Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Akhirnya jadi juga…

Februari 2012

Mendekati hari keberangkatan ke Thailand untuk perayaan 1st Anniversary dan 2nd honeymoon, Ayah dan Bubun masih saja maju mundur dengan keputusan pergi atau tidak. Baru saja 2 minggu tahu bahwa Ade ada dalam perut Bubun. Sementara tiket sudah dibeli sejak setahun lalu, dalam rangka mencari harga murah. Hehe. Keraguan itu didasari ketakutan Ayah dan Bubun kalau penerbangan 3 jam dan acara jalan-jalan di sana bisa berbahaya buat Ade. Tentu saja, Ayah dan Bubun nggak mau ambil risiko. Apalagi ada perjalanan ke kampung halaman Bubun yang tidak bisa dihindari

Dr. Yusfa, Obgyn Bubun, sebenarnya memberi lampu hijau bagi Ayah dan Bubun ke Thailand. Beliau juga ngasih obat penguat buat Bubun. Dan sejujurnya Bubun ngerasa butuh refreshing karena udah hampir setahun nggak pernah berlibur dalam arti sebenarnya. Ayah yang dasarnya doyan travelling juga penasaran sama penampakan Phuket yang termasyur itu.

Tapi, semua itu masih bertarung dengan ketakutan Ayah dan Bubun yang sangat besar. You’re that precious, Ade.

Bahkan… di hari H keberangkatan pun, Ayah dan Bubun masih gundah gulana. Pesawatnya take off malam, di pagi harinya Ayah dan Bubun belum mutusin berangkat atau tidak. Akhirnya sebelum shalat Jum’at, Ayah nanya serius, apakah Bubun yakin dan kuat untuk berangkat karena Ayah mutusin untuk berangkat saja. Ayah janji akan ngejaga Bubun dan Ade semaksimal mungkin. Bubun setuju. Langsung deh, grasak grusuk kita nyiapin segala sesuatunya. Bubun nyiapin baju dan keperluan selama 3 hari, Ayah nyari hotel yang available di sana.

Sore menjelang malam, Ayah dan Bubun menuju bandara Soetta dengan mengendarai si Vanos. Oh iya, Vanos ini udah seperti salah satu anggota keluarga bagi Ayah dan Bubun sebelum Ade ada, karena udah nemenin dan menjadi bagian dari kisah susah dan seneng Ayah dan Bubun selama 5 tahun terakhir. Sayangnya Ade nggak sempat ketemu Vanos karena akhirnya Ayah dan Bubun harus merelakan dia untuk pemilik barunya. Anyway… Begitu sampai di terminal 3, Vanos dititip di parkiran khusus. Untungnya dapat area yang ada atapnya meskipun cuma seuprit. Jadi kalau hujan selama 3 hari ke depan, setengah body Vanos akan basah, setengah lagi terlindungi😀

Setelah check-in tanpa bagasi (dapatnya seat yang belakang banget), Bubun dan Ayah sempetin buat makan dulu dengan agak terburu-buru. Lalu, berjalan super cepat (pengennya sih lari, tapi takut bahaya buat Ade) menuju antrian imigrasi. Karena weekend, antriannya cukup panjang. Sempet deg-degan nggak keburu pesawatnya. Eh bener aja, keluar dari antrian sudah ada petugas yang teriak-teriak kayak lagi di terminal bus: “Phuket, Phuket sebelah sini!” Hehe…

Sampai di pesawat, Ayah langsung ngomong ke pramugari minta Bubun ditempatin di seat yang agak depanan biar nggak mabok. Pramugarinya bolehin Bubun dan Ayah pindah ke seat yang pas di belakang hot seat, dengan catatan nggak ada penumpangnya di situ. Terus kata pramugarinya nih, keberangkatan hari itu banyak kosongnya kok. Jadi kemungkinan Bubun dan Ayah bisa duduk di seat tersebut. Nggak berapa lama, sebelum take off dan seluruh penumpang sudah duduk di seat masing-masing, Ayah dan Bubun pindah ke seat yang depanan itu. Bubun lihat, ada penumpang lain yang juga pindah ke seat kosong (kata Ayah sih, setelah pesawat terbang, dia tiduran terlentang di 3 seat kosong itu)😀

Perjalanan lumayan lancar dan turbulence-nya sangat bisa ditoleransi meskipun cuaca berawan dan hujan di setengah perjalanan. Jadi Bubun ngerasa cukup nyaman. Setiap sejam sekali, Bubun ditemani Ayah berdiri dan jalan-jalan untuk melancarkan peredaran darah sesuai perintah dokter. Mendekati wilayah Thailand selatan, cuaca udah cerah. Ayah nunjukkin games di i-phone (yang di-set plane mode, alias dimatiin sinyalnya) yang bikin Bubun ketawa-ketiwi dan seru sendiri.

