Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Bumi Masuk ‘Sekolah’

Ada pertanyaan besar yang mengganggu Bubun selama mengandung Bumbum dan sesudah persalinan: siapa yang akan mengasuh Bumbum selama Bubun kerja?

ada 3 opsi yang dimiliki ibu bekerja pada umumnya, atas pertanyaan yang sama.

    1. Nenek/Kakek atau anggota keluarga lain
    2. Asisten Rumah Tangga
    3. Baby Sitter
    4. Day Care/TPA

Opsi pertama, jelas bukan milik Bubun. Seluruh keluarga besar Ayah dan Bubun adanya di Sulawesi. Di Jakarta nggak ada siapa-siapa. Di Bandung sih, ada tante Nita dan Om Idu yang lagi kuliah. Tapi kan nggak mungkin mereka ngasuh Bumbum. Kalo lagi weekend atau liburan suka ke Jakarta. Sesekali sempat lah buat maen sama Bumbum bentar.

Opsi kedua, bisa saja. Tapi menurut pandangan Ayah dan Bubun, risikonya lebih besar ketimbang manfaatnya. Di rumah sih, ada ART pulang pergi yang beres-beres paling sekitar 4 jam dalam sehari. Tapi Ayah dan apalagi Bubun, nggak tega hati melepas Ade cuma berdua sama ART, tanpa ada pengawasan sama sekali. Dan lagi, Bubun percaya, sejak dini anak sudah menyerap apa yang didengar dan dilihatnya. Jujur saja, Bubun nggak sreq kalau Ade diasuh sama ART yang cara dan pilihan kata bertutur sehari-harinya, menurut Bubun ya, kurang baik untuk anak-anak. Bisa sih, diakasih tahu. Tapi untuk hal-hal keseharian saja, ART tsb masih sering lupa ini dan itunya. Gimana untuk ngubah kebiasaan dalam hal perilaku tanpa ada pengawasan? Ya ini terkait juga dengan pendidikan dan pergaulan sehari-hari yang sudah berpuluh-puluh tahun tertanam dalam diri ART tsb. Ya sudah, ART ngurus masak dan berbenah rumah saja.

Bagi Bubun, opsi kedua mirip-mirip dengan opsi ketiga. Bedanya, Baby Sitter (BS) idealnya lebih terlatih mengasuh anak. Gajinya saja beda, lebih tinggi plus banyak tunjangan-tunjangan. Tapi, terlalu banyak cerita mengerikan tentang BS di luar sana. Padahal dalam kasus-kasus itu, BS bahkan nggak tinggal berdua doang dengan si anak di rumah lho. Ada anggota keluarga yang stand by di situ, ngeliatin. Bubun nggak mau ambil risiko Ade ngalamin hal yang sama atau bahkan lebih parah. Ya Allah.. Bubun nggak sanggup nak..😦

Jadi, tersisa lah opsi terakhir.
Alhamdulillah, di Jakarta ada banyak day care berkualitas. Problem Solved dong?

Enggak.

Soalnya, lokasinya jauh dari rumah/kantor. Daann.. umumnya ada di wilayah macet tingkat tinggi, seperti sudirman, kuningan, SCBD, gatot subroto…
Yang jakarta pusat jarang. Ada sih, tapi… nggak nerima anak usia 2 bulan/3 bulan.

Syukurlah, di kantor Bubun ada Tempat Penitipan Anak (TPA) untuk para pegawai. Lokasinya ada di gedung seberang. Masih dalam lingkungan kantor yang super luas di daerah lapangan banteng. Tapi, daftar tunggunya puanjaaanggggg! Begitu Bubun hamil 3 bulan, Bubun udah daftarin nama Ade. Tapi ketika itu, Ade masuk waiting list nomor 41!!!! Tadinya, nomor 37. Tapi karena Bubun belum sempat ke gedungnya langsung 2 hari sebelumnya karena lagi sibuk banget sama kerjaan waktu itu, baru by phone aja konfirmasi… akhirnya dapat nomor segitu deh.😥

