Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Kisah Kelahiran Bumi (Part 2)

Lanjutan cerita ini

20 November 2012

Oh iya, lupa cerita sebelumnya. Begitu nyampe di RSIA Bunda, Bubun langsung diminta masuk ruang persalinan kala I. Di situ, Bubun di-CTG dan dicek dalam (lagi!) sama Bu (sebenernya lebih cocok disebut ‘mbak’ karena masih muda) Bidan yang cantik. Kondisi jantung Ade udah normal lagi, syukurlah. Sebelum cek dalam, udah deg-degan karena pengalaman semalam dicek dalam (VT) sama dr. Rizka, sakitnya kebangetan. Eh, ternyata jauh lebih nyaman lho. Meskipun nyeri juga ya. Hasil cek dalam, bukaan belum bertambah dan posisi Ade masih agak ‘di belakang’ (nggak ngerti ini maksudnya apa). Mumpung Ayah lagi ngurus administrasi kamar, Bubun curhat sama Bu Bidan kalau Bubun pengen pulang aja dan nunggu di rumah. Tak dinyana, Bu Bidanya juga nyaranin Bubun untuk pulang biar nggak stress di RS. Apalagi waktu Bubun bilang kalau usia kandungan Bubun belum nyampe 40 hari dan seperti cerita temen-temen Bubun yang lahiran anak pertama, proses bukaan menuju bukaan aktif cenderung lama sampai berhari-hari bahkan Bubun pernah baca ada yang bukaan 1 – 3 makan waktu 1 minggu sendiri. Bu ikut Bidan membenarkan dan menjelaskan bahwa sesuai pengalamannya memang proses bukaan untuk kelahiran anak pertama, memakan waktu cukup lama.

Tapi, tentu saja Ayah yang masuk ke ruang kala I setelah pemeriksaan, langsung menolak mentah-mentah bujukan Bubun untuk pulang berdasarkan info dari Bu Bidan. Apalagi dr. Rizka sudah bertitah ke para suster bahwa Bubun harus stay di RS hari itu dan dokter di kantor Ayah juga merekomendasikan hal yang sama. Menurut Ayah, seberapa lama pun Bubun di RS, kantor Ayah akan meng-cover selama kita manut pada rekomendasi dokter kantor. Jadi nggak usah mikirin biaya. Lah, padahal mah Bubun nggak mikirin biaya ya bok. Tapi mikirin intervensi medis yang akan terus datang…

Selama beberapa jam di situ, Bubun disuguhi sarapan pagi. Kalau nggak salah inget nasi goreng apa ya? Bubun nggak makan karena udah sarapan pancake di MCD. Jadi, sarapannya dimakan Ayah. Hehe. Setelah periksa-periksa, Bubun ngobrol sama Ayah sambil nungguin urusan administrasi kelar. Lama-lama jadi kurang begitu nyaman. Soalnya di bilik sebelah Bubun (yang berbataskan tirai) ada ibu-ibu mau lahiran ditemani suaminya. Mereka ngobrol pelan-pelan. Beda sama Ayah dan Bubun yang heboh, ngobrol nggak sadar pake volume tinggi seperti kebiasaan di rumah (maklum sama-sama orang Sulawesi. hihi) Tapi kadang-kadang si Ibu nangis terisak-isak, dengan suara kecil ditahan. Bukannya ganggu ya. Sama sekali enggak. Soalnya si Ibu itu kayaknya berusaha banget nahan suaranya biar nggak kedengeran Bubun. Cuma, Bubun nggak tega dengernya. Kasihan. Dan ada sedikit rasa takut juga. Dikiitt kok. Karena Bubun udah percaya diri hypnobirthing-nya bakalan sukses. Benarkah? Tunggu sampai kelar ceritanya di part berikutnya ya.. (sok misterius)😀

Buru-buru, Bubun ngajak Ayah cepet masuk kamar biar keluar dari ruang persalinan. Seperti yang Bubun ceritain sebelumnya, Bubun nginapnya di Kamar Perdana, nomor 304. Lantai 3, selantai dengan ruang bayi. Harusnya sih, jatah dari kantor Ayah, dapatnya Kelas I. Tapi karena lagi penuh semua, Bubun di-upgrade ke kelas Perdana. Tadinya malah hampir naik ke kelas CDC karena kelas Perdana penuh juga. Tapi tiba-tiba, pas lagi ngurus-ngurus administrasi, ada satu kamar Perdana yang kosong. Jadinya, Bubun di situ deh. Padahal ya, Ayah udah kegirangan. Sempet inspeksi kamar CDC dan CDC Eksklusif lho. Hihi.