Mendarat di Phuket, urus-urus imigrasi, ngantri beli sim-card (yang akhirnya batal beli), terus nyari taksi untuk ke arah Patong. Bubun rada ilfil dengan marketingnya. Mood langsung berubah. Apalagi nunggu taksinya lamaaa banget. Mau naik mini bus (bentuknya kayak travel bus Jakarta-Bandung yang sebenarnya cukup nyaman), Ayah nggak setuju, takut Bubun lebih capek karena si mini bus bakal mampir-mampir ke beberapa tempat, termasuk ke travel yang ngejual paket-paket liburan. Kalau udah mutusin ke Phuket jauh-jauh hari, Bubun pasti bakal mesen rental mobil yang banyak direkomendasiin di forum-forum liburan di internet, soalnya harganya nggak jauh beda.

Betapa leganya Bubun dan Ayah begitu supir taksi yang ditunggu nongol. Soalnya udah capek poll. Sayangnya kelegaan itu lenyap. Baru jalan beberapa meter, supirnya nanya alamat hotel yang kita tuju dan.. dia langsung marah-marah karena nggak tahu persisnya di mana. Padahal kita udah ngasih alamat lengkap. Sopir yang udah berumur itu berkilah, dia tahu di mana jalan itu (setahu Bubun, jalan itu juga terkenal banget di wilayah Patong), tapi jalan itu panjang banget. Bubun berargumen, kan ada nomornya. Masa sih, nggak bisa nemu. Eh, dia makin marah, katanya di sana, nomor bangunan itu nggak berurutan Lha.. kok marahnya ama kita??? Bubun kayaknya waktu itu mau langsung turun aja dari taksi itu saking emosinya (tapi kemudian batal karena ngeliat jalan yang sepi banget di luar berhubung udah mau tengah malam). Dia nyetirnya pun ugal-ugalan karena emosi. Iiihhhh… Bubun langsung ngomel-ngomel ke Ayah pake bahasa Indonesia. Ayah cuma nenangin aja, minta bersabar sembari ngomong ke si sopir kalau begitu nyampe jalan itu, nanti kita nanya-nanya aja ke penduduk sekitar. Orang hotelnya itu di pinggir jalan kok. Mood Bubun hancur lebur.

Tak berapa lama, sopir taksi pun mampir ke sebuah travel yang jualan paket-paket liburan. Di situ, Bubun lihat ada sebuah mini bus yang baru nyampe. Ternyata, dia mampir ke situ untuk nanya letak persis si hotel. Setelah itu, kita pun kembali meneruskan perjalanan melewati daerah perkotaan yang sudah sepi. Bubun yang udah bete dan capek setengah mati langsung melihat pemandangan di jalan tanpa rasa tertarik sama sekali. Di samping karena kesel, juga karena bentuknya mirip-mirip dengan Indonesia.

Setelah sekitar 1 jam, kita pun memasuki wilayah Patong, tempat hiburan di Phuket berpusat. Agak shock sih, karena bentuknya itu seperti kombinasi daerah pertokoan dan hiburan malam yang berdiri rapet-rapet. Pokoknya, nggak banget lah menurut Bubun. Pengen ngomelin Ayah karena mesanin hotel kayak gitu, tapi juga nyadar.. wong itu nyari dan mesennya tadi siang. Hehe…

