Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Antara Cuti, Cuci dan Bersih-bersih

Mulai 23 Agustus 2012 lalu, Bubun sudah cuti. Senengnya karena Bubun udah nggak masuk kerja sejak 18 Agustus 2012. Tanggal 17 sebenarnya kan tanggal merah. Tapi Bubun ada kerjaan di kantor. Cuma setengah hari sih dan press conference aja. Jadi, nggak gitu repot lah.

Seperti juga ibu-ibu hamil lain, Bubun juga pengennya cutinya nanti aja setelah Ade lahir. Jadi jangka waktu maternity leave yang 3 bulan bener-bener dihabisin buat ngurusin Ade. Apalagi menurut pengalaman ibu-ibu yang pernah hamil, cuti sebulan sebelum bayi lahir itu bosen karena nggak ngapa-ngapain. Berat badan akhirnya juga naik. Tapi sayang seribu sayang, kantor Bubun punya kebijakan yang berbeda. Pegawai diwajibkan ngambil maternity leave sebulan sebelum kelahiran. Banyak yang nyaranin bikin surat keterangan HPL dokter yang tanggalnya dimundurin. Tapi, itu nggak bisa diterapin di kantor Bubun. Kenapa? Soalnya kapan pun bayinya lahiran, si ibu HARUS masuk 2 bulan sejak tanggal kelahiran tersebut. Nantinya kan fotokopi akte kelahiran anak harus disetorin ke kantor. Jadi, ketauan juga kalau bohong. Lagian, bohong itu nggak baik De.🙂 Jadi, kalau nggak ngambil maternity leave sebulan sebelum lahiran, tetap aja harus masuk 2 bulan sejak Ade lahiran. Rugi bandar.

Dan setelah cuti lebih dari 2 minggu ini, Bubun nggak bosen sama sekali. Malah tiap hari kayak adaaa aja persiapan kelahiran Ade yang belum kelar. Berat badan Bubun juga malah sempat turun lho. Sejak tanggal 24 Agustus 2012, Bubun udah mulai cuci-cuci. Semua baju-baju, selimut, seprei, kain-kainan, boneka-boneka, dicuci. Cooler bag juga dicuci. Karena dibelinya bertahap, jadi nyucinya juga terbagi beberapa gelombang.

Gelombang pertama sih banyak banget. Dan sempat memicu kemarahan Ayah. Pasalnya Bubun jemur baju-baju Ade di dak atas, yang mana untuk kesana harus naik tangga melingkar yang sempit. Kata Ayah itu berisiko banget. Ayah beberapa kali nyaris terpeleset waktu mau naik ke atas. Sementara Bubun yang lagi hamil gede, naik ke atas sambil bawa cucian di ember. Mana ternyata panasss banget. Secara dak tempat jemur itu tanpa atap sama sekali. Alhasil habis jemur, Bubun basah karena keringetan. Besokannya Ayah yang bantu jemurin, pas pulang dari kantor. Untung jam kerjanya sampe jam 4 sore, jadi masih dapet matahari dikit lah. Tapi Bubun masih kurang puas, karena baju-baju Ade jadi lembab. Setelah bujuk-bujuk Ayah buat ngizinin Bubun naik ke dak buat jemur, Ayah langsung buru-buru nyariin jemuran lipat gede biar Bubun nggak perlu naik tangga penuh risiko itu. ^^

Semua Bubun cuci pake tangan, disetrika dan dilipat sendiri lho!

Yang PR banget buat Bubun adalah Prewash CLODI. Udah lemes aja begitu tahu Clodi itu harus dicuci 3 kali (cuci – kering – cuci – kering- cuci – kering – pakai) sampai 6 kali. Ternyata… khusus untuk clodi dengan insert dari bahan Bamboo dicucinya 8 KALI aja lho! *pingsan*

Begitu tahu, Ayah langsung ngomong “Nggak usah terlalu berlebihan ah. Nggak segitunya kalau mau steril. Jangan terlalu percaya sama info di internet” Yeee… bukan masalah steril ya, tapi supaya daya serap clodinya maksimal. Karena nggak percaya, Bubun tunjukkin petunjuk prewash dari  clodi merk Rumparooz yang Bubun beli buat Ade:

 

Syukurlah, semua insert microfiber sudah prewash 3 kali. Sedangkan yang bamboo sudah sampai 8 kali. Kalau diaper/celana-nya sih Bubun cuma prewash 3 kali aja. Cara prewash sebenarnya simpel saja: Microfiber dan cover direndam dengan detergen khusus baju bayi (Bubun pake Cycles) dikiiitttt banget. Sekitar 1/32 kali dari takaran normal. Direndamnya bentar, cuma 5 menit paling. Setelah itu, dikucek pelan-pelan dan dibilas dua kali. Nggak boleh diperas sampai melitir ya, biar awer. Abis itu, tinggal dijemur deh. Penting: sebisa mungkin jemurnya di bawah sinar matahari, biar hasilnya maksimal. Sedangkan untuk insert bamboo, direndamnya pake air hangat, terus kucek perlahan dan bilas air biasa. Sama seperti insert microfiber dan cover, insert bamboo ini nggak boleh diperas melintir. Dari mana Bubun tahu semua ini? Tentu dari sana dong.

