Bumi grows so fast!

and so does Langit…

Guess who cried (too)…

Hari ini, Sabtu 21 Januari 2012, Tante Nita adik Bubun yang kedua, datang ke Jakarta. Sejak seminggu sebelumnya Bubun udah janjian mau akupuntur ke dokter Tyo di RS Jakarta. Ini nih salah satu yang bikin Bubun ngerasa bersalah. Udah beberapa minggu terakhir ini, Bubun rajin akupuntur wajah Bubun yang kusam. Nggak cuma itu, sekali dua kali, Bubun juga nyobain akupuntur untuk ngecilin perut. Soalnya dari jaman kuliah, Bubun itu nggak PD banget dengan perut buncit Bubun. Apalagi Bubun sering disangka hamil, sejak bertahun-tahun sebelum Ade ada. Bubun takut, jangan-jangan waktu akupuntur perut itu, Ade udah ada di dalam sana😥

Pagi-pagi, Tante Nita nongol. Hebat juga ya, nyetir sendiri dari Bandung. Nggak heran sih segitunya. Soalnya si tante emang setres banget gara-gara wajahnya bruntusan sepulang dari jalan-jalan di Paris bulan Desember lalu. Mungkin karena kulit Tante Nita itu cocoknya untuk Indonesia aja. Nggak cocok di daerah bule. Hehe…

Oh iya, sebelum Ayah ke kampus dan sebelum Bubun dan Tante Nita menuju RS Jakarta,  Ayah sempat tuh nanya lagi beberapa kali:

“Beneran kamu nggak hamil?”

Bubun cuma bisa senyum saja sambil berkata:

“Ya ampun Kk masih penasaran aja..”

Tapi kayaknya Tante Nita udah ngerasain ada yang Bubun sembunyiin.

————–

Karena belum sarapan, begitu nyampe RS Jakarta, Bubun beli kue-kue dulu buat sarapan di lobby sementara Tante Nita ke ATM.

Bubun itu orangnya cenderung kurang sabaran. Apalagi dalam hal-hal yang Bubun rasa prinsipil. Nah, di sini kejadian yang sebenarnya nggak perlu terjadi kalau Bubun lebih mau mengalah. Jadi, karena ada beberapa pembeli saat itu, begitu datang Bubun langsung antri sembari memilih dalam hati jenis kue yang Bubun incar, biar nggak terlalu lama nantinya. Begitu hampir sampai giliran Bubun, tiba-tiba ada Ibu-ibu berusia paruh bayu yang datang langsung berdiri di sebelah Bubun. Setelah itu, dia langsung ngomong ke Mbak penjualnya, yang sedang menangani pembayaran pembeli di depan Bubun, bahwa dia mau beli risoles yang Bubun juga incar. Karena di pajangan terlihat ada banyak risoles. Bubun tenang-tenang aja.

Setelah sampai giliran Bubun, Bubun pun menunjuk kue-kue yang Bubun inginkan. Termasuk si risoles. Tiba-tiba si Ibu paruh baya ngomel ke Mbak-nya: “Lha! saya kan sudah pesan tadi, risolesnya SEMUA untuk saya.” Bubun bingung. Padahal kan Bubun cuma mau SATU risoles itu. Lagian Bubun yang duluan ngantri. Lantas karena Bubun diam saja, Mbak penjual ngeluarin risoles itu dari wadah kue Bubun dan ngebalikin ke tempat asalnya. Si Ibu langsung bertitah agar biar nggak kelupaan semua risoles itu dibungkus aja untuk dia SEKARANG. Padahal Bubun belum selesai transaksi.

Jadi gini ya De… Bubun itu paling nggak suka berkonfrontasi. Itu salah satu kelemahan Bubun dari sekian juta lainnya. Lagian Bubun nggak bisa berkata kasar ke orang yang lebih tua. Akhirnya karena gondok, Bubun ngomong ke Mbak penjual itu, sama sekali nggak ngeliat ke si Ibu:

“Mbak, kan saya duluan yang antri. Kok saya yang harus ngalah?”

Si Mbak penjual cuma bisa memasang tampang meminta pengertian tanpa berkata apa-apa. Mungkin karena si Ibu nada dan intonasinya tinggi jadi lebih memilih ‘mengorbankan’ pembeli yang lebih kalem.

Bubun mulai naik darah dan berkata dengan nada kenceng:

“Kalau saya nggak lagi hamil gini, saya nggak bakal ngalah ya!” sembari berlalu dari tempat itu.