Nih foto-foto kamar CDC (bukan yang eksklusif):

Menteng-20120920-00364Ruang tamu (ayah motretnya agak kurang bagus, jadinya burem gitu)

Menteng-20120920-00361Ruang tamu lebih dekat (dan lebih burem lagi gambarnya ^^)

Menteng-20120920-00362Tempat tidur ibu (pasien)

Menteng-20120920-00363Masih Tempat tidur ibu (pasien)

Menteng-20120920-00365Tempat tidur keluarga/yang jagain pasien

Dari ruang persalinan ke kamar di lantai 3, Bubun dan Ayah naik tangga. Bubun sengaja biar bukaannya makin lancar. Begitu sampai di lantai 3, suster-suster pada ngomong ‘Wah, masih gagah berani nih Ibunya.”

Ya, wong nggak berasa apa-apa kok. Hehe.

Begitu masuk kamar, unpacking barang-barang terus lanjut baca-baca materi persalinan gentlebirth dan teknik-teknik persiapan persalinan yang udah diprint sama Ayah. Lanjut nyuruh Ayah mraktekin pijat endorphin yang dipelajari di kelas Bu Lanny dulu. Sembari itu, alunan audio hypnobirthing diputer Ayah melalui tablet. Btw, selama 4 (apa 5?) hari itu, suara Bu Lanny nggak pernah berhenti berputar di kamar. Nggak lupa, ingetin Ayah buat ngubungin Lalisa, fotografer cewek yang bakal motoin proses kelahiran Ade nanti. Ngasih info kalau dalam waktu 1-2 hari ini kemungkinan Ade bakal nongol di dunia dan supaya dia stand by di rumahnya yang selemparan batu dari RSIA Bunda Menteng dan cuma ngesot ke taman situlembang itu.

Menteng-20120920-00357

Menteng-20120920-00360

Menjelang tengah hari, datanglah makan siang buat Bubun. Menunya lumayan. Tapi bagi Bubun masih kalah dari RSPP tempat Ayah dan Bubun suka dirawat kalau lagi sakit. Eh, ada sayur daun katuknya lho. Mudah-mudahan nanti lancar jaya ya ASI buat Ade.

photo

photo(1)

Habis makan, Bubun ngerayu Ayah untuk pulang dulu ke rumah. Karena belum selesai beres-beres. Crib-nya Ade juga belum dipasangin seprei. Ada juga perlengkapan Ade yang belum dicuci. Kalau nggak salah inget selimut atau apa gitu… Waktu suster masuk ke kamar untuk lihat kondisi Bubun, kita sempet nanya boleh nggak jalan-jalan di luar RS. Ke Taman Situlembang yang cuma beberapa ratus meter dari RS. Dijawabnya “Kalau bisa, di sekitar RS aja Bu. Soalnya, dengan masuk ke RS dan menjadi pasien, Ibu udah jadi tanggung jawab kita.” Bubun pun melirik gelang RS berwarna pink di pergelangan tangan Bubun.

Setelah susternya keluar, Ayah merancang skenario ‘kabur’ sementara dari RS. Kalau urusan sembunyi-sembunyi gini, Bubun paling susah. Orangnya takutan soalnya. Sementara Ayah tuh berani ambil risiko dan pemberani. Bener-bener deh, golongan darah emang nggak bohong. Ngomong-ngomong, Ade nanti golongan darahnya ngikutin Ayah atau Bubun ya? Seperti yang udah Bubun afirmasiin selama ini, pengennya sih Ade sama golongan darahnya dengan Bubun jadi menekan risiko untuk jaundice. Tapi Bubun lebih pengen lagi nantinya Ade nggak parnoan dan cenderung takut ambil risiko seperti Bubun selama ini. Hehe.

