Bumi grows so fast!

and so does Langit…

8 – 11 weeks to go!

Setelah sempat check-up di dr. Nana kemaren, akhirnya sabtu tanggal 14 Juli 2012 lalu, sepulang dari kelas hypnobirthing Bu Lanny, Ayah dan Bubun kembali ke dr. Yusfa untuk check-up rutin. Tapi, Bubun curiga kali itu kita nggak bisa USG 4D seperti selama ini selalu dilakukan oleh dr. Yusfa. Soalnya, pada hari yang sama dr. Bambang Karsono yang terkenal di kalangan ibu-ibu sebagai ‘ahli’ USG 4 bayi, praktek juga. Jadi, alat 4D-nya dipake dr. Bambang. Sementara justru masuk minggu ke-30 ini, Ayah ingin USG 4D lebih detail karena Ade udah bisa pose makin gede. Benar saja. Konfirmasi ke resepsionis RS YPK, hari itu dr. Yusfa nggak bisa USG 4D karena alatnya dipake.

Hari senin dan selasa-nya Bubun dan Ayah nggak bisa ke RS YPK karena padatnya jadwal. Hari Rabu, Bubun sms ke si dokter. Rupanya, kejadian yang sama seperti hari Sabtu berulang kembali. Hari itu dr. Bambang praktek lagi. Yang berarti Bubun dan Ayah harus konsul di hari lain. Tadinya sih, Bubun pikir dr. Yusfa praktek di hari Kamis cuma di waktu sore sampai malam aja sebagaimana yang tercantum di kartu namanya. Tahunya.. hari Kamis itu, tanggal 19 Juli 2012 setelah jam makan siang, Ayah nelpon Bubun. Katanya dia baru aja ngubungin RS YPK dan diinfoin bahwa dr. Yusfa juga praktek dari pagi sampai jam 2 siang. Jadi, kita masih ada waktu untuk konsul. Buru-buru lah Bubun izin dan naik taksi menuju RS YPK. Untungnya nggak terlalu macet.

Hari itu, Bubun dan Ayah ngantri sekitar 1 jam lebih. Kita otomatis jadi pasien terakhir karena nyampenya jam 2 kurang dikit. Kali ini, Bubun lumayan nyaman konsul ke si dokter. Karena beliau lebih banyak ngomong dan ngejelasin lebih lama. Bubun nanya soal keharusan cek panggul atau pelvimetri, kata dr. Yusfa prosedur ini biasanya akan dilakukan pada usia kandungan 38 minggu. Tapi kalau Bubun nggak mau cek panggul juga nggak apa-apa. Artinya bahwa Bubun telah memilih persalinan normal per vaginam alih-alih Sectio Cesarean. Sampai hari H, Bubun akan berjuang untuk itu.

Obrolan lebih seru lagi adalah waktu Ayah nanya pendapat Beliau tentang Waterbirth, yang tentu saja sesuai dengan prediksi Bubun. Ya, Bubun sudah menduga bahwa si dokter termasuk yang kontra dengan metode kelahiran di air tersebut karena menurut Beliau segala urusan medis itu harus berdasarkan hasil penelitian. Sementara sebagaimana yang Bubun juga pahami, belum ada penelitian yang mendalam dan diakui oleh WHO terkait dengan metode ini. Menurut Beliau, selalu saja ada risiko bayi tersedak atau menghirup air ketika lahir. Ketika Bubun menanyakan tentang informasi yang Bubun dapat bahwa ketika bayi lahir, ia masih bernapas melalui tali plasenta belum dengan paru-paru, Beliau menyanggah dengan berkata bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Ketika lahir, bisa saja si bayi sudah bernapas dengan paru-paru. Ini membuat Bubun galau bukan main. Padahal perkara pro kontra dan perbedaan pendapat ini sudah berulang-ulang Bubun baca dari berbagai sumber.

Beliau juga memaparkan hasil pertemuan tahunan para obgyn se-Indonesia di Bali beberapa minggu sebelumnya yang tidak merekomendasikan metode kelahiran ini, terlebih lagi adanya insiden kematian seorang bayi beberapa bulan lalu yang lahir dengan metode ini. Selain itu, menurut beliau metode waterbirth ini sudah ditinggalkan di Eropa timur. Hal yang mana, ingin Bubun konfirmasi lebih jauh lagi.

Sebenernya Bubun agak kesel juga sih waktu si dokter setengah bercanda berkata bahwa proses melahirkan itu kan sesuatu yang sakral. Momen di mana sebelah kaki ibu di surga, sebelah lainnya di dunia. Kok malah si ibu mau seneng-seneng Spa, nggak mau sakit. -_____-

Nih yaaa De. Dari testimonial yang Bubun baca dari para ibu yang menjalani kelahiran dengan Waterbirth, proses kelahiran itu nggak sepenuhnya bebas dari rasa sakit. Tapi balik lagi, bagaimana si ibu memaknai sakitnya. Waterbirth juga nggak lantas otomatis gentlebirth kalau sepanjang kehamilan ibu nggak tenang dan tentram jiwanya serta tetap fokus dan percaya diri.

Memang harus Bubun akui, awal pertama kali tertarik dengan metode kelahiran ini adalah karena Bubun takut dengan rasa sakit dalam prosesnya. Apalagi, sewaktu Nenek ngelahirin Om Dino sekitar 16 tahun lalu, Bubun ada di ruangan sebelah, mendengar dengan jelas setiap teriakan dan tangisan nenek yang kala itu di telinga Bubun seolah dekat dengan kematian, membuat Bubun trauma mendalam. belum lagi gambaran horor di film-film atau televisi tentang proses kelahiran, yang terekam jelas di ingatan Bubun.