————–

Pas balik badan, ternyata Tante Nita udah ada dong di situ. Enggg… Berarti tadi denger Bubun dong. Tante pun meminta Bubun bersabar. Bubun pun bercerita ke Tante Nita tentang kronologis ceritanya sambil masuk lift. Eh, ternyata di Lift Bubun ketemu lagi dengan si Ibu. Tante Nita cuma ngomong gini: “Ngalah ajalah sama orang yang lebih tua.”

Setelah itu, Dia nanya: “Kamu hamil ya Ci. Gw udah feeling sejak di rumah tadi”

Sambil tersipu-sipu Bubun jelasin kalau Bubun nggak yakin juga. Tapi udah nyobain test pack 2 kali.

Setelah selesai akupuntur wajah, Bubun sempat nyari dokter obgyn di RS Jakarta. Tapi karena yang ada dokter cowok, Bubun nggak jadi periksa. Takutnya harus USG transvaginal. Bubun nggak nyaman kalo harus sama dokter cowok.

Kemudian, Bubun pun nemenin Tante Nita ke Salon Narsih untuk daftar. Karena bakal ngantri lama banget, kita pun makan siang dulu di Koko Bogana favorit kita. Habis itu, balik ke Salon Narsih. Ternyata… hari itu kita belum beruntung. Antriannya lamaaaa banget. Lebih dari 3 jam. Mana Tante Nita pengen threading alis sama ownernya.

Kelar dari Salon Narsih, Bubun dan Tante Nita pulang. Tapi sebelumnya mampir dulu ke apotek beli test pack lagi. Kali ini Bubun mutusin beli yang  lebih mahal dan kayaknya lebih meyakinkan. Begitu sampai rumah, Ayah udah pulang. Bubun pun segera ke toilet untuk nyobain test pack itu.

————–

TARA…!! Ternyata kali ini garis kedua munculnya lebih cepat. Insya Allah, Bubun udah lebih yakin.

“Alhamdulillah….”

Bubun pun buru-buru keluar dan bermaksud nunjukkin ke Ayah.

Ayah saat itu lagi ngurusin perlengkapan olahraganya. Bubun nggak begitu merhatiin. Soalnya udah deg-degan banget. Setelah 10 bulan, akhirnya…

“Kk, lagi enak nggak perasaannya?” Tanya Bubun.

Ayah menoleh sebentar, tampak kurang fokus. Soalnya Ayah kan nggak multitasking jadi kalau diajak ngomong ketika lagi ngerjain sesuatu suka nggak connected. Hehe…

“Iya, kenapa sayang?”

“Ini…” Kata Bubun sambil nyerahin test pack yang bentuknya kotak itu.

Ayah tampak bingung banget. Dia pasti bingung, benda itu apa. Selama ini Ayah suka belinya yang model biasa. Dipandanginya si test pack beberapa saat.

“Ini apa?”

Bubun tersenyum. Suka banget ngeliat mata ayah yang menatap dalam-dalam si test pack berusaha memahami tanda-tanda berwarna merah yang ada di situ. Ada simbol centang (√) dan positif (+).

Ayah menatap Bunda dengan pandangan tidak percaya.

“Kamu hamil????”

Bubun tersenyum simpul.

Ayah berjalan mendekat, lalu mengecup dahi Bubun. Badannya gemetar. Lalu dia duduk. Kemudian menatap si test pack lagi. Bunda berdiri di hadapannya mulai gemetar karena exicited. Tapi berusaha tetap tenang.

Kemudian Bubun melihat sesuatu. Yang lama Bubun tak pernah liat. Mata ayah berkaca-kaca. sclera-nya merah. Kemudian setetes air mata pun jatuh dari matanya yang indah.

“Alhamdulillah…”


One Comment on “Guess who cried (too)…”

  1. […] Setelah tahu bahwa Bubun hamil, Ayah langsung menyebarluaskan kabar bahagia itu ke seluruh keluarga, di Kendari maupun di Polewali. Bahkan langsung pengen upload foto test pack-nya di akun social media,  saking bahagianya. Meskipun Bubun pengennya di-keep dulu berita tersebut. Karena kehamilan Bubun sepertinya masih sangat muda. Kalau kata orang-orang tua jaman dulu, pamali sesumbar dulu. Memang cuma mitos, tapi Bubun nggak mau ambil risiko, utamanya risiko kecewa yang bikin nelangsa. […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s