Deg-degan banget nunggu naiknya nama Bumbum dalam daftar itu. Seperti saran Bu Susan, yang ngelola TPA, Bubun rajin-rajin nelpon untuk nanyain kelas kosong di bulan november/desember 2012. Nggak terhitung deh, jumlah SMS Bubun ke Bu Susan. Malah, Bubun sempat ngajak Ayah ke TPA tsb untuk memohon-mohon ke Bu Susan supaya Bumbum bisa masuk. Hihi. Berkat kegigihan Ayah dan Bubun meminta, akhirnya Bu Susan berjanji ngabarin secepatnya begitu ada tempat kosong. Kalaupun belum bisa, Ade dipastikan bisa masuk Bulan Maret. Hiks!

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, nggak ada kepastian. Akhirnya Bubun pasrah, menyerahkan semunya kepada Allah SWT. Kalau jodoh nggak ke mana. Selama itu, Bubun pun nyari-nyari day care lain. Setelah memantau beberapa review di internet, Bubun tertarik sama salah satu day care di Jl. Gatot Subroto. Udah nanya-nanya ke pengelolanya beberapa kali. Bahkan sempet berkunjung ke sana juga dalam rangka ikut seminar tentang laktasi. Bubun sreq dengan day care ini. Meskipun tempatnya nggak begitu luas. Sama seperti TPA di kantor Bubun, nuansa day care ini agak islami. Menurut Bubun lho ya. Ibu pengelolanya sepertinya saleha, ramah, dan berhati lembut. Secara lokasi, sebenarnya day care ini nggak terlalu jauh dari kantor Ayah di Kuningan. Tapi muacetttnya itu lho.. polll! mana masuk wilayah 3 in 1 lagi. Lagian nggak kebayang Ayah dan Ade cuma berdua aja berangkatnya. Ntar kalo di jalan, tiba-tiba Ade nangis gimana dong? *sigh*

Begitu usia kandungan tinggal menghitung hari, ada sedikit harapan ketika Bu Susan berkata bahwa kemungkinan ada bayi yang naik kelas dari kelas bayi ke kelas peralihan di TPA kantor. Tapi saat itu belum confirmed. Untungnya, setelah lahiran Bu Susan ngabarin bahwa Ade bisa masuk TPA bulan Desember 2012. ALhamdulillah..! Allahuakbar!!

Tapi kegembiraan itu berlangsung sesaat. Karena, Bubun baru tahu kalau di TPA, pemberian ASIP hanya bisa dengan botol/dot dikarenakan rasio pengasuhnya 1:4, alias satu pengasuh megang 4 bayi. Jadi, nggak bisa kepegang kalo bayi dikasih ASIP pake cup feeder atau soft cup feeder. Setelah, konsul dengan @tipsmenyusui, @aimiasi, nanya dr. Tiwi waktu visit DSA untuk imunisasi BCG, serta ngobrol dengan teman-teman yang udah punya bayi, Bubun pun menguatkan hati untuk melatih Ade menggunakan botol/dot, 2 minggu sebelum masuk TPA. Syukurlah, Ade nggak nolak. Tapi, sepertinya nggak suka minum yang perahan, sukanya yang fresh. Ya paling nggak, karena TPA masih satu lingkungan dengan kantor, Bubun bisa nyusuin sebelum masuk kantor, jam istirahat, dan jam pulang dalam perjalanan pulang kantor.

Seharusnya, Bubun masuk tanggal 21 November 2012. Tapi berhubung Bubun menghabiskan seluruh jatah cuti tahunan yang tersisa dari tahun 2011 dan 2012, akhirnya Bubun masuk kantor dan Ade Bumbum masuk TPA pada tanggal 3 Desember 2012. Saat itu, isi freezer kulkas penuh dengan stok ASIP. Sebelumnya udah sekitar 2000 ml ASIP Bumbum dibuang karena udah 2-3 minggu di freezer kulkas satu pintu (waktu itu belum beli kulkas dua pintu😥 )

DSCN4822

Meskipun stok ASIP ini nggak sebanyak punya ibu-ibu kerja lainnya, tapi Bubun bersyukur udah bisa nyetok buat Ade. Jadi nggak terlalu deg-degan lagi. Apapun itu, semua harus disyukuri.

