuh, berkembang dan bertransformasi bersama. Pada akhirnya, toh It takes a village to raise a child kan..? —> Tapi ungkapan ini nggak berlaku buat Ayah Bubun deh kayaknya. Soalnya kita kan sendiri di belantara ibukota ini… Eh, maksud ungkapan itu lebih dalam ya… Nggak sekedar secara kasat mata aja. So…

8. Intervensi yang tidak perlu

Intervensi yang tidak perlu maksudnya pemberian tindakan yang tidak sesuai indikasi. Seringnya, intervensi ini akan berujung pada intervensi-intervensi lainnya atau yang disebut sebagai Cascade Intervensi. Intervensi yang dapat menyebabkan rantai intervensi berikutnya adalah:

  • Penggunaan obat untuk induksi
  • Amniotomi
  • Penggunaan oksitosin sintetis untuk mempercepat proses persalinan (sama dengan induksi?)
  • Penggunaan obat untuk menghilangkan rasa sakit
  • Posisi litotomi untuk melahirkan
  • Pembatasan gerak dan pembatasan pemilihan posisi selama proses persalinan

Dalam banyak kasus, praktek-praktek tersebut ini menimbulkan masalah karena mengganggu fisiologi normal dari kehamilan, persalinan dan kelahiran yaitu:

  • Mengganggu produksi hormon sepanjang persalinan dan kelahiran
  • Menciptakan peluang infeksi
  • Mengganggu kemampuan Anda untuk mendorong bayi keluar

———–
Begitulah sekilas tentang gentlebirth yang Bubun dapatkan dari Group Gentlebirth Untuk Semua (GBUS), Website Bidan Yessy Aprilia, Website Gentlebirth Indonesia dan beberapa situs lainnya.

Karena ingin melahirkan dengan filosofi gentlebirth, sejak awal kehamilan Bubun udah mengumpulkan nama bidan yang pro gentlebirth di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan sempat terpikir untuk meminta bidan Yessy terbang ke Jakarta untuk membantu persalinan Ade, tapi karena satu dan banyak hal, akhirnya Bubun menerima masukan Ayah agar Ade dilahirkan di Rumah Sakit saja. Namun sebisa mungkin Ayah akan membantu agar beberapa keinginan Bubun terkait persalinan yang lembut itu dapat terwujud.

PS: *

Indikasi medis dari Sectio Caesarean (operasi Caesar) adalah:

  • Detak jantung janin yang melambat (fetal distress)
  • Komplikasi preeklamsia
  • Sang ibu menderita herpes
  • Putusnya tali pusar sebelum bayi dilahirkan
  • Bayi dalam posisi sungsang atau melintang
  • Kegagalan persalinan dengan induksi
  • Kegagalan persalinan dengan alat bantu (forceps atau vaccum)
  • Bayi besar (makrosomia- berat badan lahir lebih dari 4,2 kg)
  • Masalah kelainan plasenta seperti plasenta previa  (ari-ari menutupi jalan lahir), plasenta abruption atau plasenta acreta)
  • Sebelumnya pernah menjalani bedah caesar (masih dalam kontroversi)
  • CPD (proporsi panggul dan kepala bayi yang tidak pas, sehingga persalinan terhambat)
  • Kepala bayi jauh lebih besar dari ukuran normal
  • Ibu menderita hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi)

One Comment on “Sekilas tentang Gentlebirth”

  1. […] ya? Biasanya kan ibu-ibu yang proses kelahiran pertamanya penuh trauma karena belum mengenal gentlebirth, akan sangat bersemangat untuk mengalami proses persalinan yang indah sehingga membekali diri […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s