Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Tentang Nama dan Akte Kelahiran

Seperti yang Bubun ceritain di sini, perkara memberi nama untuk Ade Bumbum adalah suatu kesukaran yang tak kunjung menemui jalan keluar. Bahkan sampai di hari kelahiran Ade tanggal 21 September 2012 lalu.

Bubun pernah mendengar ada komentar “Apa sih susahnya ngasih nama anak? Udah dikasih waktu 9 bulan kok nggak bisa juga?”

Please, kandidat nama Ade itu udah ada sejak tahun 2006. Beberapa bulan sebelum Bubun hamil, Ayah dan Bubun udah sepakat bahwa jika anak pertama Ayah dan Bubun adalah laki-laki, ia akan dipanggil ‘BUMI.’ Lalu last name akan menggunakan nama Ayah, yaitu: ALWI. Last name ini penting banget karena harapannya Ade nanti jadi warga internasional. Sedangkan di banyak negara, last name itu keharusan untuk dokumen dan administrasi. Adik (atau adik-adik??) Bumi nantinya juga akan punya last name yang sama.

Cuma, Bubun dan Ayah nggak pernah sepakat soal kombinasi nama Ade. Soalnya nih ya, sebagai pecinta sastra (tsah!) Bubun udah bercita-cita ngasih nama yang puitis-puitis gitu. Sementara Ayah lebih pengen yang terdengar gagah, perkasa atau seenggaknya punya makna ‘satria’ atau ‘berani’ gitu. Kalau buat Bubun, nggak masalah kalau nama anak itu nggak punya makna harfiah macem-macem. Makanya, seneng banget dengan nama orang-orang suku indian yang berbau alam. Selama hamil, Bubun udah bikin puluhan kombinasi nama, untuk mengakomodasi keinginan Bubun dan Ayah. Tapi nggak ada satupun yang sreq buat Ayah.

Keluar dari RS Bunda, kita pun akhirnya cuma mengantungi Surat Keterangan Kelahiran ini:

Surat Keterangan Lahir Bumbum

Coba perhatikan tulisan di bagian bawah –> “Dengan catatan: Nama diberikan kemudian.” —> Nama di bagian atas masih dikosongkan ketika itu. Belakangan setelah Akte Kelahiran udah ada, bagian yang kosong itu diketik dengan nama Ade.

Di situ nggak tercantum kan batasan ‘Kemudian’ itu? Agak sedikit lega sih Ayah dan Bubun karenanya. Tapi… kok hari berganti hari, berganti minggu, berganti bulan.. NAMA ADE BELUM ADA JUGA! Bubun kepikiran banget. Desperate deh.

Kata Ayah sih santai aja, nggak ada batas waktu untuk ngasih nama. Tapi Bubun punya feeling lain. Jadilah, Bubun browsing dan nemu informasi bahwa bayi yang udah berusia 60 dan baru akan dibuatkan Akte Kelahiran, harus diproses di pengadilan serta kena denda keterlambatan pembuatan Akte. Mamaaaakk..! Nggak mau lah Ade masuk pengadilan. Yaah, bukan Ade sih, tapi Ayah dan Bubun. Tapi kok kesannya egois banget ya Ayah dan Bubun. Lama ngurusin Akte-nya Ade demi kepuasan batin semata.

Akhirnya, setelah diskusi mendalam beberapa kali, Bubun menyerah dan memasukkan nama yang sangat difavoritin Ayah, (tapi Bubun kurang suka) ke dalam rangkaian nama Ade, yaitu: TRISTAN. Tapi, teteup ya… cuma buat middle name aja. Soalnya kalau ditaruhnya di depan, di kemudian hari Ade pasti banyakannya dipanggin ‘Pak Tristan’. Lalu, salah satu nama favorit Bubun, yaitu ‘SAGARA‘ akhirnya digabung dengan ‘BUMI‘ yang sudah disepakati bersama. Jadilah nama Ade Bumbum adalah:

akte kelahiran bumbum

Akhirnya, dalam kurun waktu  2 bulan kurang 2 hari setelah hari lahir, Akte Kelahiran Ade pun diurus. Alhamdulillah… nyaris aja masuk pengadilan dan membayar biaya tambahan sebesar Rp 2 Juta. -____-   Oh iya, pengurusan Akte Kelahiran Ade ditangani oleh RSIA Bunda Menteng tempat Ade lahir. Ayah dan Bubun cuma membayar fee jasa aja. Kalau nggak salah sebesar Rp 300.000,- apa ya?

