Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Kisah Kelahiran Bumi (Part 1)

19 September 2012

Seperti yang Bubun ceritain di sini, tanggal 19 September 2012 lalu Bubun ada jadwal cek kedua dengan dr. Rizka Yurianda. Kali ini, Ayah bisa menemani. Minggu sebelumnya kan Ayah ke Palembang, jadi Bubun ke dr. Rizka sendiri.

Pada pertemuan ini, Bubun kembali mengutarakan permintaan Bubun sesuai dengan birthplan yang udah disusun. Alhamdulillah, tampaknya dr. Rizka bersedia memenuhi. Termasuk keinginan Bubun untuk tidak diinduksi apabila di minggu ke-40 Ade belum lahir juga. Dengan catatan, jantung Ade, air ketuban Ade masih bagus, Bubun juga kondisinya baik. Bubun ingin menunggu saja, mengikuti isyarat dari Ade. You’re the one who should make the decision.

Waktu periksa, dr. Rizka sempet nanya ke Bubun: “Yakin nih mau waterbirth aja? Nggak mau ILA (Intra Thecal Labor Analgesia) aja? Enak lho. Kalau waterbirth masih sakit. Saya dulu lahiran pake ILA, santai” Bubun dengan semangat tinggi langsung jawab: “Enggak lah dok! Sebisa mungkin waterbirth aja.”

Ayah, yang masih kurang ikhlas Ade lahir dengan waterbirth, minta dr. Rizka jelasin mekanisme waterbirth itu secara rinci. Eh, ternyata di RSIA Bunda ini, begitu kepala bayi keluar, air dalam kolam/bath tub akan dikuras. Lho! nggak waterbirth konvensional? (ealaa.. ada yah konvensional? Hihi) Ayah penasaran, nanya dr. Rizka, apakah ini gara-gara kejadian waterbirth dengan si dokter ‘O’, di mana bayinya meninggal dan orang tuanya menuntut itu? dr. Rizka cuma tersenyum saja. Kita anggap itu sebagai jawaban ‘ya’. Mungkin juga karena Ikatan atau Perkumpulan dokter obstetri dan ginekologi Indonesia (POGI) tidak merekomendasikan metode waterbirth ini. Meskipun tidak melarang juga sih ya. Jadi, Bubun masih mantap dengan adanya banyak sekali testimoni baik tentang metode tersebut.

Setelah itu, Bubun nanya apakah bisa nge-check kondisi jantung Ade. dr. Rizka mengiyakan sambil berkata bahwa di usia 39 minggu memang sebaiknya udah check jantung bayi. Bubun diarahin ke ruang persalinan yang sebelumnya udah pernah Ayah dan Bubun jambangi waktu hospital tour beberapa bulan lalu, soalnya alat CTG-nya adanya di sana. Abis itu, disuruh balik ke ruang dr. Rizka lagi.

Atau begitulah seharusnya. Pada kenyataannya, setelah di-CTG Bubun terdeteksi telah mengalami kontraksi teratur per 5 menit. Haaa? Bubun nggak ngerasa apa-apa padahal ya.. ada kabar kurang mengenakkan juga. Jantung Ade berdetak terlalu kencang. Bubun akhirnya dipasangin oksigen dan disuruh berbaring miring supaya detak jantung Ade kembali normal. Sejam kemudian, dicek lagi, detak jantung Ade kembali normal. Asyik!

Setelah itu, Bubun dikabari bahwa dr. Rizka akan turun ke ruang persalinan. Bubun nggak usah balik ke atas ke ruang prakteknya. Soalnya mau cek dalem.

Oke, Cek dalam alias VT alias Vaginal Toucher. Yang Bubun takuti. Tapi kata orang-orang sih, cek ukuran panggul jauh lebih sakit. Jadi, Bubun agak tenang.

Sembari itu, Ayah ngeliat lagi ruang bersalin waterbirth yang nggak jauh dari tempat Bubun di-CTG. Sekalian fotoin, buat dokumentasi (sebelumnya juga udah, tapi belum sempat difoto). Ini nih kondisinya:

Peralatannya lumayan lengkap juga, selain yang standar persalinan. Ada massage ball, CD lagu-lagu klasik dan player-nya, aroma therapy, dan bantal-bantal.