Berbekal kata-kata penguatan dari Ayah yang cuek, Bubun pun manut diajak keluar. Jalan melewati meja tempat jaga suster, Bubun agak gelisah. Soalnya nggak biasa melanggar aturan. Sementara Ayah santai. Bubun sampai ngomong “Bentar ya suster, jalan-jalan ke bawah dulu. Biar lancar bukaan.” ke suster yang ada di situ. Padahal nggak ada yang nanya coba -____-

Begitu sampai di bawah, Bubun nyembunyiin pergelangan tangan. Takut ada yang lihat. Terus kita dicegat nggak boleh keluar😀 Ayah senyum-senyum geli. “Kenapa sih takutan gitu? Emang kita narapidana yang mau kabur dari penjara?” Nyampe parkiran, Bubun berjalan cepat menuju mobil dan hampir melompat masuk ke dalamnya. Deg-degan! ^^ Baru setelah keluar lingkungan RS, baru bisa napas lega. Fiuh! Sakseis kaburnya! Horee.

Rencananya nanti mau ke taman situlembang. Tapi sebelumnya mau ke rumah dulu. Beres-beres maksimal. Secara ya, berangkat tadi pagi seadanya banget. Nyampe rumah, Bubun pun nyuci perlengkapan (Pake tangan ya dan jongkok di kamar mandi. Dengan perut buncit. Sedaaap!) yang belum kecuci sebelumnya. Jemur-jemur. Terus masangin seprei di crib Ade.

Flek yang udah berubah menjadi darah segar pun udah makin banyak dan makin berwarna cerah.^^

Kelar beres-beres dan berbenah rumah, sempet tidur-tiduran dulu.

Habis itu, Bubun pengen nyalon dulu. Biar cantik pas lahiran. Tapi, tiba-tiba Ayah ngusulin “Gimana kalau kita NONTON DI BIOSKOP? Nggak tahu kan kapan lagi bisa ke bioskop.” Bubun jadi tergugah. Bener juga ya.. Browsing deh film apa aja yang lagi tayang di TIM atau Metropole. Dua-duanya deket dari rumah dan RSIA Bunda. Diputusin untuk nonton “Test Pack” aja di XXI Metropole. Film tentang perjuangan seorang istri untuk mendapatkan bayi. Bubun merasa bisa relate dengan filmnya karena dulu 10 bulan (yaelah.. bentar banget dibandingkan perjuangan hebat para calon orang tua lain yang menanti buah hati) nungguin Ade datang. Well, nggak 10 bulan sih nunggunya. Karena 3 – 5 bulan pertama menikah emang sengaja mau nunda kelahiran Ade dengan beberapa alasan. Tetap aja, waktu itu rasanya cukup nelangsa.

Sebelum masuk ke studio, Bubun ketemu dengan teman sekantor, Om Jerry dan istrinya yang lagi hamil 6 atau 7 bulan gitu.. Waktu Bubun nunjukin gelang RS di tangan Bubun, mereka cuma cengari-cengir geleng-geleng kepala. Hihi. Eh, baru aja duduk di studio dan di layar nongol muncul credit title. Eehh… ditelpon dong kita sama RSIA Bunda!! Doeenggg. Bubun langsung panik. Kayak orang yang ketauan nyuri. Nyuruh Ayah yang nerima telponnya di luar. Ternyata suster nyariin kita karena dr. Rizka mau visit ke kamar. Ayah sih iya-iyain aja. Tapi bilang ke Bubun supaya santai aja dan lanjutin nonton. “Udah, ntar Ayah yang tanggung jawab.” Padahal Bubun ngerasa nggak enak banget kabur gitu.

