Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Ngidam apa?

Tiap kali Bubun ditanyain orang-orang tentang ngidam selama masa kehamilan, Bubun biasanya bakal jawab kalau Bubun nggak ngidam. Sedangkan Ayah biasanya jawabnya: “Ngidam semuanya”. Dua-duanya bisa dibilang benar. Lho kok bisa gitu? Bukannya jawabannya benar-benar berbeda…?

Jadi gini… buat yang kenal deket sama Bubun, pasti tahu kalau selera dan porsi makan Bubun itu cukup besar (kecuali karena satu dan lain hal, di masa-masa tertentu dalam hidup Bubun sebelumnya). Meskipun tentu saja, nggak sebesar Ayah (itu sih nggak ada yang ngalahin..) Sebagai gambaran aja, Bubun biasa makan dua piring nasi dalam satu waktu makan.^^V

Waktu jaman KKN di desa waktu masih kuliah dulu, Bubun bersama sekelompok teman tinggal mutusin untuk catering dari warga setempat karena jadwal yang padat. Setengah populasi dalam satu kelompok adalah cewek dan setengahnya lagi cowok. Cowok-cowok biasanya makan satu porsi penuh (nasinya sekitar 1,5 – 2 piring). Sementara cewek-cewek nganggap itu terlalu banyak. Jadilah, pesanan makanan cowok dan cewek yang datang dalam bungkusan per orang dipisah. Untuk cewek dipakein karet hijau, sedang cowok dengan karet merah sebagai penanda. Perlakuan khusus diberlakukan untuk Bubun. Jadi, Bubun jatahnya yang pake karet merah dong. Suka malu hati juga sih, kalau ibu yang masak datang nganterin, teriak-teriak ngebagiin nasi sambil ngomong gini: “Ini yang buat laki dan neng Cici.”

Ya.. tapi mau gimana ya.. mending malu daripada laper. Hihi. *pake masker, nunduk-nunduk terus ambil nasi bungkusnya*

Pada waktu trimester pertama, selera makan Bubun memang menurun tajam karena badai mual sepanjang hari. Namun begitu, tetep dong.. nggak ada yang namanya nggak makan. Hampir selalu dalam sehari Bubun makan minimal 3 kali. Tapi porsinya setengah. Kayak cewek-cewek pada umumnya. Akhirnya Bubun sering banget kelaparan. Herannya meskipun porsi makan berkurang jauh dan laper, berat badan Bubun naik 3 kilo. Nggak tahu dari mana asalnya. Orang, Ade aja beratnya cuma kayak kacang deh kayaknya.

Mungkin karena mual, jadinya Bubun pengen makan yang asem-asem. Tapi dari dulu juga doyan banget sih. Apalagi namanya mangga muda. Itu mah, dari jaman baru masuk TK juga udah suka. Waktu itu juga Bubun nggak suka makanan menu rumahan yang dijual di warung-warung…, entah itu tegal atau padang atau sunda. Bubun pengen makan dari hasil masak sendiri! (karena menurut Bubun makanan paling enak itu adalah masakan rumah) Wuih.. canggih nggak tuh? Masalahnya, Bubun kan maksimal 3 kali seminggu masaknya. Jadinya, agak perjuangan juga sih. Maksain masak hampir tiap malam. Kecuali udah capek banget, delivery atau minta Ayah nyariin makanan yang kepikiran saat itu.

Nah, ini dia nih masalahnya…. Mungkin karena kelaperan terus Bubun jadi pengen makan ini itu yang terlintas dalam benak, biasanya dipicu karena:

1. Lihat tulisan di jalanan

2. Baca tweet orang tentang makanan (yang mana entah kenapa menguasai Timeline twitter Bubun dalam kurun waktu itu)

3. Dengar cerita orang

4. Nonton Tayangan atau iklan di TV

yang parah adalah:

5. Teringat masa kecil…. yang mana membuat Bubun pengen makan menu tertentu yang adanya nun jauh di Sulawesi sana DAN… pada masa yang berbeda!! -___-

Gimana nggak kayak kecekik lehernya tuh si Ayah waktu denger Bubun minta:

1. Sup ubi yang dijualnya di deket SD Bubun di Kendari

2. Sayur balongga tumis buatan Neneknya Bubun

3. Sayur tumis buncis buatan Ami, sahabat dan tetangga Bubun waktu SMP

yang paling mengerikan…

4. Sup ayam dan nasi campur yang dijual di sebuah rumah makan (lupa namanya apa) di Bau-Bau, Sulawesi Tenggara sekitar tahun 1993 – 1995!! Nggak tahu sekarang rumah makannya masih ada apa enggak. Bubun sampai nanya temen Bubun yang lagi kerja di kota itu, ngejelasin ciri-ciri rumah makannya, yang ngelayanin waktu itu 3 orang perempuan kakak beradik, dst.. tapi tetep aja dia nggak tahu. Terus, Bubun nanya ke Papa dan Mama Bubun. Mereka juga lupa. Padahal dulu hampir tiap hari ngajak makan di sana.