Hari jum’at tanggal 30 November, Bubun dan Bumbum trial dulu di TPA dianterin Ayah. Tadinya berniat seharian. Tahunya…
Bubun nggak kuat hati. Kaget lihat betapa hebohnya TPA di jam-jam aktif bayi. Bubun nggak sanggup lihat banyak bayi ngantri nangis, nunggu giliran buat disamperin Bu Guru. Sempet rada shock lihat ada bayi seumuran 6 bulanan, lagi main sambil tengkurap di atas lantai beralas mat, membenturkan kepalanya sambil nangis (mungkin frustasi kelamaan tengkurap, terus nggak bisa balik badan. mungkin ya..) sementara Bu Guru-bu guru semua lagi sibuk nanganin bayi-bayi lainnya.

Bubun cepet-cepet minta Ayah anterin balik ke rumah. Biarin deh Ayah telat. Abis, Bubun nggak sanggup. Sepanjang jalan pulang cuma nangis aja. Kebayang Bumbum ntar gimana di TPA-nya. Secara di rumah kan, hoek-hoek dikit langsung direspon. Soalnya Bubun percaya dengan pendapat AIMI ASI yang menyatakan bahwa bayi-bayi muda yang cepat direspon lebih nggak cengeng, karena merasa secure dan percaya diri. Bukannya malah jadi manja, deperti pendapat Ayah. Soalnya kan, bayi-bayi muda itu baru adaptasi dengan dunia ini. Sebelumnya di rahim super nyaman dan aman. Ngomong-ngomong, emang Ade itu masih bayi muda?😀

Karena kepepet keteguhan hati, akhirnya hari Senin (untung ada weekend ya, jadi Bubun bisa memantapkan hati) Bubun dan Bumbum ke TPA, kembali dianter Ayah (eh, sampe sekarang juga masih dianter Ayah. Mungkin suatu saat, bisa berangkat sendiri ya…) Meskipun agak gundah gulana, tapi Bubun berusaha percaya bahwa Ade anak kuat yang belajar mandiri sejak dini. Ah, anakku…

DSCN4832

DSCN4828

Kita jadi peserta pertama yang dateng. Adenya ketiduran sejak di dalam mobil. Ayah nggak boleh ikutan masuk ke dalam kamar. Jadi, motoin dari luar aja.

DSCN4827

Keliatan nggak, wajah cemas Bubun?

Hihi.

Hari pertama berlangsung sukses. Meskipun Ade minumnya dikiiit dan masih rewel.

Besoknya, waktu mengurus administrasi Ade, Bu Susan ngomong: “Ibu kaget ya, jum’at kemaren? Keliatan dari mukanya. Beginilah kondisi TPA Bu..” sembil tersenyum memaklumi. Hehe. Maaf ya Bu.. Abisnya Bubunnya Bumi ini baru belajar punya anak. Dikit-dikit cemas, dikit-dikit takut salah.

Bukannya mau nyalahin keadaan ya, tapi pasca persalinan Ade itu meninggalkan lubang dalam jiwa Bubun, meskipun proses kelahiran Ade sendiri begitu indah dan menyenangkan. Mungkin trauma. Entahlah. Tapi Bubun nggak mau salah ngambil keputusan lagi. Nggak mau lagi De… Nggak mau lagi.


2 Comments on “Bumi Masuk ‘Sekolah’”

  1. […] Abis renang, Ade langsung minta susu dan tertidur pulas. Bubun manfaatin kesempatan ini untuk nanya-nanya Day Care yang ada di sebelah klinik. Ih! bagusss! Seandainya rumah kita di Bandung, Bubun mungkin bakal nitipin Ade ke sana. Tempatnya bagus, harga lumayan terjangkau daan… ASIP bisa dikasih lewat media apapun, tergantung permintaan orang uta soalnya rasio pengasuh cuma 1:2, beda sama TPA di kantor Bubun. […]

  2. Yugi says:

    hai Citra…saat inu aku lagi cari daycare buat anakku..boleh ku email kmu buat tanya tanya ttg daycarenya Bumi?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s