Bumi grows so fast!

and so does Langit…

The right time

Duluuuu… sebelum menikah, Bubun seringkali merasa bukan tipe yang bisa menjadi seorang ibu sebelum berusia 30 tahun. Bubun di awal sampai pertengahan 20-an adalah tipe perempuan yang ambisius dengan banyak mimpi. Bubun ingin sukses di karir, ingin bisa sekolah ke luar negeri, ingin bisa sesegera mungkin berkontribusi signifikan bagi orang banyak. Bayi dan urusan rumah tangga tidak terpikirkan ketika itu. Bubun bahkan pernah ngomong ke Ayah (yang ketika itu beberapa kali sudah mengajak Bubun menikah), kalau Bubun nggak tahu apakah nanti akan menikah atau tidak.

Tapi terus, Bubun tergerak juga untuk menikah segera setelah melewati usia seperempat abad. Tapi waktu itu juga Bubun belum terpikir untuk segera menimang bayi. Bukannya Bubun nggak suka anak-anak. Justru sebaliknya, suka banget. Bukannya juga Bubun takut. Ya, mungkin sedikit. Karena sebagai anak sulung dari 5 bersaudara, Bubun punya pengalaman ikut merawat dan mengasuh 2 adik Bubun yang masih bayi, ketika masih belia. Bubun sempat merasa sedikit kewalahan ketika itu. Apalagi melihat kondisi ekonomi di negara ini, belum lagi ledakan jumlah penduduk menyebabkan kesejahteraan penduduk belum begitu memadai. Bubun ingin ketika Ade lahir, Ade memperoleh kesempatan untuk mendapatkan kualitas kehidupan yang lebih baik dari yang Bubun dulu rasakan. Bubun takut kalau Bubun nggak bisa memberikan semua itu untuk Ade jika Bubun nggak siap secara finansial sebelumnya.

Sesudah beberapa bulan menikah, Bubun pun mendengar cerita dan kisah dari temen-temen Bubun yang sedang hamil atau sudah melahirkan. Ada binar mata yang secerah bintang tiap kali mereka bercerita tentang bayi-bayi mereka. Juga kata-kata semanis madu yang mereka keluarkan tiap kali teringat makhluk mungil yang menanti untuk segera bertemu. Seperti jatuh cinta terdahsyat yang takkan pernah dimengerti oleh mereka yang belum pernah mengalami.

Sekian lama, Bubun lalu tersadar, pelan-pelan ada rasa yang menyelinap dalam relung hati Bubun. Bubun iri. Bubun juga ingin merasakan cinta seluas jagat raya itu.

Pelan-pelan Bubun pun mulai mempersiapkan diri, Bubun ingin segera hamil. Tabungan rencana untuk menyambut kelahiran Ade, Bubun mulai buka di bulan Juni 2011. Bubun dan Ayah mulai mencari-cari rumah yang layak untuk tumbuh berkembang Ade nantinya. Berbulan-bulan proses pencarian, akhirnya akad pembelian baru berlangsung akhir bulan Desember 2011. Tak hanya itu, Bubun pun mulai rajin berkunjung ke situs-situs parenting serta persiapan kehamilan dan kelahiran. Hal yang mana, selalu Bubun hindari selama ini. Mungkin cuma sebentar, tapi penantian itu bagi Bubun dan Ayah terasa lama. Awalnya sedih, yang kemudian membengkak menjadi kecewa. Meskipun harapan juga masih ada. Mau tak mau Bubun merasa bersalah, karena berdasarkan hasil cek dokter di bulan September 2011, rahim Bubun didiagnosa berbentuk retrofleksi, yang menyebakan pembuahan lebih sulit dilakukan dibandingkan oleh mereka yang mempunyai rahim berbentuk antrofleksi.

Di bulan Oktober 2011, Bubun mengikuti pelatihan pra-jabatan (Diklat Prajab) untuk menjadi PNS. Ya, Bubun memang sudah banting setir dari pegawai swasta yang kerja 11 – 15 jam per hari menjadi aparatur negara, sebulan sebelum menikah. Ada satu mimpi yang Bubun kejar, yang tidak berhubungan dengan pendapatan karena dengan menjadi PNS, penghasilan Bubun berkurang cukup signifikan. Tapi di samping itu, mungkin secara tidak sadar Bubun pun sudah mempersiapkan diri untuk kebutuhan pengasuhan Ade yang lebih baik. Bubun bisa bekerja 8 jam saja dalam sehari. Juga tidak perlu merasakan lembur  di waktu libur sebagaimana yang dulu Bubun alami sebagai pegawai swasta.

Keharusan untuk mengikuti Diklat Prajab itu juga yang salah satu menjadi alasan Bubun untuk menunda kehadiran Ade untuk sesaat. Bubun takut kesehatan Ade terganggu kalau saja Bubun sedang hamil ketika mengikuti diklat tersebut, mengingat padatnya jadwal dan banyaknya aktivitas fisik dalam diklat tersebut.

Sesudah diklat, Bubun langsung didera dengan keharusan untuk dinas ke luar kota karena padatnya jadwal kerja di kantor dalam waktu akhir tahun itu. Palu, Padang, Malang, Makassar… Bubun sambangi dalam waktu 2 bulan. Makassar, hanya beberapa kilometer dari kampung halaman Ayah di Takalar dan Polewali, adalah kota terakhir untuk perjalanan dinas Bubun. Tanggal 22 Desember 2011, Bubun kembali ke Jakarta. 2 hari kemudian (menurut informasi USG, perhitungan kalender oleh dokter dan ingatan Ayah dan Bubun😉 ) Ade dititipkan ke dalam rahim Bubun oleh-Nya. Alhamdulillah…

Manusia memang bisa berencana, tapi Yang Maha Kuasa lah yang menentukan. Itu salah satu hikmah yang Bubun dapat dari kehadiran Ade. Di atas semua itu, waktu dan keputusan-Nya lah yang paling sempurna. Diberikan-Nya segala anugerah dan berkah pada waktu yang tepat.

Insya Allah tabungan persiapan kelahiran Ade akan cair ketika Ade berusia 7 bulan di dalam kandungan Bubun. Waktu yang untuk berbelanja kebutuhan bayi. Rumah di Pamulang juga insya Allah sudah bisa ditempati sesaat sebelum Ade lahir. Bubun sudah tidak ada kewajiban untuk mengikuti Diklat tertentu karena dalam waktu dekat ini Insya Allah Bubun akan diangkat menjadi PNS. Beberapa waktu lalu, Ayah juga mendapatkan rejeki, sehingga bisa mengganti mobil dengan yang lebih baby / parents friendly. Bubun juga merasa diberi kesempatan untuk belajar banyak sebelum Ade lahir.

Semua sudah digariskan-Nya sedemikian rupa. Bubun sampai malu kepada-Nya karena pernah begitu sedih dan kecewa, meskipun tersembunyikan dalam kata-kata penghiburan dan ucapan syukur setiap hari. Untungnya ketika itu Bubun dan Ayah tidak pernah menyerah untuk tetap berbaik sangka terhadap rencana-Nya.

Terima kasih ya Ade.. karena menjadi guru yang mengajarkan secuil makna hidup, bahkan sebelum kita bertemu muka. :’)



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s