Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Ayahmu

Setiap orang tua pasti memiliki harapan untuk buah hati mereka. Entah ingin tumbuh sebagai anak yang cerdas, saleh, sukses, kaya.. Atau menjadikan anak itu sebagai penerus mimpinya. Bubun sendiri agak enggan berharap muluk kepada Ade. Takut Ade terbebani dengan semua itu. Karena sesungguhnya, Ade bukanlah milik Bubun dan Ayah melainkan titipan Tuhan yang sangat berharga. Hanya saja, jauh di relung hati yang terdalam, ada secuil harapan Bubun bahwa nantinya Ade bisa tumbuh menjadi sosok laki-laki yang bertanggungjawab, penuh rasa hormat dan belas kasih terhadap sesama juga berintegritas tinggi. Seperti halnya yang Bubun lihat dari diri laki-laki yang Bubun cinta, Ayahmu.

Ngomong-ngomong soal cinta, apa yang Bubun rasakan kepada Ayah bukanlah sekedar getar-getar yang dipicu oleh hormon phenyptelamin. Bubun tahu itu. Karena kata para ahli, perasaan aneh yang oleh sebagian orang diterjemahkan sebagai ‘cinta’ itu, hanya bertahan maksimal 4 tahun. Bubun juga nggak ingat apakah dulu Bubun pernah merasakan gelitik yang dideskripsikan sebagai ‘butterfly in the stomach‘ dalam berbagai lagu itu kepada Ayah.

Yang Bubun ingat, sejak pertama kali bertemu Ayah di usia 19 tahun dulu, Bubun merasa sangat nyaman bersamanya. Ayah bisa dengan cepat menjadi sahabat Bubun. Tempat Bubun bercerita, berkeluh atau bersenda gurau. Hanya kepada Ayahlah, Bubun bisa mewujud menjadi diri Bubun penuh dan seutuhnya. Tentu saja, posisi Ayah berbeda dengan sahabat-sahabat Bubun lainnya. Selalu ada kangen yang memabukkan juga keinginan untuk selalu bertemu. Tapi Bubun hampir tak pernah merasa grogi, canggung atau malu menjadi diri sendiri sebagaimana yang katanya dialami oleh remaja yang sedang jatuh cinta.

Setelah beberapa tahun bersama, Bubun bisa berkata bahwa Bubun begitu sayang kepada Ayah. Karena dalam kurun waktu 7 tahun itu, Ayah bertumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya penuh kasih sayang, mengayomi, tak segan berkorban, tapi juga mendorong Bubun untuk berkembang dan menggali potensi. Ayah menjadi sosok yang Bubun kagumi, hormati tanpa ada rasa takut atau terintimidasi yang menyertai. Rasa itu kemudian bermetamorfosa tanpa pernah Bubun sadari kapan mulainya. Perlahan tapi pasti. Itulah yang Bubun sebut sebagai cinta.

Cinta yang serupa namun tak sama juga hadir kian hari kian membuncah bersama dengan makin membesarnya perut Bubun. Yang satu ini untuk Ade. Bagimu Ade sayang, rasa ini hadir tanpa syarat. Tak perlu ‘harus’ atau ‘mesti’ membayangi. Namun karena cinta itu pula, Bubun ingin segala yang terbaik untuk Ade, dunia dan akhirat.

Untuk itu, dalam setiap doa Bubun selalu meminta agar Tuhan memberi umur yang cukup bagi Ayah. Agar Ade bisa belajar banyak dari Ayah bagaimana menjadi laki-laki terhormat, (bukan dari apa yang dimiliki tapi dari kualitas kepribadiannya) yang memiliki rasa hormat yang besar terhadap sesama.


One Comment on “Ayahmu”

  1. […] Kok yaa ada postingan berjudul sama: “Ayahmu”, seperti yang Bubun tulis di sini. […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s