Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Siapa dia?

Suatu malam ketika Ayah dan Bubun berkunjung ke Kendari dalam rangka pernikahan Tante Nina, Bubun bermimpi. Biasanya yang namanya mimpi itu akan terasa samar-samar. Sesudah terbangun bahkan sama sekali kabur. Namun kali ini, mimpi Bubun sangat jelas. Bubun bahkan bisa ingat detilnya sampai sekarang, setelah sekian lama.

Ketika bermimpi, Bubun sadar posisi Bubun ketika itu tidur membelakangi Ayah dan menghadap ke pintu masuk. Tiba-tiba, Bubun melihat sosok wanita berkerudung mendekat ke arah pinggir ranjang tempat Bubun sedang berbaring. Meskipun gelap tanpa ada lampu menyala, Bubun bisa melihat jelas perempuan paruh baya itu. Bubun nggak begitu merhatiin rupa wajahnya. Tapi Bubun tahu, itu adalah Almarhum Bunda-nya Ayah yang wafat ketika Ayah duduk di bangku kelas 6 SD.

Di belakang beliau, Bubun lihat ada Ayah berdiri rapat. Keduanya berdiri tepat di hadapan dan menatap Bubun dengan cermat. Bubun melirik Sosok Ayah sebentar lalu memandang Bundanya. Eh.. tunggu dulu! Itu kayaknya bukan Ayah deh. Bubun cepat-cepat balik lagi menatap ke laki-laki yang awalnya Bubun pikir adalah Ayah itu. Bubun pandang wajahnya lekat-lekat.

Alis dan rambutnya memang tebal seperti Ayah. Rahangnya tegas. Bentuk matanya juga sangat mirip, kelopak masuk ke arah dalam, mempertegas tulang mata dan membentuk profil mata yang tidak telalu besar juga tidak terlalu kecil. Sorot matanya tajam, seperti menelanjangi. Tapi.. hidungnya lebih bangir dan matanya sewarna madu. Seperti…. Ya! seperti Bubun.

Bubun menatap laki-laki tampan itu sesaat. Berusaha menelaah setiap pahatan wajahnya. Dia siapa??

Tiba-tiba, Bunda-nya Ayah berkata: “Kandungannya dijaga ya nak. Jangan naik tangga.”

Bubun cuma bisa menjawab: “Iya Bunda.”

“Bener ya… janji, jangan naik tangga.”

“Iya Bunda….”

Bubun kembali menatap laki-laki di belakang Bunda-nya Ayah. Dia tersenyum menatap Bubun. Kemudian menduduk sejenak. Lalu mengulum senyum penuh arti. Kemudian menatap Bubun. Bunda-nya Ayah dan Laki-laki itu pun berjalan memutar ke arah kaki Bubun.

Kemudian semuanya menjadi pekat dan Bubun merasakan guncangan yang hebat. Tempat tidur berasa bergetar. Bubun pikir itu gempa. Iya, pasti gempa. Soalnya di Kendari, gempa adalah fenomena alam yang sering terjadi, meskipun tidak dalam skala yang besar. Bubun ketakutan. Lalu mulai panik. Bubun harus bangun dan membangunkan Ayah di samping, kemudian keluar rumah. Tapi betapa pun Bubun berusaha untuk membuka mata, seolah ada kekuatan besar yang menahan mata Bubun untuk tetap tertutup. Tubuh Bubun seperti terkunci. Bubun tidak bisa menggerakkan anggota badan sama sekali.

Bubun pun mulai membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an yang terlintas di benak. Beberapa lama, Bubun pun terbangun. Suasana kembali tenang. Tidak ada gempa seperti yang Bubun rasakan barusan. Hanya sunyi dan senyap yang terdengar. Bubun berbalik menatap Ayah di sebelah yang tidur nyenyak.

Bingung sesaat, Bubun mencoba mencerna mimpi yang barusan Bubun alami. Tak berapa lama, Bubun kembali tertidur. Kali ini tanpa mimpi. Sampai pagi.


One Comment on “Siapa dia?”

  1. […] was a Déjà vu for me.  I’ve experienced that in the past, in my dream… Share this:TwitterFacebookLike this:LikeBe the first to like […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s