Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Belajar tentang ASI dan Menyusui

Sedari awal, bahkan ketika masih menanti kehadiran Ade Bumbum di dalam rahim, Bubun sudah bertekad agar kelak memberi yang terbaik bagi Ade, semaksimal kemampuan Bubun. Itu berarti sejak dalam kandungan hingga lahir dan bertumbuh nanti, Ade harus mendapatkan asupan nutrisi terbaik. Bukan termahal ya. Terbaik dan termahal tidak selalu berjalan bersama. Ketika Ade akhirnya hadir di dalam tubuh Bubun, sebisa mungkin Bubun mengkonsumsi makanan sehat, juga menghindari kontaminasi asap yang berbahaya, seperti rokok misalnya. Kalau masih di dalam kandungan, nutrisi Ade masih bisa Bubun kontrol dengan cara memelihara kesehatan diri sendiri. Terus setelah lahir gimana? Mari mengacu pada pihak yang berkompeten, dalam hal ini WHO (World Health Organization), yang mnejadi kiblat bagi panduan pemeliharaan kesehatan bagi seluruh umat manusia.

Menurut WHO, standar emas makanan bayi atau GOLDEN STANDARD OF INFANT FEEDING adalah:
1. Inisiasi Menyusui Dini (IMD), dilanjutkan dengan Rawat Gabung.
IMD dilakukan dengan cara kontak kulit bayi-ibu (skin to skin). Bayi diletakkan di dada ibu lalu bayi secara spontan akan mencari sendiri puting ibu untuk menyusui. Dari proses IMD, bayi mendapatkan manfaat dari kontak kulit pertama dengan ibu, yaitu terpapar bakteri baik dari ibu. Rawat gabung penuh selama 24 jam sehari diperlukan untuk memastikan proses menyusui dimulai secara optimal. Dengan rawat gabung, ibu bisa istirahat sambil tetap menyusui sesuai keinginan bayi.

2. ASI Eksklusif (ASIX) sejak lahir hingga usia 6 bulan.
ASIX adalah pemberian ASI saja kpd bayi, tanpa tambahan makanan & minuman lain, bahkan tidak juga air putih.

3. Makanan Pendamping ASI (MPASI) berkualitas sejak 6 bulan.
Makanan buatan rumah yg memenuhi kebutuhan energi & nutrisi bayi, dari bahan baku lokal & harga terjangkau. Pada usia 6-12 bulan, ASI memenuhi 70% kebutuhan kalori bayi, sehingga bayi butuh tambahan dari asupan lain. WHO sangat menganjurkan pemberian MPASI buatan sendiri, jadi bukan makanan instan atau pabrikan.

4. ASI diteruskan sampai minimal 2 tahun.
Walaupun jumlah kalori diberikan oleh ASI hanya sekitar 30%, namun zat antibodi yg terdpt dlm ASI justru meningkat. Zat ini berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh bayi, sesuai dgn kebutuhan anak yang aktivitasnya lebih banyak.

Dari pemaparan di atas, jelas bahwa ASI memegang peranan penting sebagai nutrisi bayi. Oleh karena itu, Bubun udah sounding-sounding ke Ayah soal niat Bubun ngasih makanan ke Ade sesuai standar tersebut, sejak Bubun hamil.

Reaksi Ayah?

Tentu saja mengganggap semua itu angin lalu. Iya, Ayah tuh awalnya nggak ngedukung Bubun, bahkan untuk ASIX. Dia langsung bergidik ngeri waktu Bubun bilang kalau nantinya jika ASI Bubun belum keluar, Ade tidak apa-apa jika tidak diberi cairan pengganti sama sekali dan bayi sanggup bertahan 3 x 24 jam tanpa asupan karena masih memiliki cadangan makanan dalam tubuhnya. Katanya: “NGGAKLAH! Nanti anak gw kelaperan!”