Nonton filmnya, Bubun mewek-mewek. Padahal udah baca novelnya waktu jaman kuliah sekitar 6 – 7 tahun lalu. Duh, untung rilis filmnya Bubun udah mau lahiran ya. Kebayang kalau nontonnya tahun lalu. Bisa desperado balado. Sementara Ayah cuma tertarik liat rumah lokasi syuting film yang bergaya modern daaann.. pemeran tokoh Shinta, yaitu Renata Kusmanto yang udah digilai Ayah sejak beberapa tahun lalu.

Kelar film, usap-usap mata narik ingus. Melesatlah kita ke RSIA Bunda. Bubun yang takut ketemu suster (karenaaa?? karena nggak enak hati), bilang sama Ayah supaya kita masuknya dari tangga yang sebelah dalam. Jadi, nggak perlu ngelewatin meja jaga. Eh, diketawain dong. Ya sudah. Pura-pura Nyoba cuek, Bubun pun melenggang ngelewatin para suster. Sok-sok nggak ada dosa. Kali ini, nggak pake acara tegur sapa. Menghela napas begitu sampai kamar dan nyuruh Ayah cek ke suster, dr. Rizka udah pulang atau gimana. Eh, ternyata bener. Dokternya udah pulang. Cuma nitip pesan ke suster tolong bilangin ke Bubun dan Ayah bahwa beliau udah mampir ke kamar tapi kita nggak ada. Langsung merasa BERSALAH.

Santai-santai terus baca-baca lagi info-info persalinan sambil relaksasi. Sementara Ayah ngerjain thesis (apa browsing livescore.com??). Terus, Bubun nyadar sesuatu: harusnya kan ada snack sore. Mana ya? Hihi. Begitu makan malam diantar menjelang magrib, Bubun nanya dan dijawab oleh ibu yang nganter: “Ada bu snack-nya. Tapi tadi waktu dianterin ibunya nggak ada. Katanya lagi keluar jalan-jalan ya?” JLEB! malu dong dan juga was-was. Jangan-jangan cuma Bubun ada pasien yang pernah kabur selama ini.

Abis makan malam, Bubun nulis postingan yang satu itu. Terus suster datang dan bilang “Ibu istirahat ya. Kan udah jalan-jalan (nggak enak banget nih dengernya, padahal suster ngomong biasa aja lho. Hihi). Harus siapin tenaga, besok siapa tahu udah lahiran.” Okesip suster. Terus Bubun bilang ke suster supaya nggak usah cek dalam dalam beberapa waktu ke depan, sampai Bubun sendiri yang minta. Soalnya ini nggak mungkin mau lahiran dalam waktu dekat. Orang belum berasa apa-apa. Cuma flek yang tadi subuh datang, sekarang udah jadi darah segar. Itu apa karena hypnobirthing. Entahlah. Yang jelas Bubun seneng, bukaan 2 ‘cuma’ begitu aja rasanya. Yaa… ada ‘pepatah’ yang bilang “Don’t jinx it by talking about it.” Mungkin memang senengnya terlalu dini. Karena oh karena… well, tunggu aja besok ya. Sementara itu, tanggal 20 september 2012 pun terlewatkan dengan penuh kedamaian. Bubun dan Ayah nonton TV puas-puas dan tidur dengan nyenyak.

Esoknya… (to be continued)


5 Comments on “Kisah Kelahiran Bumi (Part 2)”

  1. capcaibakar says:

    hihi… waktu anak pertama, aku dapat flek subuh.. lahirannya subuh esok hari. Beda-beda sih ya.. kata orang cepat.. kata yang ngejalaninnya enggak. hahaha.. asa ga kelar-kelar.

  2. […] yang sudah pernah Bubun ceritain sebelumnya, Bumi lahir hari jumat tanggal 21 September 2012 pukul 17.35 WIB. Setelah melalui proses persalinan […]

  3. […] nutrisi sebanyak-banyaknya ke dalam tubuh Bumi. Hari itu pun, Bubun banyakan refleksi 2 tahun menjadi seorang Ibu. Juga bersedih hati karena target Bumi 10 kg di usia 24 bulan, nggak tercapai. […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s