Tapi De… itu kan tahun 2010. Bubun malah belum nikah dengan Ayah. Sesudah mendalami konsep gentlebirth lebih jauh di tahun 2011, Bubun baru mendapati bahwa persalinan yang lembut itu tidak semata-mata demi kenyamanan sang ibu atau demi keegoisannya yang tidak mau berkorban. Tapi di atas semua itu, yang paling penting adalah bagaimana membuat bayi tenang, sehat tidak hanya lahir tapi juga batin. Keunggulan Waterbirth dalam filosofi gentlebirth adalah proses transisi yang lembut ketika bayi keluar ke dunia ini. Ditengarai kondisi air hangat dalam kolam lahiran, mirip dengan kondisi rahim. Jadi, bayi tidak ‘kaget’ ketika lahir dan karenanya minim trauma. Kalau lihat video-video di Youtube, hampir semua bayi yang lahir dengan metode ini tampak tenang dan nangisnya juga nggak jerit-jerit kayak di kelahiran darat. Bubun ingin Ade bebas dari trauma seperti itu.

Namun, mengutip kalimat Bu Lanny di kelas Hypnobirthing kemarin: “Persalinan gentlebirth tidak harus dengan waterbirth.” Menurut Bu Lanny, keinginan jabang bayi haruslah diutamakan. Biarkanlah bayi memilih sendiri waktu kelahirannya dan dengan cara apa ia ingin hadir di dunia ini. Sesungguhnya Bubun sudah memahami itu. Tapi, namanya cita-cita ya De…. agak sedih aja bagi Bubun melepas keinginan itu.

Yang bikin agak lega, dr. Yusfa pada akhirnya berkata bahwa kalau itu pilihan Bubun tidak apa-apa asalkan Bubun tahu risikonya seperti apa. Beliau juga meminta Bubun untuk pikir-pikir dulu. Itu disampaikan dengan nada yang menenangkan. Selain itu, Ayah pun tidak menekan Bubun untuk membatalkan niat itu, sepanjang Bubun paham dengan risiko yang ada.

Aduuuhh! ‘risiko’ itu kata yang kuat banget. Mana mau Bubun ambil risiko kalau buat keselamatan Ade. Meskipun Bubun tahu, yang namanya risiko pada persalinan normal di darat atau dengan Sectio Cesarean juga pasti selalu ada. Tapi kalau seolah-olah Bubun dengan sengaja mengambil risiko besar demi hasrat pribadi Bubun agar Ade sehat batin, kok kayaknya gimanaaa gitu. Ya ampun De, demi Ade sebenernya Bubun rela didera rasa sakit seperti apa juga. Bubun ikhlas kok mempertaruhkan nyawa demi Ade, kalau itu bisa membuat Ade selamat.

Selain diskusi tentang Waterbirth itu, pada konsultasi ini kita ngecek kondisi keseluruhan Ade. Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Air ketuban cukup dan kondisinya bagus. Posisi kepala Ade di bawah. Plasenta berada pada tempat yang tepat, tidak menutupi jalan lahir.Tali pusar tidak melilit tubuh Ade (kayaknya sih karena Ade pegangin dengan posisi tertentu… emang anak Bubun pinterrrr…. :* ) Ukuran tubuh Ade normal. Berat badan Ade 1,5 kg yang berarti sesuai dengan usia Ade. Meskipun, sekali lagi Bubun overweight. Tak apalah, yang penting Ade sehat.

Ayah juga nanya ke dokter Yusfa, boleh nggak Bubun puasa. Kata si dokter, Bubun boleh puasa, dengan catatan:

  1. Sahur
  2. Kalau nggak kuat, harus langsung buka
  3. Kalau Ade berkurang gerakannnya, harus langsung buka

Di atas itu, foto USG Ade masuk 31 Minggu. Sayangnya entah karena cuma bentar  atau karena Ade udah makin gede, foto USG-nya nggak terlalu jelas. Padahal Ayah udah semangat juang tinggi mau ganti display picture profile di BB-nya dari foto Ade bulan sebelumnya dan upload di FB dengan foto USG Ade yang terkini liat muka Ade sejelas-jelasnya. Meskipun dari hasil USG sebelumnya, Ayah udah yakin 100% kalau Ade itu tergolong bayi cakep.

Melihat perjalanan Ade selama ini, Bubun semakin yakin Ade emang bayi yang cerdas. Diminta jauh-jauhin tali pusar biar nggak kelilit, eh…. dipegangin terus si tali pusernya biar bebas dari jeratan tali itu. Dibilangin supaya ambil posisi bagus, eh… udah dari bulan keberapa tuh, Ade kepalanya di bawah. Si Kakak plasenta diminta minggir ke samping biar Adenya lahir normal juga diturutin. Ade…. Bubun padamu deh! Pengen tak cium-ciumin deh ih!!!


One Comment on “8 – 11 weeks to go!”

  1. […] itu. Meskipun nggak sahur, Ayah tetap memutuskan untuk berpuasa. Sementara Bubun, sesuai arahan dr. Yusfa, memilih tidak berpuasa. Niatnya sih, Bubun puasa mulai Sabtu. Syukurlah, bisa sahur bareng […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s