Tadinya, mau nambahin satu kata lagi untuk nama Ade, ngambil dari daftar kombinasi nama favorit Bubun, tapi….

JINGGA

Bubun: “Ade kan lahirnya jam 17.35, Yah.. yang mana ketika itu, hari berwarna jingga.”
Ayah: “NGGAK MAU! Ntar kalau gede, Ade dipanggil ‘Jing.. Jing.’ Kalau kuliahnya di Bandung gimana?”

Kemudian teringat masa-masa kuliah di Bandung dulu… dan menemukan bahwa ‘Jing!’ merupakan kependekan dari nama salah satu hewan, namun anehnya juga merupakan panggilan akrab bagi temen deket dalam beberapa komunitas anak muda di sana. -___-

SENJA

Bubun: “Ya udah, kalau gitu tambahin ‘Senja’ aja ya? Kan lahirnya di waktu senja alias sore”
Ayah: “APAAN! Kesannya tua banget!”
Bubun: “HA? Maksudnya?”
Ayah: “Iya! Usia Senja, sayang! Usia Senja!! Kayak udah mau tutup usia..”
Bubun: “Ihh!!! Ayah jangan gituuu”

MATAHATI

Ayah: “Ih! Aneeeh!”

SEMESTA

Ayah: “Kaaan udah ada BUMI. BUMI atau SEMESTA maunya??”

Ya sudah deh.
BTA aja kalau gitu. BUMISAGARA TRISTAN ALWI it is.
Lagian kalau 4 suku kata, bingung yang mana middle name-nya. Terus kata Ayah, kasian kalau ujian, bulet-buletin hurufnya lama. –> Padahal kan bisa disingkat pake huruf depan, ya. Misal: Bumisagara T.S(emesta) Alwi atau Bumisagara TSA.

Eh, tapi.. Bubun juga menghindari huruf ‘E’ dalam nama Ade sih. Soalnya buat orang-orang dari suku atau negara tertentu, huruf E suka salah dilafalkan. Yang E taling dibaca E pepet, dan sebaliknya. Sama halnya deNgan Bubum menghindari pengunaan huruf konsonan yang berderet 3, seperti ‘CHY’. Soalnya kebayang nih ya.. kalau harus spelling nama atau email ke orang lain, misalnya Chitra. Bisa sering-sering salah tuh.
“Citra pake ‘H’ ya..”
“Oh, CitraH ya..”
Untung nama Bubun biasa. Jadi menghemat waktu dalam urusan kerjaan ataupun administrasi.

Kalau Ayah sih, nggak mau ada huruf vokal bederet lebih dari dua. Misalnya: Alwiee. Kata Ayah sih, kesannya alay banget.

Yah, begitulah sedikit kisah tentang nama Ade Bumbum. Kalau Bumi punya adik perempuan nantinya, Ayah dan Bubun sih nggak pake repot. Soalnya udah fixed sejak tahun 2006. Hehe.