Selain clodi, yang lumayan menguras tenaga adalah sterilisasi botol-botol asip. Seperti diceritain di sini, atas permintaan Ayah, Bubun yang tadinya mau beli jenis botol tutup karet, akhirnya sepakat beli yang model tutup ulir alias yang model seperti botol UC 1000. Udah nyari-nyari ke sana kemari, ternyata semuanya rekondisi, nggak ada botol baru yang replika / tiruan botol UC. Bubun sebenernya ngeri juga nyimpen ASI buat Ade di botol bekas itu. Nggak tahu kan asalnya dari mana. Bisa aja dari tong sampah. Ya kemungkinan besar sih dari situ. Abis, dari mana lagi coba..?

Mau beli botol kaca Baby-Pax, harganya benar-benar mahal. Ya sudah, yang penting dimaksimalkan di proses strerilisasi-nya aja. Setelah membanding-bandingkan, harga botol ex UC 1000 yang paling murah adalah di Toko Dua Berlian Pasar Pramuka. Sebotolnya Rp. 1000,- Hari sabtu tanggal 8 September 2012 lalu, Ayah dan Bubun membeli 50 botol tersebut. Sebelumnya udah 2 kali, kita ke sana. Yang pertama, beberapa hari setelah lebaran, tokonya belum buka. Yang kedua,  botol tutup karetnya lagi kosong. Eh.. tahu gitu, mending waktu itu langsung beli botol ex UC 1000 aja. Haha!

Selain botol asip, Bubun juga mensterilkan 4 buah botol medela yang Bubun beli bersama Medela Citystyle (preloved) dari Mini Kids’ Stuff Sale di Femaledaily.

50 botol ex UC sudah steril

Botol Medela Juga…

Tutup botol ulir dan Medela sudah steril juga!

Bubun mensterilisasi botol dengan cara ini:

  1. Pisahkan botol dan tutupnya
  2. Rendam botol dan tutupnya dengan air sabun khusus (Bubun pake Pure Baby. Sleek juga bisa)
  3. Sikat bagian dalam botol (Bubun pake IQ Baby)
  4. Bilas sampai bersih (2 kali)
  5. Lakukan hal yang sama dengan tutup botol
  6. Didihkan air (jumlah air yang banyak supaya botol bisa terendam semua) dengan menggunakan panci stainless steel
  7. Setelah mendidih, kecilkan api (supaya suhu tidak melebihi 100 derajat celcius)
  8. Masukkan botol dalam air selama 1 menit (60 detik), pastikan semua bagian botol terendam dan tidak ada buih-buih udara dalam botol
  9. Angkat botol kaca dengan jepitan botol, tiriskan, lalu masukkan tutup botol dan botol plastik medela
  10. Tiriskan botol-botol agar kering
  11. Bisa juga dimasukkan ke dalam Dish Dryer (semacam Panasonic) agar kering. –> Sayangnya Bubun belum beli

Tips sterilisasi botol:

Ketika memasukkan botol ke dalam air mendidih, botol akan mengapung. Untuk itu, letakkan botol dengan posisi berbaring, bukan berdiri. Kemudian tekan botol dengan jepitan, agar botol sampai ke dasar panci. JANGAN siram dengan air dingin setelah itu. Karena perubahan suhu ekstrim bisa membuat botol pecah.

Harus hati-hati dalam proses ini, karena tangan Bubun beberapa kali terpercik dan terendam (anehnya nggak sakit, mungkin karena tangan Bubun sejak hamil udah panas banget. Hihi). Sekali waktu juga smepat kesiram air mendidih ini. Untungnya, langsung Bubun guyur dengan air dingin di bawah keran. Jadi, nggak terlalu perih dan cuma menyisakan sedikit warna merah.

 

Oh iya, selain agenda bersih-bersih di atas, Bubun juga tetap menjaga jadwal senam, pilates dan yoga. Meskipun itu hanya dilakukan di rumah. I don’t want to jinx it. Tapi mungkin itu yang membuat Bubun nggak naik berat badan. Selain upaya membatasi asupan karbohidrat.

Nah, sekarang… tinggal melengkapi beberapa keperluan dan menunggu barang-barang pesanan yang belum selesai serta konfirmasi ketersediaan baby gear dan breast pumping yang akan disewa.

Mudah-mudahan Ade lahirnya setelah semua persiapan rampung ya… Anak pinter.. Anak Ayah dan Bubun :*



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s