Nggak bisa dipungkiri bahwa kepercayaan orang-orang umum sebelum kampanye ASI dimulai sejak tahun 2006 lalu, adalah bahwa bayi itu akan kelaparan kalau hanya diberi ASI selama 6 bulan. Makanya, banyak bayi yang diberi Susu Formula (Sufor) karena dianggap ASI ibu kurang atau lebih parah lagi, diberi makanan padat pada usia Newborn.

Karena itu, Bubun pun memaksa mengajak Ayah untuk ikutan kelas-kelas prenatal terkait ASI dan Laktasi, yaitu:

1. Seminar ASI di Paradise Baby Day Care
Paradise Baby Day Care
Palm Court Apartment, Jl. Gatot Subroto Kav 26 – 27, Jakarta Selatan.
Oleh dr. Sylvia Haryeni IBCLC (Konselor Laktasi dan Dokter di Kemang Medical Care, Jakarta Selatan)

IMG-20120728-00358

IMG-20120728-00357

IMG-20120728-00359

Awalnya mau ikutan kelas Pre natal dari AIMI. Tapi sering full atau bentrok dengan jadwal kuliah Ayah. Waktu itu, Bubun kebetulan udah nge-add contact Paradise Baby Day Care sebagai alternatif Day Care untuk Ade. Jadi, Bubun sempat melihat promo mereka tentang seminar ini. Makin semangat waktu tahu biaya kelasnya murah banget. Rp 75.000,- termasuk buka puasa berdua. Hihi.

Ikutan kelas ini di weekend bulan Ramadhan. Jadi, acara diakhiri dengan buka puasa bersama.

Materinya lumayan dan konselor-nya juga bagus ngejelasinnya. Pesertanya dikit. Waktu Bubun dan Ayah datang, belum ada peserta sama sekali. Tapi karena pesertanya sedikit, jadinya Bubun bisa leluasa nanya borongan. Itu berasa konsultasi pribadi deh. Saking semangatnya nanya, Bubun ditunjuk sebagai peserta terbaik dan dapat voucher untuk penitipan anak di sana untuk bulan depan (Agustus). Sementara kan Ade baru lahir bulan September. Jadi nggak kepake deh voucher-nya.

2. Klinik Laktasi di RS Carolus Salemba

Jl. Salemba Raya 41, Jakarta 10440
Telpon: 021 – 3154187, 23567908
Pelayanan:

  • Senin – Jum’at: Pukul 08.00 – 12.00
  • Sabtu: 08.00 – 10.00
  • Sore: Senin & Rabu: 14.30 – 17.30

Meskipun udah dapat ilmu dasar tentang pemberian ASI di seminar sebelumnya, tapi Bubun masih belum percaya diri. Utamanya tentang teknik menyusui dan memerah (penting!) yang benar. Setelah googling, Bubun dapat info kalau di klinik laktasi RS Carolus, ibu hamil diajarin dan bahkan praktek langsung cara menyusui dengan menggunakan boneka.

Di RS Carolus, ternyata ada dua klinik laktasi. Satunya dengan dr. Utami Roesli. Satunya lagi oleh beberapa dokter umum yang juga konselor laktasi. Tentu saja Bubun memilih yang bukan sama dokter terkenal itu. Kenapa? Soalnya denger-denger beliau galak. Bubun takut dimarahin karena cuma tahu dikit tentang laktasi. Hehe.

Kartu Carolus

Awalnya Bubun pergi sendiri karena Ayah cuma mau nganterin terus balik lagi (soalnya RS Carolus lumayan dekat), nggak mau nemenin. Tapi setelah ngantri beberapa jam (mungkin karena weekend jadi rame banget), Bubun nelpon Ayah nyuruh segera nyusul. Pilihan yang tepat. Karena setelah masuk, ditanyain sama dokter: “Suaminya mana?”

Oh iya, sebelum masuk Bubun harus ngisi dulu formulir sambil di’wawancara’ (cuma kayak ngobrol sih) sama suster tentang kondisi kehamilan dan pengetahuan kita soal laktasi. Ternyata emang prosedurnya seperti itu.

