Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Is it true?

lanjutan cerita sebelumnya

Garis kedua itu memang samar warnanya. Tapi bentuknya nyata. Tiba-tiba ada dorongan kuat dalam diri Bubun untuk menangis.

Bukan… bukan karena nggak senang begitu tahu Ade ada di dalam diri Bubun. Sebaliknya karena Bubun takut nggak bisa ngasih yang terbaik untuk Ade. Ayah dan Bubun memang sudah sedikit demi sedikit membangun dan mempersiapkan kondisi yang memungkinkan hadirnya Ade dalam hidup Ayah dan Bubun. Bahkan Bubun sudah mempersiapkan dana tabungan untuk kelahiran Ade, bahkan sudah mulai investasi untuk biaya day care sampai TK untuk Ade (walaupun belum seberapa), jauh sebelum Ade ada.

Tapi… Bubun juga sadar kalau Bubun bukanlah sosok yang sempurna sebagai ibu. Meskipun Bubun udah rajin googling dan blog walking untuk nyari info tentang parenting, namun dalam lubuk hati Bubun yang terdalam kesadaran bahwa Bubun ini penuh dengan kecacatan sebagai manusia, bahwa secara karakter pribadi pun Bubun bukan tipe penyabar, tutur kata lembut dan sopan, atau hati yang bersih membuat Bubun rendah diri. Apalagi jika mengingat betapa banyak kesalahan yang Bubun perbuat di masa lalu. Ah, rasanya Bubun sama sekali nggak pantas dapat anugerah sebesar kehadiran Ade di sisi Bubun.

Di antara sedu sedan itu, Bunda juga teringat kejadian-kejadian tidak menyenangkan beberapa waktu sebelumnya, yang menunjukkan betapa dunia ini bukanlah tempat yang selalu nyaman bagi jiwa murni seperti Ade. Belum lagi tingkat keamanan di kota besar seperti Jakarta yang membuat Bubun selalu ketakutan. Suatu saat, Bubun akan jelasin ke Ade bahwa di luar sana ada jiwa-jiwa gelisah dan sesat yang tidak ragu untuk melukai atau merampas hak dasar manusia lain hanya demi kesenangannya semata. Tapi sampai beberapa waktu ke depan, biarlah kemurnian juwa dan hati Ade yang begitu berharga, tetap Bubun jaga.

Untuk sementara waktu, Bubun ingin menyimpan kabar ini sendiri. Sebenarnya Bubun ingin segera berbagi dengan Ayah. Tapi Bubun takut kalau hasil test pack itu hanyalah kesalahan alat seharga 10.000 rupiah. Bubun tidak ingin Ayah kecewa. Karena, selama kurun waktu 10 bulan terakhir ini, Ayah sudah beberapa kali meminta Bubun melakukan test dengan bantuan alat itu. Bubun tidak sanggup melihat Ayah kecewa lagi. Apalagi sejak kejadian di bulan Oktober lalu. Bubun pikir bisa memberi Ayah hadiah ulang tahun terbaik ketika itu karena Bubun mengalami tanda-tanda kehamilan. Tapi ternyata takdir berkata lain.

Sembari menunggu Ayah pulang kantor, Bubun menyalakan laptop dan googling untuk mencari informasi mengenai pertanda kehamilan. Tak berapa lama, Ayah pulang dari kantor. Bunda segera berbenah, menyiapkan makanan untuk Ayah dan berbagai urusan lainnya.

Menjelang malam, seperti biasa Ayah duduk di depan Laptop untuk menyelesaikan thesis-nya. Tak lama, Ayah pun menyadari sesuatu. Ia memanggil Bubun.

“Kamu hamil ya sayang?”

Bubun pun tersadar bahwa tadi Bubun tidak sempat menutup layar pencarian informasi di Laptop. Karena alasan di atas, setelah tertegun sejenak Bubun berkata:

“Hmm… Enggak. Eh, nggak tau.”

Ayah sempat ragu demi mendengar jawaban itu. Tapi karena Bubun tidak bereaksi. Ayah lantas bertanya, kenapa Bubun googling informasi tentang kehamilan. Bubun bilang, Bubun memang ingin tahu.

Ayah beranjak menuju toilet sambil berkata:

“Kalau kamu hamil, saya bakalan puasa seminggu.”

Bubun yang ngerasa bersalah (karena tahu Ayah orangnya nggak kuat laper, jadi niat puasa nazar itu menunjukkan seberapa besar keinginan Ayah atas kehadiran Ade), langsung teriak (biar kedengaran sampai ke toilet):

“Kk*, jangan ngomong gitu! nggak boleh!”

Eh… Ayah malah nantangin.

“Ralat! Kalau kamu nanti hamil, saya akan puasa sebulan penuh!”

Bubun seperti terkena serangan jantung saking kagetnya. Langsung ngebayangin perjuangan Ayah menahan lapar di luar bulan Ramadhan.

Duuuhh maaf ya Ayah… Bubun merasa bersalah. Eh tapi… Bubun juga belum sepenuhnya yakin kalau Bubun hamil sih. Besok mau ke dokter dulu mastiin.

 

*Nama panggilan Ayah oleh Bubun sebelum Ade ada


2 Comments on “Is it true?”

  1. […] di depan. Makan siang dulu. Eh, tapi ayah nggak makan deng. Soalnya lagi bayar nazar puasa sebulan yang waktu itu. […]

  2. […] Jadi Ayah mulai merasa kalau Ade itu anak laki-laki. Apalagi nih ya… beberapa minggu sebelum ketahuan hamil, Tante Nina BBM Ayah pagi-pagi buat ngabarin kalau semalamnya Tante Nina mimpin Bubun ngelahirin […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s