Meskipun Bubun kepengen, tapi masih bisa ditahan sih. Jadi, Bubun cuma merengek aja ke Ayah. Ayahnya cuma menatap dengan pandangan tak percaya dan penuh derita. Ya sudah, Bubun tidur deh. Besoknya ngulang lagi sampe bosan. Haha!

Untungnya, masa-masa itu sudah berlalu. Sekarang di trimester kedua, seiring dengan membaiknya selera dan porsi makan Bubun jadi pengen makan banyak jenis, yang nggak terlalu detail kesejarahannya dan mudah didapetin di Jakarta. Akhir-akhir ini sih lagi seneng makan yang manis, kayak cake atau puding atau sirup… ah ileran nih bahasnya. Hihi… Kata Ayah sih karena di usia 21 – 22 minggu ini, Ade udah bisa makan glukosa dari tubuh Bubun (Ayah tahunya dari sini). Tapi, makan yang asin-asin juga nggak berhenti lho.

Setiap hari di kantor, Bubun nyetok sereal, susu, roti, muffin, bolu, kue lumpur untuk ngemil sampai pulang kantor. Sayangnya, snack itu biasanya udah ludes sebelum jam makan siang. Kapan hari, Bubun dan Ayah ke ITC Kuningan dan Ambasador Mall untuk belanja keperluan bulanan, mata Bubun jelalatan dan dikit-dikit berhenti di stall-stall yang jual kue dan jajanan. Kue-kue itu Bubun habisin sendiri lho… Hiks! Ayah pun mulai merasa ada yang berlebihan.

Kemarin sore, Bubun dijemput Ayah di kantor, lalu menuju Pecenongan karena Ayah ada janji ketemuan dengan seseorang. Bubun bilang ke Ayah kalau Bubun laper banget banget nget nggak bisa nahan, yang disambut Ayah dengan pandangan ‘Bukannya ini masih jam 5?’ Tak jauh dari tempat ketemuan Ayah, ada restoran Makassar yang jualan ikan. Ayah nawarin makan di sana, Bubun langsung mengiyakan. Setelahnya, kita pun pulang. Sebelum tidur, Bubun Minta Ayah beliin roti tawar di Alfamart sebelah rumah, terus Bubun ngambil 2 lembar roti tersebut, ngolesin dengan unsalted butter dan dikunyah dalam beberapa hitungan. Abis itu buka kulkas, makan segepok anggur dengan nikmat. Tapi Bubun masih laper bok!. Setelah itu, Bubun pun tidur-tiduran dipeluk Ayah, sambil menghabiskan jatah 250.000 kata yang harus dikeluarkan setiap harinya cerita ini itu sana sini ke Ayah. Lagi seru-serunya ngobrol, tiba-tiba ada suara dentingan mangkok bergaung di luar (mungkin penjual mie tek-tek atau nasi goreng). Seperti kerasukan, Bubun tiba-tiba menghentikan cerita, terus ngomong ke diri sendiri: “Baksoo??” sembari mata nyalang kanan kiri.

Ayah menatap Bubun takjub. Mendorong perlahan tubuh Bubun, lantas ngomong: “This is NOT you. Give me back my Citra!!”

Huahahaha!!!

Abisnya… Jaman Bubun kecil dulu, penjual gerobak malem-malem (yang mendentingkan sendok ke mangkok) adanya kan yang jualan Bakso doang. Nggak ada penjual nasi goreng atau mie tek-tek atau soto atau gado-gado. Terus, pas lagi ngobrol Bubun kan lagi laper. Jadi, spontanlah reaksinya kayak gitu.

Kembali ke pertanyaan tentang ngidam di atas…. Bubun ngerasa nggak ngidam apa-apa selama hamil ini karena makannya macem-macem, sama seperti sebelum hamil karena Bubun pada dasarnya doyan makan. Sementara Ayah yang bingung kalau ditanyain pertanyaan itu, jawabnya “Ngidam semuanya” karena alasan yang sama. Bisa dibilang ngidam nggak sih, kalau maunya banyak, nggak spesifik gitu? Yang jelas, Bubun nggak maksain kalau misalnya nggak atau belum bisa makan makanan tertentu. Paling dikit-dikit make nama Ade biar Ayah mau nganterin wisata kuliner atau buat alasan kenapa Bubun makannya kayak monster. Huhu.. maap ya De…

Oh iya, beberapa minggu lalu Bubun pengen banget makan rainbow cake dan red velvet cake (RVC) yang lagi heitss dan laku berat itu. Si rainbow cake udah, beli di cakery deket rumah. Tinggal si RVC yang belum. Bubun pengennya makan yang dari The Harvest. Soalnya kata orang-orang, RVC-nya ueenakk banget dan Bubun baca promonya, RVC di situ nggak pake pewarna tapi pake beet root extract yang harusnya sih lebih sehat dan aman buat Ade.


One Comment on “Ngidam apa?”

  1. […] makan jenis makanan yang adanya jauh di seberang lautan… berpuluh tahun lalu. Pernah juga malam-malam pengen makan bakso. Tapi bisa ditekan, nggak sampe harus bikin Ayah malam-malam keliling Jakarta nyari si bakso itu […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s