Ada dua dokter yang praktek di klinik tersebut. Bubun lupa nama ibu dokternya siapa. Tapi karena pasien lumayan padat, Bubun ketemu dokter barengan bersama sepasang suami istri lainnya. Selain pasutri itu, Di dalam ruangan kecil itu, ada bayi yang datang bersama orang tuanya karena mengalami bingung puting. Di depan Bubun, bu dokter itu ngomong ke orang tua bayi: “Jadi yang itu nggak usah dipake lagi ya?” sambil nunjuk botol dot merk yang Bubun pernah baca katanya nggak bikin bingung puting. Jadinya Bubun yang bingung. Hehe. Sembari menunggu dokternya membuat resep untuk seorang ibu yang Bubun denger produksi ASI-nya berkurang, Bubun lihat di deket situ ada tirai dan di baliknya ada suara suster-suster yang lagi ngarahin cara menyusui untuk beberapa ibu. Selain itu, si bapak dari bayi yang bingung puting itu sedang melatih bayinya minum asip dari cup feeder. Ih canggih deh bayinya jago lho!

Dokter pun memulai penjelasan. Hal-hal dasar yang mana sudah Bubun ketahui (cieee sombong!). Tak berapa lama Ayah datang. Lalu ada interupsi dari suster dan Bubun disuruh dokter ngejelasin materi yang tadi udah dijelasin dokter. Kata Bubun “Oh nggak perlu dok. Yang itu dia udah tahu.” Makin sombong. Nggak tahu aja nanti gimana perjuangan ASI itu. Ih.

Dokter muda dan cantik itu lalu kembali memaparkan berbagai fakta dan informasi. Sesekali kita bertanya. Tapi waktu berjalan cepet banget. Tiba-tiba udah 1 jam aja. Padahal Bubun masih pengen banyak nanya.

Bubun udah lupa sih persisnya pemaparan materinya. Yang Bubun ingat hanyalah bahwa dokternya sangat strict. Nggak boleh pake dot. Nggak usah pake pompa (breastpump). Perah pake tangan aja. Terus disuruh balik lagi beberapa hari setelah lahiran untuk melihat pelekatan bayi udah optimal apa belum.

Setelah itu, Bubun dan ibu yang barengan konsul disuruh masuk ke bilik di balik tirai untuk ‘praktek’ menyusui dan memerah ASIP. Sementara para suami disuruh nunggu di luar.

Di dalam ruangan udah ada seorang ibu yang sedang menyusui anaknya dengan lihai. Terus Bubun disuruh buka baju dan diajarin cara ngompres panas dan dingin sebelum dan sesudah menyusui atau memerah. Ngompresnya 7 kali aja dong! Ya ampun! Banyak amat. Selanjutnya diajarin teknik meminjat payudara agar tidak bengkak dan cara memerah menggunakan tangan. Diajarin tapi nggak boleh dipraktekin. Harus pura-pura aja. Soalnya, ternyata, payudara nggak boleh dipijat selama masa kehamilan karena bisa memicu kontraksi. Sampai akhir kehamilan pun nggak boleh dipijat. Nanti aja setelah lahiran. Sebelumnya, Bubun browsing ada informasi bahwa kalau sudah minggu-minggu akhir kehamilan, boleh dipijat. Kalaupun kontraksi, nggak apa-apa karena udah waktunya juga. Ternyata sekarang tidak seperti itu lagi. Pokoknya payudara nggak boleh sama sekali dipijat sebelum lahiran, kata suster-suster yang ngajarin.

Setelah itu, kita dikasih boneka (rada berat, bukan yang ringan supaya mirip bayi) dan diarahin buat posisi pelekatan yang baik. Bubun risih deh. Soalnya kan buka-bukaan di depan 2 ibu lainnya. Mana disuruh ‘menyusui’ lagi. Kan Bubun belum pernah. Pesan dari susternya: Nanti jangan ngebayangin menyusui semudah praktek dengan boneka itu. Nantinya bayi akan gerak-gerak, bisa jadi menolak juga. Hiks.