Setelah kurang lebih 1 – 2 jam di situ, si dokter datang dan melakukan VT. Rasanya? Yaa.. Sakita lah! Banget! Lebih sakit dari cek panggul. Lama pula. Bubun heran, kenapa si dokter sampe muter-muterin jarinya 180 – 360 derajat yah? Soalnya dulu kan Bubun dan Ayah sempet belajar cek dalam ini, sesuai rencananya, pas ke RS udah bukaan gede. Tapi rencana, tinggalah rencana.

Menjelang Persalinan 5

Awal-awal cek dalem, masih bisa nyegir, berkat hypnobirthing. Lama-lama agak ngos-ngosan juga atur napas. Cat: Misteri putaran 360 derajat itu akan terungkap lusa.

Hasil cek dalam, Bubun udah bukaan 2 yah. Waah, seneng dong! Soalnya Bubun sama sekali nggak ngerasa apa-apa. Makin PD lah untuk lahiran normal waterbirth. Sementara itu, di sebelah, ada ibu-ibu yang nangis terisak-isak dengan volume kecil. Bikin Bubun deg-degan, nggak betah. Pengen cepet-cepet pulang.

Begitu kelar, Bubun bilang ke dokter: “Dok, boleh pulang kan? detak jantungnya udah normal kembali nih.” Tebak kata dokter apa: “Ya enggak lah. Ini aja udah pake oksigen.” Ya ampunn… Tidak! ini tidak sesuai rencana. Kalau stay di RS masih bukaan 2 mah, akan banyak intervensi medis. Termasuk cek dalam yang nggak perlu. Mana persiapan menyambut Ade belum kelar lagii…

Bubun pun ngasih kode ke Ayah supaya nego ke dr. Rizka. Akhirnya, si dokter mengizinkan pulang. Tapi hanya untuk makan dan ambil keperluan. Abis itu harus langsung balik. Sebelum dini hari.

Dikasih lampu hijau, Bubun cepat-cepat cabut dari RS. Nyampe rumah beres-beres segala keperluan. Masangin sprei di crib-nya Ade. Bungkus barang-barang ke tas, dan ngumpulin peralatan perang lainnya. Seperti breast pumping, bantal menyusui, dan aroma therapy. Massage ball-nya nggak jadi dibawa. Soalnya, nggak muat di mobil. Kalau dikempesin dulu, Bubun nggak punya pompanya. Persoalan banget. Hihi.

IMG-20120919-00469

Bubun nge-blog postingan yang itu. Lalu, nyoba tidur. Tapi susah karena Ayah gelisah banget. Bubun ngomong ke Ayah supaya ke RS-nya besok siang aja. Ayah Terus diem-dieman sama Ayah. Karena Bubun keras kepala nggak mau ke RS kalau belum berasa kontraksi dan belum ada flek sama sekali. Sementara Ayah udah kesel.

Flek datang sekitar jam 3 subuh. Abis itu, Ayah gelisah banget. Bubun akhirnya ikut-ikutan nggak tenang dan merasa bersalah. Apalagi waktu Ayah bisikin ini ke perut: “Dek… Kalau nggak di rumah sakit, Ayah cemas karena nggak bisa monitor jantung Ade.” Beberapa jam setelah itu, Bubun ditelpon RSIA Bunda. Disuruh cepetan ke Rumah Sakit. Yah udah deh, Bubun ngalah. Ke RS pagi-pagi aja.

20 September 2012

Bubun mandi, beres-beres. Setelahnya, berangkat menuju RS. Jum’at pagi jam setengah 7, jalanan masih sepi. Bubun sarapan pancake dulu di McD Cikini sambil buang muka sama Ayah yang mukanya perpaduan antara kesel sama Bubun dan khawatir sama keadaan Ade. Lagi sarapan, RSIA Bunda telpon lagi. Nanya udah di mana.

Nyampe di RSIA Bunda, Ayah ngurus keperluan administrasi. Kebetulan hari itu, kelas utama penuh semua. Jadi, Bubun masuk kelas Perdana. Itupun kelas Perdana udah tinggal 1. Nyaris aja di-upgrade ke kelas CDC. Udah seneng aja tuh Ayah. Sempet lho Ayah inspeksi kondisi CDC dan CDC Eksekutif itu kayak apa.

Bubun masuk kamar perdana yang nyaman, dan mendapati paket ini di dalam kamar:

IMG-20120920-00473

Lanjut ke Kisah Kelahiran Bumi (Part 2)


3 Comments on “Kisah Kelahiran Bumi (Part 1)”

  1. dina says:

    bubun bumi..ditunggu nih cerita part 2 nya.Insya Allah pengen water birth jg di bunda..thanks bun🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s