Oh iya… sesuai dengan kebiasaan, nama bayi kan mesti punya arti. Karena katanya nama itu adalah doa (padahal ada juga orang-orang di kehidupan sehari-hari yang Bubun temui memiliki sifat yang beda dengan arti namanya😀 ). Buat Ayah sih, nama Ade mempunyai makna:

Bumi:

1. Kesempurnaan (Dari semua planet yang saat ini sudah ditemukan, hanya planet Bumi yang paling ‘sempurna’.  Tuhan butuh waktu 7 hari untuk menciptakan Bumi, sementara benda langit lain hanya diciptakan sekejap –> Ini kata Ayah ya…)
2. Memberi kehidupan bagi umat manusia (Permukaan bumi menyediakan makanan yang melimpah buat hidup. Sementara perut bumi menyediakan energi juga buat menopang kehidupan)
3. Dinamis (Karena planet Bumi terus berubah alias berevolusi sepanjang zaman)
4. Makhluk hidup (Lempeng kerak Bumi bergerak beberapa cm per tahun. Gerak = makhluk hidup?)
5 Membumi = Rendah hati

Selain makna tersebut di atas, alasan Ayah memilih nama ‘Bumi’ adalah karena Ayah adalah seorang Geophysicist. Berdasarkan informasi dari sini,

“A geophysicist is someone who studies the Earth using gravity, magnetic, electrical, and seismic methods…”

Jadi, kurang lebih… Geophysicist adalah seseorang yang membelajari Bumi dengan menggunakan berbagai metode. Kalau Bubun lihat sekilas dari judul skripsi, thesis dan dokumen-dokumen kerjaan Ayah, kayaknya dia lebih banyak pake metode seismic deh —> Bener nggak Ayah?

Dulu, Ayah kuliah S-1 nya jurusan Fisika Bumi. Sedangkan S-2 nya Jurusan Geofisika Reservoir. Jadi, kayaknya cukup wajarlah ya kalau Ayah udah sreq memberi nama ‘Bumi’ untuk Ade.

Kalau buat Bubun nggak ada arti khusus buat nama Ade. Emang suka dan pengen aja ngasih nama itu. Tapi kalau ditanyain orang-orang tentang arti nama, Bubun biasanya cuma jawab bahwa arti nama Bumi lebih ke makna filosofis aja. Bubun berharap nantinya Ade bisa membumi, alias down to earth, sehebat apapun Ade nantinya. Aamiin.

Sedangkan Sagara itu artinya samudra atau lautan. Harapan Bubun, Ade berhati lapang dan berpikiran luas, seluas samudra yang ada di muka Bumi.

Pertama kali tertarik dengan nama Tristan, setelah Ayah membaca tentang Tristan Alif Naufal. Siapa dia? Bisa dilihat di sini. Ayah kan seneng sama sepak bola tuh. Jadi ya, no wonder lah ya…? Makin suka dengan nama itu setelah tahu bahwa Tristan itu merupakan nama salah seorang ksatria dalam legenda Celtic yang dikenal dengan istilah Knights of the Round Table (sayangnya kemudian memiliki kisah cinta tragis bersama Isolde… but it’s another story). Selain itu, dalam bahasa Wales (Bedanya sama bahasa inggris apa ya? Bukannya Wales itu adanya di UK?) berarti “Gagah Berani”.

Sejak semula kan Ayah pengen anak laki-lakinya punya karakter kuat, gagah perkasa, ksatria, dll seperti yang Bubun ceritain di atas. Jadi makin pengenlah Ayah, namanya Ade ada ‘Tristan’-nya.

Kalau Alwi, kata Ayah sih artinya “Pembela.” Nggak tahu deh, dapat info itu dari mana. Hihi. Nyari di situs pencari nama arti bayi www.melindahospital.com kok nggak nemu yaa?😀

So, dengan ini tuntaslah sudah beban dan kewajiban Ayah dan Bubun memberi nama Ade (kecuali tiba-tiba Ayah dan Bubun labil mau ganti nama Ade, yang mana… Jangan sampe yaa! Udah bagus ini nama Ade…) Selanjutnya adalah Aqiqahan Bumbum! Tunggu cerita berikutnya ya.🙂


One Comment on “Tentang Nama dan Akte Kelahiran”

  1. […] akan terlibat dalam ‘perseteruan’ dalam memutuskan nama Adik nantinya, seperti yang dulu terjadi pada nama Bumi? Ih… mikirinnya aja udah mual. Kasian kan, kalau untuk dapat sertifikat […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s