Bumi grows so fast!

and so does Langit…

It doesn’t really matter

Bubun lahir sebagai anak pertama dari lima bersaudara. Bubun punya 3 adik perempuan dan 1 adik laki-laki. Kehadiran anak laki-laki di keluarga Bubun sangatlah dinanti-nanti. Mungkin karena faktor budaya yang memandang laki-laki itu lebih superior dari perempuan. Sementara anggota mayoritas dari keluarga besar Bubun adalah perempuan. Sehingga, ada anggapan bahwa anak laki-laki lebih sulit didapatkan. Apalagi kedua kakek Bubun dari pihak mama dan papa udah dipanggil Sang Pencipta. Jadi, kehadiran laki-laki di keluarga Bubun dipandang sangat berarti.

Meskipun dibesarkan dengan pandangan seperti itu, Bubun nggak pernah menganggap laki-laki lebih dalam segala hal dari perempuan. Bagi Bubun sama saja. Dalam beberapa hal bahkan, menurut Bubun perempuan lebih bisa diandalkan. Karenanya, Bubun tumbuh menjadi perempuan yang mandiri. Apalagi sebagai anak sulung, Bubun harus berkorban beberapa hal demi adik-adik Bubun yang masih kecil.

Waktu beranjak remaja, Bubun memang ingin punya kakak karena kadang-kadang menjadi terlalu mandiri itu melelahkan. dan laki-laki di lingkungan Bubun ketika itu dididik untuk kuat dan mengayomi sehingga imajinasi akan kakak laki-laki membuat Bubun merasa akan diproteksi dan dibantu dalam banyak hal sehingga tidak perlu bersusah payah. Bubun juga boleh menjadi manja, tida perlu mengemban tanggungjawab menjadi kuat setiap saat dan meng-handle semuanya sendiri. Bermanja-manja seperti yang anak-anak seusia Bubun lakukan terhadap orang tua atau kakak, adalah suatu kemewahan yang sepertinya tidak pernah Bubun dapatkan. Diam-diam, Bubun menyimpan keinginan itu sekian lama dan tak pernah terwujud. Kelak, setelah bertemu Ayah, Bubun pun memanggilnya dengan sebutan ‘Kakak’, alih-alih menyebut nama.

Menginjak usia dewasa muda, Bubun mulai mengenal aliran feminisme. Dari mulai yang moderat sampai yang garis keras. Bubun pun melihat dunia begitu patriarkis, tidak memihak kepada perempuan. Bubun yang berencana memiliki anak nantinya, merasa ketakutan. Bubun pikir, dunia ini hanya akan ramah bagi para lelaki. Anak perempuan perlu berjuang lebih keras untuk bisa survive. Bukan hanya itu, tingkat keamanan dan keselamatan perempuan pun sepertinya sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Bubun berharap agar nantinya diberi anak laki-laki saja.

Tapi kemudian, Bubun melihat betapa di abad ke-21 ini, masih ada saja orang yang menganggap anak perempuan itu kurang berarti dan tak bisa menjadi kebanggaan keluarga. Hal itu memicu trauma yang ternyata bersarang di masa kecil dulu. Mungkin dulu, Bubun merasa Papa Mama-nya Bubun kecewa karena 3 orang anak pertama mereka adalah perempuan. Meskipun Bubun dan kedua adik Bubun bisa dibilang berprestasi secara akademik dan di beberapa bidang ekstrakulikuler serta mengharumkan nama sekolah, kabupaten bahkan propinsi, Bubun tetap merasa kami semua tidak lebih berharga dibanding dengan seorang anak laki-laki.

Karena itu, muncul sedikit sifat ingin melawan pandangan itu. Bubun kemudian ingin punya anak perempuan yang akan Bubun besarkan sebaik-baiknya dan menjadi bukti hidup bahwa perempuan itu bisa berkontribusi kepada masyarakat luas sama besarnya dengan laki-laki dan karenanya patut dihargai dan dihormati seperti halnya laki-laki.

Setelah menikah, Bubun lebih santai. Tak ada harapan muluk-muluk. Bubun ingin punya anak yang sehat lahir batin saja. Kalau Tuhan memberi lebih, alhamdulillah… Bubun pun tak mau ambil pusing perkara jenis kelamin anak Bubun kelak. Bubun melihat, baik perempuan maupun laki-laki memiliki keunggulan masing-masing. Kalau anak laki-laki, bisa nemenin Ayah main bola juga bisa jagain Bubun kalau Ayah lagi perjalanan dinas (karena Ayah dan Bubun tinggal sendiri, jauh dari keluarga besar di Sulawesi). Kalau anak perempuan, sepertinya sih lebih cepet tanggap, pinter dan cenderung lebih mandiri. Terus bisa Bubun pakein pita dengan bunga seukuran kerupuk putih di kepalanya, kayak ini:

Picture’s taken from http://www.shopdry.blogspot.com

atau ini:

Picture’s taken from http://www.adorababy.wordpress.com

Ayah pun sepertinya sama, nggak masalah dengan jenis kelamin. Soalnya Ayah itu tipe penyayang dan jago banget nge-handle anak-anak. Mau anak laki-laki ataupun perempuan, bagi Ayah sama aja. Bakal dikenalin sama sepakbola.

So… it really doesn’t matter whether you are boy or girl. We will love you like so… much!


One Comment on “It doesn’t really matter”

  1. […] grow so fast! It doesn’t really matter […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s