Setelah selesai, kita dikasih waslap berlogo RS Carolus yang digunain buat ngompres tadi.

Total biaya untuk konsultasi dan praktek ‘menyusui’di RS ini adalah Rp 120.000,-

IMG_0778

3. Hypnobirthing dan Hypnobreastfeeding di RSIA Bunda

Lantai 3 RSIA Bunda, Jl. Teuku Cik Ditiro No.28 Menteng, Jakarta Pusat.
14 – 15 Juli 2012
Oleh Lanny Kuswandi dan Fonda Kuswandi

Manfaat yang dapat diperoleh dengan mengikuti kelas ini, di antaranya:

– Mendapatkan bayi sehat fisik dan mental
– Mempersiapkan melahirkan alami,lancar dan nyaman
– Meningkatkan produksi ASI
– Mencegah postpartum depression

Di dalam kelas ini, diajarkan teknik hypnobirthing untuk mendapatkan persalinan yang menyenangkan dan minim trauma. Selain itu, dibahas juga dasar-dasar tentang ASI dan menyusui. Termasuk cara menghipnosis diri agar ASI ibu cukup untuk bayi. Jadi sejak ikutan kelas ini, tiap malam selain hypnobirthing Bubun juga hypnobreastfeeding dibantu CD panduan dari Ibu Lanny. Afirmasi Ade agar nanti lancar menyusui, tanpa kendala. Juga mengatur pikiran Bubun agar berpikiran positif, yakin bahwa nanti ASI akan cukup untuk Ade, dan segalanya berjalan baik.

Peserta juga diputerin video IMD yang bikin Bubun termehek-mehek lihatnya. Pengen. Dalam hati menguatkan niat bahwa nantinya harus bisa IMD. Apapun metode lahirannya, jika Bubun dan Ade dalam kondisi sehat, kita harus bisa IMD. Insya Allah. Aamiin.

4. Kelas AIMI

Bubun sadar bener bahwa selain informasi dasar seperti pentingnya ASI, tata cara menyusui dan penyimpanan ASIP, perlu juga bagi Bubun untuk tahu lebih jauh mengenai kendala dalam menyusui, dan hal-hal yang dihadapi setelah lahiran nanti. Untuk itu, Bubun pun daftar kelas Post-natal dari AIMI. Tapi jadwal Ayah selalu penuh. Giliran bisa dan Bubun daftar untuk tanggal 15 September 2012, eh udah full pesertanya :'(((( Padahal materinya penting banget lho, seperti:
a. Hari-hari pertama bayi (termasuk sebab-sebab menangis dan bayi kuning)
b. Memahami feses bayi ASI Eksklusif
c. Hak ibu bekerja
d. Persiapan ibu kembali berkegiatan
e. Teknik memerah, menyimpan dan memberikan ASI

Kalau lihat materinya, Bubun ngerasa ini vital banget. Soalnya, sampai usia kandungan masuk 8 bulan, Bubun masih disibukkan dengan mencari info persalinan yang menyenangkan. Sementara, pasca kelahiran yang lebih penting… errr lebih penting nggak ya? Soalnya Bubun juga percaya sih, proses lahiran merupakan fondasi bagi tumbuh kembang bayi baik secara fisik maupun mental. Ya pokoknya info tentang menyusui yang lebih real ini penting banget agar lancar menyusui dan mendukung tercapainya kesuksesan ASIX.