Keluar dari taksi, tanpa ‘thank you-thank you-an’ sama si sopir. Ayah ngambil tas di bagasi dan bayar taksi tanpa tip sama sekali. Sampai di depan lobby hotel, kami disambut oleh seorang perempuan muda berusia sekitar 30-an (mungkin pemilik, mungkin juga staff yang nggak pake seragam :D) yang untungnya ramah banget. Begitu kita ngasih tahu reservasi via agoda, si Mbak langsung senyum sembari minta maaf. Ternyata, ada kesalahan sistem booking. Harusnya, hari itu nggak ada kamar kosong di hotel tersebut. Jadi, untuk malam itu, Ayah dan Bubun dipindahin ke hotel lain sekitar 700 meter dari situ, tanpa biaya tambahan. Besok, Ayah dan Bubun bisa kembali ke hotel itu untuk check-in. Hati yang mulai adem, kembali panas lagi. Bubun complaint karena ini udah hampir tengah malam dan Bubun nggak sanggup kalau disuruh jalan kaki. Dengan bahasa Inggris yang nggak jelas, dia dengan sabar bilang kalau Ayah dan Bubun naik taksi aja ke sana, nanti dibayarin sama dia. Emang ada taksi di situ? Bukannya harus dipesan dulu? Pertanyaan Bubun pun terjawab dengan dipanggilnya sebuah kendaraan kecil yang Bubun tahu bernama Tuk-Tuk.

Ndilalah, Ayah dan Bubun ditransfer ke sebuah hotel yang jauh lebih bagus. Namanya De Coze. Meskipun lokasinya di pertokoan-pertokoan gitu, tapi nggak kayak tempat hiburan malam. Jarak antara hotel yang hadap-hadapan juga lebih luas. Terus, interiornya juga lebih modern dan bersih. Bahkan ada kolam renang yang cukup representatif, perpustakaan terbuka yang cozy banget dan free wi-fi. Ternyata, hotel itu baru berdiri sekitar 2 – 3 bulan lalu. Oh iya, harganya juga lebih mahal dari hotel yang Ayah pesen (dan udah bayar itu). Alhamdulillah, dapat upgrade gratis  untuk semalam karena kerusakan sistem hotel yang sebelumnya. Langsung deh, Bubun bilang ke Ayah, besok nggak usah pindah, tinggal di sini aja, meskipun ada biaya tambahan untuk nginap semalam lagi. Apalagi, di hotel yang sebelumnya, nggak ada liftnya. Sementara kamar Ayah dan Bubun adanya di lantai 4. Astaga… kebayang Bubun naik turun tangga lagi hamil muda gitu, gimana nasib Ade ya…?

Kolam renang mini yang nggak sempat dicobain

Check-in nya nggak lama karena si mbak dari hotel sebelumnya udah berkoordinasi dengan staff di hotel ini. Kamarnya cukup nyaman, luas dan bersih. Ada TV plasma dengan saluran cable, coffee maker, kulkas, hair dryer, juga balkon mini. Meskipun kasurnya agak keras dan ada lampu-lampu warna ungu yang rada aneh menurut Bubun. Setelah mandi air hangat, Bubun langsung jatuh tertidur. Cukup nyenyak setelah drama beberapa jam sebelumnya. Hehe.

Hari pertama, setelah sarapan, Ayah nyewa motor skuter deket hotel, terus kita jalan-jalan ke beberapa pantai di sekitar, nyobain seafood Phuket, main ke Mall Jungceylon, terus beli paket jalan-jalan ke Pulau Phi-Phi untuk besok. Setelah jam makan siang, Ayah dan Bubun istirahat dulu di hotel karena Bubun ngantuk banget, butuh tidur siang. Hihi. Sorean, Ayah dan Bubun menuju Kata dan Karon.

Tadinya sih Bubun pengen ke Promthep Cape. Tapi udah kesorean banget. Malamnya, kita kembali ke Mall Jungceylon belanja buat persiapan ke Phi-phi besok. Setelahnya, Bubun dan Ayah menyusuri area di depan Mall untuk window shopping dan beli jajanan untuk makan malam.

Sempet juga ngelewatin Bangla, yang belum rame. Abis itu, Bubun minta pulang ke hotel dan nyuruh Ayah balik ke Bangla buat ngeliat pertunjukkan hiburan malam lengkap dengan lady boy yang cantik-cantik. Bubun penasaran pengen tahu, tapi kecapean. Lagian kan hamil…, kayaknya kok nggak pantes liat (secara langsung) yang aneh-aneh. Kata orang tua pamali. Jadi, Bubun minta Ayah kesana biar bisa foto-foto terus cerita kayak gimana penampakannya. Tapi nggak usah sampai masuk ke bar-bar gitu. Cukup berjalankaki di sepanjang jalan itu saja. Oh iya, sebelum ke Bangla, Ayah sempet nyobain pijat Thailand deket hotel yang rame. Katanya sih, cukup bikin fresh. Kalau nggak lagi hamil, Bubun juga pengen sih. Dini hari, ketika Bubun udah tertidur lama, Ayah balik sambil membawa foto-foto hasil jepretannya.

