Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Seminar “Ayo Bermain Bersama Bayi”

Tanggal 4 Januari 2013, Ade check up ke-5 dengan dr. Tiwi di Bunda Internasional Clinic (BIC) sekaligus pemberian vaksin PCV (pneumococcal vaccine) pertama untuk proteksi terhadap IPD (invasive pneumococcal disease). Di check up sebelumnya, Bubun dan dr. Tiwi sudah sepakat untuk memberikan imunisasi terhadap bakteri pneumokokus ini kepada Ade karena pertimbangan bahwa Ade hari-harinya banyak di TPA. Sehingga lebih rentan dan perlu proteksi lebih. Untuk vaksin Rotavirus, meskipun Bubunnya pengen tapi dr. Tiwi menekankan bahwa itu tidak perlu karena Ade ASIX, yang daya tahan pencernaannya lebih baik.

Menurut tabel imunisasi dari IDAI, PCV ini dianjurkan untuk diberikan pada usia 2 bulan, bersamaan dengan imunisasi DPT. Tapi karena Ade dulu imunisasi DPT pertama diberikan dalam bentuk combo dan tanpa panas (merek Pediacel, meskipun awalnya Bubun pengennya yang infanrix dan simultan aja) bersama dengan HIB dan Polio, dr. Tiwi nggak recommend langsung diberi PCV pada saat yang sama, mengingat vaksin combo ini mengandung banyak sekali virus yang sudah dilumpuhkan. Takutnya terlalu ‘keras’ jika diberikan bersamaan dengan PCV.

Selain imunisasi, Ade juga dicek perkembangan motorik kasarnya. Alhamdulillah tanggal 1 Januari 2013 kemarin, Ade udah bisa negakkin leher kalau dalam posisi tengkurap. Tapi belum bisa miring-miring untuk posisi bolak-balik. Sama dr. Tiwi, Bubun disarankan untuk sering-sering menstimulasi Ade bermain supaya perkembangan motorik kasarnya bagus. dr. Tiwi juga menginfokan adanya kelas parenting bersama beliau tanggal 17 Januari 2013 mengenai bermain bersama bayi. Bubun tertarik banget, soalnya udah kehabisan ide kalau main sama Ade. Itu-ituuu melulu. Emang Bubun kurang kreatif dan inovatif. Sayangnya tanggal segitu jatuh pada hari Kamis. Jadi, Bubun nggak daftar untuk kelas tersebut.

Ndilalah, tanggal 17 Januari 2013 itu, Jakarta kebanjiran. Banjir kali ini sangat serius sampai jalan-jalan utama pun tergenang air tinggi. Bubun memantau dari twitter, dr. Tiwi menunda kelas parenting yang berjudul “Yuk Ajak Bayi Bermain” tersebut. Bubun pun iseng saranin ke beliau untuk diganti ke akhir pekan aja, supaya kita bisa ikutan. Eh, beneran dong. Kelasnya dimundurin jadi tanggal 2 Februari 2013 di Auditorium RSU Bunda Jakarta lantai 8. Jadi, Bubun pun cepat-cepat ngedaftarin nama Ayah dan Bubun untuk kelas tersebut.

Meskipun pagi itu hujan dan agak repot berangkatnya, tapi kita sampai di RSU Bunda (sebrangan sama RSIA Bunda, tempat Ade lahir) hanya berselang 5 menit sejak dimulainya acara. Ketika itu Ibu Rini Hildayani, M.Si (Psikolog) sudah memparkan beberapa informasi.

IMG-20130202-00982

IMG-20130202-00984


Acaranya seru apalagi pas waktu praktek. Mana rame banget lagi! Sampai panitia nambah kursi terus lho. Selain itu Banyak bayi ikutan di kelas. Stroller di mana-mana. Begitupun baby sitters dan para Oma.😀
Ade cukup kooperatif. Beberapa kali tidur selama acara berlangsung. Kalau lagi bangun juga lumayan anteng lho. :*

DSCN6447
Bubun dan Ayah juga sempat nanya ke dr. Tiwi dan Bu Rini tentang perkembangan motorik kasar dan fungsi TPA (Tempat Penitipan Anak) dalam pengasuhan anak yang orang tuanya bekerja. Dari ngobrol-ngobrol tiap konsul ke dr.Tiwi, beliau memang menyatakan support-nya terhadap TPA. Karena menurut beliau, tenaga kerja di TPA umumnya sudah terlatih dalam pengasuhan anak. Ini juga Bubun rasain sih. Ade juga akhirnya bisa pelan-pelan belajar negakkin leher karena diarahin di TPA, selain terus distimulasi oleh Ayah dan Bubun di rumah.