Sayang banget nggak ikutan. Padahal Bubun udah ngerayu Ayah yang udah bosen ikutan kelas-kelas laktasi ini. Karenanya, Bubun sempet nggak Pede. Mau coba googling aja. Mana itu materi tentang kelahiran, basic menyusui dan hal-hal terkait lainnya belum juga Bubun khatam. Hasil printnya sampe berpuluh-puluh halaman bok! Belum tentang kesehatan anak yang dikasih bundle-nya sama Tante Mira. Buanyaak banget. Berapa ratus halaman tuh. Ya, bismilah aja. Walaupun pada akhirnya, nggak kekejar juga buat nyari info tentang hal-hal di atas. Yang mana sempat membuat Bubun kelabakan pada saat hari-hari pertama lahiran. Juggling antara ngurusin Ade, nenangin pikiran, nguatin iman biar tetap tegar dan ngejar ketertinggalan pengetahuan. Ternyata 9 bulan nggak cukup untuk belajar itu semua.

Seandainya saja paket kelas laktasi AIMI itu nggak sesulit itu daftarnya. Biayanya juga relatif mahal. Meskipun nggak semahal kelas hypnobirthing ya… Sebenernya, ada satu kelas laktasi yang bagus banget dan terlambat Bubun ketahui. Kalau tahunya dari trimester awal, mungkin bisa ikutan. Soalnya, pendaftarannya sepertinya lebih perjuangan dari kelas AIMI. Banyak banget peminatnya. Mana jadwalnya juga nggak sesering kelas AIMI. Oh iya, nama kelas itu, KELAS PERSIAPAN KELAHIRAN DAN MENYUSUI atau disingkat KLASI. Materinya lengkap:
Sesi 1: ASI dan seputar kelahiran
– Inisiasi Menyusui Dini
– Keuntungan ASI
– Posisi menyusui (latch on)
– Prinsip dasar
– Persiapan menjelang kelahiran
– Hamil tidak sama dengan Sakit: Suplemen, makanan, mitos-mitos
– Indikasi cesar
– Perawatan bayi baru lahir

Sesi 2:
Masalah-masalah menyusui dan pasca kehamilan
– Memerah ASI
– ASI perah dan penyimpanan
– Mastitis
– Inverted Nipple
– Cracked Nipple
– Nursing Strike
– Self Weaning
– Hal-hal penting dalam check-up bayi sampai dengan 6 bulan
– Jaundice
– Cara memantau pertumbuhan dengan kurva pertumbuhan
– Cara memantau perkembangan dan milestone
– Prinsip Rational Use Of Medicines

Kan? Lengkaaap banget. Dari info hamil, menyusui, lahiran, perawatan dan pengasuhan bayi dari lahir sampai seterusnya.
Nyesel banget nggak ikutan kelas ini. Mungkin kalau dulu sempat ikut, nggak akan segalau kemaren-kemaren waktu Ade kuning, berat badan seret, motorik kasar (kayaknya) lebih lambat dari temen-temen di TPA, dan nggak akan sepusing dulu waktu Ade batuk pilek lama.

Oh iya, Selain ikutan beberapa kelas laktasi itu, Bubun juga nyuruh Ayah nge-follow akun @ID_AyahASI di twitter dan beliin Buku ID_ayahASI yang terkenal itu, biar makin kebuka pikirannya. Sayangnya Ayah nggak pernah baca.

Tapi Alhamdulillah, semua upaya Bubun melibatkan Ayah, nggak sia-sia. Ayah tidak hanya support pada upaya pemberian asupan nutrisi maksimal untuk Ade, tapi… support banget-banget deh. Sampai ngebelain Bubun dan Ade ketika ada upaya-upaya dari pihak tertentu… waktu… ah! ntar aja deh cerita soal itu (sok misterius. Hihi). ^^

Bubun sendiri punya referensi sendiri dalam memperkaya pengetahuan tentang ASI, yaitu:

Webnya @tipsmenyusui
Web-nya AIMI, dan
KellyMom

Sayangnya itu dibaca setelah lahiran. Dengan sistem kebut sebulan. Hasilnya? Suka panik, nggak pede dan terkadang suka ngerasa tak berdaya. Yup! bener kata siapa tuh“Knowledge is a power”
The power to become secure and keep calm no matter how hard the situation is…., if Bubun might add. :’)



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s