Hari kedua, bangun pagi-pagi Bubun langsung packing barang-barang karena malamnya udah harus balik ke Jakarta. Setelah sarapan di deket kolam renang, Ayah dan Bubun nunggu jemputan dari travel paket liburan ke Pulau Phi-Phi. Kita pun check-out, nyimpen tas di resepsionis dan mesen taksi untuk ke bandara jam 5 sore nanti. Tak berapa lama, muncullah sebuah mobil mini van, yang sopirnya bingung. Untungnya Ayah keukeuh nanya ke sopir yang keluar masuk hotel di depan, karena ternyata marketing travel salah ngasih tahu nama hotel kita… yang mirip dengan nama hotel di depannya. Ayah dan Bubun adalah orang pertama yang dijemput, jadi sesudahnya kita mampir-mampir dulu ke berbagai hotel di sekitar.

Kapal-kapal yang akan berangkat udah siap di dermaga begitu rombongan Ayah dan Bubun nyampe. Tanpa banyak ba-bi-bu, kita diarahin oleh salah seorang pemandu untuk naik ke salah satu kapal. Penumpang kapal rame banget. Untungnya Ayah sigap nyariin Bubun tempat duduk. Alhamdulillah, dapat satu di bagian perut kapal. Meskipun ombak tenang, tapi tetap aja Bubun ngerasa mual dan mabok selama perjalanan. Juga ngantuk. Bawaannya pengen tidur aja. Setelah nyampe di Phi-Phi, beberapa penumpang kapal, termasuk Ayah dan Bubun ditransfer ke kapal lain untuk berkunjung ke Maya Beach, tempat syuting film The Beach yang fenomenal itu. Di sana, kita dikasih kesempatan untuk snorkeling. Bubun cuma duduk-duduk mabok dan foto-foto aja. Sementara Ayah asyik renang dan snorkeling.

Cuma setengah jam di sana, kapal pun balik ke Phi-Phi untuk makan siang dengan menu prasmanan. Jam setelah makan siang saat weekend adalah waktu tidur siang Bubun. Jadi, sembari leyeh-leyeh di pasir putih, Bubun sempet tertidur meskipun nggak sampe pulas. Ayah ngajakin foto dengan latar belakang tebing-tebing pulau phi-phi, Bubun males banget. Mana cuaca cerah banget, bikin panas dan ngantuk sampe ke ubun-ubun. Tapi karena sayang udah jauh-jauh ke sini, Bubun paksain juga untuk beranjak dan ngambil beberapa pose. Ihiyyy…

Sebelum balik ke kapal untuk pulang ke Patong, Ayah dan Bubun sempet cuci mata liat souvenir. Menurut Bubun sih, nggak begitu menarik. Jauh lebih mahal lagi kalau misalnya dibandingkan dengan souvenir di Singapura. Nyampe ke dalam kapal, lebih sulit untuk dapetin tempat duduk. Selain karena Ayah dan Bubun rada telat, kapal sore hari itu juga ngangkut pengunjung yang udah nginap di Pulau Phi-Phi sejak kemarin dan ingin kembali ke Patong.

Sesampainya di Patong, suasana crowded banget. Sopir-sopir mini van yang udah berjejer di pelabuhan nyari nama-nama penumpang yang ada dalam list mereka. Bubun udah lama menunggu sambil berdiri jadi agak cranky kayak bayi. Ayah bolak-balik nanya ke sopir, udah bisa berangkat nggak. Akhirnya Bubun mutusin duduk di bangku dekat dermaga. Meskipun berisiko kurang terlihat oleh sopir karena padatnya manusia. Untungnya, nggak berapa lama setelah duduk, penumpang mini van Bubun lengkap. Jadi kita bisa segera berangkat. Nyampe di hotel udah jam 5 lewat 10 menit. Di halaman, sebuah taksi sudah menunggu. Buru-buru ngambil tas di resepsionis, kita pun menuju bandara. Untungnya sopirnya ramah. Sayang, mobilnya nggak senyaman taksi yang dari bandara. Jadi, Ayah dan Bubun rada mual selama perjalanan. Plus.. si sopir ini muterin lagu tradisional Thailand (mirip-mirip lagu dangdut tapi nadanya aneh) yang bikin pusing.