IMG-20130202-00990

Oh iya, beberapa materi yang dipaparkan selama acara adalah:
1. Pada bayi, kegiatan bermain merupakan salah satu bentuk pengasuhan yang alamiah,
2. Bentuk-bentuk bermain bersama bayi adalah:

  • Kegiatan sensorimotor (Kegiatan bermain yang dimulai dengan penemuan yang tidak sengaja dari kegiatan yang menyenangkan, terdiri dari pengulangan yang berkelanjutan dari kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan, dimulai dari hal-hal yang ada di seputar diri dan berlanjut ke hal-hal yang berada di luar diri
  • Bermain dengan objek (Yaitu objek yang dapat menstimulasi indera, objek yang mengandalkan koordinasi mata-tangan, dan objek yang berespon terhadap perilaku anak)
  • Bermain simbolik atau pura-pura (Diri sendiri menjadi fokus, Menggunakan Objek pengganti yang mirip dengan objek sebenarnya dengan cara yang tepat, Berubah dari satu kegiatan ke kegiatan lain yang kurang berhubungan)
  • Bermain Sosial (Ada interaksi dengan orang lain) dan Non Sosial (Bermain sendiri tanpa ditemani)

3. Bermain dapat mengembangkan aspek fisik motorik, aspek mental dan aspek sosial-emosional yang berupa attachment. Attachment adalah ikatan emosional yang bertahan, ditandai oleh kecenderungan untuk mencari dan memelihara kedekatan dengan orang tertentu, khususnya saat berada dalam situasi tertekan
4. Kualitas attachment terdiri dari:

  • Insecure-resistance (biasanya timbul dari perilaku orang tua yang karena takut anaknya nggak mau pisah, ketika akan berangkat kerja, meninggalkan anak sembunyi-sembunyi tanpa pamit),
  • Secure (Attachment yang paling baik. Orang tua bisa meninggalkan anaknya dengan terlebih dahulu berpamitan dan anak teryakinkan bahwa nanti akan segera bertemu lagi dengan orang tua setelah mereka pulang dari bekerja),
  • Insecure-avoidance (muncul setelah anak terus-terusan diberi pengalih dari rasa takut ditinggalkan, misalnya dengan diberi tontonan televisi selama ditinggal)

5. Cara mengembangkan attachment melalui kegiatan bermain bersama bayi, di mana orang tua terlibat sepenuhnya dalam kegiatan bermain, tidak hanya menyediakan objek untuk kegiatan bermain tetapi juga terikat dalam kegiatan bermain. Bahkan orang tua sebaiknya menjadi objek bermain bagi anaknya yang masih bayi. Bayi sebenarnya lebih suka dengan objek bermain yang ‘hidup’ yaitu manusia yang berinteraksi dengannya ketimbang mainan berupa benda-benda.

Contoh kegiatan bermain, di antaranya:
1. Kegiatan bermain di mana orang tua membuat batasan-batasan untuk menjamin keamanan dan keselamatan bayi serta membantu bayi memahami lingkungannya, yaitu:

  • Bean Bag –> Duduk di hadapan bayi, perlihatkan boneka kecil (atau objek apapun yang lembut) di depan bayi, sampai ia fokus pada boneka tersebut. Pelan-pelan letakkan boneka tersebut di atas kepala kita, lalu jatuhkan dan buat ekspresi terkeju dan tersenyum/tertawa.
  • Menggambar tangan atau kaki bayi –> Game ini bisa dilakukan jika bayi sudah lepas dari refleks mengenggamnya. Letakkan tangan bayi atau kaki di atas selembar kertas, ambil alat tulis, buatlah garis mengikuti lekuk jari-jari tangan atau kakinya sambil bercerita.

2. Dalam kegiatan bermain, orang tua menciptakan tantangan untuk bayi agar bayi mampu maju selangkah ke depan, menguasai pengalaman yang menegangkan, meningkatkan perasaan kompeten, misalnya lomba merangkak bersama Ayah/Ibu.
3. Dalam kegiatan bermain, orang tua terlibat dalam interaksi yangmenyenangkan, yang mengarah pada adanya keterikatan, yaitu:

  • Bermain ci luk ba
  • Bermain gelembung pipi –> Gelembungkan pipi, buat ekspresi lucu, lalu tekan telapak tangan ke pipi untuk ‘meletuskan’ gelembung itu —-> yang ini sih udah sering Bubun praktekin ke Ade seperti halnya ci luk ba
  • Bermain beep and honk –> Tekan hidung (orang tua atau anak) lalu buat bunyi ‘beep’, kemudian tekan dagu dan buat bunyi ‘honk’. Ulangi secara bergantian

4. Kegiatan bermain meliputi berbagai kegiatan pengasuhan seperti menyuapi anak, menimang, menenangkan, dan memeluk bayi kapanpun bayi membutuhkan. Orang tua juga menyediakan kontak fisik untuk bayi, seperti membelai dan mengusap bayi, yaitu:

  • Memberi lotion,
  • Menyuapi
  • Bernyanyi
  • Mengecek ada luka/gigitan nyamuk

Setelah acara berakhir, Ayah dan Ade foto dulu bersama Bu Rini, dr. Tiwi dan beberapa peserta lain. Bubun juga sih. Tapi kita gantian. Biar bisa foto pake HP. Hehe.

IMG-20130202-00991


2 Comments on “Seminar “Ayo Bermain Bersama Bayi””

  1. […] berbagai sumber bacaan, juga sewaktu ikutan seminar Parenting bersama dr. Tiwi dulu, Ayah dan Bubun belajar bahwa selepas masa newborn, bayi mula-mula akan […]

  2. […] selesai dibangun tepat di seberang RSIA Bunda Menteng. Sekali waktu Ayah, Bubun, dan Bumi ikut seminar parenting bersama dr. Tiwi di RSU tersebut. Bubun lihat, RS tersebut jauh lebih modern dan terawat ketimbang RSIA. Bubun […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s