Sampai di Bandara, Ayah dan Bubun nyobain check-in pake mesin. Eh… nggak tahunya, kita dapat Hot Seat! Nggak pake nambah-nambah biaya. Alhamdulillah perjalanan nanti kakinya lebih lega. Abis itu, keliling bandara nyari makanan. Tapi nggak nemu yang ada tulisan halal-nya. Bubun akhirnya milih makan Dunkin Donuts aja. Sementara Ayah makan croissant ayam dari restaurant yang Bubun lihat ada salah satu pengunjungnya pakai kerudung. Emergency, soalnya laparnya minta ampun.

Pas selesai makan, duit Baht Ayah dan Bubun passs banget habis. Bahkan sampai ke sen-sen nya😀

Untung udah kenyang ya…

Lewat imigrasi, kita pun ke ruang tunggu. Udah banyak penumpang Indonesia lainnya. Eh, ada satu rombongan yang lagi asyik makan mie rebus. Astaga… Bubun ngiler. Pengen bangetttt.. Ayah dengan sopan nyamperin rombongan itu, untuk nanya beli di mana mie-nya. Ditunjukinlah tempatnya di mana. Eh, ternyata… tempat jualnya nggak bisa nerima pembayaran pake kartu kredit. Ya sudahlah, Bubun ikhlas aja. Setelah itu, ada ibu-ibu di salah satu rombongan yang nyamperin Bubun nanya, kenapa Bubun nggak jadi makan Mie rebusnya. Bubun senyum aja. Bilang nggak kenapa-kenapa (habis malu kalau ketahuan kehabisan Baht. Hihi). Ayah pun jelasin perkara Baht itu, padahal Bubun udah ngasih kode. (-__-)

Eh, langsung si Ibu nyuruh seseorang dalam rombongan (kayaknya anaknya), untuk beliin Bubun. Katanya kasian kalau ibu hamil pengen makan, tapi nggak bisa. Bubun dan Ayah berkali-kali nolak. Tapi si Ibu bersikeras. Akhirnya Ayah setuju, tapi duit Baht si ibu harus diganti dengan rupiah Ayah. Si Ibu dan anaknya senyum-senyum setuju. Ya ampun, Bubun nggak enak banget. Berulang-ulang minta maaf dan ngucapin terima kasih. Mereka membalas dengan senyum ikhlas dan ucapan “nggak apa-apa kok!” juga berkali-kali. Nggak bisa dideskripsikan perasaan malu Bubun… Apalagi ternyata setelah mie-nya dateng, si Ibu dan anaknya nggak mau duitnya diganti. Akhirnya karena ngerasa nggak enak, Ayah beli beberapa kaleng minuman, pake kartu kredit (bisa di toko lain), dan ngebagiin minuman itu untuk beberapa anggota rombongan.

Sesudah makan, Bubun dan Ayah pun ngobrol dengan beberapa orang Indonesia lainnya di situ. Ada sepasang suami istri yang doyan travel, udah menjelajah Asia Tenggara beberapa minggu terakhir dan hari itu akan kembali ke Indonesia. Ada juga seorang baru saja balik dari Sulawesi Tenggara, kampung halaman Bubun. Rasanya baru beberapa saat, ketika tiba saatnya boarding. Karena Ayah dan Bubun dapat Hot Seat, jadi prioritas untuk naik duluan, nggak lama ngantri. Hore!

Karena penerbangannya jam 8, alhasil Bubun dan Ayah tidur nyenyak sampai mendarat di Jakarta. Setelah melewati pos Bea dan Cukai, Ayah dan Bubun menuju tempat parkir tempat Vanos berada. Ternyata selama liburan singkat itu, Vanos sempat kehujanan sebagian. Keliahatan dari setengah badannya yang kotor. Hehe.

Jam setengah 1 pagi, Ayah dan Bubun sampai di rumah. Tidur beberapa jam, karena udah harus masuk kerja. Yah, meskipun ada kendala-kendala dan drama, liburan dalam rangka 1st Anniversary dan sekaligus 1st trip-nya Ade cukup menyenangkan. Mudah-mudahan perjalanan ke Kendari nanti juga lancar ya… Aamiin!


One Comment on “Akhirnya jadi juga…”

  1. […] Bubun excited banget. Menurut Bubun sih… bagusan pantai ini daripada pantai yang ada di Phi-Phi. Ayah dan Bubun di Pantai Toronipa, Sulawesi […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s